Tingkatkan Pelayanan Kesehatan, Dinkes Usulkan Bantuan Alkes Bagi 108 Pustu di Inhil
Kadinkes Inhil, DR Hj Alvi Furwanti Alwie
TEMBILAHAN (detikriau.org) – Pada tahun 2015 ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) telah mengusulkan bantuan sejumlah peralatan kesehatan (alkes) kepada pihak provinsi yang nantinya akan diperuntukan bagi operasional 108 Pustu di daerah tersebut.
Hal itu disampaikan Kepala Dinkes Inhil, DR Hj Alvi Furwanti Alwie saat berbincang dengan detikriau.org di ruang kerjanya, kemarin.
Dikatakan Alvi, pengusulan bantuan alkes ini sebagai upaya untuk meningkatkan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat di Negeri Seribu Parit, khususnya yang berada di wilayah terpencil, sangat terpencil dan perbatasan.
“Tahun ini, dari 152 Pustu yang ada di Kabupaten Inhil, baru sekitar 108 Pustu yang telah kita usulkan untuk menerima bantuan alkes dari Pemprov,” tutur Alvi.
Adapun berbagai macam bantuan alkes yang diusulkan tersebut, lanjut mantan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Inhil ini, diantaranya peralatan bedah minor, peralatan dan tabung oksigen kecil, serta alkes lainnya.
“Dengan adanya bantuan ini nantinya, diharapkan dapat lebih memaksimalkan pelayanan kesehatan di wilayah kerja Pustu dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, menuju Kabupaten Inhil yang sehat,” imbuhnya.(adi/adv)
Dinkes Inhil Gelar Pertemuan Evaluasi Program Gizi
Kabid PPKDPK Dinkes Inhil, Ns Matzen Msi memberikan sambutan
TEMBILAHAN (detikriau.org) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) melalui Seksi Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Keluarga Berencana (KB) dan Gizi menggelar pertemuan evaluasi program gizi, Rabu (27/5/2015).
Kegiatan yang dilaksanakan di aula Hotel Grand Tembilahan ini diikuti puluhan peserta yang terdiri dari Kepala UPT Puskesmas dan Tenaga Pelaksana Gizi Puskesmas se-Kabupaten Inhil.
Para peserta terlihat antusias mengikuti pertemuan evaluasi program gizi yang ditaja Dinkes Inhil
Ketua Panitia Pelaksana, Siti Munziarni mengatakan bahwa kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan status gizi masyarakat, dalam rangka mendukung dan mensukseskan berbagai program pemerintah, khususnya yang berkaitan langsung dengan bidang kesehatan.
“Melalui kegiatan ini, diharapkan tidak ditemukan lagi adanya gizi buruk di tengah-tengah masyarakat guna mewujudkan Kabupaten Inhil yang sehat,” tutur Siti Munziarni, yang juga menjabat sebagai Kasi KIA, KB dan Gizi Dinkes Inhil ini.
Kepala Dinkes Inhil, DR Hj Alvi Furwanti Alwi melalui Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan, Pengendalian Kemitraan dan Promosi Kesehatan (PPKDPK), Ns Matzen Msi menjelaskan bahwa proses sehat itu dimulai dari masa kehamilan seorang ibu.
Dimana, saat kehamilan diperlukan asupan gizi yang baik bagi janin yang ada di dalam kandungan seorang ibu sehingga anak yang dilahirkan nantinya dalam kondisi sehat dan sempurna.
“Pada tahun 2015 ini di Inhil masih ditemukan adanya kasus gizi buruk sebanyak 8 orang. Jadi persoalan ini perlu mendapat perhatian serius seluruh pihak terkait dengan melakukan evaluasi dan mengeluarkan terobosan-terobosan baru dalam penanganannya,” terang Matzen.
Oleh karena itu Matzen berharap kepada seluruh Kepala UPT Puskesmas yang ada di Negeri Seribu Parit untuk dapat melakukan pendataan di lapangan, guna mengetahui secara pasti berapa jumlah masyarakat dengan status gizi buruk di wilayah kerjanya untuk kemudian diberikan penanganan dan pengobatan.
“Yang tak kalah pentingnya, kita juga harus memberikan penyuluhan dan pengertian kepada masyarakat tentang pentingnya gizi dan bagaimana memperoleh makanan yang bergizi dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,” imbuhnya.(adi/adv)
Dinkes Gelar Pertemuan Evaluasi Program KIA dan AMP
Kepala Dinkes Inhil, DR Hj Alvi Furwanti Alwi didampingi Kasi KIA, KB dan Gizi, Siti Munziarni saat memimpin Pertemuan Evaluasi Program KIA dan AMP
TEMBILAHAN (detikriau.org) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) melalui Seksi Kesehatan Ibu dan Bayi (KIA), Keluarga Berencana (KB) dan Gizi menggelar pertemuan evaluasi program KIA dan Audit Maternal Perinatal (AMP), Senin (25/5/2015) kemaren.
Kegiatan yang dilaksanakan di salah satu aula wisma di Tembilahan ini, dibuka secara resmi oleh Kepala Dinkes, DR Hj Alvi Furwanti Alwie, serta diikuti seluruh Kepala UPT Puskesmas dan Bidan Koordinator se-Kabupaten Inhil.
Kepala UPT Puskesmas dan Bidan Koordinator di Kabupaten Inhil mengikuti Pertemuan Evaluasi Program KIA dan AMP
Kadinkes Inhil dalam sambutannya mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk mencari solusi pada pelaksanaan lintas program yang berintegrasi dalam rangka menguatkan dan mendongkrak capaian program.
“Seperti pada program P2, baik itu penanganan malaria dan lain sebagainya yang juga membutuhkan target yang sama, sinergi dan penguatan lintas program bersama kegiatan yang ada di Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), sehingga pelaksanaannya lebih efektif, efisien dan capaiannya lebih baik,” tutur Alvi.
Selain itu, lanjut mantan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Inhil ini, melalui kegiatan tersebut juga disampaikan tentang berbagai program pemerintah, khususnya program deteksi dini penyakit kanker leher rahim atau serviks.
“Dengan begitu, kita harapkan seluruh aparatur dan tenaga kesehatan dapat turut bersama-sama mendukung serta mensukseskannya, melalui Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) Puskesmas yang ada di Kabupaten Inhil,” tambahnya
Kepala Seksi (Kasi) KIA, KB dan Gizi Dinkes Inhil, Siti Munziarni menjelaskan, kegiatan yang dilaksanakan dari tanggal 25 hinnga 27 Mei 2015 ini dalam rangka meningkatkan capaian program dan menurunkan jumlah kematian ibu dan anak.
Oleh karena itu, melalui kegiatan ini diharapkan Kepala UPT Puskesmas dan Bidan Koordinator dapat mengetahui serta melaksanakan integrasi program KIA dengan lintas program yang ada di Puskesmas.
“Kami juga sangat mengharapkan dukungan sepenuhnya dari Kepala UPT Puskesmas terhadap pelaksanaan Program KIA di wilayah kerjanya,” imbuhnya. (adi/adv)
Sempena Bulan Bhakti IBI KB Kes, Masyarakat di Kateman Ikuti Pemasangan Implan Gratis
TEMBILAHAN (detikriau.org) – Puluhan masyarakat di Kecamatan Kateman mengikuti proses pemasangan implan gratis yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan dari UPT Puskesmas setempat, akhir pekan kemarin.
Kegiatan yang dipusatkan di Kelurahan Bandar Sri Gemilang, Sungai Guntung ini sempena dengan peringatan Bulan Bhakti IBI KB Kes tahun 2015.
Turut hadir saat itu, perwakilan Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB) Inhil, pengurus IBI Ranting Kecamatan Kateman, jajaran Puskesmas, TP PKK, serta Lurah dan Kepala Desa se-Kecamatan Kateman.
Kepala UPT Puskesmas Kateman, Zainuddin SKM mengatakan, pemasangan implan atau yang dikenal juga dengan sebutan alat kontrasepsi bawah kulit ini dimaksudkan untuk menekan angka kelahiran guna mensukseskan program Keluarga Berencana (KB) yakni cukup dengan dua anak saja.
“Dengan kegiatan ini kita harapkan masyarakat dapat ikut bersama-sama mendukung dan mensukseskan program pemerintah dalam upaya mewujudkan keluarga yang sejahtera,” kata Zainuddin.
Selain menggelar pemasangan implan gratis, pada kesempatan itu juga dilakukan penyuluhan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) dan pembukaan kelas ibu hamil. (adi/adv)
Tangani Kasus Sesuai Protap, Bidan Diminta Tingkatkan Kompetensi
Kabid PPKDPK Dinkes Inhil, Ns Matzen S.Kep, MSi memberikan sambutan saat pelaksanaan peningkatakan kapasitas manajemen BBLR, ASFIKSIA dan SEPSIS di Inhil
TEMBILAHAN (detikriau.org) – Seluruh tenaga bidan di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) diminta untuk terus meningkatkan kompetensinya, sehingga dalam penanganan kasus bisa sesuai dengan protap yang telah ditentukan.
Permintaan tersebut disampaikan Kepala Dinkes Inhil, DR Hj Alvi Furwanti Alwie melalui Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan Pengendalian Kemitraan dan Promosi Kesehatan (PPKDPK), Ns Matzen Msi saat membuka pelatihan peningkatan kapasitas manajemen BBLR, Asfiksia dan Sepsis yang digelar di aula salah satu hotel di Tembilahan, kemarin.
Dikatakan Matzen, kecenderungan kematian bayi dan balita terutama terjadi pada periode persalinan dan kelahiran serta beberapa saat setelah persalinan dan kelahiran. Dimana, sebanyak 43 persen kematian balita terjadi pada masa neonatal dan sebagian besar dari kematian neonatal terjadi pada usia yang sangat dini, yaitu dalam satu minggu pertama kehidupannya.
“Penyebab utama kematian neonatal adalah Asfiksia, hipotermi dan infeksi. Dimana, selain kondisi yang buruk pada saat dilahirkan, kematian neonatal sering disebabkan oleh cara penanganan kasus yang tidak tepat,” tutur Matzen.
Para peserta terlihar serius mengikuti kegiatan peningkatakan kapasitas manajemen BBLR, ASFIKSIA dan SEPSIS di Inhil
Dijelaskan, permasalahan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dapat berupa hipotermi, rendahnya daya tahan tubuh terhadap infeksi, enterokolitis neokrotokans. Sedangkan kebutuhan bayi berat badan lahir rendah, antara lain dengan kehangatan tubuh ibu yang ternyata marupakan sumber panas yang efektif untuk bayi yang lahir cukup bulan maupun BBLR.
“Dengan demikian, upaya penurunan AKB perlu memberikan perhatian yang besar pada upaya penyelamatan bayi baru lahir ini,” tambahnya.
Selain itu, lanjut Matzen, terdapat kesenjangan dalam determinan AKB yang cukup besar antar tingkat pendidikan, sosial ekonomi, antar kawasan dan antar perkotaan perdesaan.
“Kematian bayi pada penduduk yang tidak berpendidikan 3 kali lipat lebih besar dibandingkan dengan yang berpendidikan tinggi dan kematian pada tingkat sosial ekonomi rendah lebih besar dari tingkat ekonomi tinggi,” terangnya.
Oleh karena itu, terkait dengan kendala geografis, daerah terpencil, perbatasan dan kepulauan, diharapkan kepada pemerintah untuk memberikan perhatian besar dan serius dalam peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan.
“Penyediaan sarana dan SDM kesehatan maupun peningkatan kompetensi mereka dalam melakukan penanganan kasus emengensi harus ditingkatkan lagi,” katanya.
Seluruh upaya tersebut, harus dilihat secara komprehensif di dalam suatu continuum of care, baik dari tingkat masyarakat, Puskesmas hingga layanan rujukan di rumah sakit, mulai dari aspek promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Pendekatan yang harus kita berikan adalah equity dan universal access.
“Dengan pelatihan ini, saya harapkan tujuan kita untuk meningkatkan keterampilan petugas dalam manajemen BBLR, Asfiksia dan Sepsis dapat tercapai, sehingga akselerasi penurunan AKB dapat diraih,” imbuhnya.(adi/adv)
Puskesmas Pulau Kijang Gelar Sosialisasi Kelas Ibu Balita
TEMBILAHAN (detikriau.org) – UPT Puskesmas Pulau Kijang menggelar sosialisasi Kelas Ibu Balita yang dipusatkan di aula Puskesmas setempat, kemarin.
Kegiatan yang rutin dilaksanakan ini, diikuti sebanyak 25 peserta yang terdiri dari para kader dan orang tua balita.
Kepala Puskesmas Pulau Kijang, dr Iswandi mengatakan, kegiatan tersebut merupakan suatu aktifitas belajar kelompok dari beberapa ibu yang mempunyai anak balita 0-5 tahun.
“Pada sosialisasi ini peserta akan diberikan bimbingan dan fasilitas dengan memakai buku KIA sebagai alat pembelajaran,” tutur Iswandi.
Adapun tujuan kegiatan tersebut, lanjut Iswandi yakni untuk menambah pengetahuan dan keterampilan, merubah sikap dan perilaku ibu, meningkatkan kesehatan balita, gizi, stimulus pertumbuhan dan perkembangan anak.
“Karena kegiatan ini dilaksanakan dari oleh dan untuk masyarakat, maka sangat diharapkan dukungan, kerjasama dan partisipasi aktif dari seluruh masyarakat terutama peserta,” imbuhnya.
Untuk diketahui, saat ini jumlah kelas ibu balita di wilayah kerja Puskesmas Pulau Kijang adalah sebanyak 13 kelompok. Kepada mereka diberikan pembinaan setiap bulannya dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.(adi/adv)