Bermodal Rompi SWAT, Polisi Gadungan Peras Pengendara di Makassar

Ilustrasi Polisi Gadungan. ©2015 Merdeka.com







ARB INdonesia, MAKASSAR – Residivis bernama Lufti Tajuddin (31) warga Kecamatan Manggala yang mengaku-ngaku sebagai polisi diringkus polisi dari unit Jatanras Polrestabes Makassar, Jumat malam (17/1) pukul 21.00 Wita. Lutfi merupakan pelaku kriminal dengan 14 Laporan Polisi (LP) terhitung sejak Oktober 2019 hingga Januari 2020 ini.


Kejahatan yang dilakukannya mulai dari pencurian, penipuan dan pemerasan. Dari tangan Lutfi, polisi mengamankan sejumlah barang bukti seperti sejumlah ponsel dan sepeda motor.


Kemudian satu lembar rompi hitam bertuliskan SWAT (Special Weapons And Tactics). Rompi tersebut digunakan Lutfi saat menjadi polisi gadungan untuk memeras pengendara yang tidak lengkap surat-surat kendaraannya.


Kapolrestabes Makassar, Kombes Polisi Yudhiawan Wibisono saat dikonfirmasi Minggu (19/1) menjelaskan Lutfi sebelumnya residivis kasus pencurian sepeda motor di Polsek Manggala, penggelapan sepeda motor di Polsek Mamajang dan penggelapan alat elektronik di Polsek Panakkukang.







“Ada tujuh tindak pidana pencurian, penipuan dan pemerasan yang dilakukan tersangka dengan cara menyamar sebagai polisi dengan menggunakan rompi hitam bertuliskan SWAT. Modusnya dengan menahan pengguna jalan di pinggir jalan dan memeriksa kelengkapan surat-suratnya. Jika tidak lengkap, dia minta uang tebusan dengan nilai beragam mulai dari Rp 200 ribu hingga Rp 400 ribu,”kata Yudhiawan.


“Pernah juga di sebuah warung mengaku anggota Resmob, pinjam ponsel pengunjung. Saat pemilik lengah, tersangka lalu bawa kabur ponsel itu,” sambungnya.



Selain mengaku sebagai polisi, Lutfi juga pernah mencuri di indekos putri, rumah bernyanyi atau tempat karaoke dan rumah sakit. Modusnya antara lain pura-pura jadi sales dan membawa kabur barang incaran saat perawat di rumah sakit tertidur.


“Saat pengembangan, tersangka berusaha melarikan diri dan mencoba lompat dari kendaraan petugas dengan mendorong dan membenturkan kepalanya ke arah wajah anggota kemudian melarikan diri. Tapi anggota mengejar dan berhasil mengamankannya setelah kaki kanannya ditembak lantaran mengabaikan tiga kali tembakan peringatan,” pungkas Kombes Polisi Yudhiawan Wibisono. (*)


loading…




Sumber merdeka.com
https://m.merdeka.com/peristiwa/bermodal-rompi-swat-polisi-gadungan-peras-pengendara-di-makassar.html




Dua Pelaku Diduga Pembakar Lahan Diamankan, Polresta Pekanbaru Lakukan Olah TKP

ARB INdonesia, PEKANBARU – Kapolresta Pekanbaru Kombes Pol Nandang Mu’min Wijaya SIK, MH, melakukan peninjauan lokasi karhutla yang terjadi Jalan Wonosari RT 02 / RW 05, Kelurahan Tirta Siak, Kecamatan Payung Sekaki Pekanbaru. Sabtu (18/1/2020) sekira pukul 10.30 Wib.


Turut hadir mendampingi dalam peninjauan karhutla tersebut, Kasat Reskrim Polresta Pekanbaru Kompol Awaludin Syam, SIK, M.M, Kapolsek Payung Sekaki Iptu Akhmad Rivandy N., S.I.K, Kanit Res Ekonomi Polresta Iptu Aris Gunadi S.IK, Kanit Reskrim Polsek Payung Sekaki Iptu Suleman, Kanit Binmas Polsek Payung Sekaki Ipda Hasriyal, Anggota Reskrim Polresta Pekanbaru, dan seluruh Bhabinkamtibmas Polsek Payung sekaki serta Kalakar BPBD Zarman Chandra S. TTP, ketua RW. 05 Suheri.



Kombes Pol. Nandang Mu’min Wijaya kepada wartawan dilokasi mengatakan bahwa kegiatan peninjauan ini guna melakukan olah TKP.


“Kita (Rombongan, red) disini meninjau lokasi lahan yang terbakar sembari melakukan Olah TKP dengan menghadirkan 2 orang warga yang diduga pelaku pembakaran lahan.” Jelas Kapolresta Pekanbaru.


Lanjutnya, dari 2 tersangka berinisial IST dan SS ini diperkirakan luas lahan yang terbakar sekitar kurang lebih 1 Hektare, turut juga diamankan barang bukti (BB) cangkul dan parang.


Saat ini, pelaku pembakar lahan di wilayah Kecamatan Payung Sekaki tersebut diamankan dan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut di Polresta Pekanbaru.  (rls)


Editor arb




Kesal Istri Digoda, Suami Sewa Orang untuk Bacok Pria Hidung Belang

Seorang suami menyewa sejumlah orang untuk membacok pria hidung belang yang sering menggoda istrinya. Foto/Ilustrasi/SINDOnews


ARB INdonesia, MOJOKERTO – Seorang pria bernama Ahmad Ali Mustofa (31) ditangkap polisi lantaran dianggap sebagai dalang pengeroyokan pemuda, Muhammad Syahrul Hafid (19). Warga Kota Mojokerto, Jatim ini diketahui menyewa sejumlah orang untuk membacok Hafid yang diduga sering menggoda istri pelaku.


Hafid nyaris tewas dengan luka sabetan pedang di pipi sebelah kanan dan punggung sebelah kanan.


Kapolres Mojokerto, AKBP Feby DP Hutagalung, menjelaskan pengeroyokan yang dilakukan orang suruhan Ahmad Ali bermula saat pelaku mengetahui sang istri sering digoda Hafid. Pemuda tersebut sering mengirim pesan singkat melalui aplikasi WhatsApp.


Ahmad Ali yang mengetahui hal itu lantas menyewa lima orang untuk memberi pelajaran kepada Hafid. “Pelaku membayar orang sebesar Rp1 juta untuk menganiaya korban,” terang perwira menengah polri yang pernah menjabat Kapolres Lamongan ini.


Akibat perbuatannya itu, Ahmad Ali harus mendekam di dalam sel tahanan. Ia diamankan polisi beserta empat orang yang disewa untuk menganiaya Hafid. “Motif pengeroyokan dilatarbelakangi dari rasa cemburu tersangka,” terangnya.


Sedangkan dua orang pelaku lainnya masih buron, polisi pun masih berusaha mencari keberadaan keduanya. “Dua pelaku lainnya masih buron, satu pelaku perempuan berinisial Y dan satu pelaku laki-laki berinisial T,” sambung Kanit Resmob Satreskrim Polres Mojokerto, Ipda Prima Andre Rinaldo Azhar.


Andre menambahkan para tersangka dijerat Pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan dengan ancaman hukumannya 10 tahun penjara. (*)


loading…




Sumber Sindonews.com
https://makassar.sindonews.com/read/41194/1/kesal-istri-digoda-suami-sewa-orang-untuk-bacok-pria-hidung-belang-1579341666




Delapan Pelaku Cekoki Lem Cap Kambing, Bocah di Perawang Disetubuhi

Kapolsek Tualang Kompol Pribadi konferensi pers kasus persetubuhan anak di bawah umur di Mapolsek Tualang, Sabtu (18/1/2020).(foto wiwiek widaningsih/riaupos)


ARB INdonesia, SIAK – Delapan tersangka melakukan persetubuhan terhadap anak di bawah umur (14) diamankan Polsek Tualang. Dari delapan tersangka, empat diantara masih berstatus pelajar di Kecamatan Tualang, yakni An (21), Ra (18), Ha (20), Am (18), Fa (15), Do (17), Zu (17), dan RI (14).


“Delapan pelaku melakukan persetubuhan anak di bawah umur telah kita amankan, setelah mendapatkan laporan dari pihak keluarga korban,” ujar Kapolres Siak AKBP Doddy F Sanjaya melalui Kapolsek Tualang Kompol Pribadi pada konferensi pers di Mapolsek Tualang, Sabtu (18/1/2020).


Kapolsek menjelaskan penangkapan tanggal 14 Januari 2020 ,selanjutnya dilakukan pengembangan kasus. Para tersangka melakukan aksinya di Gedung Olahraga (Gor) Perawang Kecamatan Tualang 10 Januari 2020.


“Kita melakukan pengembangan setelah mendapatkan laporan dari orangtua korban tanggal 14 Januari 2020,” jelasnya.


Kronologis kejadian tersebut pada hari Jumat tanggal 10 Januari 2020 sekitar pukul 18.00, korban yang masih berstatus pelajar bermain di Gor Tualang Km 10.


Dalam melakukan aksinya para pelaku mencekoki korban dengan lem cap kambing. Setelah mabuk, korban baru disetubuhi. 


Ibu korban menanyakan kenapa sering main ke Gor Tualang setelah korban baru pulang kerumah selama 2 hari tidak balik.


Korban kemudian menceritakan peristiwa yang dialami kepada ibunya. Dimana para pelaku  telah melakukan persetubuhan terhadap dirinya  Setelah mendengar cerita anaknya, ibu korban melaporkan hal tersebut ke Polsek. (*)


loading…




Sumber riaupos.co
http://m.riaupos.co/220883-berita-delapan-pelaku-cekoki-lem-cap-kambing-bocah-di-perawang-disetubuhi-.html




Investasi Bodong Merajalela, Salah OJK atau Masyarakat?

Barang bukti investasi ilegal aplikasi MeMiles. ©2020 Merdeka.com/Erwin Yohanes


ARB INdonesia, JAWA TIMUR – Polda Jawa Timur belum lama ini berhasil mengorek kasus investasi bodong beromzet Rp 750 miliar yang dilakukan PT Kam and Kam lewat aplikasi bernama MeMiles. Polisi pun telah menetapkan lima tersangka dalam kasus ini.


Kasus investasi bodong merupakan hal yang sudah sering terulang dari waktu ke waktu namun belum dapat terpecahkan. Lantas siapa yang harus bertanggung jawab, apakah pihak regulator atau masyarakat yang bebal tak mau mendengar segala himbauan?


Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menilai bahwa tanggung jawab terkait masalah investasi bodong ini tak bisa dijatuhkan hanya kepada salah sepihak saja.


“Kasus semacam ini tidak bisa dilihat sepotong-sepotong. Masing-masing pihak tentu memiliki kontribusi sehingga kasus terus muncul,” jelas Sekretaris Harian YLKI Agus Suyatno kepada Liputan6.com, Sa btu (18/1).


Agus beranggapan, proses penyelesaian idealnya dijalankan oleh pihak pemerintah, dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan yang memiliki mekanisme kontrol di lapangan. Dengan begitu, pemerintah dapat dengan sigap memblomir atau setidaknya memberikan warning kepada masyarakat untuk berhati-hati terhadap model investasi yang tidak memiliki izin.


Terkait upaya pemblokiran, ia pun menganggap hal tersebut bukan hanya dikenakan pada perusahaannya saja, tapi juga pihak pemodal atau tokoh dibalik layar.


“Dalam menutup atau blokir dan memasukan nama perusahaan dalam blacklist idealnya bukan hanya nama perusahaan, tetapi juga pemodal, siapa yang ada dibalik perusahaan tersebut. Ini untuk antisipasi jika dikemudian hari (yang bersangkutan) mendirikan perusahaan sejenis dengan nama lain,” imbuhnya.


Di satu sisi, Agus menambahkan, masyarakat juga jangan gampang terbujuk rayu dengan investasi yang belum jelas izinnya. Penipuan investasi bodong dianggapnya sering terjadi lantaran diperparah dengan minimnya literasi masyarakat tentang investasi.


“Masyarakat bisa cek legalitas investasi tersebut melalui OJK, apakah sudah terdaftar atau tidak. Iming-iming hasil yang berlipat ganda dengan risiko yang kecil juga menjadi daya tarik masyarakat. Secara logika, investasi dengan keuntungan besar tentu akan memiliki risiko yang besar,” pungkasnya.



Ciri-Ciri Investasi Bodong


Perencana keuangan Ruisa khoiriyah, memaparkan bahwa investasi bodong atau tipuan berbungkus investasi, ciri-cirinya sebenarnya mudah dikenali.


Pertama, dia menawarkan sesuatu yang too good to be true. Dalam kasus Memiles, dia menawarkan keuntungan yang tidak masuk akal.


“Misalnya, bila nasabah top up Rp 300.000 dia bisa mendapatkan iming-iming keuntungan hingga ratusan juta rupiah,” kata Ruisa kepada Liputan6.com, Jakarta, Sabtu (18/1).


Kedua, perizinannya tidak jelas. Sebuah perusahaan investasi harus mengantongi izin dari OJK, tidak cukup dengan izin sebagai PT.


Menurutnya dalam kasus MeMiles, dia hanya berizin dari Ditjen Administrasi Hukum Umum (AHU) Kementerian Hukum dan HAM sebagai perusahaan advertising.


Ketiga, model bisnisnya tidak jelas. Skema investasi yang masuk akal bisa menjelaskan model bisnisnya seperti apa, dari mana pengelola mendapat untung, bagaimana nasabah bisa mendapatkan untung dan sebagainya.


“Tapi dalam tipuan investasi, nasabah sulit menerka bagaimana bisnis tersebut dijalankan. Nasabah hanya diminta untuk top up dan top up, ini ciri utama skema Ponzi di mana keuntungan nasabah dibayarkan oleh uang dia sendiri atau dari setoran nasabah baru,” ungkapnya.


Keempat, tidak ada penjelasan tentang risiko. Setiap investasi pasti memiliki risiko, para penipu investasi jarang yang berterus terang, tentang risiko yang mungkin terjadi. Mereka umumnya hanya bicara untung, dan memanfaatkan hasrat calon korban mereka.


Selanjutnya, ia pun memberikan tips cara menghindari penipuan investasi ilegal, yakni jangan pernah mau berinvestasi dengan ciri-ciri mencurigakan yang sudah dijelaskan di atas.


Tetaplah berpikiran rasional, dan tidak terjebak keserakahan. Pilih produk investasi yang sudah jelas identitasnya, rekam jejak dan legalitasnya. Yang terakhir sesuaikan pilihan investasi dengan rencana dan tujuan keuangan Anda. (*)


loading…




Sumber merdeka.com – liputan6.com
https://m.merdeka.com/uang/investasi-bodong-merajalela-salah-ojk-atau-masyarakat.html




Pendukung Anies Baswedan dalam Aksi Demo di Balai Kota Akhirnya Dipolisikan, Pasal Makar

Perwakilan Tim Advokat Peduli Perdamaian (APP), C Suhadi yang mempolisikan pendukung Anies Baswedan saat demo di Balai Kota DKI ke Polda Metro Jaya dengan pasal makar. Foto: Firdausi/PojokSatu,id


ARB INdonesia, JAKARTA – Tim Advokat Peduli Perdamaian (APP) melaporkan sejumlah pendukung Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan ke Polda Metro Jaya.


Tak tanggung-tanggung, para pendukung Anies yang menggelar aksi di Balai Kota DKI beberapa waktu lalu itu dipolisikan dengan pasal makar.


Alasannya, dalam aksinya, mereka membentangkan spanduk dan poster tuntutan pelengseran Presiden Jokowi.


“Yang kita laporkan itu adalah berkaitan dengan rencana makar dengan mengatakan presiden dan lain sebagainya,” kata perwakilan Tim APP, C. Suhadi di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Jumat (17/1/2020).


Mereka yang dipolisikan adalah sejumlah perempuan yang kedapatan membentangkan poster tuntutan pelengseran Jokowi.


Massa Bang Japar di Balai Kota DKI dukung Anies Baswedan. Foto Indopos


“Tapi di sini ada perempuan yang sudah tergambar, terpotret dengan baik itu dia yang akan kita laporkan,” ujarnya.


Menurut Suhadi, demo para pendukung Anies yang digelar pada Selasa kemarin sudah keluar dari konteksnya.


Sebab, dalam aksi itu massa pro Anies membawa-bawa nama Presiden Jokowi.


Padahal aksi tersebut terkait penanganan banjir kepada Gubernur DKI Jakarta.


“Demo kemarin itu adalah demo pro Anies Baswedan, tidak ada urusannya dengan masalah presiden karena presiden itu sudah terpilih,” katanya.


Karena itu, Suhadi menilai apa yang dilakukan para perempuan saat aksi itu sudah menjadi bentuk pelecehan terhadap simbol negara.


Pasalnya, mereka mengatasnamakan warga Indonesia yang hendak menurunkan Presiden Jokowi dari kursi jabatannya.


“Tujuan besarnya adalah kita mau kasih pesan kepada siapapun bahwa pemilu sudah selesai. Simbol-simbol negara itu tidak boleh lagi dibawa-bawa. Itu yang mau kita tegaskan,” terang Suhadi.


Tak hanya itu, pasal yang akan digunakan Tim APP dalam laporannya terhadap para wanita yang mengatasnamakan “Ema Ema” itu yakni pasal 107, 169, dan UU ITE 28 ayat (2) dan juga pasal makar.


“Sementara pasal yang akan kita gunakan adalah 107dan 169 dan ITE 28 ayat 2. Kita sudah ada bukti flashdisk, berisi video dan juga tripping dari koran juga kita masukkan,” pungkasnya.


Massa Bang Japar di Balai Kota DKI dukung Anies Baswedan. Foto Indopos


Untuk diketahui, Balai Kota DKI Jakarta pada Selasa (14/1) lalu didatangi dua kelompok massa yang berbeda. Yakni massa pro dan kontra Anies.


Massa kontra yang digawangi politisi PDIP dan pegiat medsos Abu Janda menuntut tanggungjawab Anies atas banjir Jakarta.


Mereka juga menuntut ganti rugi atas banjir yang terjadi di hari pertama tahun 2020 itu.


Sementara, massa pro Anies datang dari ormas milik anggota DPD RI Fahira Idris, Bang Japar dan sejumlah ormas Betawi.


Mereka datang bertujuan untuk ‘memagari’ Balai Kota dan Anies Baswedan yang mereka nilai telah didzalimi.


Suasana bahkan sempat memanas. Sehingga polisi mengarahkan massa kotra Anies ke kawasan Patung Kuda, Silang Monas. (*)


loading…




Sumber Pojoksatu.id
https://pojoksatu.id/news/berita-nasional/2020/01/17/pendukung-anies-baswedan-dalam-aksi-demo-di-balai-kota-akhirnya-dipolisikan-pasal-makar/3/