Kader Kesehatan Diminta Berperan Bina Rumah Tangga Agar Lakukan Persalinan di Fasyankes

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Seluruh kader kesehatan di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) diminta, untuk ikut berperan serta dalam memberikan pembinaan terhadap rumah tangga agar melakukan proses persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes).

Permintaan tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Kabupaten Inhil, DR Hj Alvi Furwanti Alwie kepada detikriau.org di kantornya, Jalan M Boya Tembilahan, beberapa waktu lalu.

Dikatakan Kadiskes, dengan melakukan proses persalinan di fasyankes, maka akan bisa langsung dibantu dan dipantau oleh tenaga kesehatan, baik itu bidan ataupun dokter, guna mencegah dan mengantisipasi terjadinya berbagai hal yang tidak diinginkan.

“Pembinaan tentang hal inilah, yang perlu dilakukan oleh para kader kesehatan di lapangan, sehingga dapat menambah pengetahuan masyarakat akan pentingnya kesehatan,” kata Kadiskes.

Adapun peran kader dalam membina rumah tangga agar melakukan persalinan oleh tenaga kesehatan di fasyankes, yaitu :

Mendata jumlah seluruh ibu hamil di wilayah kerjanya, dengan memberi tanda seperti menempelkan stiker.

  1. Menganjurkan ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya ke bidan atau dokter.
  2. Memanfaatkan setiap kesempatan di desa/kelurahan, untuk memberikan penyuluhan tentang pentingnya persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan di fasyankes, misalnya melalui penyuluhan kelompok di Posyandu, arisan, pengajian dan kunjungan rumah.
  3. Bersama tokoh masyarakat setempat berupaya, untuk menggerakkan masyarakat dalam kegiatan-kegiatan yang mendukung keselamatan ibu dan bayi, seperti dana sosial bersalin, tabungan ibu bersalin, ambulance desa, calon donor darah, warga dan suami siap antar jaga, dan lain sebagainya.
  4. Menganjurkan ibu dan bayinya untuk memeriksakan kesehatan ke bidan atau dokter selama masa nifas (40 hari setelah melahirkan), sedikitnya tiga kali pada minggu pertama, ketiga dan keenam setelah melahirkan.
  5. Menganjurkan ibu ikut program Keluarga Berencana (KB) setelah melahirkan.
  6. Menganjurkan ibu memberikan Air Susu Ibu (ASI) saja sampai bayi berumur 6 bulan (ASI Eksklusif). (adi/adv)



Puskesmas Sungai Guntung dan IBI Kateman Gelar Halal Bihalal

imageTEMBILAHAN (detikriau.org) – UPT Puskesmas Sungai Guntung bekerjasama dengan Ikatakan Bidan Indonesia (IBI) Ranting Kecamatan Kateman menggelar Halal Bihalal, Sabtu (25/7/2015).

Kegiatan yang dipusatkan di aula UPT Puskesmas Sungai Guntung ini, menghadirkan penceramah al ustadz H Hamdan dan diikuti seluruh staf UPT Puskesmas serta 45 pengurus dan anggota IBI Ranting Kecamatan Kateman.

Pada kesempatan itu, Kepala UPT Puskesmas Sungai Guntung, Zainuddin SKM berharap melalui momentum Halal Bihalal ini akan dapat lebih mempererat tali silaturrahmi antar keluarga besar UPT Puskesmas Sungai Guntung dan IBI Ranting Kecamatan Kateman.

“Halal Bihalal ini bertujuan untuk meningkatkan kedekatan dan kerjasama yang harmonis antar seluruh aparatur dan tenaga kesehatan yang merupakan ujung tombak dalam memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat,” tutur Zainuddin.

Selain itu lanjut Zainuddin, yang tidak kalah pentingnya dalam pelaksanaan Halal Bihalal ini adalah sebagai wadah untuk saling bermaaf-maafan, serta menciptakan komunikasi yang baik antara staf UPT Puskesmas dan IBI, guna mendukung dan mensukseskan berbagai program dan kegiatan yang akan dilaksanakan nantinya.

“Ini semua dalam upaya meningkatkan kinerja kita, khususnya dalam memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang muaranya pada peningkatan derajat kesehatan serta menurunkan angka kematian ibu dan bayi di wilayah Kecamatan Kateman,” imbuhnya.(adi/adv)




Ini Dia 10 Tanda Bahaya Persalinan Yang Sebaiknya Diketahui Sejak Dini

Bayi
Bayi

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Guna mencegah dan mengantisipasi berbagai hal yang tidak diinginkan, serta menghindari kemungkinan terjadinya bahaya saat proses melahirkan, maka seluruh masyarakat Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) terutama kaum ibu diajak, untuk mengetahui apa saja yang menjadi tanda-tanda bahaya persalinan.

Ajakan tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Kabupaten Inhil, DR Hj Alvi Furwanti Alwie kepada detikriau.org di kantornya, Jalan M Boya Tembilahan, beberapa waktu lalu.

Dikatakan Kadiskes, seluruh masyarakat terutama kaum ibu yang akan melahirkan, hendaknya mengetahui apa saja tanda-tanda bahaya persalinan, dalam upaya menekan angka kematian ibu dan bayi.

“Ini penting untuk menjadi perhatian bersama, guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,” kata Kadiskes.

Adapun tanda-tanda bahaya persalinan, yang sebaiknya diketahui sejak dini, yaitu :

  1. Bayi tidak lahir dalam 12 jam sejak terasa mulas.
  2. Keluar darah dari jalan lahir sebelum melahirkan.
  3. Tali pusat atau tangan/kaki bayi terlihat pada jalan lahir.
  4. Tidak kuat mengejan.
  5. Mengalami kejang-kejang.
  6. Air ketuban keluar dari jalan lahir sebelum terasa mulas.
  7. Air ketuban keruh dan berbau.
  8. Setelah bayi lahir, ari-ari tidak keluar.
  9. Gelisah atau mengalami kesakitan yang hebat.
  10. Keluar darah yang banyak setelah bayi lahir.

“Bila ada tanda-tanda bahaya persalinan ini, sebaiknya ibu harus segera dibawa ke bidan atau dokter, untuk mendapatkan pertolongan medis,” pesan mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Inhil ini. (adi/adv)




Ini Dia 10 Tanda Bahaya Persalinan Yang Sebaiknya Diketahui Sejak Dini

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Guna mencegah dan mengantisipasi berbagai hal yang tidak diinginkan, serta menghindari kemungkinan terjadinya bahaya saat proses melahirkan, maka seluruh masyarakat Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) terutama kaum ibu diajak, untuk mengetahui apa saja yang menjadi tanda-tanda bahaya persalinan.

Ajakan tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Kabupaten Inhil, DR Hj Alvi Furwanti Alwie kepada detikriau.org di kantornya, Jalan M Boya Tembilahan, beberapa waktu lalu.

Dikatakan Kadiskes, seluruh masyarakat terutama kaum ibu yang akan melahirkan, hendaknya mengetahui apa saja tanda-tanda bahaya persalinan, dalam upaya menekan angka kematian ibu dan bayi.

“Ini penting untuk menjadi perhatian bersama, guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,” kata Kadiskes.

Adapun tanda-tanda bahaya persalinan, yang sebaiknya diketahui sejak dini, yaitu :

Bayi tidak lahir dalam 12 jam sejak terasa mulas.

  1. Keluar darah dari jalan lahir sebelum melahirkan.
  2. Tali pusat atau tangan/kaki bayi terlihat pada jalan lahir.
  3. Tidak kuat mengejan.
  4. Mengalami kejang-kejang.
  5. Air ketuban keluar dari jalan lahir sebelum terasa mulas.
  6. Air ketuban keruh dan berbau.
  7. Setelah bayi lahir, ari-ari tidak keluar.
  8. Gelisah atau mengalami kesakitan yang hebat.
  9. Keluar darah yang banyak setelah bayi lahir.

“Bila ada tanda-tanda bahaya persalinan ini, sebaiknya ibu harus segera dibawa ke bidan atau dokter, untuk mendapatkan pertolongan medis,” pesan mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Inhil ini. (adi/adv)




Inilah Tanda dan Yang Harus Dilakukan Menjelang Persalinan

Bayi
Bayi

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Seluruh masyarakat Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) terutama kaum ibu yang sedang hamil dan mendekati proses kelahiran diajak, untuk mengetahui apa saja tanda-tanda dan yang harus dilakukan menjelang persalinan.

Ajakan tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Inhil, DR Hj Alvi Furwanti Alwie dalam upaya mencegah dan mengantisipasi terjadinya berbagai hal yang tidak diinginkan, serta menekan angka kematian ibu dan bayi saat proses persalinan.

Adapun tanda-tanda persalinan yang harus diketahui dan biasanya dirasakan langsung oleh para ibu, diantaranya :

  1. Ibu mengalami mulas-mulas yang timbulnya semakin sering dan kuat.
  2. Rahim terasa kencang bila diraba, khususnya pada saat mulas.
  3. Keluar lendir bercampur darah dari jalan lahir.
  4. Keluar cairan ketuban yang berwarna jernih kekuningan dari jalan lahir.
  5. Merasa seperti mau buang air besar.

Oleh karena itu, bila ada salah satu tanda persalinan tersebut, makanyang harus dilakukan adalah :

– Segera hubungi tenaga kesehatan (bidan/dokter).

– Tetap tenang dan tidak bingung.

– Ketika merasa mulas bernafas panjang, mengambil nafas melalui hidung dan mengeluarkannya melalui mulut, untuk mengurangi rasa sakit. (adi/adv)

 




Masuki Triwulan Ketiga 2015, Kadiskes Instruksikan Jajarannya Maksimalkan Kinerja

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), DR Hj Alvi Furwanti Alwie menginstruksikan kepada seluruh jajarannya, untuk memaksimalkan capaian kinerja di bidangnya masing-masing.

Pernyataan tersebut disampaikan mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Inhil ini dalam amanatnya, saat memimpin upacara masuk kerja hari pertama pasca libur Hari Raya Idul Fitri 1436 H, di lapangan Kantor Diskes, Jalan M Boya Tembilahan, Rabu (22/7/2015).

Dikatakan Kadiskes, usai libur lebaran ini aparatur tidak boleh lagi bermalas-malasan dengan tidak melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang diamanahkan kepadanya, karena keberhasilan berbagai program pembangunan terutama di bidang kesehatan, sangat bergantung pada capaian dan progres kegiatan di masing-masing bidang.

“Mari sama-sama kita dukung dan sukseskan berbagai program pembangunan daerah dengan melaksanakan tugas dan pekerjaan kita semaksimal mungkin,” tutur Kadiskes.

Apalagi, lanjut Kadiskes, saat ini sudah memasuki triwulan ketiga tahun anggaran 2015, sehingga seluruh pekerjaan harus digesa pelaksanaannya agar selesai dan tuntas tepat waktu, khususnya kegiatan yang berkaitan langsung terhadap kepentingan masyarakat.

“Jadi, langsung saja kita bekerja. Jangan ditunda-tunda lagi,” pungkasnya. (adi/adv)