Miliki 36,53 gram Sabu, Polisi Bekuk Empat Remaja di Tembilahan

Tembilahan, detikriau.org — Sat Res Narkoba Polres Indragiri Hilir amankan empat orang pria, diduga menjadi pelaku tindak pidana narkotika jenis sabu, Selasa (10/7/2018). Keempat pemuda itu ditangkap di dua TKP berbeda.

Ren alias En (21), warga Jalan Lingkar Kel. Pekan Arba Tembilahan, diamankan saat mengendarai sepeda motor di Jalan Guru Hasan Tembilahan. Dari pengembangan kemudian petugas kembali mengamankan tiga  tersangka lainnya yaitu RS (19) warga Jalan Bersama Tembilahan Hulu, FPD (19) warga Jalan Tanjung Harapan Tembilahan dan Sup ( 27) warga Pengalihan Enok di sebuah wisma di Jalan Soebrantas Tembilahan.

Dari para tersangka, Polisi mengamankan barang bukti berupa enam paket sabu dengan berat sekira 36,52 gram. Turut disita sebagai barang bukti berupa uang tunai sebesar Rp.1.437.000, 1 Unit Ranmor R.2 warna hitam merek Vario 150, handpone berbagai merk merek,1 buah Bong, mancis, serta 1 buah Timbangan digital warna silver merk Camry..

Berdasrkan penjelasan Kapolres Indragiri Hilir AKBP Christian Rony, S.I.K., M.H., melalui Kasat Res Narkoba AKP Bachtiar, S.H., pihaknya mendapat informasi bahwa seorang pria berinisila Ren, diduga sering melakukan transaksi narkotika di Tembilahan. Setelah didapat info yang akurat, Unit Opsnal Sat Res Narkoba dipimpin oleh IPTU Arinal Fajri, S.H., mencegat Ren, yang sedang melintas di Jalan Guru Hasan Tembilahan. Saat digeledah, tidak ditemukan narkotika pada tubuh dan kendaraan karyawan swasta tersebut. Tapi petugas tidak kehilangan akal. Saat handphone Ren diperiksa, ditemukan petunjuk, bhawa barang haram itu disimpan di dalam kamar, di wisma tempat tersangka menginap. Ren pun dibawa ke sebuah wisma yang terletak di Jalan Subrantas. Petugas kemudian mengamankan 3 orang tersangka lainnya. Dari penggeledahan, disaksikan karyawan wisma, ditemukan barang bukti sebagaimana tersebut di atas.

“Saat ini, keempat tersangka bersama barang bukti, sudah diamankan di Mapolres Indragiri Hilir, untuk proses penyidikan dan pengembangan lebih lanjut.” Ujar AKP Bachtiar./ Am




Pengawas Diimbau Pantau Kehadiran Kepsek dan Guru

Kepala Disdik Inhil Drs H Rudiansyah M.Si didampingi Kabid Pembinaan SD Fathurrahman M.Pd dalam sebuah kegiatan didisdik Inhil beberapa waktu lalu

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Seluruh pengawas sekolah dihimbau untuk melakukan pemantauan dan merekapitulasi kehadiran kepala sekolah dan guru serta tenaga kependidikan pada sekolah binaannya masing-masing.

Himbauan tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Drs H Rudiansyah M.Si melalui Kabid Pembinaan SD, Fathurrahman M.Pd, Senin (9/7/2018).

Permintaan tersebut diutarakan karena masing-masing pengawas sekolah dihari pertama melakukan Sidak di sekolah binaannya masing-masing, yakni tepat tanggal 9 Juli 2018 hari pertama masuk sekolah.

Untuk itu, ia mengingatkan bahwa harus betul-betul dipantau, baik jenjang SD maupun SMP.

“Kami menghimbau kepada seluruh pengawas sekolah untuk melakukan pemantauan dan merekapitulasi kehadiran guru, kepsek dan tenaga kependidikan pada sekolah binaannya masing-masing,” kata Fathurrahman.

Kepada Kepala Sekolah, diminta agar melaporkan guru-guru dan tenaga kependidikan di sekolahnya yang tidak hadir kepada Dinas pendidikan melalui pengawas pembinanya./mirwan




Disdik Inhil Harapkan Tak Ada Tindak Kekerasan Selama MPLS

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) sangat menginginkan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) terselenggara dengan baik.

Dengan demikian, Disdik meminta kepada pihak sekolah untuk mempedomani petunjuk pelaksanaan MPLS agar tidak terjadi dari berbagai hal yang tidak diinginkan.

“Dalam pelaksanan MPLS, hindari tindakan kekerasan, perpeloncoan dan semacamnya,” kata Kepala Disdik Kabupaten Inhil, Drs H Rudiansyah M.Si melalui Kabid Pembinaan SD, Fathurrahman M.Pd, Senin (9/7/2018).

Sebagaimana diketahui, pelaksanaan MPLS tersebut berlangsung selama 3 hari dari tanggal 9 sampai 11 Juli 2018.

Disamping itu, pihak sekolah juga diminta untuk segera mengatur jadwal kegiatan pembelajaran, baik jenjang SD maupun SMP. /mirwan




PMI Inhil Salurkan Bantuan Kepada Bayi Penderita Infeksi Paru – Paru

Tembilahan, detikriau.org — Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) menyalurkan bantuan kepada seorang bayi penderita infeksi paru – paru di RSUD Puri Husada, Tembilahan, Sabtu (7/7/2018) pagi.

M Iman Ramadhani, bayi berusia 38 hari, terpaksa harus mendapat perawatan intensif karena infeksi paru – paru yang dideritanya.

Tak beberapa lama pasca dirawat, PMI Kabupaten Inhil yang mendapatkan kabar tentang kondisi kesehatan anak dari pasangan Dona dan Dewi ini pun segera menyambangi.

Melihat kondisi dari kedua orang tua bayi yang tergolong tidak mampu, PMI Inhil berinisiatif untuk menyalurkan bantuan.

Bantuan yang diserahkan langsung oleh Ketua PMI Inhil, Hj Zulaikhah Wardan tersebut adalah berupa Susu Bayi, Pampers, Selimut, tissue basah, minyak telon, botol susu dan perlengkapan mandi bayi.

Dengan sejumlah bantuan yang disalurkan, Hj Zulaikhah Wardan berharap, agar kedua orang tua bayi pengidap infeksi paru – paru tersebut dapat sedikit tertolong.

“Alhamdulillah, setelah mendengar adanya kabar ini, PMI langsung bergerak memberikan bantuan. Semoga bantuan ini bisa membantu memenuhi kebutuhan anak kita Iman,” ujar Ketua PMI Inhil, Zulaikhah Wardan.

Selanjutnya, Hj Zulaikhah Wardan mengharapkan agar pihak RSUD Puri Husada Tembilahan dapat menangani bayi pengidap infeksi paru – paru, M Iman Ramadhani.

“Kami segenap pengurus PMI Inhil senantiasa mendoakan, agar anak kami M Iman Ramadhani dapat segera sembuh,” tukas Hj Zulaikhah Wardan./rls




Cuaca dingin landa sejumlah kota di Indonesia, ada hubungan dengan jarak Bumi ke Matahari?

ANTARA/RAISAN AL FARISI
Image caption
Pemandangan pedesaan yang tertutup kabut di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Sabtu (7/7). BMKG mencatat suhu udara kurang dari 15 derajat Celsius terjadi di Ruteng (NTT), Wamena (Papua), dan Tretes (Jawa Timur).

Sejumlah kota di Indonesia beberapa hari terakhir dilanda cuaca dingin.

Berdasarkan pengamatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), suhu udara kurang dari 15 derajat Celsius tercatat di Ruteng (NTT), Wamena (Papua), dan Tretes (Jawa Timur). Bahkan, pada 4 Juli lalu, suhu di Ruteng (NTT) mencapai 12 derajat Celsius.

Kondisi ini juga terjadi di beberapa lokasi di Pulau Jawa.

Di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, BMKG mencatat suhu di sejumlah area di Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul mencapai 10-15 derajat Celcius.

Kemudian di Dataran Tinggi Dieng, Provinsi Jawa Tengah, suhu mencapai 14 derajat Celsius disertai penampakan embun es.

Adapun di Bandung, Jawa Barat, temperatur sempat menyentuh 16,4 derajat Celsius.

Oleh sebagian orang, situasi ini dikaitkan dengan fenomena Aphelion, yaitu jarak terjauh Bumi dari Matahari yang terjadi pada awal Juli.

Logikanya, semakin jauh Bumi dari Matahari, maka semakin dingin pula cuacanya.

Tapi benarkah demikian?

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Mulyono R Prabowo, menepis penjelasan itu.

“Faktanya, penurunan suhu di bulan Juli belakangan ini lebih dominan disebabkan karena dalam beberapa hari terakhir di wilayah Indonesia, khususnya Jawa, Bali, NTB, dan NTT kandungan uap di atmosfer cukup sedikit,” paparnya.

Menurut dia, rendahnya kandungan uap di atmosfer menyebabkan energi radiasi yang dilepaskan oleh Bumi ke luar angkasa pada malam hari tidak tersimpan di atmosfer dan energi yang digunakan untuk meningkatkan suhu atmosfer di atmosfer lapisan dekat permukaan bumi tidak signifikan.

“Hal inilah yang menyebabkan suhu udara di Indonesia saat malam hari di musim kemarau relatif lebih rendah dibandingkan saat musim hujan atau peralihan,” terangnya.

Selain itu, pada bulan Juli ini wilayah Australia berada dalam periode musim dingin dan sifat dari massa udara yang berada di Australia ini dingin dan kering.

“Adanya pola tekanan udara yang relatif tinggi di Australia menyebabkan pergerakan massa udara dari Australia menuju Indonesia (dikenal dengan istilah Monsoon Dingin Australia) semakin signifikan sehingga berimplikasi pada penurunan suhu udara yang cukup signifikan pada malam hari di wilayah Indonesia khususnya Jawa, Bali, NTB, dan NTT”, imbuh Prabowo.

Bagaimana dengan embun es di Dieng?

Khusus soal embun es di Dataran Tinggi Dieng, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Herizal, menyampaikan bahwa itu lebih disebabkan kondisi meteorologis dan musim kemarau yang saat ini tengah berlangsung.

“Pada saat puncak kemarau, memang umumnya suhu udara lebih dingin dan permukaan bumi lebih kering. Pada kondisi demikian, panas matahari akan lebih banyak terbuang dan hilang ke angkasa. Itu yang menyebabkan suhu udara musim kemarau lebih dingin daripada suhu udara musim hujan. Selain itu kandungan air di dalam tanah menipis dan uap air di udara pun sangat sedikit jumlahnya yang dibuktikan dengan rendahnya kelembaban udara,” paparnya.

Dataran tinggi, sambungnya, akan berpeluang untuk mengalami kondisi udara permukaan kurang dari titik beku 0 derajat Celsius karena molekul udara di daerah pegunungan lebih renggang dari pada dataran rendah. Akibatnya, pendinginan akan lebih cepat terjadi.

Situasi ini menyebabkan air embun yang menempel di pucuk daun atau rumput akan segera membeku.

Di Indonesia, beberapa tempat pernah dilaporkan mengalami fenomena ini, yaitu daerah dataran tinggi Dieng, Gunung Semeru dan pegunungan Jayawijaya, Papua,” tambah Herizal.

Jadi apakah Aphelion berkaitan dengan cuaca di Indonesia?

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin, menegaskan:

“Tidak ada hubungannya dengan aphelion, karena perubahan jarak matahari ke bumi tidak terlalu signifikan mempengaruhi suhu permukaan bumi.”

sumber: BBC.com




Ini 10 Rekomendasi Pertemuan Ulama dan Dai Internasional

foto: hidayatulah.com

JAKARTA — Pertemuan Ulama dan Dai Internasional ke-5 menghasilkan 10 rekomendasi untuk ditindaklanjuti dalam melakukan gerakan dakwah Islam di berbagai belahan dunia. Rekomendasi ini disampaikan dalam acara penutupan di Hotel Grand Cempaka, Jakarta, Jumat (6/7) pagi.

Pertemuan ini ditutup secara resmi oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Tampak hadir juga Ustaz Abdul Somad, Ustaz Felix Siauw, dan Ustaz Bachtiar Nasir. Sekretaris Rabithah Ulama dan Dai Asia Tenggara, Ustaz Jeje Zaenudin, mengatakan bahwa rekomendasi ini telah disepakati oleh ratusan ulama dan dai dari 20 negara yang menjadi peserta.

Waketum Persis ini mengatakan, dalam forum ilmiah internasional ulama dan dai tersebut, para peserta telah membahas kondisi bangsa dan peran dakwah saat umat Islam tengah menghadapi serangan-serangan keji dari luar dan aliran-aliran radikal dari dalam.

Menurut dia, kondisi ini mengharuskan para aktivis dakwah untuk mengerahkan energi dalam mengimplementasikan dan menerjemahkan konsep-konsep Islam yang bersifat teoretis ke dalam tataran praktis dan implementatif.

“Dalam rangka untuk menyelamatkan umat Islam dari krisis yang menyelimutinya ini, maka para peserta forum ini menyepakati untuk mendeklarasikan keputusan-keputusan dan rekomendasi,” ujar Ustadz Jeje kepada Republika.co.id seusai membacakan rekomendasi, Jumat (6/7).

Berikut 10 rekemendasi Forum Ilmiah Internasional ke-5 Ulama dan Dai se-Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa:

1. Menekankan pentingnya rahmat dalam Islam dan hidup berdampingan secara damai dan harmoni antara Muslim dan non-Muslim dan bahwa cinta terhadap kebaikan antarsesama merupakan hal yang baik, maka seharusnya tidak menginginkan keburukan untuk dirinya sendiri dan orang lain.

2. Untuk mencapai persatuan dan kesatuan di antara umat. Perlu berpegang kepada Alqur’an dan Sunnah dengan pemahaman yang komprehensif dan terintegrasi yang sejalan dengan kaidah-kaidah ilmiah dan praktis yang telah disusun oleh para ulama otoritatif dari masa ke masa.

3. Pentingnya membangun kemitraan kerja sama antara lembaga-lembaga dakwah dengan berbagai lembaga-lembaga ilmiah dan pendidikan baik pemerintah atau swasta, dalam rangka mencapai perdamaian, stabilitas, kemajuan, pembangunan dan kemakmuran dalam naungan ridha Allah SWT.

4. Meningkatkan peran strategis lembaga-lembaga dakwah dan kontribusinya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Muslim di berbagai bidang dan disiplin ilmu dalam rangka mewujudkan misi “khairu ummah” dan “ummatan wasatha”.

5. Memperkuat posisi keluarga sebagai institusi terkecil dan fondasi dasar bangsa dan negara, melalui pendidikan dan pengembangan karakter yang mulia yang sejalan dengan ajaran Islam yang hanif.

6. Mendorong para ulama dan dai untuk melakukan revolusi penyampaian dakwah yang cepat dengan memanfaatkan teknologi informasi (IT) dan media sosial sebagai media untuk menyampaikan dakwah Islam yang berorientasi kepada budaya literasi.

7. Mengingat Indonesia adalah negara Muslim terbesar dalam hal jumlah penduduk, ia harus memainkan peran utama dalam menciptakan perdamaian dunia melalui dakwah dan pendidikan yang didukung oleh kebijakan pemerintah yang benar.

8. Karena Jakarta sebagai Ibu Kota Negara memiliki berbagai keragaman agama, etnis, sosial, budaya, dan lain-lain, maka setiap orang yang bekerja di bidang dakwah Islam harus mengambil metode dan strategi yang dapat membina dan mempertahankan kohesi sosial.

9. Memperkuat kedudukan Kota Jakarta sebagai pusat peradaban berbasis dakwah dan pendidikan Islam di konteks nasional dan internasional.

10. Membentuk panitia khusus untuk merealisasikan seluruh keputusan forum multaqa ini dengan melibatkan semua unsur-unsur terkait.

sumber: republika.co.id