Dua Orang Telah Diamankan, Polisi Masih Buru Pelaku Jasa Pinjol Ilegal RP Cepat

ARBIndonesia.com, JAKARTA – Tim Bareskrim Polri tengah memburu pelaku baru dalam kasus penyedia jasa pinjaman online alias pinjol ilegal RP Cepat. Saat ini, pengumpulan keterangan saksi dan bukti terus dilakukan.

“Penyidik masih mengembangkan terhadap kemungkinan adanya pelaku lain selain AM dan JM yang telah diamankan karena terlibat kasus ini,” ujar Kabagpenum Divhumas Polri Kombes Ahmad Ramadhan, Senin (21/6).

Pelaku bahkan sampai meneror korban yang telat bayar dengan menyebarkan foto vulgar hingga membuat malu di depan keluarga.

“Nanti akan kami update lagi setelah ada perkembangan terbaru,” ujar Ahmad Ramadhan.

Bareskrim telah menangkap penyedia jasa pinjaman online alias pinjol ilegal yang menggunakan metode teror saat melakukan penagihan utang.

Wadirtipideksus Kombes Whisnu Hermawan Februanto mengatakan, nama penyedia jasa pinjol tersebut adalah Rp Cepat. Berdasarkan data dari OJK, penyedia jasa itu ilegal atau tidak terdaftar. Menurut Whisnu, pihaknya menangkap lima tersangka berinisial EDP, BT, ACJ, SS, dan MRK di kawasan Jakarta Barat.

Sementara masih ada dua Warga Negara Asing (WNA) yakni XW dan GK masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) alias buron.

“Kami informasikan kepada masyarakat bahwa aplikasi RP Cepat tidak ada izinnya. Secara legalitas perusahaan ini tidak ada izin. Kami berhasil mengecek ke teman-teman OJK dan langsung proses penyelidikan di lapangan,” ujar dia.

Kasus ini terungkap setelah adanya masyarakat yang melapor bahwa telah melakukan pinjaman ke RP Cepat sebesar Rp 1,7 juta dan hanya disetujui Rp 500 ribu. Namun nyatanya uang yang diterima malah Rp 295 ribu. ***

Sumber wartaekonomi.co.id




Curi Kabel Lampu Sepanjang 152 Meter di Tembilahan Hulu, 1 Orang tertangkap dan 1 Buron

ARBIndonesia.com, INDRAGIRI HILIR – Seorang pelaku tindak pidana pencurian kabel lampu penerangan jalan milik pemerintah daerah Indragiri Hilir (Inhil) yang dikelola oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) dibekuk Polsek Tembilahan Hulu, Polres Inhil.

Pencurian kabel diketahui terjadi pada Sabtu (19/6/2021) sekitar pukul 11.30 wib, di Jalan Suhada 2 RT.01 RW.017 Kelurahan Tembilahan Hulu, dengan tersangka inisial YN (49), warga Kelurahan Pekan Arba.

Dinas PUTR yang menerima laporan kabel penerangan lampu telah hilang berukuran 4 x 16 milimeter dengan panjang kurang lebih 152 meter yang terpasang di tiang listrik Jalan Suhada II Kelurahan Tembilahan Hulu langsung melaporkan ke Polsek Tembilahan Hulu.

“Kami langsung melaporkan kejadian tersebut kepada Kadis PUTR dan selanjutnya melapor Ke Polsek Tembilahan Hulu,” kata salah satu pegawai Dinas PUTR Inhil, yang tidak mau disebut namanya.

Atas kejadian itu kerugian yang dialami diperkirakan kurang lebih 2.728.000.

Dikatakan Kapolres Inhil, AKBP Dian Setyawan SH SIK MHum melalui Paur Humas Ipda Esra SH setelah menerima laporan terkait dugaan tindak pidana pencurian dengan pemberatan (curat), Tim Unit Reskrim Polsek Tembilahan Hulu melaksanakan rangkaian penyelidikan dan interogasi terhadap para saksi.

“Pelaku akhirnya berhasil terungkap, berinisial YN dan diamankan Unit Reskrim Polsek Tembilahan Hulu. Setelah diinterogasi secara lisan perihal perkara dugaan curat, pelaku mengakui telah melakukan tindakan tersebut. Tersangka dan barang bukti di bawa ke Mapolsek Tembilahan Hulu untuk dilakukan proses penyidikan lebih lanjut,” ungkapnya.

Sementara rekan pelaku inisial HS masih dalam proses penyelidikan.

“Pelakunya dikenai Pasal 363 ayat 1 ke 4 Jo Pasal 55, terancam pidana penjara 5 tahun,” tukasnya. ***




Polri Bertindak Secara Profesional, Kabid Humas : Itu Wajib Hukumnya Bagi Setiap Personel

ARBIndonesia.com, PEKANBARU – Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Riau, Kombes Pol Sunarto, menegaskan setiap anggota Polisi di Bumi Lancang Kuning wajib bertindak profesional dalam menjalankan tugas-tugasnya sebagai pengayom masyarakat. Termasuk di antaranya profesional dalam memberikan pelayanan kepada publik.

“Setiap anggota Polda Riau wajib profesional menjalankan tugas-tugasnya. Termasuk paling utama itu profesional memberikan pelayanan kepada publik,” ungkap Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Sunarto dalam keterangan releasenya, Senin (21/6/2021).

Narto (panggilan akrabnya) menekankan, bagi anggota Polda Riau yang tidak menjalankan tugas-tugasnya secara profesional akan diarahkan dan dibina menuju ke arah tersebut.

“Jadi bagi anggota Polda Riau yang tidak bisa dan mampu memberikan pelayanan dengan secara baik, tentu ada sanksi menanti mereka,” ujarnya

Narto menegaskan tentang viralnya video terjadi pekan lalu, pengambilan gambar dan video tersebut dilakukan secara ilegal dan itu merupakan bentuk pelanggaran.

“Akses ilegal yang dilakukan dengan merekam video dari CCTV milik Polda Riau merupakan pelanggaran serta perbuatan melawan hukum. Ini sudah sejak awal kita lakukan penanganannya,” ungkap mantan Kabid Humas Polda Sultra tersebut.

Narto menyebutkan, sejak awal peristiwa tersebut terjadi, Polda Riau sudah menanganinya sebagai kasus internal. Termasuk memanggil para orang-orang ada dalam video serta yang mengetahui kejadian tersebut.

“Kita sekarang fokus pada penyebaran video. (Ini jelas) perbuatan melawan hukum, tidak bisa (penyebaran video) dilakukan secara bebas. Ini melanggar UU ITE,” pungkas Narto. ***




Diduga Pungli Dana Bantuan UMKM, Dua Oknum PNS di Rohil Terjaring OTT

ARBIndonesia.com, ROHIL – Tim Satuan Reskrim Polres Rokan Hilir (Rohil) melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap dua oknum PNS yang diduga melakukan pungutan liar (pungli) terkait pengurusan permohonan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di wilayah Kecamatan Bangko Pusako pada Jumat (18/6/2021) sekitar pukul 09.15 wib.

Adapun tersangka yang diamankan yaitu berinisial BS warga Kepenghuluan Bangko Mukti, Kecamatan Bangko Pusako dan rekannya berinisial S (39) warga jalan H. Annas Maamun Kepenghuluan Bangko Kanan Kecamatan Bangko Pusako. S diketahui merupakan oknum PNS di Puskesmas Bangko Pusako Kabupaten Rohil.

Penangkapan tersebut disampaikan Kapolres Rohil AKBP Nurhadi Ismanto SH SIK melalui Kasubbag Humas AKP Juliandi SH, Sabtu (19/6/2021).

Juliandi menerangkan bahwa, proses penangkapan operasi tangkap tangan kedua oknum PNS Puskesmas Bangko Pusako berawal saat melakukan pungli untuk permohonan dana UMKM Kabupaten Rohil Tahun Anggaran 2021.

Dari hasil penindakan OTT tersebut, tim satuan Reskrim Polres Rohil mengamankan barang bukti uang tunai sebesar Rp 1.200.000 saat di rumah korban jalan menuju PKS PT. Bukit Mas Kepenghuluan Karya Mukti, Kecamatan Rimba Melintang beserta 48 berkas pemohon dari para pelaku.

AKP Juliandi menerangkan, hasil operasi tangkap tangan ini sebelumnya atas informasi dari seorang warga berinisial ET selaku penerima dana UMKM pada Rabu (16/6/2021) lalu.

Pasalnya, ada oknum PNS Puskesmas Bangko Pusako berinisial BS, yang diduga menjadi calo, meminta uang sebesar Rp500.000 dari pencairan Dana UMKM yang sudah diterima oleh korban.

Tidak cukup di situ juga, pelaku ini juga ada mengancam kepada korban (penerima dana UMKM) bilamana korban tidak memberikan sejumlah uang tersebut. Korban diancam tidak akan lagi mendapat bantuan BLT UMKM di periode berikutnya karena namanya akan dicoret.

Dari informasi tersebut, Tim Satuan Reskrim Polres Rohil langsung melakukan penyelidikan dan pengembangan. Pada hari Jumat 18 Juni 2021 tepatnya pada pukul 09.15 wib, tim Satreskrim Polres Rohil melihat korban ET memberikan uang tunai Rp500.000 kepada BS saat di depan rumah korban dan tim langsung melakukan tindakan dengan mengamankan pelaku dan barang bukti.

Hasil introgasi terhadap pelaku BS, bahwasannya uang tunai Rp500.000 tersebut akan dibagikan kepada rekannya bernama S selaku PNS di Puskesmas Bangko Pusako sebesar RP 300.000 dan sisanya Rp 200.000 untuk pelaku BS. Akhirnya tim melakukan penangkapan kepada pelaku S di Puskesmas Bangko Pusako.

“Kedua pelaku ini masing-masing memiliki peran yang berbeda, kalau pelaku berinisial S tugasnya mengumpulkan berkas-berkas pemohon sedangkan pelaku BS tugasnya meminta uang kepada para penerima dana UMKM. Ada total 48 berkas pemohon. Namun yang sudah dicairkan sebanyak 22 berkas sebesar Rp 6.600.000.” kata AKP Juliandi.

Namun tambahnya, ada juga sisa dari 5 pemohon yang sudah cair sebelumnya belum membayarkan kepada para pelaku, sementara ada 21 pemohon masih belum menerima dana UMKM dari pemerintah rencananya akan ditransfer melalui bank.

Adapun hasil pengumpulan barang bukti yang diamankan yakni uang tunai Rp 1.200.000 dari BS (Rp 500.000 pada saat OTT dan Rp 700.000 uang pungli sebelumnya), selanjutnya uang tunai Rp 3.000.000 dari rekannya pelaku berinisial S (sisa uang pungli yang masih ada), 1 unit sepeda motor supra X warna hitam (kendaraan yang digunakan tersangka mendatangi rumah korban) dan 1 handphone milik pelaku berinisial S.

Terhadap ulah para pelaku ini katanya lagi, disangkakan
Pasal 12 huruf e Undang-Undang RI. Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang RI. Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Ancaman pidananya penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 200 juta dan paling banyak Rp1 miliar. ***
Sumber cakaplah.com




Tangani Kasus Wartawan Ditembak, Polda Sumut Bentuk Timsus

ARBIndonesia.com, MEDAN – Polda Sumut membentuk tim khusus (timsus) untuk menuntaskan kasus penembakan wartawan media online di Kabupaten Simalungun. Tim khusus itu terdiri atas personel Satreskrim Polres Simalungun dan Direktorat Reserse Kriminal (Ditreskrim) Umum Polda Sumut.

“Tim yang dipimpin Dir Reskrimum, Kabid Labfor dan Kapolres Simalungun saat ini sedang bekerja melakukan penyelidikan. Mohon doanya agar kasus ini segera terungkap,” ujar Kapolda Sumatera Utara Irjen Panca Putra Simanjuntak, Sabtu (19/6/2021).

Kapolda juga menyampaikan dukacita kepada keluarga korban Mara Salem Harahap (42).

“Saya beserta Pangdam I/BB dan Kepala BIN Sumatera Utara ikut berdukacita atas kejadian yang dialami teman kita, seorang awak media,” katanya.

Sebelumnya, Mara Salem Harahap dilaporkan tewas tidak jauh dari rumahnya, di Desa Karang Anyar, Kecamatan Gunung Maligas, Kabupaten Simalungun, Sabtu (19/6/2021) dini hari.

Korban diduga tewas setelah ditembak orang tak dikenal saat dia berada di dalam mobilnya.

Dari hasil pemeriksaan, polisi menemukan bekas luka tembak pada bagian kaki kiri korban.

Menurut pengakuan abang kandung korban, Hasanuddin Harahap, adiknya ditemukan pertama kali oleh warga sekitar 300 meter dari rumahnya di Huta 7, Pasar 3 Nagori Karang Anyer, Kabupaten Simalungun.

“Kalau kata warga, adik kami ditemukan pertama kali di dalam mobil tak jauh dari rumahnya. Lokasi ditemukan dia dengan rumahnya itu berjarak 300 meter. Orang rumah sakit tadi bilang, ada luka tembak di bagian paha sebelah kiri,” kata abang kandung Marsal.

Atas kejadian ini, pihak keluarga minta pihak kepolisian segera mengusut kejadian yang menyebabkan Mara Salem Harahap meninggal dunia.

“Kami minta polisi agar mengusut secara jelas penyebab adik kami ini meninggal dunia,” ucap Hasanuddin. ***
Sumber inewssumut.id/okezone.com




Kasus Kematian Haji Permata Berjalan Lambat, Pengacara Datangi Polda Riau

ARBIndonesia.com, PEKANBARU – Pengacara kondang, Razman Arif Nasution mendatangi Mapolda Riau yang di jalan Pattimura Kota Pekanbaru. Kedatanganya itu bertujuan hendak membuat laporan polisi (LP) atas kematian Baharudin yang dinilai tidak wajar.

Baharuddin merupakan nakhoda kapal dalam insiden tewasnya pengusaha ternama Haji Permata pertengahan Januari 2021 lalu.

“Saya menghargai, menghormati instansi Polri, maka disepakati tak usah dulu buat LP, karena menurut Dirkrimum masih satu laporan dengan kasus H Permata. Beliau juga pastikan penyelidikan akan berjalan. Maka kita percaya akan bekerja benar,” ujar Razman, Sabtu (19/6).

Menurut Razman, Baharudin ikut menjadi korban tembakan oleh petugas Bea dan Cukai Tembilahan. Saat itu, petugas Bea Cukai melakukan penggagalan penyelundupan rokok ilegal di wilayah Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau.

Razman datang bersama keluarga baik itu istri dan Abang kandung almarhum Baharudin.

Razman mejelaskan, awalnya mereka datang untuk membuat laporan. Namun, setelah berdiskusi dengan para petinggi Polda Riau, akhirnya dia hanya akan membuat aduan masyarakat tentang peristiwa tersebut.

Sebab, kata Razman, laporan kematian Baharudin masih satu laporan dengan kematian Haji Permata di peristiwa yang sama.

Namun, Razman mengaku tetap akan melayangkan aduan masyarakat (dumas) terkait peristiwa tersebut. Lewat aduan ini pihaknya akan memantau perkembangan kasus hingga selesai.

“Tidak ada negosiasi, tawar menawar dan perdamaian, siapa yang terlibat kita harap ditangkap. Dumas itu kita sampaikan ke Polda Riau kita tembuskan ke Kapolda, Wakapolda, Irwasda hingga Dirkrimum,” tegasnya.

Menurut Razman, dalam proses hukum kasus tersebut sebetulnya tidak diperlukan adanya pengaduan itu. Sebab telah menjadi delik umum dan peristiwa sudah diketahui masyarakat luas.

Namun lantaran sejak Januari hingga saat ini kasus tersebut tidak progres reportnya tidak jelas, maka dirasa perlu untuk membuat Dumas tersebut.

“Sebagai kuasa hukumnya Baharudin dan keluarga, saya rasa perlu membuat dumas agar ada pegangan kita untuk memantau perkembagan penangan kasus ini,” terangnya.

Menurut Razman, peristiwa ini sangat penting untuk diungkap. Sebab ia menilai dalam kasus ini, Baharudin menjadi korban penembakan oleh Petugas Bea dan Cukai kala itu.

“Baharudin itu menjadi korban penembakan. Hingga kita menilai kematiannya tak wajar. Kenapa tak wajar, karena dia tidak terlibat dalam kasus yang katanya Haji Permata itu. Baharudin hanya masyarakat yang sehari-hari mengantar penumpang untuk menyeberang, nah kala itu ditelfon oleh ajudannya H Pertama bernama Basir,” ujarnya.

Menurut Razman, Baharudin itu hanya pemilik pancung yang sehari-hari digunakan untuk transportasi mengantar orang menyeberang. Kemudian Baharudin dihubungi oleh Basir yang merupakan ajudan dari Haji Pertama.

“Dalam percakapan yang juga diketahui oleh istri Baharudin, Neni, dan Abang Kandungnya Syamsir, bahwa Basir meminta Bahrudin membuatkan 40 nasi bungkus,” jelasnya.

Namun nasi belum masak, Basir kembali menghubungi Baharudin untuk datang dan mengambil uang nasi tersebut.

“Jadi Bahrudin pergi menjumpai Basir. Tapi bukan mendapat uang tadi, malah Haji Permata dan rombongan langsung naik ke kapal Baharudin. Rupanya sebelumya sudah ada kejar mengejar antar Bea Cukai dan kelompok Haji Permata tadi. Mereka tertangkap dan ditembak,” bebernya.

“Ditembak ya, bukan tembak menembak. Sebab tidak ada perlawanan tembakan dari kapal yang dikemudikan Baharudin. Kalau tembak menembak pasti ada senjata dong di atas kapal itu,” tambahnya.

Selanjutnya, kapal yang ditumpangi Haji Permata itu milik Baharudin. Dia juga bukan anak buah Haji Permata dan tidak ada urusan rokok ilegal bahkan mafia rokok ilegal. Baharudin murni hanya penyedia jasa transportasi di wilayah itu.

“Kita sudah dapat informasi senjata yang digunakan dalam penembakan itu. Nah sekarang sekarang tupoksinya, boleh gak bea cukai melakukan penembakan itu. Seharusnya kan melumpuhkan dulu. Jagan asal bunuh. Ini meski diusut, siapa yang diusut polisi pasti tau lah,” tegasnya.

“Mulai hari ini ini kasus harus jalan, kalau terlibat misalnya Bea Cukai Riau, Bea Cukai tmTembilahan, Cukai Kepri, proses. Jika tidak berjalan kita akan laporkan ke Mabes, namun kita akan lihat perjalanannya dulu. Kita akan pantau tiga Minggu sekali,” tambahnya.

Saat ini polisi mengaku telah membidik satu nama yang terlibat dalam kasus tersebut. “Sudah ada mengerucut ke satu pelaku. Namun mereka tak sebut nama dan instansinya,” tandasnya.

Sementara itu, Direktur Reskrimum Polda Riau Kombes Teddy Ristiawan menbenarkan adanya aduan dari Razman Arif. Dia menyebutkan, kasusnya masih didalami. Padahal, kasus itu sudah berjalan 5 bulan.

“Kemarin Pak Razman mendatangi polda Riau sebagai penasehat hukum dari keluarga salah satu korban atas nama bBaharudin beserta istri almarhum dan keluarganya,” kata Teddy.

Menurut Teddy, pihaknya tidak bisa menargetkan rentang waktu penyelesaian kasus tersebut.

“Untuk masalah target saya tidak menyampaikan seperti itu. Namun saya menyampaikan kasus masih dalam proses sidik dan tidak berhenti,” tandasnya.

Sumber katakabar.com