Tolak Ganti Nama, Anak Bunuh Ibu Kandung

Polres Sragen gelar rekonstruksi kasus anak bunuh ibu kandung di Sragen. (Foto Ahmad Khairuddin/Radar Solo)


ARB INdonesia, SRAGEN – Kasus anak bunuh ibu kandung kembali terjadi. Kali ini kejadiannya di Sragen Jawa Tengah.


Hendriyatno (36) warga Dusun Barong, Desa Pendem, Kecamatan Sumberlawang, Sragen menganiaya ibu kandungnya, Daliyem (50) hingga tewas.


Hendriyatno menghabisi ibu kandungnya karena permintaannya untuk ganti nama ditolak sang ibu.


Hal itu terungkap saat Polres Sragen melakukan rekonstruksi di rumah Daliyem, Selasa (28/1). Terdapat 22 adegan yang diperagakan tersangka maupun saksi.







Penjabat sementara (Pjs) Kasubbag Humas Polres Sragen AKP Harno menjelaskan, tersangka nekat menghabisi ibu kandungnya dengan alasan minta ganti nama tapi tak dituruti.


“Korban menolak menuruti kemauan tersangka untuk mengganti nama, sehingga membuat (Hendriyatno) marah yang kemudian melakukan pemukulan ke beberapa bagian tubuh korban dengan tangan kosong. Korban meninggal dunia akibat pendarahan pada otak,” terangnya mewakili Kapolres Sragen AKBP Raphael Sandy Cahya Priambodo.


Awalnya, ada dugaan tersangka memiliki riwayat ganguan jiwa. Sebab, Hendriyatno pernah mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Surakarta beberapa tahun lalu. Namun, setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter, kondisi kejiwaanya sehat.


“Hasil pemeriksaan rumah sakit jiwa, yang bersangkutan itu mampu mempertanggungjawabkan perbuatannya dan dapat dilakukan upaya proses hukum,” terang Harno.







“Kadang-kadang tersangka ini sehat. Kadang-kadang jiwanya sedikit terganggu karena pernah putus cinta,” jelasnya.


Akibat perbuatannya, Hendriyatno akan dijerat pasal 351 ayat 3 KUHP tentang Penganiayaan yang mengakibatkan meninggal dunia dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.


Ketua RT 06 Dusun Barong Sutrisno mengaku terkejut atas kejadian tersebut. Selama menjabat sebagai ketua RT, keamanan lingkungan selalu kondusif.


“Tidak menyangka tersangka tega membunuh ibunya sendiri karena cuma minta ganti nama,” jelasnya.


Selama ini, Daliyem dikenal sebagai warga yang baik. Selain menjadi ibu rumah tangga, almarhumah pada hari-hari tertentu berdagang makanan di objek wisata Gunung Kemukus, sedangkan Hendriyatno, pernah bekerja di pabrik di kawasan Kalioso, Karanganyar.







Sekadar informasi, penganiayaan tersebut terjadi Rabu (1/12) sekitar pukul 21.00. Sebelumnya, terjadi keributan antara tersnagka dengan Daliyem di dalam kamar. Hendriyatno ngotot minta kepada ibunya untuk mengganti namanya. Namun, saat itu sang ibu tidak menggubris.


Merasa diabaikan, tersangka gelap mata dan menghajar sang ibu. Mendengar teriakan Daliyem, sang suami, Sadiyo tidak berani mendekat.


Baru beberapa saat setelah Hendriyatno berhenti menghajar Daliyem, Sadiyo (60) masuk ke kamar mengecek kondisi istrinya.



Saat itu, Daliyem sudah bersimbah darah. Pria ini pun lantas berteriak kepada tetangga sekitar minta tolong membantu menolong istrinya.


Rumah Sakit Yaksi Gemolong. Namun karena luka yang dialami Daliyem cukup parah, nyawanya tidak tertolong.


Barang bukti yang diamankan antara lain pakaian korban, sprei dengan bekas darah, gigi palsu milik korban, dan dokumen surat keterangan berobat dan hasil periksa dari RSJD Surakarta. (*)


loading…




Sumber Pojoksatu.id
https://pojoksatu.id/news/berita-nasional/2020/01/29/tolak-ganti-nama-anak-bunuh-ibu-kandung/




Sidang Dugaan Ujaran Kebencian Terhadap Jokowi, Jaksa Penuntut Umum Nilai Eksepsi Penasehat Hukum Terdakwa Keliru

Sidang ke 4 atas dugaan kasus tindak pidana ujaran kebencian terhadap Presiden Joko Widodo, foto Arbindonesia.com







ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Pengadilan Negeri Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) kembali menggelar sidang ke-4 Terdakwa Usman atas dugaan kasus tindak pidana ujaran kebencian terhadap Presiden Joko Widodo, Selasa (28/01/20).


Sidang tersebut mengagendakan tanggapan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) atas Eksepsi atau Nota Keberatan yang disampaikan Penasihat Hukum Terdakwa pada sidang ke-3, Selasa 21 Januari 2020 lalu.


Dalam berjalan nya persidangan, Jaksa Penuntut Umum, Juniarti SH menyampaikan, keberatan atas Eksepsi yang disampaikan Penasihat Hukum Terdakwa Usman itu dinilai keliru dan harus dikesampingkan.


“Kami mohon kepada Majelis Hakim yang terhormat, supaya keberatan yang disampaikan Penasihat Hukum terdakwa agar dikesampingkan, karena  tidak sah dan tidak mempunyai nilai hukum,” kata JPU dalam persidangan.







Menurut Juniarti SH, Eksepsi yang disampaikan Penasihat Hukum Terdakwa pada Selasa lalu hanya merupakan tangkisan yang tidak berdasar.


Sebab, Kalimat yang tuliskan Terdakwa (Usman) melalui postingan diakun Facebook ‘Warga Langit’ merupakan hasutan yang dilakukan melalui media sosial, sehingga sifatnya terbuka dan bisa di akses dan dibaca oleh semua orang.


“Sehingga perbuatan tersebut bisa berakibat timbulnya kerugian dan berpotensi besar dapat menimbulkan konflik seperti kerusuhan, pembantaian, pembakaran, pengusiran atau pemusnahan terhadap kompok tertentu yang menjadi sasaran ujaran kebencian,” tuturnya dalam persidangan.


Atas Tanggapan yang disampaikan, Juniarti SH meminta kepada Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini untuk menolak keberatan yang diajukan oleh Penasehat Hukum terdakwa.







Untuk diketahui, dalam Eksepsi yang disampaikan Terdakwa Usman melalui Penasehat Hukum pada sidang sebelumnya, bahwa dakwaan Penuntut Umum tidak dapat diterima dengan alasan perkara yang didakwakan bukanlah tindak pidana. Dikarenakan tidak adanya unsur unsur pidana apakah kejahatan, pelanggran ataupun tindakan melawan hukum.


Selain itu, dakwaan Penuntut Umum terdapat perdedaan delik antara Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dengan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Penyidikan.


Untuk diketahui, dalam persidangan tersebut dipimpin oleh Ketua Majelis Nurmala Sinurat, SH, Hakim Anggota Arif indrianto, S.H.,MH dan Andy Graha, SH.


Reporter Arbain




Dilaporkan Hilang, Remaja Putri Ternyata Dijadikan Pekerja Seks Komersial

Foto: Ilustrasi/SINDOnews/Dok







ARB INdonesia, DEPOK – Remaja putri AP (16) berhasil diselamatkan Satuan Reserse dan Kriminal Polres Metro Depok. AP awalnya dilaporkan hilang oleh orangtuanya.


Setelah ditelusuri ternyata AP dijadikan pekerja seks komersial (PSK). AP diselamatkan pada Sabtu (25/1/2020) di sebuah apartemen di Depok.


Kasubbag Humas Polrestro Depok AKP Firdaus mengatakan, pihaknya menerimalaporan anak hilang pada Rabu (2/1). Yang melaporkan adalah N (36), ibu korban.


Informasi yang didapat terakhir kali korban berada di Kp Taman Induk, Kecamatan Cipayung, Depok. Kemudian polisi melakukan pendalaman atas laporan tersebut.







“Informasi yang diperoleh bahwa korban kenal dengan seorang laki-laki melalui Facebook,” ujarnya, Senin (27/1/2020).


Korban dan pria itu janjian bertemu di salah satu apartemen. Sejak saat itu korban tidak kembali ke rumah. Sampai akhirnya orang tua korban mendapat informasi bahwa nomor handphone korban digunakan dalam aplikasi dengan menawarkan jasa.



“Berdasarkan hasil penyelidikan diketahui korban berada di kamar 28K salah satu apartemen,” katanya.


Petugas kemudian berkoordinasi dengan penjaga apartemen untuk mengamankan korban. Saat itu korban bersama seorang pria. Sedangkan teman lainnya yaitu AIR, BS, dan JFM diamankan di lantai 30F. “Disita juga alat kontrasepsi (kondom),” tambahnya. (*)


loading…




Sumber Sindonews.com
https://sumut.sindonews.com/read/10477/1/dilaporkan-hilang-remaja-putri-ternyata-dijadikan-pekerja-seks-komersial-1580104877




Dua Penampung dan Penyalur TKI Ilegal di Bengkalis Jadi Tersangka

ARB INdonesia, BENGKALIS – Kepolisian Resor (Polres) Bengkalis menetapkan dua penampung dan penyalur TKI ilegal sebagai tersangka, pasca karamnya kapal di Perairan Pulau Rupat. Kedua tersangka berinisial MZ (39) dan SY (52), warga Desa Sukarjo Mesim, Kecamatan Rupat.


“Polres Bengkalis sudah menetapkan dua tersangka terkait kecelakaan laut di wilayah Bengkalis. Kami ingin proses hukumnya berjalan dengan baik,” ujar Kapolda Riau, Irjen Pol Agung Setya Imam Effendi, saat silaturahmi dengan wartawan di Pekanbaru, Sabtu (25/1/2020).


Kedua tersangka berperan mencari tenaga kerja dari beberapa daerah. Tidak hanya di Riau, mereka merekrut tenaga kerja dari Medan, Provinsi Sumatera Utara dan Jawa untuk dikirim ke Malaysia.







Sebelum diberangkatkan ke Malaysia, para tenaga kerja ditampung di rumah tersangka di Pulau Rupat selama satu malam. Setelah itu mereka dibawa ke Malaysia menggunakan kapal pompong. “Tersangka sudah ditahan,” kata Agung.


Agung mengimbau, masyarakat yang ingin menjadi TKI hendaknya melalui mekanisme dan jalur resmi agar keberangkatan dan pengembalian dijamin. Bila ada masalah di tempat bekerja bisa diselesaikan.


Kapal berangkat dari Sungai Pakalan Buah Rupat Selatan mengangkut 18 orang TKI ilegal dan 2 tekong, Selasa (21/1/2020) malam sekitar pukul 19.30 WIB. Dua jam kemudian, kapan karam karena dihantam ombak besar.







Sebanyak 10 orang penumpang berhasil diselamatkan, terdiri dari 7 orang laki-laki dan 3 orang perempuan. Sementara 10 penumpang lainnya hilang.


Satu penumpang perempuan ditemukan mengapung di lautan dalam kondisi sudah meninggal, Kamis (23/1/2020) sore. Hingga hari keempat pencarian, selain satu korban meninggal juga ditemukan 7 life jaket dan 1 tas mengapung di lautan.



Kepala Basarnas Pekanbaru , Ishak, menyebutkan, 7 life jaket ditemukan dalam keadaan utuh. Begitu juga satu tas warna coklat. “Diduga tas itu milik korban kapal yang tenggelam,” kata Ishak.


Tim SAR gabungan masih melakukan pencarian. Selain penyisiran di laut, pencarian juga dilakukan dari udara dengan menggunakan helikopter Super Puma milik TNI AU. (*)


loading…




Sumber cakaplah.com
https://www.cakaplah.com/berita/baca/2020/01/25/dua-penampung-dan-penyalur-tki-ilegal-di-bengkalis-jadi-tersangka/#sthash.f5t7xy6o.dpbs




Tempat Karaoke ini, Anak di Bawah Umur Dipaksa Melayani 'Hidung Belang' 10 Kali Sehari

kafe kayangan di penjaringan. ©2020 Merdeka.com/Ronald Chaniago


ARB INdonesia, JAKARTA – Polisi membongkar kasus perdagangan manusia di Bar dan Karaoke Kayangan, Rawa Bebek, Penjaringan, Jakarta Utara. Para anak di bawah umur dipaksa melayani nafsu pria hidung belang 10 kali selama sehari. Jika tidak, para wanita itu kena denda.


Kemensos ikut turun tangan menangani kasus tersebut. Saat ini, para korban tengah berada di bawah pengawasan Kemensos untuk pendampingan.


Kepala balai di lingkungan Kemensos, Neneng Heriyani mengungkap, modus Bar dan Karaoke Kayangan mempekerjakan para wanita tersebut.


Neneng mengatakan, korban bisa berada di bar yang dimiliki tersangka atau yang dipanggil dengan sebutan mami itu, berawal dari tawaran bekerja di Jakarta yang mereka temukan di halaman media sosial Facebook.


“Ada yang sama temannya, ada yang direkrut melalui Facebook, mereka itu diiming-imingi kerja di Jakarta, mereka kan anak, tidak paham seperti apa, ternyata setelah sampai, mereka mengatakan tidak tahu seperti apa pekerjaannya awalnya,” ucap Neneng di kantor Kemensos, Bambu Apus, Jakarta Timur, Jumat (24/1).


Neneng juga mengatakan, anak-anak yang menjadi korban ini memiliki keterbatasan untuk dapat berkomunikasi dengan keluarga dan dunia luar.


“Kalau komunikasi mereka bisa, hanya WA saja, tapi tidak boleh bertemu dengan keluarga mereka, anak di situ sudah enam bulan tidak pulang,” ucap Neneng.


“Untuk makan juga mereka beli sendiri, tapi tetap dibatasi karena mereka mengatakan banyak penjagaan, paling hanya ke warung dekat situ saja,” ucapnya.


Sejauh ini dalam menangani korban selain diberikan terapi secara psikologis dan penyuluhan kesehatan, anak-anak juga diajarkan mengenai norma dan etika, agar bisa mengembalikan peranan korban yaitu sebagai anak-anak.


“Kita memberikan pemahaman tentang norma dan etika, karena mereka kan melihat dunia malam kita berusaha untuk mengembalikan mereka ini anak-anak, kewajiban kamu ini seperti ini, agar mengembalikan peranan dan fungsi sosialnya kembali,” ucap Neneng.


Selain itu, Kemensos sekarang ini sedang mendalami penelusuran dari identitas keluarga korban. Neneng menambahkan, sebelum korban dipulangkan, Kemensos akan memanggil seluruh orangtua korban untuk diberikan pengertian lebih dalam.


“Kita harus mengadakan pertemuan dengan orangtuanya, kita beri pengertian bahwa walaupun anaknya sudah seperti ini, tetapi ini adalah tetap menjadi tanggung jawab mereka, dan juga kepada orangtuanya jangan percaya begitu saja anaknya meminta izin diajak kerja dan sebagainya,” tutup Neneng.


Diketahui, Kabag Bin Opsnal Dit Reskrimum Polda Metro Jaya AKBP Pujiyarto mengatakan, para korban dipaksa untuk melayani hubungan seksual dengan 10 laki-laki dalam semalam.


“Dalam menjalankan aksinya ini pelaku sangat sadis, setiap korban satu hari minimal harus melayani 10 kali, bila tidak mencapai akan mendapat denda,” ucap Pujiyarto, di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa (21/1).



Para tersangka menjual anak-anak di bawah umur kepada laki-laki hidung belang sebesar Rp150.000 setiap kali melayani. Nantinya, uang senilai Rp90.000 diserahkan kepada tersangka yang biasa dipanggil mami. Sementara itu, uang senilai Rp60.000 menjadi uang penghasilan korban.


“Apabila enggak mencapai 10 kali (melayani para lelaki hidung belang), nanti didenda Rp50.000 per hari,” kata Pujiyarto.


Ditambahkan oleh Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus bahwa para korban akan mendapatkan gaji setelah dua bulan malakukan aksinya. Selama berada di kafe tersebut para korban ditempatkan di penampungan yang disediakan oleh tersangka Mami.


“Selama bekerja melayani para lelaki hidung belang, mereka tidak dapat keluar dari tempat penampungan dan bila mereka ingin keluar mereka harus membayar sebesar Rp1,5 juta kepada Mami,” ucap Yusri. (*)


loading…




Editor Arb
Sumber merdeka.com
https://m.merdeka.com/jakarta/berawal-dari-facebook-anak-di-karaoke-kayangan-dipaksa-layani-10-pria.html




Pria di Bekasi Sudah Ratusan Kali Masturbasi di Muka Umum

Aksi Onani Pemotor di Bekasi. ©2020 Merdeka.com/Adi Nugroho







ARB INdonesia, BEKASI – Aparat Polres Metro Bekasi meringkus Brusly Wongkar (40), pria yang viral melakukan masturbasi di hadapan anak kecil di sebuah perumahan di kawasan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi. Viral karena aksinya terekam CCTV milik warga di lokasi kejadian.


Kapolres Metro Bekasi, Kombes Hendra Gunawan mengatakan, hasil pemeriksaan sementara pelaku mengaku melakukan aksinya hingga ratusan kali, bahkan sudah tak bisa dihitung.


“Dimana saja, saat ada gairah seksual, dia melakukan itu. (contohnya) Pada saat olahraga pagi di sekitar rumahnya, ada yang membuat naik gairah seksualnya, dia langsung melakukan itu,” kata Hendra ketika dikonfirmasi pada Jumat (24/1).







Menurut Hendra, pelaku memiliki penyimpangan seksual. Dalam bahasa ilmiah, kata dia, eksibisionis seksual atau tindakan memamerkan alat kelaminnya pada orang asing, tanpa ada persetujuan.


“Sasaranya siapa saja yang membuat gairah seksualnya naik,” ucap Hendra.



Hendra mengatakan, tersangka dibekuk pagi tadi di rumah kontrakannya di Perum Graha Pemda Desa Simpangan Kecamatan Cikarang Utara. Tersangka sekarang sudah ditahan.


Penyidik menjerat tersangka dengan pasal 36 Undang-undang RI Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi. Ancamannya hukuman penjara maksimal 10 tahun atau denda Rp 5 miliar. (*)


loading…




Sumber merdeka.com
https://m.merdeka.com/peristiwa/pria-di-bekasi-sudah-ratusan-kali-masturbasi-di-muka-umum.html