Bersama 3 Pelaku, 3 Juta Batang Rokok Ilegal Kembali Diamankan Bea Cukai

ARBIndonesia.com – Bea Cukai kembali berhasil menggagalkan penyelundupan rokok ilegal sebanyak tiga juta batang rokok dari dua wilayah pengawasan yaitu Bea Cukai Kudus dan Bea Cukai Pantoloan.



Dalam penindakan yang dilakukan Bea Cukai Kudus bersama Bea Cukai Jateng DIY pada Minggu (28/02/2021), berhasil diamankan tiga orang pelaku berinisial MS, MI, dan NG di Jalan Raya Kudus-Demak, beserta barang bukti sebanyak 1.088.000 batang rokok ilegal jenis SKM.



“Total nilai barang diperkirakan sebesar Rp1.109.760.000, dengan potensi kerugian negara mencapai Rp729.308.160,” sebut Kepala Kantor Bea Cukai Kudus, Gatot Sugeng Wibowo, Selasa (2/3/2021) yang dilansir dari beacukai.go.id.



Selain itu, Gatot menghimbau masyarakat untuk berhenti mengedarkan rokok ilegal karena ada ancaman pidana bagi siapapun yang terlibat dalam bisnis haram tersebut.



“Apabila ada masyarakat yang ingin berusaha menjadi produsen rokok ataupun miras secara legal, izinnya dapat diajukan ke Kantor Bea Cukai terdekat tanpa dipungut biaya sepeser pun,” ujarnya.



Sementara itu, penindakan rokok ilegal juga dilakukan di wilayah Sulawesi Tengah oleh Bea Cukai Pantoloan dalam program gempur rokok ilegal.



Tak tanggung-tanggung, dalam dua pekan Bea Cukai Pantoloan telah dua kali menggagalkan upaya penyelundupan rokok ilegal.



Total barang yang ditegah sejumlah 1.952.000 batang rokok ilegal dengan rincian 432.000 batang pada penindakan pertama dan 1.520.000 batang pada penindakan kedua.



Kepala Kantor Bea Cukai Pantoloan, Alimuddin Lisaw, mengungkapkan penindakan rokok ilegal ini terjadi pada tanggal 10 dan 22 Februari 2021.



Pada tanggal 10 Februari lalu, berdasarkan hasil surveilance tim intelijen terdapat satu kontainer di Pelabuhan Dede, Kabupaten Toli-toli yang diduga memuat rokok ilegal.



“Atas informasi itu pihak kami didampingi oleh ekspedisi terkait membuka kontainer tersebut dan didapati rokok berbagai merek yang tidak dilekati pita cukai,” ungkap Alimuddin, Selasa (2/3/2021).



Kemudian, pada tanggal 22 Februari 2021, kembali didapati satu kontainer yang diduga memuat rokok ilegal dan dikirim melalui ekspedisi laut dengan pemberitahuan berupa general cargo atau barang campuran.



Berdasarkan informasi tersebut, tim Bea Cukai Pantoloan bergerak ke lokasi pembongkaran kontainer yaitu di Lorong Tiara, Kelurahan Baru, Kecamatan Baolan, Kabupaten Toli-toli dan didapati rokok berbagai merek yang tidak dilekati pita cukai.



Berdasarkan keterangan dari petugas, total nilai barang yang ditegah adalah Rp 1.550.400.000, dengan potensi kerugian negara sebanyak Rp 798.000.000.



“Barang bukti berupa rokok ilegal dan truk diamankan ke Kantor Bea Cukai Pantoloan untuk pengembangan dan penyidikan,” tutur Alimuddin.



Editor Arbain




Jutaan Batang Rokok Ilegal Diamankan Bea Cukai di 5 Daerah, Pekanbaru Salah Satunya

ARBIndonesia.com – Jutaan batang rokok ilegal berhasil diamankan Bea Cukai di lima daerah, baik yang dilakukan secara mandiri maupun dengan menggandeng aparat penegak hukum lain.


Kejelian petugas Bea Cukai kali ini berhasil menggagalkan upaya penyelundupan di wilayah Semarang, Yogyakarta, Pekanbaru, Palembang, dan Lampung.


Bea Cukai Semarang


Bea Cukai Semarang kembali berhasil mengamankan paket kiriman rokok ilegal yang diangkut oleh truk barang. Petugas mengamankan rokok tersebut di jalan tol Semarang-Batang KM 416-417, Tambak Aji, Semarang.


“Sebanyak 86 karton rokok ilegal berisi 1.330.000 batang rokok ilegal berhasil diamankan petugas,” ungkap Kepala Kantor Bea Cukai Semarang, Sucipto, Senin (1/3/2021).


Pada saat patroli berlangsung ditemui sarana pengangkut dengan ciri-ciri yang sesuai dengan informasi.


Sekitar pukul 01.30 WIB (28/2/ 2021) tim yang sedang melakukan patroli langsung melakukan pengejaran dan menghentikan sarana pengangkut tersebut.


Berdasarkan hasil pemeriksaan muatan Truk Barang yang disaksikan oleh supir truk berinisial A dan D, didapati bermuatan mainan, kandang kelinci, dan rokok ilegal.


Bea Cukai Yogyakarta


Selain itu, Bea Cukai Yogyakarta juga berhasil mengamankan 171.400 batang rokok ilegal. Penindakan dilakukan di Rusunawa Projotamansari 3, wilayah Bantul. Pelaku penimbun rokok ilegal berinisial WS juga berhasil diamankan petugas.


“Berdasarkan pengakuan pelaku, rokok ilegal ini diperoleh dari Kabupaten Malang dan akan diedarkan atau dijual ke daerah Jawa Barat dan Sumatera. Saudara WS telah berjualan rokok ilegal sejak Februari 2020,” ungkap Kepala Kantor Bea Cukai Yogyakarta, Hengky Aritonang, Senin (1/3/2021).


Penindakan terhadap rokok ilegal ini dilakukan oleh Bea Cukai Yogyakarta berdasarkan laporan informasi dari masyarakat terkait adanya aktivitas penimbunan rokok ilegal.


“Kami berterima kasih kepada masyarakat yang telah berperan aktif dalam pemberantasan rokok ilegal. Rokok ilegal ini tidak hanya menimbulkan kerugian negara, namun juga menimbulkan ketidakadilan terhadap para pengusaha hasil tembakau yang resmi,” ungkap Hengky.


Bea Cukai Pekanbaru


Sementara Bea Cukai Pekanbaru, Provinsi Riau juga berhasil mengamankan 177.104 batang rokok ilegal di Kecamatan Kampar Utara, Kabupaten Kampar.


Berawal dari informasi masyarakat bahwa akan ada mobil jenis pick up double kabin warna silver mengangkut rokok ilegal di Kampar dengan tujuan belum diketahui.


Setelah mendapatkan info tersebut tim operasi gempur langsung menuju ke lokasi dan ditemukan mobil melintas dengan ciri-ciri tersebut.


“Atas penindakan tersebut dibuatkan surat bukti penindakan dan berita acara terkait penindakan. Selanjutnya barang bukti dan satu orang pelaku diamankan tim dibawa ke Kantor Bea Cukai Pekanbaru untuk proses lebih lanjut,” ungkap Kepala Kantor Bea Cukai Pekanbaru, Prijo Andono, Senin (1/3/2021).


Bea Cukai Palembang


Sementara itu juga, Bea Cukai Palembang menerima pelimpahan penindakan rokok ilegal dari Polres Banyuasin.


“Sebanyak 2.866 bungkus rokok ilegal berbagai merk diserahterimakan oleh pihak Kepolisian. Ini merupakan bentuk keseriusan aparat penegak hukum untuk berkomitmen dalam pemberantasan peredaran rokok ilegal,” ungkap Abdul Harris, Kepala Kantor Bea Cukai Palembang, Senin (1/3/2021).


Pada Senin (21/2/2021), petugas Polres Banyuasin menangkap seorang pelaku beserta rokok yang disimpan di tempat tinggalnya di Kecamatan Betung, Kabupaten Banyuasin.


Atas hal tersebut, Bea Cukai Palembang mengimbau kepada masyarakat agar berhati-hati apabila menemukan penjualan rokok yang dicurigai murah dan tidak dilekati dengan pita cukai.


“Pemberian informasi akan sangat membantu aparat penegak hukum untuk menghentikan peredaran rokok ilegal di wilayah Sumatera Selatan,” imbuh Abdul Harris,


Bea Cukai Bandar Lampung


Sementara itu, Bea Cukai Bandar Lampung juga menerima pelimpahan rokok ilegal hasil penindakan KSKP Bakauheni Polres Lampung Selatan.


“Kami menerima sebanyak 240.000 batang rokok ilegal, selain itu seorang tersangka berisinal AR yang merupakan kondektur bus yang membawa rokok tersebut juga diamankan untuk diperiksa lebih lanjut,” ungkap Esti Wiyandari, Kepala Kantor Bea Cukai Bandar Lampung, Senin (1/3/2021).


Sinergi ini menunjukan keseriusan Bea Cukai Bandar Lampung dan KSKP Bakauheni Polres Lampung Selatan untuk memberantas peredaran rokok ilegal yang melintasi pelabuhan Bakauheni Lampung Selatan.


“Dengan adanya sinergi yang baik oleh aparat penegak hukum ini, diharapkan pengawasan rokok ilegal yang melewati pintu gerbang Sumatera ini semakin diperketat sehingga peredaran rokok ilegal di Indonesia semakin berkurang dan penerimaan negara di bidang cukai dapat semakin meningkat,” pungkas Esti Wiyandari.


Editor Arbain
Sumber beacukai.go.id




Polri Tegaskan Jokowi Tak Langgar Prokes di Maumere NTT

Presiden Jokowi di kerumunan warga yang menyambut kedatangannya di Maumere, NTT, Selasa (23/2/2021)


ARBindonesia.com, JAKARTA – Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono menegaskan polisi bukan menolak laporan yang dilayangkan oleh Gerakan Pemuda Islam (GPI) terhadap Presiden Joko Widodo atas dugaan pelanggaran protokol kesehatan (Prokes) saat kunjungan kerja ke Maumere, Nusa Tenggara Timur (NTT).


“Sebenarnya bukan menolak laporan tetapi setelah melakukan konsultasi dengan pihak yang akan membuat laporan, Kepala SKPT Bareskrim Polri menyimpulkan bahwa tidak ada pelanggaran hukum dalam peristiwa tersebut,” kata Rusdi saat dikonfirmasi wartawan, Sabtu (27/2).


Rusdi mengatakan pihaknya tak memproses laporan GPI karena tak ada pelanggaran dalam kerumunan Jokowi di NTT.
Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam (PP GPI) mendatangi Bareskrim Polri, Jakarta, pada Jumat (26/2).


Kedatangan mereka bertujuan melaporkan Presiden Joko Widodo atau Jokowi soal dugaan pelanggaran protokol kesehatan saat melakukan kunjungan di Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).


“Kami ke Bareskrim untuk melaporkan dugaan pelanggaran protokol kesehatan yang dilakukan dua pejabat negara. Pertama Presiden Jokowi, kedua Gubernur NTT (Viktor Laiskodat),” kata Ketua Bidang HAM PP GPI Fery Dermawan.


Dalam pelaporan itu, mereka membawa barang bukti berupa video yang diunduh dari YouTube dan juga tangkapan layar berita dari media mainstream.


Menurutnya, potongan video tersebut menggambarkan pelanggaran prokes, berupa kerumunan massa. Bahkan di tengah kerumunan warga itu Presiden Jokowi kemudian membagikan bingkisan.


“Kerumunan itu ada dari sebelum presiden sampai ke lokasi jadi terkesan dibiarkan,” kata Fery.


Dia pun berharap masih ada keadilan dan pelaporan ini sebagai momentum untuk menagih janji Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bahwa hukum tidak boleh tajam ke bawah tumpul ke atas.


“Kami berharap masih ada keadilan di RI karena kita berpegang pada asas equality before the law, setiap warga negara sama statusnya di hadapan hukum,” kata Fery.


Sebelumnya, Koalisi Masyarakat Anti Ketidakadilan melaporkan Jokowi ke Bareskrim soal dugaan pelanggaran prokes. Namun, laporan itu ditolak dan tidak diterbitkan laporan ke polisi oleh Bareskrim.


Sumber pojoksatu.id




Generasi Kriminal akan Terbentuk Jika Narkotika Terus Merajalela

Foto: Ilustrasi internet, edt.


ARBIndonesia.com, INDRAGIRI HILIR – Seakan tidak ada habisnya, kasus narkotika terus ‘menghantui’ negeri ini terutama di kalangan remaja.


Aparat penegak hukum pun tak henti-hentinya melakukan pemberantasan terhadap barang haram tersebut. Karena dikhawatirkan generasi kriminal akan terbentuk jika narkotika terus merajalela.


Kasus narkotika di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) masih menjadi sesuatu yang bersifat urgent dan kompleks.


Hal itu terlihat pada maraknya kasus-kasus tindak pidana narkotika di Negeri Hamparan Kelapa Dunia yang berhasil diungkap kepolisian Kabupaten Inhil.


Sepanjang tahun 2021 yang belum genap 2 bulan berjalan, 17 kasus tindak pidana narkotika berhasil di ungkap Polres Inhil dengan tersangka yang tergiring ke penjara sebanyak 27 orang.


Mirisnya lagi, rata-rata tersangka yang terlibat dalam ‘lingkaran hitam’ tersebut masih dalam kategori usia produktif.


“Jumlah kasus penanganan sejak awal tahun 2021 hingga saat ini sudah 17 kasus tindak pidana narkotika. Dari kasus-kasus tersebut 27 orang yang menjadi tersangka dengan rata-rata tersangka masih usia produktif,” kata Kapolres Inhil, AKBP Dian Setyawan melalui Kasubbag Humas, AKP Warno, Selasa (23/2/2021) malam.


Dengan demikian, ancaman akan ‘tergerusnya’ generasi anak bangsa akibat terkontaminasi barang haram akan semakin nyata pada masa mendatang.


Baru-baru ini, Polres Inhil melalui Unit Reskrim Polsek Kempas menangkap seorang pemuda berinisial A (23 tahun) atas kepemilikan satu paket kecil sabu yang dibeli dari tersangka H (45 tahun).


Jika hal ini terus terjadi, Kabubaten Inhil kedepannya berpeluang menciptakan generasi kriminal atau generasi ‘lingkaran hitam’ akibat dampak peredaran narkoba.


Demi menyelamatkan generasi bangsa dan memutus ‘rantai’ peredaran narkotika, upaya serius telah dilakukan aparat penegak hukum di Kabupaten Inhil. Hal itu dibuktikan dengan maraknya pengungkapan kasus-kasus tindak pidana narkotika mulai dari kecil hingga ‘kelas’ besar.


Dalam upaya memutus peredaran narkotika, hal tersebut tidak serta-merta menjadi tanggung jawab penegak hukum sepenuhnya, akan tetapi menjadi tanggung jawab bersama antara lapisan masyarakat dan penegak hukum.


Perlu adanya kerjasama dan dukungan dari semua lini didalam memberantas peredaran barang haram tersebut.


Terlebih peran orang tua dan keluarga sangat penting dalam mengawasi putra-putrinya agar tidak terjerumus dalam ‘lingkaran hitam’ yang menyesatkan.


Seperti yang dikutip dalam sebuah penelitian di UIN Alauddin Makassar, Fakultas Syariah dan Hukum. Dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika diwujudkan dalam bentuk peran serta masyarakat sangat dibutuhkan untuk memberantas peredaran gelap narkotika.


Karena tanpa dukungan masyarakat maka segala usaha, upaya dan kegiatan penegakan hukum akan mengalami kegagalan. Disinilah pentingnya mengubah sikap tingkah laku dan kepedulian masyarakat terhadap pencegahan dan penanggulangan tindak pidana narkotika.


Berdasarkan wawancara yang dilakukan arbindonesia.com kepada salah seorang mantan pencandu narkotika di Kabupaten Inhil yang berhasil melewati ‘pahitnya’ hidup selama 14 tahun (2000-2014) karena ‘terjerat’ barang haram.


Pria itu berinisial AK (44 tahun), ia mengaku sebelum terjerumus kedalam lingkaran hitam peredaran narkotika, ia sangat sadar akan bahayanya mengkonsumsi narkoba.


“Karena terpengaruh akan lingkungan sekitar, pergaulan, dan kurangnya pengawasan dari orang tua akhirnya saya mencoba narkotika jenis sabu yang diberi secara gratis,” ungkapnya,” tuturnya, Selasa (23/2/2021).


Menurut AK, saat mencoba barang haram tersebut, ia merasakan ada sesuatu semangat yang berbeda. “Timbul semangat yang berlebihan dari biasanya (euforia),” kata AK.


Karena terbiasa, ketergantungan akan narkoba semakin dirasakannya. “Hilangnya gairah dan semangat untuk melakukan aktivitas akibat merasakan keletihan yang berlebihan jika tidak memakai narkoba,” ucapnya.


Saat sudah ketergantungan, cita-cita yang ingin kita capai dulunya pupus seketika, yang ada hanya keinginan bagaimana agar terus bisa membeli narkoba.


“Akhirnya jalan pintas saya ambil demi membeli narkoba dari hasil tindakan kriminal. Yang pada akhirnya saya di penjara 2,5 tahun karena kasus perampokan,” pungkas AK.


Menurut pengakuannya juga, kala itu didalam penjara tak membuatnya insaf akan mengkonsumsi narkoba. Akan tetapi terasa sedikit lebih mudah untuk mendapatkan narkoba didalam penjara dibanding di luar penjara.


“Setelah saya dinyatakan bebas pada tahun 2011silam, mulai timbul kesadaran untuk berhenti sebagai pengguna narkoba. Memang awalnya sangat terasa sulit karena harus menghadapi pengaruh lingkungan yang sangat besar. Akan tetapi dengan niat yang kuat dari dalam diri untuk melepaskan dari jeratan narkoba akhirnya semua itu bisa saya lalui,” pungkas AK.


“Dukungan dari keluarga adalah hal yang terpenting untuk berhenti menggunakan narkoba. Karena kondisi jiwa kita saat itu menjadi labil, maka harus didukung oleh keluarga. Jika tidak, maka berkemungkinan besar akan terulang kembali sebagai penikmat barang haram,” tambahnya.


Terakhir AK berpesan kepada masyarakat khususnya generasi muda penerus bangsa bahwa dipundak anda nantinya masa depan serta cita-cita diri sendiri, keluarga, dan negari ini dipertaruhkan.


Tidak ada kata-kata mencoba dalam dunia narkoba, karena disaat anda mencoba di saat itulah anda mulai terjerumus.


“Selalu lakukan kegiatan positif, jauhi lingkungan serta teman yang membawa pengaruh buruk, dekatkan diri kepada Tuhan serta slalulah berpikir positif,” pesan AK mantan pecandu narkoba.


“Narkoba hanya akan menyengsarakan dan membuat kita jauh dari segala hal positif yang ingin diraih. Katakan Tidak Pada Narkoba,” tutupnya.


Arbain




Modus Paket Kiriman, Bea Cukai Gagalkan Penyeludupan Narkotika

Foto barang bukti


ARBIndonesia.com, BOGOR – Tim gabungan Bea Cukai Bogor dan Polres Bogor berhasil mengungkap kasus pertama penyeludupan narkotika jenis Synthetic Cannabinoid dengan modus peket pengiriman.


Pengungkapan kasus tersebut terjadi di salah satu Perusahaan Jasa Titipan (PJT) yang berlokasi di Kedunghalang pada Jumat (12/2/2021) sekitar pukul 06.00 wib.


Dilansir dari laman beacukai.go.id, kepala Seksi Penindakan dan Penyidikan, Hadi Prayitno mengungkapkan barang bukti berisi satu buah celana jeans dan satu bungkus aluminium foil yang didalamnya terdapat plastik klip berisi 15 gram narkotika yang diduga jenis Synthetic Cannabinoid.


“Informasi pengiriman ini berawal dari analisa Kanwil Bea Cukai Sumbagbar yang diinformasikan oleh Tim Subdit Narkotika Direktorat Penindakan dan Penyidikan (P2) Bea Cukai. Atas informasi tersebut, diketahui bahwa pengirim paket berasal dari Makassar menuju wilayah Bogor,” ungkap Hadi, Selasa (22-02-2021).


Hadi menambahkan, pemeriksaan ditindaklanjuti dengan control delivery oleh pihak Polres Bogor menuju penerima barang inisial AH yang beralamat di Kelurahan Baranangsiang, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor.


“Barang bukti diserahterimakan kepada Polres Bogor untuk dilakukan proses penelitian lebih lanjut. Atas penindakan tersebut telah dilakukan pengadministrasian penindakan,” ujar Hadi.


Kemudian, lanjut Hadi, kasus kedua penyelundupan narkotika berhasil diungkap di Sukabumi yang dilakukan melalui jasa pengiriman barang dengan menyelipkan barang tersebut ke cover glass untuk mengesankan paket yang dikirim hanya berisi peralatan laboratorium.


Hadi mengatakan, penyelundupan narkotika tersebut digagalkan pada Selasa (16/2) sekitar pukul 10.00 WIB. Pihaknya menemukan 1,5 gram berupa serbuk berwarna kekuningan yang diduga narkotika jenis fubinaca Synthetic Cannabinoid.


Berawal dari informasi crawling dan analisa Bea Cukai Malang yang diinformasikan oleh Tim Subdit Narkotika Direktorat P2, atas pengiriman barang dari Jakarta melalui PJT tujuan ke Kota Sukabumi yang dicurigai membawa narkotika dengan penerima barang inisial NR.


Pengungkapan penyelundupan ini, lanjut Hadi, merupakan hasil koordinasi dengan Polres Kota Sukabumi melalui operasi Gabungan di Citamiang, Kabupaten Sukabumi. Tujuannya untuk mengungkap jaringan pengiriman narkotika yang berada di wilayah Sukabumi dan sekitarnya.


“Atas hasil pemeriksaan tersebut akan ditindaklanjuti dengan control delivery oleh pihak polres kota sukabumi menuju penerima barang,” tandas Hadi.


Pelaku NR diduga telah melanggar UU No. 34 tahun 2009 tentang narkotika. Barang bukti telah diserahterimakan kepada Polres Sukabumi Kota untuk dilakukan proses penelitian lebih lanjut.


Editor Arbain




Senilai 10 Miliar, Kapal Bermuatan Rokok dan Mikol Ilegal Kembali Diamankan Bea Cukai

Foto: BC Batam saat melakukan pengamanan terhadap kapal bermuatan rokok dan mikol ilegal


ARBIndonesia.com, BATAM – Bea Cukai Batam berhasil memgamankan Kapal Motor (KM) Budi yang membawa rokok dan minuman alkohol (mikol) ilegal dengan nilai barang diperkirakan mencapai Rp 10 miliar lebih.


Kepala Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Batam, Susila Brata menjelaskan awal mula penangkapan berdasarkan informasi yang didapatkan dari masyarakat bahwa ada kapal yang mencurigakan mengarah ke perairan Sengkuang, Batam, pada Sabtu (20/02/2021).


“Informasi tersebut kami dapatkan pada pukul 02.00 Wib dini hari, kemudian pada pukul 03.00 Wib, Satuan Tugas (Satgas) Patroli BC 7004 langsung melakukan pengejaran dan memberikan peringatan terhadap target (KM. Budi) untuk memberhentikan kapalnya,” ungkap Susila melalui siaran pers, Senin (22/2/2021).


Lanjutnya, meski telah mendapat peringatan, kapal tersebut tetap melaju dan akhirnya mengandaskan diri di sekitar perairan Pulau Putri, Kecamatan Nongsa, Batam.


“Lalu Satgas Patroli BC 7004 menghubungi 5 satgas kapal speed patroli lainnya (Satgas Kantor Wilayah DJBC Khusus Kepulauan Riau), serta dibantu Satgas DitPolairud Polda Kepri guna membackup proses pemeriksaan kapal yang bernama KM Budi,” jelas Susila.


Setelah dilakukan pemeriksaan terhadap kapal tersebut, ditemukan sejumlah karton yang diduga berisi rokok dan minuman alkohol, akan tetapi petugas saat itu tidak menemukan satupun Anak Buah Kapal (ABK) di kapal itu.


“Satgas gabungan berhasil mengamankan muatan tersebut beserta satu orang ABK yang diduga melompat ke laut pada saat mengkandaskan kapal tersebut,” tambah Susila.


Dari introgasi yang dilakukan terhadap satu orang ABK tersebut, bahwa dikapal yang bermuatan rokok dan mikol ilegal itu ternyata terdapat 8 orang ABK yang berhasil melarikan diri diduga dengan cara melompat ke laut.


“Mengetahui hal tersebut Satgas langsung melakukan pencarian ABK yang melompat ke laut di perairan pantai tersebut. Hingga saat ini Satgas masih berusaha melakukan pencarian dan upaya penyelamatan (SAR),” ungkap Susila.


Berdasarkan data yang disampaikan Bea dan Cukai Batam, tangkapan rokok ilegal diketahui sebanyak 454 karton dengan jumlah 5,9 juta batang, dengan berbagai merek seperti Maximm, Rave Menthol, Rave Flavour, Double Happiness, Manchester Menthol, dan Manchester Blue Saphire.


Sedangkan minuman alkohol tanpa dilekati pita cukai berjumlah 85 karton dengan jumlah 1.020 botol, yang terdiri dari Red Label ukuran 1 liter dan Red Label ukuran 700 mililiter.


“Untuk estimasi nilai barang diperkirakan Rp10 miliar, dengan potensi kerugian negara sebesar Rp7,8 miliar,” pungkas Susila.


Terakhir dikatakan Susila, terhadap pelaku dijerat Pasal 102 huruf a Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 tahun 2006 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang kepabeanan dengan ancaman pidana penjara paling singkat 1 tahun dan dan paling lama 10 tahun pidana. Dengan denda paling sedikit Rp 50 juta dan paling banyak Rp 5 miliar.


Selain itu pelaku juga dijerat dengan Pasal 50, pasal 54, dan pasal 56 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 39 tahun 2007 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 Tentang Cukai dengan ancaman pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 5 tahun, dan pidana denda paling sedikit 2 kali nilai cukai dan paling banyak 10 kali nilai cukai yang seharusnya dibayar.


Editor Arbain