Pelabuhan Parit 21 Tak Kunjung Difungsikan, IT : Tidak Tau Masalahnya Dimana

ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Hingga kini memasuki periode ke-2 kepemimpinan Bupati Indragiri Hilir (Inhil) HM Wardan, Pelabuhan Parit 21 Tembilahan masih tak kunjung difungsikan.


Padahal, keberadaan pelabuhan yang dibangun semenjak masa kepemimpinan Bupati Inhil terdahulu yakni Indra Mukhlis Adnan, diharapkan mampu dalam mendongkrak perekonomian masyarakat.


Sebab, anggaran yang digelontorkan untuk pembangunan pelabuhan tersebut tidak lah sedikit, bernilai mencapai miliaran.


Untuk itu, Ketua Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Inhil Iwan Taruna mendesak agar pelabuhan tersebut segera beroperasi sebagaimana fungsinya.


“Sangat disayangkan, karena sudah 10 tahun belum juga beroperasi. Kami (Komisi III) dari periode kemarin malah sudah mendesak dan mendorong Pemerintah Daerah (Pemda) untuk membuat Ranperda pembentukan Badan Usaha Pelabuhan (BUP), tapi sampai hari ini belum juga terbentuk. Tidak tau masalahnya dimana,” sebut Politisi Partai PKB itu ketika dihubungi wartawan, Rabu (26/2/2020).







Bahkan pria yang akrab disapa IT itu mengatakan Komisi III siap membantu dalam proses di mana sisi laut wewenang Provinsi dapat menjadi aset daerah.


Terakhir, ia juga mengapresiasi jika ada niatan Pelindo I Tembilahan untuk menjalin kerjasama guna pengoperasian pelabuhan tersebut.


“Terserah apakah mau kerjasama atau dioperasikan sendiri, yang penting kita minta pelabuhan bisa segera difungsikan,” tandasnya.


Sementara itu GM Pelabuhan Indonesia (Pelindo) 1 cabang Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) Yusrizal ketika dijumpai mengungkapkan membuka diri bekerjasama dengan pemerintah.


“Kita siap bantu, karena kita Pelindo sudah ada BUP sebagai landasan pengoperasian Pelabuhan. Namun kerjasama hanya bisa dilakukan antar BUMN dengan BUMD. Tidak bisa kita Pelindo dengan pemerintah daerah. Kalau ingin mengelola sendiri juga tidak apa-apa,” ujarnya.


Menurutnya, Pelabuhan tersebut jika fungsikan akan berdampak signifikan terhadap perekonomian masyarakat.


“Saya rasa maksimal 300 Ton muatan masih bisa diakses melalui pelabuhan tersebut untuk kegiatan ekspor,” terangnya lagi. (Ags)


Editor Arb




Penerapan Non Tunai di Riau Dinilai Belum Terintegrasi

ARB INdonesia, PEKANBARU – Pengamat ekonomi Universitas Riau (Unri) Dahlan Tampubolon menyatakan pemberlakuan non tunai di Kota Pekanbaru dan Riau umumnya, masih belum terintegrasi dengan stakeholder terkait dan terkesan Bank Indonesia masih bekerja sendiri.

Seperti salah satunya dimulainya pemberlakuan kartu e-money (non tunai) pada pada parkiran Badara Pekanbaru Sultan Syarif Kasim II, per 1 Februari lalu yang masih berdampak pada kemacetan panjang di pintu keluar.

“Saya pernah kena macet panjang dua minggu lalu saat menjemput tamu, karena masih banyak yang beli kartu di pintu ke luar,” kata Dahlan Tampubolon kepada media saat bincang-bincang ekonomi Riau 2020 di Pekanbaru, Senin (24/2/2020).

Dahlan mengatakan saat pemberlakuan non tunai di Bandara SSK harusnya sudah ditopang oleh infrastruktur yang memadai untuk memudahkan orang membeli kartu di retail moderen, bahkan Anjungan Tunai Mandiri. Sehingga orang tidak hanya membeli di bandara saja.

“Memang untuk buat Infrastruktur tergantung niat,” katanya.







Dahlan bahkan mengkritik penjualan kartu perdana non tunai yang dilakukan di pintu keluar bandara SSK II Pekanbaru tidak tepat, akibatnya membuat kemacetan.

“Harusnya penjualan di pintu hendak masuk bandara, tidak seperti sekarang seperti bubu ikan, masuk mudah keluar susah. Atau kalau orang terburu-buru, kartu dijual di sekitar parkiran bandara bukan di exit point,” katanya.

Ia juga menyarankan harusnya dari pintu keluar yang ada, disediakan satu yang bisa menggunakan uang tunai, dan pintu yang lain untuk non-tunai, dengan begitu masyarakat akan belajar memilih mana yang lebih cepat dan mudah maka mereka secara perlahan akan beralih.
“Hak warga negara menggunakan uang tunai dan infrastruktur bandara, tidak ada yang boleh melarang, tapi perlahan akan dikurangi fasilitas tunainya,” tegas Dahlan.

Terutama bagi warga di luar Kota Pekanbaru, mereka belum tentu tahu kebijakan itu, kalaupun tahu akan enggan menggunakan sebab hanya untuk sekali pakai, dan sisa uangnya tidak bisa digunakan di daerah.

“Seandainya sudah terintegrasi dengan ritel moderen ataupun suermarket kan bisa dipakai belanja juga. Jadi gak sia-sia beli kartunya,” katanya.

Selain itu katanya untuk top up, perbankan juga harus memudahkan pengisian. Di sini butuh lagi integrasi dengan fasilitas bank dan ritel besar sehingga keberadaan kartu mudah didapat tidak perlu meski antri.

“Pemanfatan non-tunai ini juga perlu diperluas fungsinya tidak hanya membayar parkir akan tetapi bisa digunakan untuk pembayaran lainnya semisal trans metro, parkil di mall dan belanja serta sebagainya,” pungkasnya.

Seperti diketahui, pasca pemberlakuan kartu e-money (non tunai) pada pada parkiran Bandara Pekanbaru Sultan Syarif Kasim II, 1 Februari lalu hingga hampir akhir bulan, masih terlihat kemacetan di pintu keluar bandara.

Hal ini dikarenakan masyarakat yang baru pertama kali masuk bandara terjebak diantara kendaraan yang sudah miliki kartu. Sehingga untuk proses pemilihan butuh waktu transaksi di pintu keluar.

Kepala Divisi Sistem Pembayaran Pengelolaan Uang Rupiah (SP PUR) Layanan Administrasi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Riau, Asral Mashuri sebelumnya mengingatkan masyarakat agar menyiapkan uang elektronik untuk membayar parkir jika pergi ke Bandara SSK II.

“Jangan sampai tidak bisa keluar bandara karena gate parkir hanya bisa terbuka dengan uang elektronik,” ujar Asral.
Asral menjelaskan, masyarakat dapat memilih berbagai jenis uang elektronik. Seperti flazz dari BCA, emoney dari Bank Mandiri dan Bank Riau Kepri, tapcash dari BNI dan brizzi dari BRI.

“Siapkan uang elektronik dari sekarang, yang bisa didapatkan di counter atau loket bank dimana saja yang terdekat,” katanya.
Asral menjelaskan elektronifikasi ini merupakan upaya untuk merubah metode pembayaran dari tunai ke non tunai. Hal ini dilakukan guna menciptakan cashless society. Ia menuturkan, pembayaran non tunai untuk biaya parkir ini dapat mengurangi peredaran uang pecahan kecil.

Menurutnya lagi, sumber daya atau biaya untuk mencetak uang mulai dari perencanaan, pengadaan bahan, pencetakan, distribusi hingga pengolahan memerlukan biaya yang tidak sedikit.
“Dengan pembayaran non tunai ini juga akan menghemat waktu,” tukasnya. (*)


loading…




Sumber cakaplah.com
https://www.cakaplah.com/berita/baca/2020/02/24/penerapan-non-tunai-di-riau-dinilai-belum-terintegrasi/#sthash.j2SBCdL3.dpbs




Melihat Pengolahan Sabut Kelapa di Kodim 0314/Inhil, Kades Batang Tumu akan Lakukan Percontohan

ARB INDONESIA, INDRAGIRI HILIR – Usai mengunjungi projek pengolahan limbah sabut kelapa di Kodim 0314/Inhil, Kepala Desa Batang Tumu, Kecamatan Mandah  berencana akan melakukan pencontahan di desa yang ia pimpin saat ini.


Kades Batang Tumu, Tarmizi mengatakan sabut yang selama ini dinilai oleh mata masyarakat hanya sebatas limbah, namun ternyata sabut memiliki nilai ekonomi  jika diolah menjadi suatu produk.


“Melalui anggaran desa akan kita coba masukan. Kita coba dengan satu mesin dulu, sebagai percontohan pengolahan limbah sabut kelapa,” tuturnya kepada media Rabu (19/2/2020).


Selain itu, Tarmizi juga menerangakan bahwa 70% masyarakat di Desa Batang Tumu berpenghasilan dari kebun kelapa atau petani kelapa. Artinya bahan baku untuk pengolahan sabut kelapa sangat mudah didapat di Desa Batang Tumu.


“Bersama masyarakat akan kita coba mengubah limbah sabut kelapa mejadi pundi-pundi rupiah untuk penghasilan tambahan masyarakat di desa,” imbuhnya.


Untuk diketahui, Kunjungan Kedes Batang Tumu ke Projek pengolahan limbah sabut kelapa di Kodim 0314/Inhil  didampingi oleh Banbinsa, Serda Tulus S.


Reporter ARB




Dari 7000 Pelanggan PDAM Tirta Inhil, 40% Diantaranya Tidak Menggunakan Meteran Air

Foto : Direktur PDAM Tirta Inhil saat dilantik Bupati HM Wardan.


ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Dari 7000 total keseluruhan pelanggan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Indragiri, 40% diantaranya tercatat tidak menggunakan meteran air.


Hal tersebut dikatakan Ir Ahmad Hafiz, Direktur PDAM Tirta Inhil saat dijumpai awak media diruang kerjanya.


“Untuk mengetahui biaya beban pemakaian air setiap bulan itu ada pada meteran, ujung tombak  PDAM itu ada di meteran. Hari ini pelanggan yang tidak menggunakan meteran hanya melakukan pembayaran yang normal, apakah itu sedikit ataupun banyak sama saja pembayarannya pada setiap bulan,” terang Ir Ahmad Hafiz, Rabu (19/2/2020).


Lanjutnya, dengan banyak jumlah pelanggan yang tidak menggunakan meteran air, hal itu menjadi salah satu faktor penyebab turunnya angka pendapatan pada PDAM disetiap tahunnya.


“Sementara kita tidak memiliki anggaran untuk melakukan pembelian meteran air tersebut, tetapi akan tetap kita upayakan nantinya,” kata Dirut PDAM.


Selain itu, Ahmad Hafiz  juga mengatakan kondisi air yang dialirkan PDAM saat ini sudah bersih, namun kelancaran air masih ada sebagian yang belum normal yang diakibatkan oleh losnya saluran air karena kerusakan pada pipa air.


“Tahun 2020 ini PDAM mendapatkan gelontoran dana sekitar 25 Miliar untuk pembuatan saluran pipa air baru. Semoga ini cepat terealisasikan agar PDAM kembali normal seperti yang diharapkan kita bersama,” imbuhnya.


Reporter ARB




Koramil 01/Tembilahan Maanfaatkan Perkarangan Rumah dengan Bercocok Tanam

ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Koptu Adri Chandra, Babinsa Komando Rayon Militer (Koramil) 01/Tembilahan, Kodim 0314/Inhil memanfaatan lahan pekarangan rumah dinas dengan bercocok tanam cabai,kencur,jahe dengan menggunakan polybag di pekarangan rumah dinas asrama Kodim 0314/Inhil, Jalan A. Yani, Parit 9, Tembilahan, Kamis (13/02/2020).


“Hari ini kita melaksanakan kegiatan perawatan Cabai di polybag dengan cara penanaman dan perawatan yang sangat mudah ,” ujar Koptu Adri Chandra.


Disela – sela kesibukannya sebagai Babinsa Merawat tanaman merupakan kegiatan rutin yang dilakukannya setiap pagi sebelum berangkat ke desa Binaan di wilayah  Koramil 01/Tembilahan.


Koptu Adri Chandra mengatakan dengan bercocok tanam Cabai di polybag, merupakan salah satu cara untuk mengakali masalah ketersediaan lahan. Dengan menggunakan polybag perawatan dan pemupukan sangat mudah dan tidak membutuhkan pupuk dengan jumlah banyak.


“Adapun media tanamnya adalah dengan  tanah yang dicampur dengan pupuk kandang, kompos, sekam sudah dapat membuat tanaman cabai tumbuh subur,” jelasnya.


Hasil panen cabai ini selain digunakan untuk keperluan dapur,, tanaman ini juga sebagai tanaman hias di beberapa perumahan asrama Makodim 0314/Inhil.


“Dengan menanamnya di polybag, diharapkan pembudidayaannya dapat lebih terkontrol dan mudah dalam pemupukan,” paparnya.


Selain Cabai, Koptu Adri Chandra juga membudidayakan berbagai macam tanaman palawija yang berguna untuk kesehatan.


“Jahe, Kencur, Kunyit, dan berbagai macam tanaman rempah-rempah juga ikut dibudidayakan. Jadi, untuk sekedar bumbu masak tidak perlu lagi membeli dipasar, “ujarnya”.


Ia berharap agar masyarakat dapat mencontoh giat memanfaatkan pekarangan rumah untuk dijadikan lahan bercocok tanam dengan menggunakan polybag ini sebagai solusi masalah ketersediaan lahan yang sedikit.


Dandim 0314/Inhil Letkol Inf Imir Faishal memberikan apresiasi kepada Koptu Adri Chandra yang telah melakukan giat pembudidayaan tanaman dengan memanfaatkan lahan pekarangan rumah.


“Karena selain hasilnya dapat dimanfaatkan untuk diri sendiri, juga dapat menjadi contoh positif bagi masyarakat. Selain itu juga, pekarangan rumah menjadi lebih cantik dan indah karena selalu dibersihkan hingga menjadi penghijauan pekarangan rumah,” ujar Dandim 0314/Inhil.


Dandim 0314/Inhil juga berharap semoga hal ini dapat ditiru atau dijadikan contoh oleh anggota Kodim 0314/Inhil yang lainnya dan juga masyarakat luas. (rls)


Editor Arb




Projek Pengolahan Sabut Kelapa di Kodim 0314/Inhil Kebanjiran Pesanan

ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Pilot projek pengolahan sabut kelapa Kodim 0314/Inhil semakin kebanjiran pesanan atau orderan, terutama sapu lantai dan pot tanaman Vanili.


Hal ini membuat Dandim 0314/Inhil Letkol Inf Imir Faishal memerintahkan Pasi Teritorial Kapten Inf Anwarsyah Siregar untuk memerintahkan anggota pengolahan sabut kelapa agar lebih giat, fokus dan serius lagi dalam bekerja untuk bisa mengejar target orderan tersebut.


Menyikapi perintah tersebut, Pasi Teritorial, Kapten Inf Anwarsyah Siregar langsung mengumpulkan anggota untuk memberikan beberapa perintah dan arahan kepada seluruh anggota yang bertugas di pilot projek pengolahan sabut kelapa, Selasa (11/02/2020).


Dalam pengarahannya Pasi Ter menegaskan kepada seluruh anggota yang terlibat dalam pengolahan sabut kelapa agar lebih menepati waktu, laksanakan apel dahulu, bekerja dgn cepat, fokus dan tepat.


“Namun demikian tetap tidak boleh mengabaikan kualitas. Karena kita sekarang sudah produksi untuk memenuhi pesanan. Jika kita lambat atau tidak tepat waktu,maka otomatis pemesan akan kecewa,” imbuh  
Kapten Inf Anwarsyah Siregar.


Selain itu, Pasi ter juga mengingatkan kepada anggota agar selelu  memperhatikan paktor keamanan dan gunakan masker agar terhindar dari debu/kotoran yang di timbulkan dari sabut. Bahan baku juga harus kita pilih yg bagus, dgn memilih sabut yg panjang. Sabut yg pendek di pisahkan dahulu.


“Karena kita pemula, atau masih baru, kita masih memperhitungkan prosentase keuntungan dgn pengeluaran. Makanya kita kerja harus semangat agar dapat mengejar target orderan,” tutur Pasi Ter.


Untuk memperluas orderan,silahkan share ke media sosial. Karena ini salah satu penawaran produk yg cepat dan luas, bila perlu sambil berfikir untuk mengembangkan dan membuat olahan sabut ini menjadi produk2 lain.


Setelah selesai bekerja bereskan semua alat-alat pada tempatnya dan laksanakan pembersihan sektor Pilot projek ini agar besok pagi kita mulai bekerja langsung bekerja tidak lagi mencari-cari alat,ataupun pembersihan tempat. Karena itu akan menyita waktu kita,dan jangan lupa setiap pagi dan sore tanaman vanili yang sudah ada wajib di siram, ” Pungkas Pasi Ter.


Editor Ar