Mahasiswa KKN UNISI dan Forkom Pramuka GAS Buka Bersama Anak Yatim

gasGaung Anak Serka (detikriau.org) – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Indragiri (Unisi) bersama Forum Komunikasi Pramuka Gaung Anak Serka (GAS) menggelar buka Puasa bersama di Gedung Serba Guna Kelurahan Teluk Pinang Kecamatan GAS. Sabtu (19/7/14)

Kegiatan ini di hadiri Camat GAS, KUA Kecamatan GAS beserta Upika Kecamatan.

Selain melaksanakan buka bersama mahasiswa KKN Unisi dan Forum Komunkasi Pramuka GAS juga memberikan santunan kepada anak yatim.

“Santunan kita berikan kepada 23 orang anak yatim yang ada di Lelurhan Teluk Pinang,” ungkap Koordinator Panitia Said Rama Wahyudi kepada detikriau.org melalui sambungan selulernya. Minggu (20/7/14)

Ia juga mengharapkan dengan kegatan ini bisa meringankan beban para anak-anak tersebut apa lagi sebentar lagi akan memasuki lebaran. “Jangan
lihat nominalnya, tetapi lihatlah keikhlasan dari kami,” tandasnya. (Ahmad Tarmizi)




Petani Menjerit. Harga Kelapa Anjlok, Pembayaranpun Bertahap

“Petani Berharap Kondisi Ini Segera Ditanggapi Serius Oleh Pemerintah Daerah”

indexGaung Anak Serka (detikriau.org) – Petani kelapa dalam di Desa Teluk Sungka Kecamatan Gaung Anak Serka (GAS) Kabupaten Indragiri Hilir kembali mengeluh. Harga kelapa dalam tidak pernah stabil dan cendrung terus mengalami penurunan.

Menurut salah seorang petani, Samsul, beberapa waktu lalu ia dan petani lainnya sempat merasa gembira disebabkan harga kelapa mulai membaik namun kondisi ini tidak bertahan lama dan harga kembali anjlok.

“Sudahlah harga terus anjlok, pengepul tidak lagi membayar harga keseluruhan kelapa, tetapi pembayaran dilakukan secara bertahap,” Keluhnya kepada detikriau.org, sabtu (12/7/2014)

Pembayaran yang dilakukan secara angsuran oleh pengepul ini sempat dipertanyakan samsul. Menurut pengepul, pembayaran secara berangsur ini terpaksa harus ia lakukan karena perusahaan besar penampung kelapa juga memberlakukan hal serupa kepada mereka.

“setiap kali kelapa kita setorkan keperusahaan, kita juga hanya dibayarkan separuhnya. Dilapangan terpaksa sistem ini juga kami terapkan agar tidak merugi,” ujar samsul menyampaikan alasan pembayaran kredit oleh pengepul

Atan, petani kelapa lainnya di Desa teluk sungka juga membenarkan hal ini. Namun menurut Atan ada juga pengepul yang bersedia membayar secara tunai tetapi harganya jauh dibawah harga pengepul yang membayarkan secara angsuran.

“Ada yang mau bayar penuh tapi harganya jauh lebih rendah dan hal ini sudah lama terjadi”. Sebutnya

Dengan sumber penghasil terbesar masyarakat Inhil di sektor perkebunan khususnya kelapa dalam, masyarakat berharap kondisi ini segera mendapatkan perhatian serius dari pemerintah setempat.

“Kita berharap pemerintah segera turun tangan agar nasib petani seperti kami tidak semakin sengsara,” Sampaikan Atan.

Pantauan lapangan detikriau.org, harga jual perbutir kelapa ditingkat petani di kecamatan GAS saat ini berada pada kisaran Rp 1.200 hingga Rp 1300. padahal sebelumnya harga ini sudah sempat mencapai Rp. 2000.  (Ahmad Tarmizi)




Teluk Sungka, Jokowi raup suara terbanyak

Gaung Anak Serka (detikriau.org) – Semarak pesta demokrasi di Desa Teluk Sungka Kecamatan Gaung Anak Serka (GAS) pada Rabu (9/7/2014) berlangsung tertib dan aman, antusias ratusan masyarakat di Desa bersejarah ini cukup tinggi karena terlihat saat dimulainya pemilihan pada pukul 07.00 Wib, masyarakat berbondong-bondong datang kelokasi TPS untuk menggunakan hak pilih mereka, namun pada pukul 09.30 Wib lokasi TPS terlihat sudah sepi pasalnya dari empat tempat pemungutan suara (TPS) dengan jumlah daftar pemilih tetap (DPT) sebanyak 1118, hanya 662 DPT yang menggunakan hak pilihnya, sedangkan sisanya yang berjumlah sebanyak 456 DPT tidak menggunakan hak pilih, hal ini disampaikan oleh Asropin sebagai ketua Panitia Pemungutan Suara (PPS) desa Teluk Sungka kepada detikriau.org .Rabu malam (9/7/2014)

“Kita bersyukur pesta demokrasi didesa ini berjalan dengan aman dan tertib”. Ujarnya

Menurut penuturannya, hanya 3 suara yang dinyatakan hangus atau tidak sah dari total jumlah suara yang telah menggunakan hak pilih

Sedangkan untuk suara tertinggi diraup oleh kubu Jokowi Jk dengan total suara sebanyak 456 suara dan disusul oleh kubu Prabowo Hatta dengan raupan suara sebanyak 203 suara

Direncanakan pada Kamis pagi (9/7/2014) seluruh anggota PPS dan saksi dari kedua kubu peserta capres akan melaksanakan rapat pleno penghitungan suara tersebut yang akan dilaksanakan dikantor desa Teluk Sungka

“Kita jadwalkan besok (Kamis 9/7/2014 red) mengadakan rapat pleno dikantor desa”. Tandasnya (Ahmad Tarmizi)




Petani Risau, Harga Komoditas Kelapa Dalam Kembali Anjlok

kelapaGaung Anak Serka(detikriau.org) – Melambungnya harga kelapa dalam di kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) termasuk di Kecamatan GAS tampaknya tidak berlangsung lama. Harga komoditas perkebunan unggulan masyarakat itu kini kembali anjlok.

Atan salah satu petani kelapa di Kecamatan GAS mengatakan bahwa dirinya merasa khawatir jika harga kelapa terus anjlok

“Risau juge rase hati kalau harge kelape turun terus”,(“khawatir juga saya kalau harga jual kelapa terus menurun”). Sampainya dengan menggunakan bahasa Melayu kepada detikriau.org Sabtu (10/5/2014)

Selain itu, biaya upah kerja dalam proses pengelolaan kelapa hingga siap untuk dijual juga ikut terpengaruh karena kenaikan harga jual yang hanya bertahan dalam beberapa bulan tersebut, kondisi seperti ini membuat para petani kelapa semakin tertekan, penyebabnya ketika harga jual menurun biaya upah kerja tidak ikut menurun

“Kemaren harge jual naik upah kerje juge ikut naik, tapi saat harga kembali anjlok, upah tidak ikut turun, jelaslah kita jadi sulit”. Keluhnya

Hal senada juga disampaikan oleh Robi warga desa Teluk Sungka, ia menyebutkan bahwa dengan turunnya harga jual kelapa saat ini sangat berpengaruh dalam perekonomian keluarganya

“Naik sebentar eh turun lagi bagaimana kita bisa sejahtera kalau begini apalagi sekarang harga barang untuk kebutuhan sehari-hari naik semua”. Sebutnya

Berdasarkan informasi yang diperoleh detikriau.org, penurunan harga komoditi ini sangat drastis, pasalnya dalam kurun waktu satu atau dua hari penurunan harga jual kelapa sebelumnya mencapai Rp 2500 pada bulan April 2014 lalu dan pada 1 Mei 2014 menurun menjadi Rp 2300 perkilonya, dan harga terus anjlok hingga nominal perkilonya Rp 1800, selanjutnya sampai hari ini Sabtu 10 Mei 2014 harga tercatat hanya Rp 1300 perkilonya. (Ahmad Tarmizi)




Kado hardiknas, Pendidikan di Inhil masih Terbaui Pungli

“Wali murid SMPN 4 Teluk Sungka Keluhkan pungutan uang perpisahan”

sisi-kelam-sekolah2_fullGaung Anak Serka (detikriau.org) – Sejumlah orang tua (ortu) siswa di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 4 Desa Teluk Sungka Kecamatan Gaung Anak Serka (GAS) mengeluhkan pungutan uang perpisahan yang mencapai Rp 450.000 per siswa kelas tiga yang akan melaksanakan acara perpisahan

Samsul salah satu wali murid menyatakan bahwa pungutan seperti itu sudah berlangsung beberapa tahun yang lalu hingga sekarang namun ia tidak mengetahui kemana saja uang tersebut digunakan

“Pungutan seperti itu sudah bertahun-tahun sejak Pak Wahab jadi kepala sekolah, tapi saya tidak tahu untuk apa saja uang sebanyak itu digunakan”. Ujarnya

Sambungnya lagi,”Bayangkan saja untuk murid kelas tiga saja 450.000 per siswa dengan jumlah murid 37 orang, ditambah lagi dengan jumlah murid kelas satu dan dua berapa banyak uang yang terkumpul”. Sampainya kepada detikriau.org Jumat (2/5/2014) melalui sambungan telepon

Menurut keterangan Samsul yang akrab disapa Uwak ini, jumlah uang yang dibayar oleh siswa kelas satu dan dua tidak sama dengan kelas tiga
“Saya kurang tahu berapa jumlah pungutan untuk kelas satu dan dua tapi yang jelas ada dengan jumlah lebih rendah dibandingkan siswa kelas tiga”. Imbuhnya

Disamping itu Samsul juga sempat menyampaikan bahwa ia dan wali murid lainnya pernah mendatangi kepala sekolah tersebut karena anak-anak mereka selalu tidak mendapatkan pelajaran saat jam belajar yang dikarenakan para guru PNS disekolah tersebut tidak datang mengajar selama seminggu dengan alasan tidak jelas

“Kemarin kita dengan wali murid lainnya pernah datang kesekolah itu untuk bertanya kepada kepala sekolah karena anak-anak kita tidak belajar karena gurunya tidak datang, namun kepala sekolahnya tidak memberikan jawaban yang jelas seolah-olah bukan tanggung jawannya”. Sebutnya dengan nada kesal

Sementara itu, Latif yang juga sebagai wali murid membenarkan adanya pungutan dengan jumlah tersebut dan ia juga tidak mengetahui rincian penggunaan uang tersebut

” Memang ada pungutan uang perpisahan itu namun saya juga tidak tahu digunakan untuk apa saja”. Paparnya

Menanggapi hal tersebut kepala sekolah SMPN 4 Abdul Wahab melalui wakil kepala sekolahnya Nafsiah mengatakan bahwa ia tidak mengetahui dengan jelas rincian penggunaan uang tersebut namun ia membenarkan jumlah pungutan uang perpisahan sebesar Rp 450.000 tersebut

“Untuk kelas tiga setahu saya 450,000, tapi saya kurang tahu rinciannya, tanyakan saja dengan kepala sekolahnya langsung”. Jelasnya

Saat dihubungi detikriau.org beberapa kali melalui sambungan telepon, Kepsek SMPN 4, Abd Wahab tidak menjawabnya. (Ahmad Tarmizi)




Warga Teluk Sungka resah, penyakit gatal-gatal mewabah

06Gaung Anak Serka (detikriau.org) – Sejumlah warga desa Teluk Sungka Kecamatan Gaung Anak Serka (GAS) merasa resah karena penyakit gatal-gatal yang dideritanya. Bukan hanya orang tua kini balitapun terjangkiti.
Fais salah satu balita usia dua tahunan diseluruh  tangan dan kakinya terdapat bentolan-bentolan kecil berair bercampur nanah.
“Hampir setiap malam anak saya menangis saat mau tidur karena gatal-gatal itu”. Sebut Azwar sebagai orangtua Fais kepada
detikriau.org Kamis (17/4)
Tidak hanya Fais, Wira (19) yang juga menderita penyakit tersebut selama 4 bulan juga resah karena penyakit gatal-gatalnya tidak kunjung
sembuh meski telah mengkonsumsi berbagai jenis obat “udah hampir 4 bulanan, berobat udah banyak mulai dari obat kampung sampai dokter juga sudah tapi tak juga kunjung sembuh “. Ujar salah satu siswi SMA pondok pesantren ini
Menurut penuturannya, teman-teman sekolahnya juga ada yang terkena penyakit yang sama akan tetapi tidak sefatal yang ia derita
“Kawan-kawan juga ada yang kena tapi tidak separah ini, mereka masih bentolan yang berisi seperti air saja, kalau saya ada nanahnya”.
Imbuhnya
Selain itu Iswandi atau yang akrab disapa Kabok juga menyampaikan bahwa orangtuanya juga terkena penyakit yang sama dibagian betis “Orangtua saya juga kena gatal-gatal seperti itu dan sudah banyak obat dimakan masih tak mau baik juga”. Sampaikan Iswandi. (Ahmad Tarzmizi)