Warga Selensen Temukan Ular Sanca Sepanjang 6 Meter

ularTEMBILAHAN (www.detikriau.org) – Warga Desa Selensen, Kecamatan Kemuning digegerkan dengan penemuan ular sanca sepanjang  enam meter yang melilit batang kelapa sawit disebuah areal kebun milik masyarakat setempat, Senin ( 23/9) sekira pukul 10.00 WIB.

Menurut informasi,  keberadan ular dimaksud diketahui seorang warga setempat saat sedang membersihkan kebun. Ketika melihat ular, warga itu berteriak memanggil-manggil warga lain. Kemudian ia langsung
bergegasan mendatangi rumah salah seorang pawang ular yang bernama Tonang. Tanpa panjang lebar, Tonang langsung mendatangi lokasi awal ditemukanya ular sanca yang beratnya ditaksir mencapai ratusan Kilogram.

“Benar pagi itu ada warga kita yang melakukan rutinitas bisa membersihkan kebun. Tidak lama membersihkan kebun, tanpa sengaja ia melihat se ekor ular sanca ukuran besar didekat sekitar batang kelapa sawit,” kata Camat Kemuning, R Arliansyah.

Suasana yang semula biasa, berubah menjadi ribut. Masyarakat yang kebetulan sedang melintas ikut menyempatkan diri untuk singgah melihat langsung ular sanca dari dekat. Bahkan ada yang rela mengabadikan fotonya dengan se ekor ular sanca ukuran besar itu.

“Saat ini ular ukuran besar itu menjadi tontonan warga sekitar mulai dari anak-anak hingga orang dewasa di rumah salah seorang warga, “ tambah Camat

Mengenai ular ini, Camat berharap ada orang yang tepat dan mampu merawatnya dengan baik. Atau diberikan kepada lembaga yang benar-benar berhak memeliharanya. Sebab dikhawatirkan, bila tidak dipelihara dengan baik, ular itu bisa mengamuk, sehingga dapat membahayakan warga sekitar.

Lanjutnya, sebelum ditangkap ular sanca itu tidak banyak bergerak. Diperkirakan ular dalam kondisi kekenyangan setelah berhasil menyantap binatang liar didalam hutan, atau memangsa hewan-hewan ternak warga seperti ayam dan kambing.(dro/*1)




Pelaksanaan Ris PNPM Desa Rantau Panjang dinilai langgar Aturan

pnpmRantau panjang, Enok (www.detikriau.org) – Masyarakat Desa Rantau panjang Kecamatan Enok menilai pelaksanaan program RIS PNPM di desa mereka tidak dijalankan sesuai aturan. Penunjukkan lokasi semata hanya dilakukan oleh kepala desa tanpa melibatkan pihak terkait  serta berbagai penyimpangan aturan lainnya.

Pernyataan ini disampaikan oleh seorang tokoh muda Desa Rantau panjang, Dahlan di Tembilahan, senin (16/9). Dikatakannya, penentuan lokasi perbaikan ruas jalan di sungai tiung sama sekali tidak mengakomodir kepentingan masyarakat banyak. Seharusnya, pembangunan jalan dilaksanakan di jalan poros antara sungai tiung dan sungai intan.

“Kita menilai penentuan lokasi ini semata atas kebijakan kepala desa dan kami duga, secara pribadi, Kades ada meraup keuntungan dibalik semua kebijakan itu.” Ujar Dahlan.

Sesuai aturan, ditambahkan Dahlan, Sekretaris Desa harusnya dilibatkan karena ia termasuk dalam tim yang menjadi pihak penilai program kegiatan pembangunan apa yang paling dibutuhkan oleh Desa. Tetapi berdasarkan komfirmasi yang ia lakukan, Sekdes mengaku tidak mengetahui.

Dalam kesempatan itu, Dahlan juga sempat melontarkan kalimat bahwa Kades Rantau panjang, Zulkifli tidak layak untuk menjadi seorang pemimpin. Apalagi selama dua tahun masa kepemimpinannya, Kades jarang berada di Desa apalagi memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat. “ Kades kami nilai juga pembohong. Dulu waktu ia berkampanye agar dipilih sebagai kades, ia pernah menjanjikan untuk membangun jembatan desa jika kelak terpilih. Sekarang sudah 2 tahun. Janji itu hanya isapan jempol. Bahkan dalam waktu dekat ini masyarakat berencana akan melaksanakan aksi demo untuk menuntut janji kades,” Sampaikan Dahlan.

Sekretaris Desa (Sekdes) Rantau panjang, Fadli ketika dikomfirmasi, tidak menampik apa yang disampaikan Dahlan. Sebagai Sekdes, Fadli membenarkan bahwa ia tidak pernah dilibatkan dalam segala hal terkait pelaksanaan program RIS PNPM di desanya.

“saya tidak pernah mengetahui karena memang tidak pernah dilibatkan.” Ujar Fadli, senin (16/9)

Untuk pelaksanaan program RIS PNPM, menurut Fadli, sebagai aparatur pemerintahan desa, ia memang diberikan pelatihan khusus untuk itu. Sekdes menurutnya termasuk dalam tim perencanaan dan integrasi. Salah satunya apa yang disebut sebagai Survey Kampung Sendiri (SKS) yang dimaksudkan untuk menentukan program pembangunan apa yang menjadi skala prioritas untuk kepentingan masyarakat Desa.  Fadli sekali menegaskan untuk penetuan lokasi pembangunan di sungai tiung sama sekali diluar pengetahuan dirinya sebagai Sekdes.

“Kades termasuk OMS seharusnya hanya berperan sebagai pemantau pelaksanaan program PNPM bukan malah turun secara langsung sebagai pelaksana pekerjaan seperti yang terjadi saat ini,” Sampaikan Fadli.

Fadli juga mengakui pernah mendapatkan informasi bahwa Camat Enok pernah menyarankan agar Kades, BPD, LPM dan Sekdes untuk duduk bersama merembukkan persoalan ini. Tapi hingga saat ini tidak pernah diindahkan Kades.

“yang juga kita sesalkan, pihak konsultan pendamping tidak pernah hadir secara langsung ke lokasi. Saya pernah bertanya, menurutnya, warga rantau panjang susah diatur. Saya sendiri tidak paham apa yang dimaksudnya,” Pungkas Sekdes.

Terkait semua tudingan ini, Kepala Desa Rantau Panjang Kecamatan Enok, Zulkifli ketika dikomfirmasi melalui sambungan telepon selularnya dengan suara sedikit gagap membantah semua tudingan. Menurut kades, penentuan lokasi pembangunan proyek bukan kebijakan dirinya secara pribadi tetapi berdasarkan kesepakatan dengan masyarakat Desa.

“Kita sudah pernah melakukan rapat di sungai piyai terkait penentuan lokasi ini. Saat itu ketua BPD juga hadir. Bahkan kalau saat pelaksanaan itu hari tidak hujan, camat juga pasti hadir. Semua sesuai aturan. Tidak benar untuk kebijakan itu semata saya yang tentukan,” Bantah Zulkifli melalui sambungan selularnya dan mengakui bahwa ia saat ini sedang berada di Tembilahan.

Bahkan dalam kesempatan itu, Kades juga menyebutkan bahwa untuk penentuan lokasi, ia sudah mendapatkan persetujuan dari konsultan pendamping termasuk Camat Enok. Camat menurut Kades mengatakan agar penentuan lokasi disesuaikan saja.

Terkait tudingan bahwa ia tidak pantas menjadi seorang pemimpin menurutnya itu hanya pendapat segelintir orang yang tidak puas dengan dirinya. Janji untuk membangun jembatan disebutkannya sudah ia usulkan kepada Pemerintah Kabupaten tapi memang belum terealisasi.” Saya sudah usahakan tapi memang belum bisa terpenuhi. Jadi mau diapakan lagi?” Elak Kades. (dro)




PT RBH disebut Tukang Bohong

Dinilai Tak Pernah Tepati Janji Lakukan Perbaikan Badan Jalan

Ruas jalan licin dan berlumpur seperti ini setiap harinya menjadi keluhan masyarakat setempatTembilahan (www.detikriau.org) – Janji PT Riau Bara Harum (RBH) untuk melakukan perbaikan ruas jalan tampaknya hanya janji manis. Kalaupun ada, perbaikan yang dilakukan hanya sebatas pekerjaan tambal sulam.

Pernyataan ini disampaikan oleh Tokoh pemuda masyarakat Desa pengalehan Kecamatan Keritang, Ba’asir. Menurutnya, hingga saat ini kondisi ruas jalan  semakin hancur. Disaat musim kemarau, masyarakat sekitar mendapatkan suguhan kepulan debu yang menyesakkan pernapasan. “Kami rasanya tak mampu lagi bicara. Mengeluh seperti mengadu kepada orang tuli. Perusahaan ini seakan tidak perduli dengan kerugian dan keluhan masyarakat,” Kecam Baa’sir kemaren melalui sambungan selularnya.

Curahan hujan yang mulai mengguyur beberapa hari belakangan ini dikatakan Ba’asir membuat masyarakat semakin menderita. Badan ruas jalan tak ubahnya kubangan sapi, licin dan berlumpur. Sudah terbilang tahunan sejak luluhlantaknya ruas jalan yang pembangunannya didanai melalui dana APBD Provinsi, perusahaan bak diktator ini seakan tak perduli dengan apa yang dialami masyarakat.

“Masyarakat kami semakin tidak tahan. Kami memang sudah berencana untuk kembali melakukan demo dan meyampaikan persolan ini ke Pemerintah dan DPRD,” Ungkapnya dengan kesal

Senada dengan Ba’asir, tokoh pemuda Km 8 Desa Harapan Tani Kecamatan Kempas, Tarman membenarkan bahwa hingga saat ini setiap harinya puluhan bahkan ratusan kendaraan pengangkut batubara milik PT RBH masih seenaknya berseliweran dan meluluhlantakkan ruas jalan.

Menurut penuturannya, ruas jalan lintas samudera mulai simpang Km 5 Desa Bayas Jaya Kecamatan Enok hingga Desa Sincalang, Kecamatan Keritang kondisinya semakin parah karena sejak pagi sampai malam dini hari ratusan truk angkutan batubara seakan tidak pernah berhenti melakukan aktifitas.”Satu kali lewat, 20 hinga 30 kendaraan truk berjejer memenuhi ruas jalan. Siang dan malam. Perbaikan yang dilakukan hanya terlihat sebatas menebarkan bebatuan di badan jalan. Kondisi ruas jalan seperti ini tentunya akan semakin rawan menimbulkan kecelakaan khususnya bagi kendaraan roda dua,” Sampaikannya.

Camat Keritang, A Ramani ketika dikomfirmasi melalui sambungan teleponnya juga membenarkan bahwa janji PT RBH untuk melakukan perbaikan jalan hanya sebatas janji manis. “RBH memang selalu berbohong. Perbaikan jalan yang dijanjikan sepanjang 26 Kilo Meter hanya tinggal janji dan tidak pernah ditepati. Kalaupun ada perbaikan, yang dilakukan tidak lebih dari penimbunan. Pihak Kecamatan sudah cukup puas menyampaikan keluhan masyarakat. Namun sepertinya tak digubris,” Sampaikan Camat.

Anggota DPRD Inhil dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB), Edy Gunawan ketika dimintai tanggapan juga menyampaikan desakan agar PT RBH menepati janji yang pernah mereka sampaikan. Ia juga membenarkan dalam rapat bersama pihak Dinas Perhubungan Provinsi Riau beberapa waktu lalu, PT RBH sudah berjanji untuk melakukan perbaikan.”Kita tidak punya wewenang untuk memberikan sanksi karena itu menjadi haknya Dishub Provinsi. Kita sudah lakukan berbagai upaya untuk menyampaikan keluhan masyarakat. Hasilnya, dulu mereka sudah menjanjikan. Harusnya ini ditepati.” Pinta Asun panggilan akrab mantan Ketua Komisi III DPRD Inhil ini mengakhiri. (dro)




laka laut, Warga Enok Tewas di Suak Hantu

Kapolsek enok dan anggota saat menyaksikan evakuasi jenajah korban
Kapolsek enok dan anggota saat menyaksikan evakuasi jenajah korban

TEMBILAHAN (www.detikriau.org) – Syukur (49) warga Jalan Muhajirin RT.02 Desa Rantau Panjang Kecamatan Enok, yang diduga korban kecelakaan laut beberapahari lalu sudah ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa di perairan Kuala Suak Hantu Desa setempat, Kamis (5/9) sekitar pukul 10.30 Wib.

Menurut informasi, sehari sebelum ditemukan jasad korban, korban mengalami kecelakaan di TKP dengan menggunakan sebuah sampan kecil. Ketika itu korban bersama dua orang rekannya Bambang dan Edy hendak pergi ke Desa Teluk Medan Kecamatan Enok dengan bermaksud  bertemu dengan seorang kenalannya yang berprofesi sebagai dukun.

Naas saat tiba di TKP, sampan yang mereka naiki mengalami kecelakaan. Sehingga korban yang tidak bisa berenang tak mampu menyelamatkan diri. Sedangkan kedua temanya Bambang dan Edy berhasil selamat dari maut seteleh berenang ketepian sungai. Saat itu pula temanya yang dibantu warga melakukan pencarian,namun belum membuahkan hasil.

“Bahkan seorang temanya bernama Bambang saat kecelakaan itu juga mengalami luka serius sehingga terpaksa di rawat intesif di RSUD Puri Hsuada Tembilahan,”Jelas Kapolres Inhil, AKBP Dedi Rahman Dayan melalui Paur Humas, Ipda Warno Jumat (6/9) di Tembilahan.

Korban pertama kali ditemukan oleh tiga warga sekitar bernama Esang, Acok dan Udin. Kasus kecelakaan laut tersebut saat ini masih dalam penyelidikan aparat kepolisian. Bahkan beberapa orang saksi sudah dimintai keterangan untuk mengumpulkan bukti kuat akibat kecelakaan.

Menurut Paur Humas, sesaat sebelum terjadinya musibah tersebut, korban bersama 2 orang temannya sempat melakukan pencoblosan di Tempat Pemungutan Suara (TPS) di dekat kediamanya. “Mayat korban sudah dikembalikan kepada pihakkeluarga untuk dikebumikan,” Pungkas Ipda Warno

Terkait adanya dugaan kecelakaan yang menyebabkan minggalnya Sykur, masyarakat meminta agar kepolisian mengungkap kasus ini. “Keterangan saksi membenarkan bahwa penyebab terbaliknya perahu akibat ditabrak speedboat. Kita minta polisi segera menyelidiki informasi ini dan jika terbukti, pelaku harus ditahan dan menghukum sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” Sampaikan warga melalui mantan Kepala Desa Rantau panjang, Asmuni.(dro)




Puting Beliung Hantam Puluhan Pemukiman Warga Kecamatan Enok.

anginTembilahan (www.detikriau.org) – Sedikitnya sebanyak 22 Unit pemukiman warga Desa Sungai Lokan Kecamatan Enok porak poranda dihantam puting beliung. Dalam peristiwa yang terjadi sekira pukul 17.15 Wib, Selasa (25/6) itu, disamping merusakkan pemukiman penduduk Desa Sungai Lokan,  puting beliung juga merusak 23 unit rumah warga Dusun Sungai Piyai kiri Desa Rantau Panjang.

Berdasarkan informasi warga Desa Rantau Panjang, Kecamatan Enok, saat kejadian, ia dan teman-temannya sedang bermain poly. Ditengah suhu udara sore yang cukup panas, tiba-tiba hujan turun disertai datangnya hembusan angin yang sangat kencang. “langit sore itu mendadak gelap. Kita sempat cemas. Usai kejadian, kita dapat berita banyak rumah warga di Dusun Piyai Kiri, Desa Rantau panjang yang rusak akibat tiupan angin,” Jelas Warga setempat, Kiki Saputra kepada detikriau.org melalui sambungan telepon selularnya, Rabu (26/6)

Data yang diperoleh, jumlah kerusakan rumah Desa Sungai Lokan  sebanyak 14 unit rusak ringan dan 8 unit rusak berat. Sedangkan di Dusun Sungai Piyai Kiri, 3 rumah rusak berat dan lebih 20 unit rusak ringan.

Camat Enok, Satir Hasan membenarkan terjadinya musibah putting beliung ini.

“Saat ini para korban, khusus yang rumahnya rusak berat sementara menumpang di rumah sanak keluarganya,” terang Camat sambil mengakui sudah melaporkan peristiwa ini ke Dinas Terkait.(dro)