Sempena Peringatan HCTPS Sedunia, Diskes Serahkan Bantuan 5 Drum Air, Lakukan Pengobatan Gratis dan POMP Filariasis

image-1 copyTEMBILAHAN (detikriau.org) – Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) menyerahkan bantuan 5 drum air, lakukan pengobatan gratis dan Pemberian Obat Massal Pencegah (POMP) Filariasis tahap 4, Kamis (15/10/2015).

Kegiatan yang dipusatkan di dua tempat berbeda, yaitu di PAUD Mifthahul Huda Parit 15 Tembilahan Hilir dan Kantor Disdukcapil Inhil ini, sempena peringatan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun (HCTPS) Sedunia tahun 2015.

Pada kesempatan itu, Sekretaris Diskes Inhil, H Ridwan MKes berharap momentum ini dapat semakin meningkatkan pengetahuan dan keinginan masyarakat, untuk melakukan perilaku Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS).

“CTPS ini sangat penting dilakukan dan diterapkan sejak dini terutama kepada anak-anak, guna mewujudkan Kabupaten Inhil yang sehat,” kata Ridwan.

Senada dengan itu, Kabid PPKDPK Diskes Inhil, Ns Matzen MKes menjelaskan, manfaat CTPS ini adalah untuk membunuh kuman penyakit yang ada di tangan.

Kemudian, mencegah penularan penyakit, seperti diare, kolera disentri, typhus, kecacingan, penyakit kulit, ISPA dan Flu Burung atau SARS.

“Yang tak kalah pentingnya, dengan CTPS tangan akan menjadi bersih dan bebas dari kuman,” terangnya.

Adapun cara CTPS yang benar, yakni menggunakan air bersih yang mengalir dan memakai sabun. Selanjutnya, bersihkan telapak tangan, pergelangan tangan, sela-sela jari dan punggung tangan.

“Setelah itu, barulah keringkan dengan lap yang bersih,” imbuhnya. (adi/adv)




Ini Dia Cara Penularan dan Cara Kerja HIV Dalam Tubuh

penularan-hivTEMBILAHAN (detikriau.org) – HIV atau Human Immunodeficiency Virus menyebar dan menular melalui cairan tubuh manusia.

“Di tubuh manusia, hanya ada tiga cairan yang rawan membawa HIV, yakni darah, Air Susu Ibu (ASI) dan cairan kelamin,” tutur Kepala Seksi (Kasi) Promosi Kesehatan (Promkes) Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Fitri Astuti kepada detikriau.org di ruang kerjanya, belum lama ini.

Dijelaskan, di seluruh dunia termasuk di Indonesia saat ini, cairan kelamin adalah media penyebab penyebaran HIV terbesar akibat perilaku seks bebas.

“Kemudian, darah merupakan media kedua terbesar penyebaran HIV diantara pengguna narkoba,” terangnya.

Adapun cara kerja HIV dalam tubuh manusia, yaitu :

  1. HIV masuk ke tubuh dan mencari sel-sel darah putih khusus CD4 positif (yang mempunyai tugas mengenali dan memberikan informasi apabila benda asing yang masuk ke dalam tubuh). Kemudian, virus ini masuk ke sel CD4 positif, melumpuhkan dan menguasainya dengan cara memperbanyak dirinya di dalam sel CD4 positif.
  1. Selanjutnya, sel-sel HIV yang baru yang telah menjadi banyak ini keluar dan mencari sel-sel CD4 positif lainnya dan mengulangi proses yang sama.
  1. Setelah melewati beberapa waktu, semakin banyak tubuh kehilangan sel-sel CD4 positif dan sistem kekebalan tubuh menjadi lemah.
  1. Dalam keadaan seperti inilah, berbagai jenis penyakit dapat masuk ke dalam tubuh tanpa dapat dikenali dan dilawan, sehingga akhirnya membawa kematian. (adi)



Masyarakat diimbau Turutserta Sukeskan Program Pencegahan Filariasis

Lymphatic filariasis life cycle. Diagram showing the life cycle of the parasitic nematode (roundworm) Wuchereria bancrofti, one of the causes of lymphatic filariasis. The worm is transmitted to humans via mosquito bites. The microfilaria stage of the worm lodges in and blocks the lymph nodes that drain to the lower extremities causing elephantiasis, the massive enlargement and deformity of the legs and genitalia. foto: sciencephoto.com
Lymphatic filariasis life cycle. Diagram showing the life cycle of the parasitic nematode (roundworm) Wuchereria bancrofti, one of the causes of lymphatic filariasis. The worm is transmitted to humans via mosquito bites. The microfilaria stage of the worm lodges in and blocks the lymph nodes that drain to the lower extremities causing elephantiasis, the massive enlargement and deformity of the legs and genitalia. foto: sciencephoto.com

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Seluruh masyarakat diimbau untuk mensukseskan program pencegahan penyakit filariasis atau yang lebih dikenal dengan sebutan kaki gajah di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil).

Imbauan tersebut disampaikan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Inhil, dr Saut Pakpahan terkait dengan telah dimulainya pelaksanaan Pemberian Obat Massal Pencegah (POMP) Filariasis tahap 4 sejak tanggal 1 Oktober 2015 lalu.

Foto: dx.doi.org
Foto: dx.doi.org

Dikatakan Saut, peran-serta dan dukungan masyarakat dalam mensukseskan program ini, dapat dilakukan dengan meminum obat yang diberikan oleh para petugas kesehatan ke rumah-rumah sasaran.

“Atau bisa juga dengan mengambil langsung obatnya di posyandu dan pustu terdekat, yang telah disediakan secara gratis oleh pemerintah,” tutur Saut saat berbincang dengan detikriau.org di ruang kerjanya, belum lama ini.

Dijelaskan Saut, sebelum meminum obat tersebut, masyarakat sebelumnya diharuskan untuk makan nasi guna mencegah dan mengantisipasi terjadinya hal-hal yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat yang mengkonsumsinya.

“Kalaupun ada keluhan setelah meminum obat itu, langsung periksakan diri dan berobat ke fasyankes terdekat,” tambahnya.

Adapun kriteria masyarakat yang tidak dibolehkan meminum obat tersebut, yakni balita di bawah umum 2 tahun dan lansia di atas umur 65 tahun, serta ibu hamil dan menyusui.

“Kemudian, mereka yang tidak dibenarkan meminum obat ini adalah para penderita penyakit kronis atau berat,” imbuhnya. (adi/adv)




Pemberian POMP Filariasis Tahap ke IV, Tenaga Kesehatan Antarkan Obat Door to Door

pemberian-obat-massal-pencegahan-pomp-filariasis-7-638TEMBILAHAN (detikriau.org) – Pemberian Obat Massal Pencegah (POMP) Filariasis di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) dilaksanakan selama sebulan penuh di Bulan Oktober 2015, yang diantar langsung door to door oleh tenaga kesehatan di wilayah masing-masing.

Hal itu disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Inhil, dr Saut Pakpahan saat berbincang dengan detikriau.org di kantornya, Jalan M Boya Tembilahan, belum lama ini.

Dikatakan Saut, khusus untuk daerah yang baru pertama kali melakukannya, POMP Filariasis dimulai secara serentak di seluruh Indonesia pada tanggal 1 Oktober 2015 lalu, yang dicanangkan oleh Presiden RI, Joko Widodo.

“Kita di Inhil sudah memasuki tahun keempat, dimana kali ini pencanangannya dilakukan di masing-masing kecamatan oleh Camat dan Kepala Puskesmas setempat, yang obatnya diberikan langsung kepada masyarakat,” tutur Saut.

Sementara itu, lanjut dokter spesialis penyakit dalam ini, di sebagian tempat pemberian obat pencegah penyakit yang dikenal juga dengan sebutan kaki gajah telah disiapkan di Posyandu dan Puskesmas. Kemudian, dipersilakan masyarakat mengambilnya di lokasi yang telah ditetapkan tersebut.

“Pemberian obat yang disediakan dan didistribusikan langsung dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) ini, strateginya tergantung Posyandu dan Puskesmas masing-masing,” terang Saut seraya menjelaskan bahwa obat yang disalurkan adalah untuk 500 ribu penduduk di Negeri Seribu Parit. (adi/adv)




Meski Mampu di Tekan, Inhil Masih Dalam Status Waspada Diare

Plt Kepala Dinas Kesehatan Inhil, dr Saut Pakpahan
Plt Kepala Dinas Kesehatan Inhil, dr Saut Pakpahan. Foto: net

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Meskipun saat ini peningkatan kasus penyakit diare di sejumlah wilayah sudah dapat ditekan, namun dinyatakan di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) masih dalam status waspada diare.

Pernyataan tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Inhil, dr Saut Pakpahan saat ditemui detikriau.org di kantornya, Jalan M Boya Tembilahan, kemarin.

Dikatakan Saut, dalam upaya penanggulangan wabah pengakit diare baru-baru ini, pihaknya telah menurunkan tim kesehatan serta membentuk pos pengobatan 24 jam di lokasi masyarakat yang banyak terkena penyakit diare, seperti di Kecamatan Batang Tuaka, Pelangiran, Tempuling dan Keritang.

“Penyebab terserangnya penyakit ini, pada umumnya adalah dari air yang digunakan dan dikonsumsi oleh masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari, yang berasal dari sumur atau sungai dan tidak dimasak smpai mendidih,” tutur Saut.

Oleh karena itu, dokter spesialis penyakit dalam ini mengimbau kepada seluruh masyarakat, untuk merebus air sampai mendidik terlebih dahulu, sebelum diminum atau digunakan untuk memasak, serta mencuci gelas dan piring.

Namun jika ada keluhan dan gejala penyakit diare, seperti sakit perut, bocor atau muntah-muntah, maka masyarakat disarankan agar segera berobat di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) terdekat, guna mendapatkan penanganan medis dan pengobatan sejak dini.

“Seandainya terkena gejala-gejala di atas, langsung saja meminum olarit atau larutan gula dan garam (gula 1 sendok teh dan garam seujung sendok atau secukupnya),” imbuhnya. (adi/adv)




Yuk Kita Kenali Apa Itu HIV AIDS

materi-hiv-aids-3-638TEMBILAHAN (detikriau.org) – Seluruh masyarakat Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) diajak, untuk meningkatkan pengetahuannya tentang HIV AIDS, dalam upaya mengantisipasi penularan penyakit yang belum ada obatnya tersebut sejak dini.

Ajakan tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Inhil melalui Kepala Seksi (Kasi) Promosi Kesehatan (Promkes), Fitri Astuti SST saat berbincang dengan detikriau.org di kantornya, kamarin.

Dikatakan, HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, sehingga kemampuan tubuh untuk melawan berbagai penyakit menjadi menurun.

Sebenarnya, HIV tidak berbeda dengan virus-virus lainnya, seperti virus influenza yang menyebabkan flu, virus polio dan lain-lain. Namun, pada virus-virus lain sistem kekebalan yang ada di dalam tubuh akan melawan semua virus yang mengganggu tubuh.

Sedangkan virus HIV justru menyerang kekebalan tubuh, sehingga tubuh menjadi kehilangan kemampuan untuk melawan infeksi virus HIV.

Sementara itu, AIDS atau Acquired Immuno Deficiency Syndrome adalah kondisi kritis seseorang yang terinfeksi HIV.

Dimana, dalam kondisi ini sistem kekebalan tubuh manusia sudah sangat lemah, dan membuat penderita beresiko menjadi rentan terhadap semua jenis infeksi termasuk beberapa jenis kanker.

“Jadi, mengingat penyakit ini sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh kita, maka mari sama-sama kita cegah penyebarannya,” imbuhnya.( adi)