Kesal ditagih Hutang, Jun Bacok Ros Dengan Sebilah Parang

Pelangiran, detikriau.org –  Jun alias Kel (36) ditahan Kepolisian Polsek Pelangiran atas tuduhan melakukan penganiayaan terhadap Rusdalidi alias Ros (40) warga sekampungnya dengan menggunakan sebilah parang. Senin malam (19/3/2018)

Pelaku, warga Desa Tagagiri Tama Jaya Kecamatan Pelangiran Kabupaten Indragiri Hilir ini diringkus di Desa Wonosari Kecamatan Pelangiran saat mencoba akan melarikan diri.

Kapolres Indragiri Hilir AKBP Christian Rony, S.I.K., M.H., melalui Kapolsek Pelangiran IPTU Muhammad Rafi menerangkan bahwa penganiayaan itu berawal dari perselisihan masalah hutang piutang.

Lebih jauh IPTU M.Rafi menjelaskan, malam Senin, sekira pukul 20.00 WIB, korban mendatangi tersangka yang sedang berada di sebuah warung kopi. Ros kemudian menagih hutang sebesar Rp. 150 ribu kepada pelaku. Namun permintaan tersebut diacuhkan tersangka. Karena Ros terus mendesak, Jun bangkit emosi dan beranjak meninggalkan warung kopi tersebut, kembali ke rumahnya.

Satu jam kemudian, Jun mendatangi rumah kediaman Ros. Tanpa banyak tanya, Jun langsung membacok korban sehingga mengakibatkan Ros menderita luka di bahagian paha dan punggung. Melihat korban sudah terkapar, tersangka lalu melarikan diri. Korban kemudian dievakuasi ke Puskesmas Pelangiran untuk perawatan atas luka yang dialaminya.

Polsek Pelangiran yang mendapat informasi tentang kejadian tersebut, mendatangi TKP dan melakukan pengejaran terhadap Jun.  Pelarian tersangka dapat dihentikan di Desa Wonosari Kecamatan Pelangiran tanpa perlawanan.

“Saat ini, tersangka bersama barang bukti sebilah parang panjang bergagang warna hitam sudah diamankan di Polsek Pelangiran untuk proses penyidikan lebih lanjut.”/ Diterangkan Kapolsek./ Ikhwan




Sempat Sempoyongan Setelah ditembak Bius, “Bonita” Kembali Berhasil Kabur dan Menghilang.

Tim masih melakukan upaya penyisiran untuk mencari keberadaan “bonita”

Pelangiran, detikriau.org – Harimau pemangsa manusia di Pelangiran “Bonita” berhasil ditembak bius di area Kebun Tembesu PT. THIP Desa Tanjung Simpang Kecamatan Pelangiran Kabupaten Indragiri Hilir sekira pukul 20.00 Wib, jum’at (16/3/2018). Namun hewan buas yang dilindungi ini kembali berhasil kabur dan menghilang. Hingga saat ini pencarian masih terus dilakukan.

“Tim Terpadu Penanganan Konflik dan Evakuasi Harimau Sumatera, masih terus bergerak melakukan penyisiran, mencari keberadaan Bonita, pasca penembakan bius,” Sampaikan Kapolres Indragiri Hilir AKBP. Christian Rony, S.I.K., M.H melalui Kapolsek Pelangiran, IPTU M Rafi, Sabtu, (17/3/2018)

Diterangkan IPTU M Rafi,  setelah penembakan bius, harimau betina itu masih terlihat bergerak sehingga tim tidak bisa langsung mendekat. Tak disangka, dibalut kegelapan malam, Bonita berhasil menghilang dari pandangan mata.

“Kami masih berada di lapangan melakukan penyisiran.  Hingga saat, Bonita belum berhasil ditemukan.” Akhiri M Rafi./ Am




Miliki Sabu seberat 66,79 gram, Polsek Kateman Ringkus Warga Singai Sebesi

Kateman, detikriau.org – Sup (40) warga Desa Singai Sebesi Kecamatan Kundur Kabupaten Karimun Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) dibekuk pihak kepolisian Polsek Kateman di Jalan Gajah Mada Kelurahan Tagaraja Kecamatan  Kateman Kabupaten Indragiri Hilir Provinsi Riau, Kamis (15/3) sekira pukul 05.00 Wib.

Dari tangan terduga pelaku tindak pidana penyalahgunaan narkotika ini disita 12 paket sedang dan 6 paket kecil narkotika diduga jenis sabu yang disimpan dalam kantong celana dan dalam tas ransel. Turut disita 1 timbangan digital merk Heles, 1 Unit HP, 1 set bong dan kaca pembakar, serta uang tunai Rp. 550 ribu.

Hasil penimbangan sementara menggunakan timbangan digital milik terduga pelaku, ditemukan berat kotor paket yang diduga sabu, seberat lebih kurang 66.79 gram yang ditaksir bernilai puluhan juta rupiah.

Kapolres Indragiri Hilir AKBP. Christian Rony, S.I.K., M.H., melalui Kapolsek Kateman AKP. Ali Zahari, menerangkan bahwa penangkapan pelaku yang diduga menjadi pengedar narkotika antar pulau itu bermula dari informasi yang disampaikan masyarakat yang menyebutkan bahwa Sup sering melakukan transaksi narkotika jenis sabu. Disebutkan juga, pria itu selalu menginap di sebuah bengkel pinggir laut di Jalan Gajah Mada Kelurahan Tagaraja, saat berada di Sungai Guntung.

Mendapat informasi, Kapolsek memerintahkan Unit Opsnal Polsek Kateman yang dipimpin Panit I Reskrim IPDA Hendra Gunawan, untuk melakukan penyelidikan. Penyelidikan juga dibantu oleh Personel Koramil 06/Kateman.

Dari hasil penyelidikan diketahui bahwa Sup memang sedang berada di tempat dimaksud. Unit Opsnal kemudian mengamankan terduga pelaku saat sedang berada di dalam kamar. Disaksikan Ketua RT dan warga setempat, dilakukan penggeledahan, dan ditemukan barang bukti sebagaimana tersebut di atas.

“Saat ini, Sup dan barang bukti sudah diamankan di Mapolsek Kateman untuk proses penyidikan lebih lanjut.” Sampaikan AKP Ali Zahari./ Am




Masuki Tahap Ketiga, Sniper ditugasi Tembak Harimau Pemangsa Manusia di Pelangiran

Pelangiran, detikriau.org – Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau Suharyono sebut bahwa “Bonita”, Harimau betina penyerang manusia di Kecamatan Pelangiran Kabupaten Indragiri Hilir memiliki perilaku menyimpang dibandingkan harimau pada umumnya.

Pengamatan BBKSDA terhadap spesies langka yang terancam punah di Pelangiran ini menurut Suharyono dilakukan pihaknya bersama World Wildlife Fund (WWF) sejak 2017 yang lalu.

Kegiatan observasi yang didukung oleh Polres Indragiri Hilir dan sejumlah pihak terkait itu, kata Suharyono juga termasuk mengamati perilaku, khususnya hewan yang diduga menjadi tersangka penyerang manusia yang diberi nama “Bonita”

“Perilaku Bonita sudah menyimpang, berbeda dengan perilaku harimau pada umumnya,” Ungkap Suharyono dalam sebuah pertemuan sikapi konflik harimau Vs manusia yang dilaksanakan di Aula Kantor PT THIP Simpang Kanan Desa Tanjung Simpang Kecamatan Pelangiran Kabupaten Indragiri Hilir, Rabu, 14/3/2018.

Menurut Suharyono, perilaku menyimpang seperti Bonita, ternyata juga dijumpai di daerah konflik harimau lainnya. Perilaku umum, harimau takut dengan manusia dan selalu beraktifitas di malam hari. Pada kasus Bonita hal tersebut adalah kebalikannya.

Ditambahkan Suharyono, pelaksanan observasi dan upaya evakuasi saat ini sudah masuk pada tahap ketiga. Dimana, Tahap pertama hanya dengan box trap dan umpan. Tahap kedua umpan sudah ditambah dengan obat bius yang dipasang pada umpan. Namun hasilnya kedua tahap ini belum memberikan hasil yang signifikan.

Sedangkan pada tahap ketiga, tim dilengkapi dengan peluru tajam untuk melumpuhkan. Untuk itu, BBKSDA meminta bantuan sniper dari Polri dan TNI untuk melakukan penembakan

Diakhir pertemuan, disepakati bahwa Posko Siaga yang dilengkapi dengan penembak jitu akan langsung bekerja.

Dalam pertemuan itu, Kadus Simpang Kanan, Arief, sebutkan bahwa akibat mengganasnya harimau di daerah mereka, kondisi psikologis warga sudah sangat terganggu dan ketakutan. Warga merasa khawatir nantinya akan ada lagi jatuh korban manusia.

“Warga saat ini tidak bisa bekerja untuk memenuhi kehidupannya sehari – hari. Harimau tersebut, masih kerap terlihat di wilayah kami” Ujar Kadus menyampaikan keresahan warganya./ Am




Bentuk Tim Terpadu Atasi Konflik Manusia Vs Harimau di Pelangiran,

Pelangiran, detikriau.org – Upaya penyelesaian konflik harimau – manusia di Sinar Danau Dusun Simpang Kecamatan Pelangiran Kabupaten Indragiri Hilir, disepakati untuk membentuk tim terpadu yang beranggotakan Personel Polri, TNI, Pemerintah Daerah, BBKSDA dan masyarakat tempatan.

Pembentukan tim terpadu usulan Kapolres Inhil AKBP. Christian Rony, S.I.K., M.H ini disepakati dalam sebuah pertemuan yang dilaksanakan di Aula kantor PT THIP Simpang Kanan Desa Tanjung Simpang, Rabu, 14/3/2018.

Pertemuan yang dipimpin Pjs Bupati Inhil, H. Rudyanto, S.H., M.Si ini dihadiri Kapolres Indragiri Hilir AKBP Christian Rony, S.I.K., M.H., Kasdim 0314/Indragiri Hilir Mayor Inf. Suratno, Kepala BBKSDA Riau Suharyono, Manejer SSL PT. THIP Sahri Abdullah, forkompimcam Pelangiran dan sejumlah masyarakat Sinar Danau.

Menurut Pjs Bupati, pertemuan tersebut sengaja dirancang untuk mencari solusi terkait konflik yang terjadi antara warga Sinar Danau Dusun Simpang Kanan Desa Tanjung Simpang dengan Harimau.

“pertemuan ini untuk mencari solusi terbaik agar manusia bisa kembali beraktifitas dan hewan yang dilindungi karena termasuk dalam kondisi kritis tersebut bisa diselamatkan dan dievakuasi.” Sampaikan Pjs Bupati

Menurut Kadus Simpang Kanan, Arief, kondisi psikologis warga, sangat terganggu dan ketakutan. Warga merasa khawatir nantinya akan ada lagi jatuh korban.

“warga saat ini tidak bisa bekerja untuk memenuhi kehidupannya sehari – hari. Harimau tersebut, masih kerap terlihat di wilayah kami” Keluhkan Kadus.

Akibat konflik harimau – manusia ini telah menyebabkan jatuh korban manusia. 2 meninggal dunia dan 1 mengalami luka akibat cakaran harimau./ Am




Tak Kunjung Tertangkap, Harimau di Pelangiran Kembali Minta Korban

Tembilahan, detikriau.org – Harimau Sumatra bernama latin Panthera tigris sumatrae kembali meminta nyawa. Kali ini korbannya Yusril Efendi (34) warga Desa Pulau Muda Kecamatan Teluk Meranti Kabupaten Pelalawan, Riau. Pekerja yang sedang membangun rumah wallet ini dihabisi di RT 038 Simpang Kanan Dusun Sinar Danau Desa Tanjung Simpang Kecamatan Pelangiran Kabupaten Indragiri Hilir, Sabtu malam, 10/3/2018, sekira pukul 19.00 WIB.

“TKP kali ini cukup jauh, sekitar 20 kilometer dari kejadian sebelumnya, sudah mendekati perbatasan antara Kabupaten Indragiri Hilir dengan Kabupaten Pelalawan”, Kata Kapolres Indragiri Hilir AKBP. Christian Rony, S.I.K., M.H., melalui Kapolsek Pelangiran IPTU Muhammad Rafi.

diterangkan Mantan Kanit Intel Polsek Kateman itu, kejadian bermula saat korban Yusri bersama 3 orang rekannya masing – masing Rusli (41), Indra (26), dan Syahran (41), yang semuanya merupakan warga Desa Pulau Muda Kecamatan Teluk Meranti Kabupaten Pelalawan, sedang mengerjakan bangunan rumah walet.

( dimangsa harimau, karyawati PT THIP tewas di TKP )

Disaat sore menjelang, sekira pukul 16.30 WIB, mereka melihat seekor harimau, berada di bawah bangunan yang sedang mereka kerjakan. Kengerian langsung merayapi para buruh bangunan ini. Mereka lantas memilih bertahan di atas bangunan. Hingga 2 jam berlalu, mereka tetap berdiam diri di ketinggian sampai hari mulai gelap.

Setelah harimau tidak lagi terlihat dan diyakini sudah pergi menjauh, korban dan rekannya bergegas turun. Namun baru melangkah sekitar 250 meter, tiba – tiba, raja hutan itu kembali menampakan diri dari arah depan. Kehadiran binatang buas itu menyebabkan kepanikan dan mereka berlarian menyelamatkan diri.

( Tindak Lanjuti Munculnya Harimau, Tim BKSDA dan WWF Riau-Kepri Survey Ke Pelangiran )

Di saat – saat yang kritis, Rusli, Indra dan Syahran, berupaya saling memanggil, tapi ketika nama Yusri dipanggil, tidak ada sahutan terdengar. Lalu para pekerja yang tersisa, mencoba menghubungi warga Dusun Sinar Danau yang tak lama kemudian beramai-ramai  mendatangi lokasi menggunakan perahu kecil.

Pencarian terhadap Yusri, segera dilakukan. Sekira pukul 19.00 WIB, korban berhasil ditemukan di atas tanaman kumpai (sejenis rumput yang terdapat di atas air. red), tapi Yusri, tampak tidak lagi bergerak. Di bagian  tengkuknya terlihat tanda – tanda luka, diduga bekas gigitan taring harimau.

Personel Polsek Pelangiran yang mendapat laporan, mendatangi TKP dengan Tim BBKSDA Provinsi Riau dan kemudian mengevakuasi jasad korban ke Klinik KPP Pulai PT. THIP.

“Dari pemeriksaan, diketahui korban meninggal dunia karena mengalami pendarahan akibat luka robek bekas gigitan harimau di tengkuknya.” Terang Kapolsek

Jasad korban kemudian diserahkan kepada keluarga, dan dibawa kembali ke kampungnya di Desa Pulau Muda Kecamatan Teluk Meranti Kabupaten Pelalawan untuk dikebumikan di sana./Am