Polisi Tembak Mati Bandar Narkoba, 1,5 Kilogram Sabu Disita

ARBIndonesia, SURABAYA – Aparat kepolisian menembak mati seorang pria yang diduga bandar 1,5 kilogram sabu-sabu.


Pelaku diketahui R (30), warga Madura. Ia ditangkap di kawasan Sidoarjo, setelah sempat menjadi buruan polisi pada dua hari terakhir. Namun sayang, saat dilakukan penangkapan, tersangka melawan hingga terpaksa ditembak mati polisi.


“Pelaku diketahui berada di Sidoarjo saat itu. Kami lalu berkoordinasi dengan Polres Sidoarjo untuk memburu pelaku. Saat ditangkap, ia malah melawan, sehingga terpaksa kami berikan tindakan tegas terukur,” kata Kasat Resnarkoba Polrestabes Surabaya AKBP Memo Ardian, Kamis (12/3).


Saat melawan, pelaku diketahui menggunakan senjata tajam. Selain itu, ia juga merupakan seorang residivis dalam kasus yang sama.


Memo menambahkan, untuk kronologis lengkapnya, akan disampaikannya saat rilis besok oleh Kapolrestabes. Demikian juga terkait dengan identitas pelaku.


“Terkait identitas nanti akan disampaikan atasan,” ujarnya.


Hingga awal tahun 2020, Satresnarkoba Polrestabes telah menembak mati 3 tersangka peredaran narkoba. Sebelumnya dua kurir yang ditembak mati itu diantaranya, Rizal Wahyu Putra (29), warga Jalan Petemon Kuburan 68, Surabaya ditembak mati pada Kamis (2/1). Kurir itu pembawa 1,5 kilogram sabu dan 950 butir pil ineks.


Kedua, bandar narkoba bernama Mustofa Ali Al Faris (24), asal Pasuruan. Jumat (14/2). Dari tangan Mustofa disergap saat membawa narkoba jenis sabu seberat 1 kilogram dan 1.000 butir pil ekstasi. 


(sumber:merdeka.com)




Butuh Uang untuk Mengurus Perceraian, Ibu Ini Nekat Curi Uang Saat Bertamu

ARBIndonesia, Jawa Timur – Seorang perempuan asal Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur diciduk anggota Unit Reskrim Polsek Puri. Pelaku yang kekinian sudah ditetapkan sebagai tersangka ini mencuri uang sebesar Rp 6,5 juta milik temannya saat bertamu.


Aksi pencurian tersebut dilakukan pada, Kamis (5/3/2020) sekira pukul 14.00 WIB. Saat itu pelaku bertamu ke rumah korban, Bram Wiratama Putra (30) di Dusun Ngerayung, Desa Berayung, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto.


Kapolsek Puri, Iptu Sri Mulyani mengatakan, saat pelaku bertamu melihat istri korban bersama temannya sedang menghitung uang.


“Korban tidak curiga, uang sebesar Rp 6,5 juta tersebut ditaruh di atas tempat tidurnya dan ditinggal korban bersama temannya keluar,” ujar Sri seperti diberitakan Beritajatim.com – jaringan Suara.com, Jumat (13/3/2020).


Kepada polisi, Sri mengaku sedang butuh uang untuk bayar utang dan mengurus perceraian di Pengadilan Agama (PA) Mojokerto.


Sri mengatakan modus yang dilakukan pelaku dengan pura-pura bersih-bersih di rumah korban dan saat dirasa aman, uang di atas tempat tidur tersebut diambil.


“Menyapu ini menjadi salah satu modus agar pelaku bisa bebas masuk ke dalam rumah. Pencurian ini baru diketahui sekitar pukul 19.00 WIB, saat istri korban pulang. Korban terkejut setelah melihat uang di dalam kamarnya lenyap. Korban langsung mencurigai pelaku dan mendatangi rumahnya, namun pelaku tidak ada,” ujarnya.


Korban kemudian melaporkan ke Mapolsek Puri untuk proses penyelidikan, hingga akhirnya pelaku berhasil diamankan di rumahnya di Desa Panggih, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto pada, Senin (9/3/2020) sekitar pukul 11.30 WIB.


Pelaku mengakui aksi pencurian tersebut dilakukannya seorang diri.


“Pelaku mengakuinya jika yang mengambil uang adalah dirinya dan uang yang dicuri sebesar Rp 6,5 juta habis buat membayar utang dan mengurus perceraian di PA Mojokerto. Barang bukti yang diamankan sepeda motor Viar dan pelaku dijerat Pasal 363 KUHP tentang Pencurian dengan ancaman hukuman paling lama 5 tahun penjara,” tegasnya.


Sumber : Suara.com




Selain Bunuh Anak Angkat, Wanita Ini Juga Kerap Setubuhi Dua Putra Kandungnya

ARBIndonesia.com – Seorang wanita di Sukabumi, Sri Rahayu alias Yuyu, tega membunuh anak angkatnya, Nadia Putri, dan menyetubuhi dua putra kandungnya yang masih berusia di bawah umur.


Akibat perbuatannya, pelaku didakwa oleh Pengadilan Negeri Sukabumi dan divonis hukuman penjara 13 tahun dan denda Rp 1 miliar.


Pada sidang vonis terdakwa yang digelar di PN Sukabumi pada Kamis 12 Maret 2020, vonis Majelis Hakim lebih rendah dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menuntut agar Yuyu dipenjara selama 17 tahun.


“Jadi kalau tuntutannya itu 17 tahun denda Rp 1 miliar subsidar enam bulan penjara,” kata Humas PN Sukabumi Parulian Manik, seperti dilansir dari sukabumiupdate.com, Kamis, 12 Maret 2020.


Dalam sidang vonis tersebut, terdakwa Yuyu mengakui semua kesalahan dan perbuatannya kepada majelis hakim PN Sukabumi.







Hal itulah, kata Manik, yang menjadi menjadi pertimbangan majelis hakim memvonis Yuyu 13 tahun penjara lantaran terdakwa terbilang kooperatif dan mengakui kesalahannya.


Sekedar diketahui, Yuyu adalah otak pembunuhan terhadap putri angkatnya sendiri, Nadia Putri.


Pembunuhan tersebut dilakukan terdakwa bersama dua anak kandungnya, RG dan RD di Jalan Kibitay Kampung Bojongloa Wetan, Kelurahan Lembursitu, Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi pada 22 September 2019 lalu.


Dari persidangan, terungkap bahwa sebelum Nadia dibunuh, korban juga sempat dicabuli oleh kedua anak kandung Yuyu, RG dan RD.


Selain itu, Yuyu juga ternyata kerap berhubungan intim dengan kedua putra kandungnya itu.


Dalam kasus pembunuhan sadis sekaligus hubungan inces ini, Yuyu divonis hukuman 13 tahun penjara.


Sementara putra kandungnya, RG divonis 7 tahun 6 bulan penjara ditambah pelatihan kerja selama sepuluh bulan karena masih di bawah umur.


Sedangkan, saudaranya RG yang juga masih di bawah umur divonis pelatihan kerja satu tahun di panti sosial rehabilitasi anak.


Sumber : Terkini.id




Tiga Orang Petugas Keamanan Pembunuh Siswi SMP di Asahan Terancam Hukuman Mati

ARBIndonesia.com – Tiga tersangka pembunuhan yang bekerja sebagai keamanan perusahaan perkebunan terhadap siswi SMP dijerat hukuman mati.


“Mereka kita jerat dengan Pasal 340, hukuman pidana mati atau seumur hidup atau paling lama dua puluh tahun,” jelas Kapolres Asahan, AKBP Nugroho Dwi Karyanto saat menggelar konferensi pers, Kamis (12/3/2020) di polres setempat.


Kapolres menjelaskan pelaku yang terdiri dari RS (44), warga Dusun III Desa Sei Paham, Kecamatan Sei Kepayang, DA  (38), warga Dusun II Desa Sei Lama, Kecamatan Simpang Empat dan inisial SH (54) bekerja di PT CSIL sakit hati kepada korban, karena sudah dilarang untuk tidak mengambilnya brondolan sawit, namun korban tetap melakukannya.







Sehingga pelaku menghabisi nyawa korban yang masih duduk di sekolah menengah pertama (SMP), Ita (14) dengan mencekik, memukul dengan batu dan pelepah sawit. 


“Awalnya tersangka tidak mengaku, namun karena kejelian kita dan keterangan saksi-saksi, mereka berhasil kita ringkus,” tutur Kapolres,.dikutip dari laman antaracom.


Mantan Kapolres Natuna yang didampingi Waka Polres, Kompol M.Ikhwan , Kasat Reskrim AKP Andrian Risky Lubis juga menyatakan bahwa korban meninggal murni karena tindak kekerasan yang dilakukan pelaku. Dan hasil otopsi tidak ada kekerasan seksual.


Sumber : Suaraaktual.co




Kronologi Pria Mengamuk di Kantor Polisi karena Ditilang hingga Tewas Ditembak

ARBIndonesia.com – Seorang pria tak dikenal menyerang anggota polisi di Polres Kepulauan Meranti, Riau, karena tak terima ditilang.


Polisi menembak pelaku hingga akhirnya tewas di tempat.


Berikut ini kronologi kejadian yang disampaikan Kabid Humas Polda Riau Kombes Sunarto, Kamis (12/3/2020).


Pada Rabu (11/3/2020) pukul 16.00 WIB, seorang anggota SPK Polres Kepulauan Meranti, Brigadir Rizki Kurniawan, dihadang seorang pria tak dikenal saat dalam perjalanan menuju rumah sakit.


Baca juga: Marah karena Ditilang, Pria Ini Serang Polisi hingga Akhirnya Tewas Ditembak


Pria yang menghadang anggota polisi itu mengenakan jaket warna hitam yang membawa sebuah tas sandang warna hitam.


“Menurut informasi dari warga, lelaki itu melakukan penghadangan kepada setiap pengendara sepeda motor yang melintasi Jalan Insit. Karena meresahkan masyarakat, kemudian laki-laki tak dikenal tersebut dibawa ke Mapolres Kepulauan Meranti,” sebut Sunarto.


Setibanya di pos jaga Polres, lanjut dia, petugas mencoba menenangkan pria tersebut. 


Petugas juga menanyakan alamat dan alasan dia melakukan keributan di Jalan Insit.


Pria itu menjawab dengan nada keras. Dia mengaku tinggal di Jalan Perjuangan, Selat Panjang.


Tak hanya itu, pria itu juga dengan nada tinggi mengaku bahwa dirinya tidak senang karena sepeda motornya ditilang. 


Petugas mencoba untuk menenangkan pria itu. 


Ketika petugas meminta tas yang dibawanya untuk diperiksa, pria tersebut menolak dan marah-marah.


“Yang bersangkutan marah dan memukul meja piket SPK yang mengakibatkan monitor komputer terempas,” kata Sunarto.


Melihat aksi tersebut, sambung dia, petugas jaga memanggil anggota piket Reskrim untuk menenangkan pria itu.


Namun, pria itu tidak bisa mengontrol emosi dan mengajak petugas piket Reskrim untuk berduel. Akan tetapi, ajakan itu tidak dilayani petugas.


“Dia mau menyerang anggota dengan menggunakan paralon. Melihat situasi tersebut, petugas mencoba menenangkannya. Namun, yang bersangkutan malah mengejar petugas di ruang penjagaan sambil mengeluarkan badik dari pinggangnya dan mencoba melukai petugas,” terang Sunarto.


Karena membahayakan keselamatan petugas, sambung dia, pria tersebut terpaksa dilumpuhkan dengan timah panas.


“Yang bersangkutan MD (meninggal dunia) di tempat,” pungkas Sunarto.


Sumber : Kompas.com




Diduga Jalani Bisnis Esek-esek, Sejumlah Warkop di Gresik Digerebek Polisi

ARBIndonesia – Sebanyak enam warung kopi (warkop) di wilayah Kecamatan Panceng Kabupaten Gresik digerebek polisi pada Kamis (12/3/2020). Warkop yang digerebek tersebut diduga melayani bisnis esek-esek.


Warung yang berhasil menjadi target operasi petugas salah satunya berada di Desa Wotan, Kecamatan Panceng. Dari depan warung tersebut terlihat biasa saja, seperti warung pada umumnya. Warung tersebut diketahui juga menjual kopi, gorengan dan mie instan.


Namun yang membedakan dari warkop pada umumnya, ada bilik kamar di dalamnya. Diduga kuat di dalam kamar tersebut menjadi tempat pekerja seks melayani pelanggannya.


Kapolsek Panceng Kompol Darsuki mengatakan penggerebekan dilakukan berdasarkan laporan dari masyarakat yang resah dengan keberadaan warung-warung berkedok prostitusi. Dari operasi tersebut lima wanita penghibur yang berhasil diamankan.


“Langsung kita tutup ada enam warung, lima wanita kita amankan,” ungkapnya.


Dalam operasi tersebut, pihaknya juga menggandeng pihak puskesmas dan kecamatan bahkan kepala desa. Sebab, dugaan praktek prostitusi di Panceng banyak berdiri di kawasan sekitar hutan.


Dari lima wanita yang diamankan, paling tua berumur 48 tahun sedangkan yang paling muda berusia 17 tahun. Mereka diketahui berasal dari wilayah Gresik, Lamongan dan Blora, Jawa Tengah. Saat ini selain diamankan oleh polisi, mereka juga diperiksa kesehatannya oleh pihak puskesmas.


“Hasil pemeriksaan laboratorium dari puskesmas belum keluar. Nanti kalau ada yang terindikasi terinfeksi penyakit. Akan ditindaklanjuti perawatan lebih lanjut.”


Sumber : Suara.com