Ini Dia Makanan Sehat Untuk Bayi Anda

MP-ASIbTEMBILAHAN (detikriau.org) – Air Susu Ibu (ASI) bila diberikan dalam jumlah yang cukup merupakan makanan terbaik bagi bayi, karena mengandung semua gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan dalam bentuk yang mudah dicerna dan sesuai dengan kebutuhan bayi.

Hal itu disampaikan Kepala Seksi (Kasi) Promosi Kesehatan (Promkes) Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Fitri Astuti SST kepada detikriau.org di ruang kerjanya, beberapa waktu lalu.

Dikatakan Fitri, mengingat banyaknya zat gizi yang terkandung pada ASI, maka bayi sebaiknya hanya diberi ASI saja tanpa makanan dan minuman (ASI Ekslusif) sampai berumur 6 bulan.

Selanjutnya, selain ASI diberikan tambahan atau Makanan Pendamping ASI (MP-ASI).

“Berikan ASI dan MP-ASI sesuai kebutuhan bayi, agar bayi tetap sehat dan tumbuh kembang dengan optimal,” kata Fitri.

Adapun cara mempersiapkan makanan untuk bayi berumur 6 bulan ke atas, yaitu :

  1. Pisang / Pepaya : Pilih buah yang masak, dicuci, dikupas dan dikerik halus dengan sendok teh.
  2. Tomat : Pilih tomat yang masak, dicuci rendam dalam air mendidih, dibuang kulitnya, disaring, diencerkan dengan air matang yang sama banyaknya dan diberi sedikit gula.
  3. Jeruk : Pilih jeruk yang manis lalu cuci, belan menjadi 2 potong, kemudian diperas dan disaring, bila perlu tambahkan sedikit gula pasir.
  4. Biskuit : Rendam biskuit dengan sedikit air matang.
  5. Bubur Susu : Campurkan tepung beras 1-2 sendok makan dan gula pasir 1-2 sendok makan menjadi satu, tambahkan susu/santan 5 sendok makan yang sudah dicairkan dengan air 200 cc, sedikit-sedikit aduk sampai rata, kemudian masak di atas api kecil sambil diaduk-aduk sampai matang.
  6. Nasi Tim Campur : Buat bubur dari beras dan lauk hewani / nabati, tambahkan sayur cincang, garam dan sedikit santan, serta masak sampai matang. (adi/adv)



Hingga November, Diskes Inhil Tangani 312 Pasien ODGJ

67755_620TEMBILAHAN (detikriau.org) – Hingga Bulan November 2015 ini, Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) telah menangani sebanyak 312 pasien Orang Dengan Ganguan Jiwa (ODGJ), yang tersebar di sejumlah wilayah di Negeri Seribu Parit.

Hal itu disampaikan Kepala Seksi (Kasi) Kesehatan Khusus Diskes Inhil, Devi Natalia saat diwawancarai awak media usai mendampingi proses pengobatan ODGJ, yang datang dari Kecamatan Pulau Burung di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Puri Husada (PH) Tembilahan, Rabu (11/11/2015) kemarin.

Dikatakan Devi, dari 312 pasien ODGJ yang telah ditangani oleh Diskes Inhil, sebanyak 50 pasien diantaranya dinyatakan sudah bebas pasung dan 44 pasien lainnya masih dipasung

“Kemudian, 5 pasien sudah meninggal dan sisanya masih dalam proses pengobatan dan di bawah pengawasan tenaga kesehatan,” tutur Devi.

Diakui Devi, selama ini pihaknya masih mengalami kendala dan kesulitan dalam menangani pasien ODGJ yang ada di Kabupaten Inhil, karena belum tersedianya rumah singah bagi para pasien ODGJ tersebut.

“Sebenarnya, di RSUD PH telah tersedia penanganan bagi pasien ODGJ, baik kelengkapan obat maupun dokternya. Hanya saja, pasien dengan kelebihanan khusus ini tidak bisa disamakan dengan pasien yang lainnya, maka selama ini untuk melakukan pengobatan secara maksimal harus dirujuk ke RSJ Tampan, Kota Pekanbaru,” imbuhnya. (Adi/adv)




Jajaran Diskes Dampingi Pengobatan ODGJ di RSUD PH

imageTEMBILAHAN (detikriau.org) – Jajaran Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Indragiri Hilir mendampingi proses pengobatan pasien Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), yang datang dari Kecamatan Pulau Burung di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Puri Husada (PH) Tembilahan, Rabu (11/11/2015).

Kedatangan S (49), pasien ODGJ yang sudah mengalami sakit sejak 5 tahun lalu ini didampingi pihak keluarga dan disambut oleh Kepala Seksi (Kasi) Kesehatan Khusus Diskes Inhil, Devi Natalia didampingi Sri Sebayang, serta Dokter Spesialis Jiwa, Nurmi Widyarti.

Pada kesempatan itu, Kasi Kesehatan Khusus Diskes Inhil, Devi Natalia menyatakan bahwa pada awalnya pihak keluarga ingin membawa pasien berobat ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Tampan, Kota Pekanbaru.

“Tapi mengingat disini kita juga memiliki dokter jiwa, maka kami sarankan kepada pihak keluarga untuk mengobatinya ke RSUD saja, karena nantinya juga akan ditangani disini,” tutur Devi.

Setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter tadi, lanjut Devi, pasien akhirnya diberi obat, karena kondisi sakit yang dialami pasien tidak terlali berat, sehingga tidak dibutuhkan penyuntikan.

“Proses pemberian obat ini, harus diawasi secara langsung oleh pihak keluarga. Jangan sampai pasien tidak meminum obat yang telah diberikan, karena sebulan kemudian pasien dibawa kembali kesini untuk dikontrol dokter,” terangnya.

Selain diberikan obat-obatan, kata Devi lagi, dalam pengobatan pasien ini yang paling penting adalah dukungan keluarga dan masyarakat, dengan terus memberikan perhatian dan tidak mengucilkannya, sehingga kondisi pasien bisa segera membaik.

“Apabila setelah dikontrol dokter terlihat ada perubahan pada pasien, maka proses pengobatan selanjutnya akan dilakukan langsung oleh petugas kesehatan dari Puskesmas setempat, yang datang dan turun langsung ke rumah pasien,” imbuhnya. (adi/adv)




Lewati Jalan Setapak dan Semak Belukar, Jajaran Diskes Inhil Jemput Bola Obati ODGJ

ogdpTEMBILAHAN (detikriau.org) – Memaksimalkan penanganan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), jajaran Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) melakukan sistem jemput bola, yakni dengan menyambangi secara langsung rumah ODGJ.

Seperti yang terlihat pada Senin (9/11/2015) pagi, rombongan yang dipimpin Kepala Seksi (Kasi) Kesehatan Khusus Diskes Inhil, Devi Natalia didampingi stafnya, Sri Sebayang, serta Dokter Spesialis Jiwa, Nurmi Widiarti dan petugas kesehatan dari Puskesmas mendatangi 2 rumah ODGJ di Jalan Gerilya, Kecamatan Tembilahan Hulu.

Saat itu, rombongan pertama kali mengunjungi rumah pasien ODGJ di Gang Binjai, Jalan Gerilya dengan berjalan kaki sejauh lebih kurang 1 kilometer.

Meski berjalan kaki melewati jalan setapak yang di sebagian tempat terdapat genangan air dan lumpur, serta di kiri dan kanan jalan hanya terlihat pemandangan semak belukar, rombongan tetap semangat menuju lokasi, untuk memberikan pengobatan secara langsung kepada pasien ODGJ.

Ketika sampai di lokasi tujuan, rombongan terlebih dahulu melihat tempat pasien ODGJ ini biasa di pasung dan meminta keterangan dari pihak keluarga tentang penyakit dan kondisi yang diderita pasien saat ini.

Setelah itu, barulah rombongan melakukan pendekatan persuasif kepada si pasien, yakni dengan mengajak pasien berbincang dan bersenda gurau, sebelum dilakukan pengobatan melalui penyuntikan oleh dokter.

Pada kesempatan tersebut, Kasi Kesehatan Khusus Diskes Inhil, Devi Natalia mengatakan, berdasarkan keterangan yang diperoleh dari suaminya, Ha (37) menderita penyakit ini sudah cukup lama dan pernah pula dibawa berobat oleh pihak keluarga ke Pekanbaru.

“Kata suaminya tadi, pasien ini sempat dipasung, karena bisa mengganggu anggota keluarga dan berkeliaran tanpa memakai busana. Jadi, untuk pengobatannya dilakukan dengan penyuntikan, sebab sebelumnya sudah sering diberi obat oleh tenaga kesehatan dan Puskesmas tapi tak diminum,” tutur Devi.

Usai mengobati ibu empat anak tersebut, rombongan kembali bertolak menuju rumah pasien ODGJ lainnya di Jalan Gerilnya, untuk melakukan pengobatan secara langsung terhadap pasien.

Di rumah kedua ini, rombongan mendapati pasien HS (30), yang sudah dipasung oleh pihak keluarga sejak 10 tahun yang lalu, dikarenakan pasien sering mengamuk serta sempat memecahkan peralatan rumah tangga dan menyerang keluarganya yang ada di dalam rumah.

“Dari keterangan keluarganya, selama ini pasien belum pernah mendapatkan pengobatan medis, hanya berobat kampung saja. Jadi, sesudah ini kita harapkan pasien dapat diberikan obat dengan penyuntikan secara terus menerus, sampai kondisinya membaik dan bisa berbaur bersama masyarakat,” tambahnya.

Senada dengan itu, Dokter Spesialis Jiwa, Nurmi Widiarti menyatakan bahwa penanganan pasien jiwa ini akan dilakukan dengan pemberian suntik secara rutin oleh tenaga kesehatan setempat. Apabila dinilai pasien sudah kooperatif, barulah diberi obat-obatan berupa tablet.

“Dalam pengobatan pasien ini, yang paling penting adalah dukungan keluarga dan masyarakat, dengan terus memberikan perhatian dan tidak mengucilkannya, sehingga kondisi pasien bisa segera membaik,” imbuhnya. (adi/adv)




POMP Filariasis di Inhil Diperpanjang Hingga Akhir November

pemberian-obat-massal-pencegahan-pomp-filariasis-3-638TEMBILAHAN (detikriau.org) – Pemberian Obat Massal Pencegah (POMP) Filariasis di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) diperpanjang hingga akhir Bulan November 2015 mendatang.

Pernyataan tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Inhil, dr Saut Pakpahan saat berbincang dengan detikriau.org di kantornya, Jalan M Boya Tembilahan, kemarin.

Dijelaskan Saut, meskipun sebelumnya direncanakan bahwa POMP Filariasis tahap 4 ini akan dilaksanakan selama 1 bulan, yakni tanggal 1-31 Oktober 2015 kemarin. Namun, hingga saat ini pendistribusian obat kaki gajah tersebut masih terus berlangsung.

“Kita perpanjang sampai akhir November nanti, karena mengingat kondisi geografis dan bencana kabut asap yang melanda sebagian besar wilayah di Inhil beberapa waktu lalu,” tutur Saut.

Dengan diperpanjangnya waktu POMP Filariasis ini, lanjut Saut, diimbau kepada seluruh masyarakat yang belum mendapatkan obatnya, untuk segera mengambil ke fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) terdekat.

“Marilah kita dukung dan sukseskan Inhil bebas filariasis tahun 2017 mendatang, guna mewujudkan Kabupaten Inhil yang sehat,” imbuhnya. (adi/adv)




Musim Hujan, Masyarakat Diimbau Waspada DBD

imageTEMBILAHAN (detikriau.org) – Seluruh masyarakat Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) diimbau, untuk meningkatkan kewaspadaannya terhadap penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti.

Imbauan tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Inhil, dr Saut Pakpahan sehubungan dengan datangnya musim penghujan di beberapa wilayah di Negeri Seribu Parit.

Dikatakan Saut, dengan turunnya hujan terutama di wilayah endemis DBD, dikhawatirkan akan semakin memudahkan nyamuk Aedes Aegypti berkembang biak.

image_1“Apabila perkembangbiakan nyamuk ini sudah bertambah banyak, tentu potensi penularan penyakit DBD akan semakin besar,” tutur Saut Pakpahan melalui press releasenya, Sabtu (7/11/2015).

Oleh karena itu, seluruh masyarakat diimbau agar meningkatkan kewaspadaannya, dengan melakukan berbagai langkah pencegahan dan antisipasi sejak dini, diantaranya dengan menerapkan gerakan 3M Plus.

Gerakan 3M Plus tersebut, lanjut Saut, yakni menguras tempat-tempat penampungan air seminggu sekali, menutup rapat tempat-tempat penampungan air dan mengubur barang-barang bekas yang bisa menampung air, yang dapat dijadikan sebagai wadah bertelurnya nyamuk DBD.

“Plusnya adalah menggunakan kelambu saat tidur pagi atau sore bagi anak atau bayi, menggunakan obat anti nyamuk, memelihara ikan pemakan jentik dan melakukan pemantauan jentik nyamuk DBD,” terangnya.

Lebih jauh dijelaskan Saut, penyakit DBD ini tidak bisa diberantas hanya dengan melakukan penyemprotan atau fogging saja, tanpa disertai dengan tindakan dan penerapan gerakan 3M Plus seperti tersebut di atas

“Mari bersama-sama kita memantau dan melaporkan jika ada indikasi demam ke arah DBD, sehingga bisa segera ditangani dan diobati di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) terdekat,” imbuhnya. (adi/adv)