Ini Dia Cara Menjaga Kebersihan Sumber Air Bersih

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Seluruh masyarakat Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) diminta, untuk menjaga kebersihan sumber air bersih yang digunakannya, sehingga layak pakai dan tidak berbahaya saat dikonsumsi tubuh.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Inhil, DR Hj Alvi Furwanti Alwie dalam upaya menjaga dan melindungi kesehatan masyarakat di Negeri Seribu Parit.

Adapun beberapa cara yang dianjurkan dalam menjaga kebersihan sumber air bersih, diantaranya menjaga jarak letak sumber air dengan jamban (WC) dan tempat pembuangan sampah paling tidak 10 meter dan melindungi sumber mata air dari bahan pencemaran.

Selain itu, sumur gali, sumur pompa, kran umum dan mata air harus dijaga bangunannya agar tidak rusak, seperti lantai sumur tidak boleh retak, bibir sumur harus diplester dan sumur sebaiknya diberi penutup.

Kemudian, harus dijaga dari genangan air di sekitar sumber air, tidak ada bercak-bercak kotoran dan tidak berlumut pada lantai atau dinding sumur.

“Yang tidak kalah pentingnya, ember atau gayung pengambil air harus tetap bersih dan tidak diletakkan di lantai, tapi sebaiknya digantung di sekitar sumur,” pesan Alvi, mantan Kepala Bappeda Inhil ini.(adi/adv)




Ini Syarat dan Manfaat Air Bersih Bagi Masyarakat

Air-Layak-MinumTEMBILAHAN (detikriau.org) – Air adalah salah satu kebutuhan dasar manusia, yang dipergunakan untuk minum, masak, mandi, cuci pakaian, cuci alat-alat dapur dan lain sebagainya, agar tidak terkena penyakit atau terhindar dari sakit.

Oleh karena itu, menurut Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), DR Hj Alvi Furwanti Alwie, keberadaan dan ketersediaan air bersih sangat penting serta dibutuhkan masyarakat, guna menunjang aktifitas dan kehidupan sehari-hari.

Adapun syarat-syarat air bersih itu, secara fisik dapat dibedakan melalui indera manusia atau dapat dilihat, dirasa, dicium dan diraba, seperti contohnya :

  1. Air tidak berwarna (harus bening atau jernih.
  2. Air tidak keruh, bebas dari pasir, debu, lumpur, sampah, busa dan kotoran lainnya.
  3. Air tidak berasa, baik asin, asam, payau atau pahit, serta harus bebas dari bahan kimia beracun.
  4. Air tidak berbau, seperti bau amis, anyir, busuk atau bau belerang.

Sedangkan manfaat menggunakan air bersih ini, diantaranya masyarakat terhindar dari gangguan berbagai penyakit, seperti diare, kolera, disentri, thypus, cacingan, penyakit mata, penyakit kulit atau keracunan.

“Dengan menggunakan air bersih, maka setiap anggota keluarga akan terpelihara kebersihan dirinya,” tutur Alvi.

Untuk mendapatkan air bersih tersebut, lanjut mantan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Inhil ini, masyarakat bisa memperolehnya dari mata air, sumur, ledeng atau perusahaan air minum, air hujan dan air dalam kemasan.

“Yang juga tak kalah pentingnya harus dilakukan masyarakat, yakni bila ingin meminum air, maka harus dimasak terlebih dahulu. Karena meski terlihat bersih, air belum tentu bebas dari kuman penyakit. Jadi, harus dimasak dulu sampai mendidih,” pesannya. (adi/adv)




Penyembuhan ODGJ Butuh Dukungan Keluarga dan Lingkungan

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Selain dengan memberikan obat, proses penyembuhan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) juga membutuhkan faktor-faktor penunjang lainnya, seperti dukungan penuh dari pihak keluarga dan lingkungan.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), DR Hj Alvi Furwanti Alwie melalui Kepala Seksi (Kasi) Kesehatan Khusus, Devi Natalia saat berkunjung ke salah satu rumah pasien ODGJ di Kecamatan Tembilahan Hulu, belum lama ini.

Dikatakan Devi, meskipun tenaga kesehatan terus melakukan pemantauan secara langsung ke rumah dan memberikan obat, namun itu saja tidak cukup untuk proses penyembuhan pasien ODGJ, karena yang lebih penting adalah support dari orang-orang di sekitarnya.

“Jadi, dukungan keluarga dan lingkungan sangat berperan besar dalam proses penyembuhan pasien ODGJ,” tutur Devi.

Oleh karena itu, lanjut Devi, keberadaan pasien ODGJ ini harus bisa diterima dengan baik oleh pihak keluarga dan masyarakat di lingkungan sekitarnya, sehingga yang bersangkutan tidak merasa terbuang dan disisihkan.

“Mereka (Pasien ODGJ, red) jangan dikucilkan dan jangan lagi ada yang dipasung, sebab akan memperlambat proses penyembuhannya. Jadi, mari sama-sama kita obati dan sembuhkan mereka, supaya bisa kembali beraktifitas di tengah-tengah masyarakat,” pesan Devi.

Untuk diketahui, hingga saat ini jumlah pasien ODGJ di Kabupaten Inhil sudah tercatat mencapai 97 orang, dimana 48 pasien diantaranya dinyatakan mulai membaik dan ada pula yang telah membaur bersama masyarakat. (adi/adv)




Diskes Gelar Lokakarya dan Sosialisasi PKPR di Tempuling

imageTEMBILAHAN (detikriau.org) – Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) menggelar lokakarya dan sosialisasi Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) di Kecamatan Tempuling, Kamis (13/8/2015).

Kegiatan yang dipusatkan di aula UPT Puskesmas setempat ini, dihadiri Camat, Upika, tokoh masyarakat dan tokoh agama, seluruh staf Puskesmas, Kepala Sekolah serta Guru BP dari 17 SMP dan SMA sederajat di Kecamatan Tempuling.

Kepala Diskes Inhil, DR Hj Alvi Furwanti Alwie melalui Kepala Seksi KIA, KB dan Gizi, Siti Munziarni mengatakan, pelaksanaan lokakarya dan sosialisasi PKPR ini, dikarenakan jumlah sasaran remaja cukup besar dan merupakan calon generasi mendatang, yang diharapkan memiliki tingkat intelegensia yang tinggi.

“Setelah dilakukan survei terhadap 464 siswa yang ada di Kecamatan Tempuling, didapatlah hasil bahwa masih banyak remaja yang tidak mendapatkan informasi tentang kesehatan dan masih ada pemahaman yang salah tentang perilaku menyimpang pada remaja,” tutur Imun, begitu ia akrab disapa.

Selanjutnya, melalui kesempatan tersebut juga dibentuk struktur kepengurusan dan kesepakatan dalam penyelesaian masalah remaja di Kecamatan Tempuling yang pembentukannya dipimpin langung oleh Camat setempat.

Dengan telah terbentuknya kepengurusan dan kesepakatan dalam menangani masalah kesehatan remaja ini, Imun berharap tidak hanya sebatas membentuk pengurus saja tetapi hendaknya dapat peran aktif dengan melibatkan masyarakat serta lintas sektor terkait, khususnya dalam pelaksanaan kegiatan PKPR.

“Kepada kepengurusan yang telah terbentuk, diharapkan bisa melakukan evaluasi secara berkesinambungan sehingga remaja mendapatkan informasi yang benar tentang kesehatannya,” imbuhnya. (adi/adv)




Diskes Lakukan Evaluasi Kemitraan Bidan Dengan Dukun Bayi

image-1TEMBILAHAN (detikriau.org) – Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) melakukan evaluasi kemitraan antara bidan dengan dukun bayi di wilayah UPT Puskesmas Pengalihan Keritang, Rabu (12/8/2015).

Kegiatan yang digelar di aula UPT Puskesmas Pengalihan Keritang ini, dihadiri perwakilan lintas sektor terkait, serta diikuti 19 bidan dan 23 dukun bayi di wilayah setempat.

Kepala Diskes Inhil, DR Hj Alvi Furwanti Alwie melalui Kepala Seksi KIA, KB dan Gizi, Siti Munziarni mengatakan, untuk meningkatkan jumlah persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan di Negeri Seribu Parit ini, maka salah satunya adalah melalui program kemitraan antara bidan dengan dukun bayi.

“Jadi, kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari program kemitraan antara bidan dengan dukun bayi yang sudah dilakukan sosialisasi pada tahun 2014 lalu,” tutur Siti Munziarni.

Dijelaskan wanita yang akrab disapa Imun ini, mengingat semua ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi berisiko terhadap terjadinya kematian, maka ibu dan anak harus diperiksa oleh tenaga kesehatan yang memang berkompeten di bidangnya.

Oleh karena itu, lanjut Imun, kegiatan kemitraan ini tidak akan berjalan sesuai dengan baik dan sesuai harapan jika tanpa adanya dukungan dari seluruh lintas sektor terkait seperti pelaksanaan pertemuan kemitraan bidan dengan dukun bayi yang dilaksanakan oleh UPT Puskesmas Pengalihan Keritang ini.

“Kepada seluruh Kepala UPT Puskesmas diharapkan memaksimalkan pelaksanaan program ini, melalui peningkatan kerjasama dengan lintas sektor terkait dan melakukan evaluasi terhadap pelaksanaannya, sejauhmana program kemitraan sudah berjalan, yang ditandai dengan semua persalinan bisa ditolong oleh tenaga kesehatan yang kompeten,” imbuhnya. (adi/adv)




Diskes Ingatkan Bahaya “Ngelem”

anak-anak-ngelemTEMBILAHAN (detikriau.org) – Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) mengingatkan seluruh masyarakat terutama Generasi Muda untuk tidak menyalahgunakan lem, seperti dengan menghisap aromanya atau yang lebih dikenal dengan sebutan “ngelem”.

Hal itu disampaikan Kepala Diskes Inhil, DR Hj Alvi Furwanti Alwie melalui Kepala Seksi (Kasi) Kesehatan Khusus, Devi Natalia usai berkunjung dan melakukan pengobatan langsung terhadap pasien Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), di Jalan Harapan Kecamatan Tembilahan Hulu, belum lama ini.

Dikatakan Devi, penyalahgunaan lem dari semestinya, selain menyebabkan para penggunanya mabuk dan berhalusinasi, juga bisa menimbulkan berbagai efek negatif lainnya, seperti mengganggu kesehatan tubuh.

“Jadi, “ngelem” itu sangat bahaya bagi pemakainya, karena akan merusak otak dan cairannya, yang akhirnya berakibat gangguan jiwa,” tutur Devi.

Dicontohkan Devi, seperti pada kasus penemuan pasien ODGJ di Jalan Harapan, Kecamatan Tembilahan tersebut. Dimana, setelah berinteraksi langsung dan dari pengakuan pasien diketahui, ternyata yang bersangkutan sebelumnya pernah menghisap lem atau “ngelem”.

“Inilah yang kita duga menjadi penyebab pasien mengalami gangguan jiwa, karena penyalahgunaan lem bisa merusak otak dan cairannya,” terangnya.

Oleh karena itu, Devi mengimbau kepada seluruh masyarakat terutama para orang tua, untuk selalu mengawasi pergaulan dan tingkah laku anak-anak mereka, agar tidak melakukan hal-hal yang tidak benar dan menyimpang, seperti “ngelem” dan lain sebagainya.

“Mari kita jaga generasi penerus kita, untuk menggapai masa depan yang lebih baik,” imbuhnya. (adi/adv)