Diskes Inhil Lakukan PertemuanAdvokasi Penurunan Kematian Ibu, Anak dan Penanggulanagan Masalah Gizi

“Bersama Lintas Sektor ditingkat Kecamatan”

imageTEMBILAHAN (detikriau.org) – Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) menggelar pertemuan advokasi penurunan kematian ibu, anak dan penanggulangan masalah gizi dengan lintas sektor di kecamatan, Kamis (19/11/2015).

Kegiatan yang dipusatkan di aula Kantor Camat Tempuling ini, diikuti penanggung jawab program Puskesmas dan linta sektor di Kecamatan Tempuling.

Ketua Panitia Penyelenggara, Siti Munziarni, SKM MM mengatakan, kegiatan tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan ibu dan anak, serta menurunkan angka kematian ibu dan anak di Negeri Seribu Parit.

“Tujuan lainnya, adalah dalam upaya menurunkan kasus gizi buruk di Inhil,” tutur Siti Munziarni, yang juga Kasi KIA, KB dan Gizi Diskes Inhil.

image_1Sementara itu, Sekretaris Diskes Inhil, Ridwan S.Sos MKes dalam sambutannya menjelaskan, agar pelaksanaan program dapat berjalan dengan lancar, aspek peningkatan mutu pelayanan tetap diharapkan menjadi kegiatan prioritas di setiap daerah.

“Peningkatan mutu program KIA juga dinilai dari besarnya cakupan program pada masing-masing wilayah kerja, dalam rangka meningkatkan kemampuan pengelola dan pelaksana program KIA di tingkat Puskesmas, maka pengelola program KIA harus mampu mengolah data KIA guna memperkuat manajemen program,” terangnya.

Apalagi, lanjut mantan Kabag Humas Setda Inhil ini, sebagian data KIA sudah tersedia di lapangan, salah satunya dengan pengisian Kohort ibu, bayi dan balita.

“Untuk itu, kegiatan surveilans diperlukan guna memantau pemantapan cakupan program, demi menunjang penurunan angka kematian ibu dan bayi,” imbuhnya. (adi/adv)




Tenaga Kesehatan Diminta Berperan Aktif Tekan AKI dan AKB

indexTEMBILAHAN (detikriau.org) – Seluruh tenaga kesehatan terutama bidan yang ada di setiap daerah diminta, untuk berperan aktif dalam menekan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil).

Permintaan tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Inhil, dr Saut Pakpahan terkait dengan masih tingginya jumlah AKI dan AKB yang ditemukan serta terdata di Negeri Seribu Parit.

Dikatakan Saut, bidan sebagai ujung tombak dalam memberikan pelayanan kesehatan bagi ibu dan bayi, memiliki peran yang sangat penting dalam upaya menekan AKI dan AKB di Kabupaten Inhil, yang saat ini masih termasuk dalam kategori tertinggi di Provinsi Riau.

“Bidan harus memiliki pengetahun tentang deteksi dini terhadap bahaya kehamilan dan persalinan,” tutur Saut dalam eksposnya di salah satu kegiatan yang dipusatkan di Gedung Daerah Engku Kelana Tembilahan, belum lama ini.

Dengan begitu, lanjut Saut, bidan bisa menentukan langkah-langkah apa saja yang akan diambil, dalam upaya mencegah dan mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan terhadap ibu dan bayi.

“Selain itu, yang terpenting dan harus juga dilakukan adalah merencanakan proses persalinan dan melakukannya di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes), seperti Puskesmas dan Rumah Sakit,” imbuhnya. (adi/adv)




2016, Diskes Sediakan Rumah Singgah Bagi Bumil dan Penanganan Pasca Melahirkan

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Tahun 2016 mendatang, Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) akan menyediakan rumah singgah bagi ibu hamil (bumil), yang akan melakukan persalinan dan penanganan pasca melahirkan.

Rencana tersebut diungkapkan Pelaksana Tugas (Plt) Diskes Inhil, dr Saut Pakpahan dalam eksposnya saat Pertemuan Koordinasi Lintas Sektor, dalam rangka advokasi penurunan Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB) dan Gizi Buruk, yang dipusatkan di Gedung Daerah Engku Kelana Tembilahan, Senin (16/11/2015) kemarin.

Dikatakan Saut, saat ini jumlah Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Negeri Seribu Parit masih pada peringkat tertinggi di Provinsi Riau.

Dimana, hingga Bulan September 2015 lalu, jumlah kematian ibu hamil, bersalin dan nifas sebanyak 23 orang dari 5.146 persalinan, dengan penyebab utamanya adalah pendarahan.

Sedangkan untuk AKB, lanjut Saut, berjumlah sebanyak 148 orang dari 9.164 kelahiran hidup, dengan penyebab kematian diantaranya Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), aspixia (kekurangan oksigen), serta lahir mati karena penanganan persalinan yang tidak tepat dan tidak sesuai protap.

“Jadi, dengan keberadaan rumah singgah ini, diharapkan dapat menjadi salah satu upaya kita menekan AKI dan AKB di Inhil,” tutur Saut.

Sementara itu, Bupati Inhil, HM Wardan yang mendengar langsung rencana tersebut menyatakan bahwa dirinya sangat mendukung, dan berharap keberadaan rumah singgah ini dapat segera diwujudkan.

“Ini harus kita support bersama, dalam rangka mewujudkan Inhil sehat, menunu kabupaten yang lebih maju, bermarwah dan bermartabat,” imbuhnya. adi/adv)




Diskes Inhil Gelar Pertemuan Monitoring dan Evaluasi Program Malaria

Plt Kadiskes Inhil, dr Saut Pakpahan
Plt Kadiskes Inhil, dr Saut Pakpahan

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) menggelar pertemuan monitoring dan evaluasi program malaria, Selasa (17/11/2015).

Kegiatan yang dilaksanakan di aula salah satu Hotel di Tembilahan ini diikuti pengelola program puskesmas dan bidan koordinator puskesmas se-Kabupaten Inhil.

Kepala Seksi (Kasi) Penanggulangan Penyakit Menular (P2M) Diskes Inhil, Abdul Affan, SKM melalui stafnya, Zainuddin SKM mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pengelola program malaria dalam melakukan surveilans berbasis e-SISMAL.

“Melalui kegiatan ini, diharapkan dapat mendukung tercapainya pelaporan berbasis e-SISMAL mulai dari tingkat puskesmas, kabupaten dan provinsi, yang mulai berlaku efektif per 1 Januari 2016 mendatang,” tutur Zainuddin.

image_1Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Diskes Inhil, dr Saut Pakpahan menjelaskan, pada tahun 2012 lalu, sistem pencatatan dan pelaporan dengan menggunakan e-SISMAL ini sebenarnya telah pernah diimplementasikan di 3 kabupaten/kota, yaitu Kabupaten Inhil, Rokan Hilir (Rohil) dan Pelalawan.

Namun, kabupaten/kota yang telah dilatih tersebut belum dapat merekap data dengan menggunakan e-SISMAL.

Oleh karena itu, melalui kegiatan tersebut diharapkan para peserta dapat menyerap dengan baik materi-materi yang diberikan, sehingga e-SISMAL ini bisa diterapkan sampai ke tingkat fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes).

Kemudian, dengan adanya e-SISMAL ini, juga diharapkan dapat menunjang kinerja pengelola program, sehingga menghasilkan laporan yang akurat dan tepat waktu.

“Semoga kita dapat mencapai tujuan akhir kita, yakni eliminasi malaria,” imbuhnya. (adi/adv)

 




Advokasi Penurunan AKI, AKB dan Gizi Buruk, Diskes Gelar Pertemuan Koordinasi Lintas Sektor

Bupati Inhil, HM Wardan saat memberikan sambutan
Bupati Inhil, HM Wardan saat memberikan sambutan

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) menggelar Pertemuan Koordinasi Lintas Sektor, dalam rangka advokasi penurunan Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB) dan Gizi Buruk, Senin (16/11/2015).

 
Kegiatan yang dipusatkan di Gedung Engku Kelana, Jalan Baharuddin Jusuf Tembilahan ini dibuka secara resmi oleh Bupati Inhil, HM Wardan serta dihadiri Unsur Forkopimda, Anggota DPRD, sejumlah pejabat eselon, Ketua TP PKK dan Gabungan Organisasi Wanita di Kabupaten Inhil.
 
Ketua Panitia Pelaksana, Ridwan MKes mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan untuk menyamakan persepsi tentang pentingnya penanganan AKI, AKB dan gizi buruk, serta mendapatkan masukan guna percepatan penurunan AKI, AKB dan upaya bersama mengatasi adanya gizi buruk di Kabupaten Inhil.
 
“Peserta kegiatan ini, terdiri dari SKPD terkait, Camat dan Ketua TP PKK kecamatan, Kepala UPT Diskes, dokter, bidan koordinator dan pemegang program gizi di Puskesmas, RSUD Puri Husada, Tengku Sulung dan Raja Musa dan para ketua atau utusan organisasi profesi bidang kesehatan se-Inhil,” tutur Ridwan.
 
Pelaksana Tugas (Plt) Diskes Inhil, dr Saut Pakpahan dalam eksposnya menjelaskan, hingga Bulan September 2015 lalu, jumlah kematian ibu hamil, bersalin dan nifas sebanyak 23 orang dari 5.146 persalinan, dengan penyebab utamanya adalah pendarahan.
 
Untuk AKB, lanjut Saut, berjumlah sebanyak 148 orang dari 9.164 kelahiran hidup, dengan penyebab kematian diantaranya Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), aspixia (kekurangan oksigen), serta lahir mati karena penanganan persalinan yang tidak tepat dan tidak sesuai protap.
 
“Sedangkan jumlah gizi buruk, terdata sebanyak 28 jiwa dan 3 diantaranya dinyatakan meninggal dunia,” terangnya.
 
Adapun kendala yang ditemui pada keseluruhan persoalan tersebut, yakni 3 Terlambat dan 4 Terlalu. Tiga Terlambat, yakni Terlambat mendeteksi dini terhadap kehamilan yang beresiko, Terlambat merujuk dan Terlambat pertolongan medis.
 
Kemudian Empat Terlalu, yaitu Terlalu tua untuk hamil (di atas 35 tahun), Terlalu muda untuk hamil (di bawah 18 tahun), Terlalu dekat jarak kehamilan dan Terlalu rapat jumlah anak.
 
“Selain itu, yang menjadi penyebab lainnya adalah tidak meratanya tenaga kesehatan. Dimana, lebih banyak diperkotaan daripada di pedesaan dan daerah-daerah terpencil,” tambahnya.
 
Sementara itu, Bupati Wardan dalam sambutannya berharap, setelah selesai kegiatan tersebut harus dibentuk tim kerja sampai ke tingkat RT dan RW, sehingga data yang didapatkan tentang jumlah AKI, AKB dan gizi buruk lebih valid serta akurat.
 
“Saya akan fokus dan konsen terhadap ini. Jadi, SKPD terkait harus memberi support secara realita dan tidak hanya berupa ucapan,” imbuhnya.(ADI/ADV)



Hingga Oktober, Penderita HIV/AIDS Terdata Sebanyak 134 Orang

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Hingga Bulan Oktober tahun 2015 lalu, jumlah penderita penyakit HIV AIDS yang sudah ditemukan dan terdata di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) mencapai sebanyak 134 orang.

“Jumlah ini terdiri dari 83 laki-laki dan 51 perempuan,” tutur Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Inhil, dr Saut Pakpahan saat diwawancarai detikriau.org di salah satu kegiatan di Kota Tembilahan, beberapa waktu lalu.

Oleh karena itu, lanjut Saut, pihaknya akan terus melakukan berbagai upaya penjaringan terhadap para penderita, yang berkemungkinan masih banyak yang belum diketahui keberadaannya.

“Jika dalam penjaringan kita menemukan yang terdapat gejala-gejala bahkan positif terserang virus ini, maka kita akan melakukan penanganan dan conseling terhadap pasien,” tutur Saut.

Kemudian, Saut menghimbau kepada seluruh masyarakat, apabila terdapat gejala-gejala agar segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) terdekat, serta selalu berperilaku hidup sehat seperti yang diajarkan agama dan menjauhi sex bebas.

“Untuk pihak Puskesmas, RSUD dan lain-lain, diharapkan agar selalu menyetrilkan jarum suntiknya, dalam upaya mencegah dan mengantisipasi terjadinya berbagai hal yang tidak diinginkan yang dapat membahayakan pasien,” imbuhnya. Adi/adv