Wujudkan Inhil Bebas Pasung, RSUD PH Akan Dibangun Ruang Rawat Jiwa

orgil 2TEMBILAHAN (detikriau.org) – Tahun 2016 mendatang, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Puri Husada (PH) akan dibangun ruang rawat jiwa.

Rencana tersebut diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Kabupaten Inhil, DR Hj Alvi Furwanti Alwie saat berbincang dengan detikriau.org di kantornya, Jalan M Boya Tembilahan, baru-baru ini.

Dikatakan Alvi, dalam rangka mewujudkan Inhil bebas pasung tahun 2017, berbagai langkah dan langkah terus dilakukan oleh Diskes, salah satunya dengan meningkatkan dan memperpendek rentang kendali pelayanan kesehatan bagi para pasien atau yang disebut juga Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

“Karena itu, rencananya tahun depan kita akan membangun ruang rawat jiwa di RSUD PH,” tutur Alvi.

Dengan dibangunnya ruang rawat jiwa tersebut, mantan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Inhil ini berharap, para pasien yang memerlukan penanganan dan pengobatan lebih lanjut dapat segera di rujuk serta dirawat di RSUD PH.

“Jadi, nantinya mereka (pasien ODGJ, red) tidak perlu lagi dirujuk jauh-jauh ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Tampan Kota Pekanbaru, karena disini kita telah menyediakan ruang rawat jiwanya,” imbuhnya.(adi/adv)




Masyarakat Diajak Konsumsi 5 Buah Dengan Warna Berbeda Setiap Hari

Sekretaris Dinkes Inhil, Ridwan Ahim
Sekretaris Dinkes Inhil, Ridwan Ahim

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Seluruh masyarakat Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) diajak untuk mengkonsumsi setidaknya 5 macam buah-buahan dengan warna yang berbeda setiap harinya.

Ajakan tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Inhil, DR Hj Alvi Furwanti Alwie melalui Sekretaris, Ridwan Mkes saat berbincang dengan detikriau.org di kantornya, Jalan M Boya Tembilahan, belum lama ini.

Dikatakan Ridwan, selain menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitarnya, masyarakat juga dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang sehat, bergizi dan seimbang, salah satunya mengkonsumsi 5 macam buah-buahan dengan warna yang bervariasi.

“Langkah ini dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Kabupaten Inhil,” tutur Ridwan.

Selain itu, lanjut mantan Kepala Bagian Humas Setdakab Inhil ini, masyarakat juga diimbau agar memilih dan memilah makanan yang akan dikonsumsi, sehingga kesehatan tubuh dapat terus terjaga, khususnya di Bulan Suci Ramadhan seperti sekarang ini.

“Di bulan puasa ini, agar kita tetap fit dan kuat dalam melaksanakan ibadah puasa, maka sebaiknya kita menjaga pola makan dengan baik dan teratur,” imbuhnya.(adi/adv)




Sidak 2 Swalayan di Tembilahan, Kadiskes Imbau Masyarakat Jeli dan Teliti Sebelum Membeli

Kadiskes Inhil DR Hj Alvi Furwanti Alwie jajaran dan perwakilan BPOM Riau saat melakukan sidak di salah satu swalayan di Kota Tembilahan. Foto: Adi
Kadiskes Inhil DR Hj Alvi Furwanti Alwie jajaran dan perwakilan BPOM Riau saat melakukan sidak di salah satu swalayan di Kota Tembilahan. Foto: Adi

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Dinas Kesehatan (Diskes) bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) serta Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Provinsi Riau melakukan inspeksi mendadak (sidak) di 2 swalayan yang ada di Kota Tembilahan, Kamis (25/6/2015).

Sidak yang dipimpin langsung Kadiskes, DR Hj Alvi Furwanti Alwie dan Kadisperindag, H Fahrolrozy ini, bertujuan untuk mendukung program perlindungan konsumen dari penggunaan produk-produk berbahaya dan kadaluarsa yang masih beredar di pasaran.

Pada kesempatan itu, Kadiskes mengatakan bahwa sidak yang dilakukan di Bulan Suci Ramadhan 1436 H ini, adalah untuk mengetahui dan mengecek secara langsung di lapangan tentang izin, batas penggunaan dan kemasan pada produk-produk yang dijual kepada masyarakat.

“Dari sidak tadi, kita temukan ada beberapa produk bahan pangan dari Industri Rumah Tangga (IRT) yang tidak memenuhi syarat peredarannya, seperti alamat atau lokasi pembuatan dan lain sebagainya,” tutur Alvi kepada sejumlah awak media usai melakukan sidak.

Oleh karena itu, lanjut mantan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Inhil ini, ke depan pihaknya akan melakukan pembinaan terhadap keberadaan IRT, sehingga bisa lebih baik lagi dalam membuat produk-produk yang akan dijual di pasaran.

“Barang-barang yang tidak memenuhi persyaratan ini, selain kualitasnya berkurang, juga bisa menimbulkan resiko dan membahayakan kesehatan masyarakat yang mengkonsumsinya,” terang Kadiskes.

Kadiskes juga mengimbau kepada seluruh masyarakat agar lebih jeli dan teliti sebelum memutuskan untuk membeli bahan pangan yang dijual di pasaran, karena ini semua demi keamanan dan keselamatan masyarakat.

“Kita harus cerdas dan mampu mengenali apa saja yang menjadi tanda-tanda produk yang tidak layak dikonsumsi, seperti tanggal kadaluarsa, bentuk, warna dan lain-lain,” imbuhnya.

Adapun produk-produk yang tidak layak dikonsumsi dan paling banyak ditemukan saat sidak tersebut, yakni berupa makanan ringan, kerupuk dan roti.(adi/adv)




Jadi Contoh Masyarakat, Kadiskes Instruksikan Fasyankes Gerakan Tata Kelola Lingkungan Bersih dan Sehat

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), DR Hj Alvi Furwanti Alwie kembali menginstruksikan kepada seluruh fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) yang ada di setiap daerah, untuk menggerakan tata kelola lingkungan yang bersih dan sehat.

Permintaan tersebut disampaikan mantan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Inhil ini saat melakukan kunjungan kerja (kuker), dalam rangka pembinaan langsung ke UPT Puskesmas Concong Luar, Kecamatan Concong, serta Pustu Desa Sungai Laut dan Pustu Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Tanah Merah, beberapa waktu lalu.

Dikatakan Alvi, fasyankes mulai dari Puskesmas dan Pustu yang merupakan ujung tombak dalam penyediaan layanan kesehatan harus mampu menjadi contoh bagi masyarakat, khususnya dalam tata kelola lingkungan yang bersih dan sehat.

“Dengan begitu, masyarakat bisa tahu bagaimana sesungguhnya cerminan lingkungan yang bersih dan sehat itu, sehingga masyarakat tergerak hatinya untuk mengikuti dan mencontohnya,” tutur Alvi.

Dijelaskan Alvi, apabila sebagai aparatur dan tenaga kesehatan tidak mampu memberikan tauladan bagi masyarakat yang ada di wilayah kerjanya, tentu akan menyulitkan mereka dalam pelaksanaan berbagai program kesehatan di lapangan.

“Intinya, kita harus mampu memanfaatkan keberadaan lingkungan dan pekarangan di sekitar tempat kerja kita, seperti dengan melakukan penghijauan dan penanaman berbagai jenis tanaman obat-obatan,” terang Alvi.

Alvi juga meminta dukungan dan kerjasama dari seluruh lintas sektor terkait, baik di tingkat kecamatan hingga kelurahan dan desa, khususnya dalam menjaga fasyankes di wilayahnya masing-masing.

“Tanpa ada peran serta dari seluruh pihak, tentu keberadaan fasyankes ini tidak akan maksimal terutama dalam memberikan dan menyediakan layanan kesehatan bagi masyarakat,” imbuhnya. (adi/adv)




Tekan Angka Kematian Ibu dan Bayi, Kadiskes Imbau Masyarakat Lakukan Proses Persalinan di Fasyankes

Gbr: tempo.co
Gbr: tempo.co

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), DR Hj Alvi Furwanti Alwie mengimbau kepada seluruh masyarakat agar melakukan proses persalinan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes), yang ada di wilayahnya masing-masing.

Langkah tersebut, menurut Kadiskes, dalam upaya menekan angka kematian ibu dan bayi saat proses persalinan berlangsung.

“Saya harapkan kalau ada ibu yang mau melahirkan, bisa segera dirujuk ke Fasyankes guna mencegah terjadinya kasus kematian ibu dan bayi,” tutur Kadiskes dalam sambutannya saat membuka pertemuan peningkatan kapasitas petugas kesehatan Puskesmas, dalam pelaksanaan kelas ibu hamil, di aula Hotel Grand Tembilahan, beberapa waktu lalu.

Dijelaskan Alvi, dalam pelaksanaan kelas ibu hamil ini, sangat dibutuhkan pendataan yang baik dan benar di lapangan sehingga bisa dipertanggungjawabkan oleh masing-masing tenaga kesehatan yang tersebar di seluruh daerah di Negeri Seribu Parit.

“Jika kita telah memiliki data yang valid dan akurat maka seluruh program kesehatan yang dilaksanakan, khususnya kelas ibu hamil ini akan bisa tersalurkan kepada yang memang berhak menerimanya,” terangnya.

Selain itu, lanjut mantan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan (Bappeda) Inhil ini, data tersebut juga bisa digunakan oleh bidang-bidang lainnya terutama yang berkaitan dengan kesehatan. Apalagi seperti diketahui pada tahun 2016 mendatang seluruh pengguna Jamkesda harus diintegrasikan ke BPJS.

“Jadi kepada petugas kesehatan di Puskesmas diharapkan dapat memperbanyak tindakan preventif kepada ibu hamil, khususnya yang berada di daerah tertinggi resiko penularan malaria, seperti di wilayah terpencil,” imbuhnya. (adi/adv)




Ditemukan 97 ODGJ di 18 Kecamatan di Inhil, 44 Diantaranya Mulai Membaik

gbr ilustrasi orgil di pasung. tempo.co
gbr ilustrasi orgil di pasung. tempo.co

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Pasca dicanangkannya Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) bebas pasung tahun 2017, saat ini Dinas Kesehatan (Diskes) terus melakukan berbagai upaya dan langkah konkrit di lapangan, seperti melaksanakan penjaringan dan pengobatan bagi para pasien atau Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

Kepala Seksi (Kasi) Kesehatan Khusus Diskes, Devi Natalia mengatakan, dari proses penjaringan yang telah dilakukan, ditemukan sebanyak 97 ODGJ di 18 kecamatan di Kabupaten Inhil, selain di Kecamatan Kuala Indragiri (Kuindra) dan Teluk Belengkong.

“Dari keseluruhan jumlah tersebut, 4 ODGJ sudah meninggal dunia dan 49 ODGJ diantaranya masih di pasung, dengan kondisi penyakit yang berat dan tidak bisa dilepas,” tutur Devi saat berbincang dengan detikriau.org di ruang kerjanya, Senin (22/6/2015).

Sedangkan 44 ODGJ lainnya, lanjut Devi, sudah mulai membaik dan dilepas untuk membaur kembali di tengah-tengah masyarakat, namun masih tetap dalam pengawasan tenaga kesehatan dan keluarga.

“Mereka yang dilepas ini, rata-rata sudah mulai bisa beraktifitas normal dan melakukan pekerjaan sehari-hari,” terangnya.

Senada dengan itu, Kepala Diskes Inhil, DR Hj Alvi Furwanti Alwie berharap agar pihak keluarga dapat terus mendukung dan turut bersama-sama dalam proses pengobatan ODGJ ini, sehingga kondisi para pasien semakin membaik dan benar-benar sehat.

“Yang paling penting dalam proses pengobatan ini adalah peran aktf pihak keluarga, seperti dengan rutin mengambil obat yang disediakan secara gratis di Puskesmas dan memberikannya kepada pasien,” tambah Alvi.

Adapun berbagai kendala dan permasalahan yang ditemui oleh tenaga kesehatan di lapangan, diantaranya masih cukup banyak masyarakat yang enggan melaporkan dan mengobati keluarganya yang menderita ganggung jiwa, sehingga tenaga kesehatan harus turun langsung ke lapangan untuk memberikan pemahaman.

“Kebanyakan masyarakat juga merasa malu, apabila ada anggota keluarganya yang menderita penyakit gangguan jiwa ini. Karena itu, kita sangat mengharapkan kerjasama dari seluruh linas sektor dalam upaya mewujudkan Inhil bebas pasung tahun 2017,” imbuhnya.(adi/adv)