Polres Inhil Ungkap Kasus Penyiraman Air Keras di Gunung Daek

Foto : Kedua tersangka yang diduga pelaku penyiraman air keras terhadap korban HRS.


ARBindonesia.com, INDRAGIRI HILIR – Polres Indragiri Hilir (Inhil) berhasil mengungkap kasus tindak pidana penganiyaan berat dengan melakukan penyiraman cairan yang diduga air keras terhadap korban HRS (42 tahun) di Jalan Gunung Daek, Kecamatan Tembilahan.


Kapolres Inhil AKBP Dian Setyawan, SH, SIK, MHum, melalui Kasat Reskrim AKP Indra Lamhot Sihombing, SIK saat diwawancarai mengungkapkan, dari hasil penyelidikan yang yang dilakukan berhasil mengamankan 2 orang pelaku yang diduga melakukan penganiayaan berat terhadap korban HR, yakni SP alias IJ (37 tahun) dan JM alias OK ( 36 tahun)


Foto : Kasat Reskrim Polres INHIL, AKP Indra Lamhot Sihombing, SIK


“Penangkapan terhadap kedua tersangka tersebut berdasarkan hasil penyelidikan team Sat Reskrim Polres Inhil atas laporan LP/37/V/2020/ Riau/Res Inhil, pada tanggal 22 Mei 2020,” kata Kasat Reskrim kepada arbindonesia.com, Senin (31/8/2020).


Lanjutnya, tersangka pertama SP dilakukan penangkapapan di rumahnya yang terletak di Jalan Kembang, Gg Sepakat, Kelurahan Tembilahan Kota, Kecamatan Tembilahan, pada hari Minggu (2/8/2020) lalu, sekira pukul 20.15 Wib.


Dari hasil pengembangan yang dilakukan, kemudian pada hari Selasa (4/8/2020) sekira pukul 02.30 Wib, team kembali melakukan penangkapan tersangka kedua, JM di rumahnya yang terletak di Lorong Binjai Kelurahan Tembilahan Hulu, Kecamatan Tembilahan Hulu.


“Dari kedua tersangka, kita juga mengamankan barang bukti 1 unit sepeda motor merk Yamaha Mio warna pink (BM 5411 QZ) yang diduga digunakan tersangka untuk melancarkan aksinya,” ungkap AKP Indra Lamhot Sihombing, SIK


“Untuk penyelidikan lebih lanjut, kedua tersangka dan barangbukti saat ini berada di Polres Inhil,” tambahnya.


Terakhir Kasat Reskrim mengatakan bahwa motif tersangka melakukan tindak penganiayaan berat tersebut adalah balas dendam.


“Motifnya Balas Dendam,” tutup Kasat.


Untuk diketahui, peristiwa penganiyaan penyiraman cairan yang diduga air keras terhadap korban HRS terjadi pada hari Jumat 22 Mei 2020 lalu sekira Pukul 18.45 Wib.


Saat itu korban tengah berjalan kaki untuk pulang kerumah setelah selesai melaksanakan solat Magrib di Mushollah Baituddin di Jl Gunung Daek.


Atas kejadian tersebut, pada bagian wajah dan dada korban mengalami luka bakar (Melepuh) akibat siraman yang diduga cairan air keras. (Arb)




Belum Genab Sebulan Menjabat, Kapolres Inhil Ungkap Kasus Penyiraman Air Keras Didepan RSUD Tembilahan

ARBindonesia.com, INDRAGIRI HILIR – Belum genap sebulan menjabat sebagai Kapolres Inhil, AKBP Dian Setyawan, SH, SIK, MHum ungkap kasus penyiraman air keras yang terjadi didepan RSUD Puri Husada Tembilahan terungkap.


Dalam press release yang digelar di Aula Mapolres Inhil, Senin (31/8/20), AKBP Dian Setyawan, SH, SIK, MHum mengungkapkan berdasarkan hasil penyelidikan yang dilakukan oleh team Sat Reskrim Polres Inhil bahwa penyiraman tersebut dilakukan oleh 2 orang yakni JA (39 tahun) dan BS (22 tahun), atas perintah dari TT (20 tahun).


“Motifnya dendam atas utang-piutang. Kedua pelaku merupakan orang yang diperintahkan TT untuk melakukan penyiraman karena dijanjikan dengan imbalan,” ungkap Kapolres.


“Korban SI sebenarnya masih ada hubungan keluarga terhadap TT,” tambahnya.


Lanjutnya, dua orang pelaku tersebut melakukan penyiraman dengan mengendarai sepeda motor di saat korban sedang berada di sebuah warung kopi di jalan Pangeran Hidayat Parit 13, Kelurahan Tembilahan, pada Jum’at (31/7/20) pukul 01:20 Wib.


“Akibat penyiraman air keras yang mengandung asam sulfat, korban mengalami luka bakar pada bagian wajah dan tubuh korban bagian dada sebelah kanan,” ujarnya.


Di lokasi kejadian (TKP), ditemukan barang bukti berupa 1 potong baju kaos oblong warna abu-abu milik korban, 1 unit sepeda motor matic dan pecahan gelas kaca yang diduga sebagai wadah air keras untuk menyiram korban.


“Kini ketiga tersangka telah diamankan di Mapolres Inhil. Ketiga pelaku dikenai pasal 351 ayat 2 pidana 5 tahun penjara dan atau pasal 354 ayat 1 pidana paling lama 8 tahun penjara,” terang Kapolres Inhil AKBP Dian Setyawan.


Untuk diketahui, saat menggelar press release Kapolres Inhil AKBP Dian Setyawan didampingi Kasat Reskrim AKP Indra L Sihombing dan Kasubbag Humas AKP Warno Akman. (Arb)




Beredar Kabar Seorang Napi di Lapas Tembilahan Kabur, Benarkah ?

Foto ilustrasi, beritasatu


ARBIndonesia.com, INDRAGIRI HILIR – Beredar kabar seorang narapidana (napi) melarikan diri dari tahanan Lapas Kelas II A Tembilahan.


Untuk memastikan kabar itu, beberapa orang awak media mencoba untuk mencari fakta dilapangan dengan upaya konfirmasi kepada pihak Lapas, Jum’at (28/8/2020).


Namun sangat disayangkan, upaya konfirmasi yang dilakukan belum berhasil. Sebab saat itu dari informasi petugas (penjaga pintu masuk) di Lapas tersebut mengatakan bahwa unsur pimpinan belum bisa dijumpai karena sedang rapat.


Cukup lama menunggu, akhirnya awak media bersepakat untuk menitip nomor kontak person (handphone) salah satu Wartawan dengan tujuan untuk memperoleh informasi bahwa unsur pimpinan Lapas telah selesai melaksanakan rapat dan bisa dijumpai.


Foto: Petugas Lapas saat mencatat no handphone yang dititipkan awak media.


Saat itu waktu menunjukan pukul 14.15, dan kami beberapa orang wartawan yang hadir saat itu memutuskan untuk meninggalkan kantor tersebut sambil menunggu informasi dari pihak Lapas yang berjanji akan menghubungi setelah unsur pimpinan selesai rapat.


Namun upaya itu hampa, sebab hingga berita ini diterbitkan belum ada satupun pihak Lapas yang menghubungi nomor handphone yang dititipkan kepada petugas saat itu.


Meski tak seindah janji manis, awak media terus mencoba melakukan upaya konfirmasi. Kali ini dengan menghubungi langsung Kalapas Kelas II A Tembilahan, Adhi Yanriko Mastur, melalui via seluler.


Juga disayangkan, kontak person yang dulunya pernah diberikannya kepada wartawan namun saat ini tidak bisa dihubungi.


Hingga berita ini diterbitkan, awak media masih melakukan upaya konfirmasi kepihak Lapas mengenai kebenaran kabar bahwa satu orang napi berhasil melarikan diri dari tahanan Lapas Kelas II A Tembilahan. (Arb)




Berencana Ledakkan Bom Bunuh Diri di Riau, 5 Terduga Teroris Ditangkap Tim Gabungan Densus 88

Foto Ilustrasi


ARBindonesia.com, KAMPAR – Tim Densus 88 Anti Teror Polri bersama Jajaran Polda Riau dan Polres Kampar kembali mengamankan 5 orang terduga teroris, ke-5 orang ini diamankan pada Selasa (11/8) di wilayah Desa Suka Mulya Kecamatan Bangkinang Kabupaten Kampar, Riau.


Penangkapan para terduga teroris oleh Tim Densus 88 AT bersama Jajaran Polda Riau dan Polres Kampar ini dilakukan dalam waktu yang hampir berdekatan, kelimanya merupakan warga asli Kabupaten Kampar, yaitu SU, TJ, SY, LR dan TW.


Berdasarkan informasi, para terduga teroris yang diamankan Aparat Kepolisian ini semuanya tergabung dalam jaringan teror JAD (Jamaah Anshorut Daulah), mereka menganggap sistem negara demokrasi adalah kafir sehingga pada saat Pilpres tahun 2019 lalu, sebagian kelompok ini merusak baliho dan bendera salah satu Parpol di Kabupaten Kampar dengan cara merobeknya.


Penangkapan ke-5 terduga teroris ini karena keterlibatannya dalam menyembunyikan dan memberikan fasilitas terhadap DPO (Daftar Pencarian Orang) terkait Tindak Pidana Terorisme yaitu NW, yang lebih dulu ditangkap Tim Densus 88 di rumah kontrakannya di Perawang pada pada Sabtu (1/8) lalu.


NW sebelumnya terlibat kasus Tindak Pidana Terorisme, terkait pembuatan bahan peledak dan perencanaan amaliyah untuk meledakkan Bom Bunuh Diri di Gereja – gereja yang ada di Kota Pekanbaru, bersama dengan 4 orang rekannya, yaitu AZ, ZZ, AM dan KH (diamankan 21 Juni 2020).


Menurut pengakuan salah seorang tersangka yang diamankan (NW), bahwa ia akan melakukan amaliyah dengan cara meletakan Bom di Gerobak Cilok yang biasa digunakannya untuk berjualan, kemudian akan meledakan bom bunuh diri di Markas Kepolisian Polres Kampar, namun sebelum mereka beraksi, Tim Densus 88 berhasil mengetahui rencana mereka dan mengamankan para pelaku ini. (Humas Polda Riau)




Selain Tuntut Kurungan Penjara, JPU Juga Tuntut Terdakwa Membayar Kerugian Negara Atas Dugaan Korupsi Proyek Permukiman di Desa Tanjung Melayu

ARBindonesia.com, INDRAGIRI HILIR – Tidak hanya tuntutan pidana kurungan penjara terhadap terdakwa, Jaksa Penuntut Umum (JPU) juga berupaya guna mengembalikan kerugian negara dalam kasus dugaan korupsi proyek permukiman kawasan transmigrasi di Desa Tanjung Melayu, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) senilai Rp8,4 miliar.


Hal tersebut terlihat saat sidang lanjutan yang digelar Pengadilan Tipikor Pekanbaru, agenda pembacaan tuntutan JPU, Senin (3/8/2020).


Dimana, Jaksa Penuntut Umum (JPU) membacakan tuntutan kepada lima terdakwa baik pidana kurungan penjara disertai beban membayar denda dan wajib membayar uang pengganti.


“Jika tidak membayar uang pengganti, maka tuntutan pidana kurungan penjara akan ditambahkan dengan subsider,” terang JPU Muhammad Juanda Sitorus SH MH kepada wartawan, Rabu (5/8/2020).


Kelima terdakwa itu adalah Gunanto selaku Pelaksana Kegiatan dengan menggunakan PT Bahana Prima Nusantara, dengan tuntutan pidana penjara selama 8 tahun dan 6 bulan.


“Gunanto juga dibebankan membayar denda sebesar Rp200 juta atau subsider 3 bulan kurungan. Gunanto diwajibkan membayar uang pengganti (UP) kerugian negara sebesar Rp7,954 miliar atau subsider 4 tahun dan 3 bulan kurungan,” jelasnya lagi.


Selanjutnya Juanda yang juga Kasipidsus Kejaksaan Negeri Inhil mengatakan untuk terdakwa Muliandi Sitorus selaku Direktur CV Saidina Consultant (Konsultan Pengawas) dituntut dengan pidana penjara selama 2 tahun dengan denda Rp50 juta atau subsider 3 bulan kurungan.


“Dia juga harus membayar uang pengganti (UP) sebesar Rp109 juta,”sambungnya.


Kemudian, terdakwa Muhidin Saleh dituntut selama 5 tahun penjara dengan denda sebesar Rp50 juta atau subsider 3 bulan kurungan. Muhidin juga harus membayar UP sebesar Rp350 juta atau subsider 2 tahun dan 6 bulan kurungan.


“Sedangkan terdakwa Juliansyah dan Darman masing-masing dituntut selama 3 tahun penjara dengan denda sebesar Rp50 juta atau subsider 3 bulan kurungan,” imbuhnya.


Juanda menegaskan mereka terbukti bersalah melanggar pasal 2 ayat 1 dan pasal 3 ayat 1 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan korupsi junto pasal 55 KUHP.


“Kami sudah melaksanakan tugas dengan maksimal dan berharap tuntutan tersebut dapat mewakili keadilan seluruh pihak. Tuntutan juga sudah sesuai UU dan SOP juknis,” pungkasnya.


Untuk diketahui, perkara tersebut terjadi pada waktu bulan April hingga Desember 2016. Dimana saat itu, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Riau mengerjakan proyek penyediaan dan pengelolaan prasarana dan sarana sosial dan ekonomi di kawasan transmigrasi di Desa Tanjung Melayu, Kecamatan Kuala Indragiri, Inhil.


Sumber dana kegiatan itu berasal dari APBD Provinsi Riau Tahun Anggaran (TA) 2016, yang digunakan untuk pekerjaan pembangunan pemukiman penduduk sebanyak 146 unit. 


Adapun nilai kontrak kegiatan sebesar Rp16.229.895.000 dengan jangka waktu penyelesaian selama 120 hari kelender berakhir pada 25 Desember 2016.  (*)




Tega Benar! Bayar Utang Rp200.000, Suami Jual Istri

tersangka yang diduga menjual istrinya sebagai alat untuk membayar utang. Foto/iNewsTV/Agung Sulistyo


ARBINdonesia.com, TANAH DATAR – Satreskrim Polres Tanah Datar mengamankan tersangka yang diduga menjual istrinya sebagai alat untuk membayar utang di Jorong Koto Gadang, Nagari Pangian, Kecamatan Lintau Buo, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat
.


Dari pengakuan tersangka yang tega menjual istrinya kepada tetangganya ini berawal dari utang tersangka sebesar Rp200.000 yang tidak bisa dibayar tersangka. Tidak hanya sekali, ternyata tersangka sudah tiga kali menjual istrinya kepada pemberi utang yang sama.


Hasan Basri Durin (HBD) hanya bisa pasrah digiring aparat kepolisian Polres Tanah Datar Sumatera Barat.


Warga Pangiang, Kecamatan Lintau Buo, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat ini tega menjual istrinya kepada tetangga sendiri untuk melunasi utangnya.


Peristiwa ini berawal dimana tersangka memiliki utang kepada tetangganya sendiri berinisial N sebesar Rp200.000. Lantaran tidak bisa melunasinya, akhirnya tersangka menawarkan istrinya untuk berhubungan badan dengan N agar utangnya lunas. Hal ini disetujui oleh N.


Pada awalnya, istri tersangka berinisial T sempat menolak, namun tidak bisa berbuat banyak karena tersangka sendiri sering berbuat kasar terhadap istrinya.


Perbuatan ini terjadi tidak hanya sekali, bahkan sampai tiga kali. Setiap butuh uang, tersangka menawarkan istrinya kepada pemberi utang yang sama. Setiap berhubungan N selalu memberikan uang ke tersangka hingga mencapai Rp3 juta. Sang istri hanya bisa pasrah melayani nafsu orang yang bukan suaminya ini.


Dari keterangan Kasatreskrim Polres Tanah Datar Sumatera Barat, tersangka diamankan setelah pihak keluarga korban menyerahkan tersangka ke Polsek Lintau Buo, kemudian langsung membawanya ke Mapolres Tanah Datar.


“Awalnya, T sebagai korban tidak mau bercerita karena terus dihinggapi rasa cemas dengan perilaku suami yang kasar, akhirnya korban menceritakan apa yang terjadi kepada pihak kelurga dan berujung penahanan tersangka,” kata Kasatreskrim Polres Tanah Datar AKP Purwanto.


Saat ini petugas masih menahan satu tersangka. Selanjutanya, polisi akan memeriksa N sebagai pemberi utang untuk mengorek lebih dalam terkait kasus ini.


Kasus ini ditangani Unit PPA Polres Tanah Datar. Kasus suami yang menyodorkan istrinya untuk membayar utang ini telah dapat perhatian luas dari berbagai kalangan. Selain tokoh adat, aparat nigari, dan LSM Nurani Perempuan. (*)


Sumber Sindonews.com