Tanggal 22 Desember 2016 Up-dating Data Koperasi di Inhil ditarget Tuntas

“Diskop UMKM Inhil pastikan pendataan dilakukan secara akurat dan valid”

Kadiskop UMKM Inhil DR H Dianto Mampanini SE MT
Kadiskop UMKM Inhil DR H Dianto Mampanini SE MT

Tembilahan, detikriau.org – Kepala Dinas Koperasi UMKM Inhil, DR H Dianto Mampanini memastikan hingga saat ini pihaknya masih melakukan updating data terhadap Koperasi yang  beroperasional diwilayah hukum Kabupaten Indragiri Hilir.

Updating data itu dilakukan dengan cara “dor to dor” kemasing-masing koperasi.

“Pendataan kita lakukan secara akurat dan pasti. Petugas langsung turun kelapangan dan melakukan pendataan, dan seluruhnya harus dilengkapi dengan bukti dokumentasi,” sampaikan Dianto melalui detikriau,org diruang kerjanya, senin (19/12/2016)

Dalam pendataan lapangan jika ditemukan ada koperasi yang memang tidak aktif maka akan langsung dimintakan justifikasi.

Justifikasi ini bisa diberikan oleh pengurus Koperasi yang masih tersisa ataupun oleh pejabat berwenang setempat. Misalnya Kepala Desa, Lurah atau Camat.

pihaknya ditegaskan Mantan Kepala Dinas Cipta Karya Kab Inhil ini akan kembali mengumpulkan seluruh tim yang telah diturunkan melakukan updating data.

“kita targetkan tanggal 22 Desember sudah final. Data itu nantinya akan kita bawa ke Provinsi dan selanjutnya dilaporkan ke pihak kementrian Koperasi di Jakarta.”Informasikan Dianto.

Diakhir kalimatnya Dianto memastikan Up-Dating data dilakukan untuk mendapatkan data ril susai realisasi dan fakta dilapangan.

“dari total 507 Koperasi yang terdata di Kabupten Inhil kita ingin dapatkan data secara pasti berapa jumlah yang aktif dan berapa yang tidak. Data ini kita pastikan bukan data yang ngawur tapi data valid.” Tandasnya. / dro




Rilis Data Kementrian Koperasi Ngawur. Kadiskop UMKM Inhil Mintakan Klarifikasi

Kadiskop UMKM Inhil, DR H Dianto Mampanini SE MT
Kadiskop UMKM Inhil, DR H Dianto Mampanini SE MT

Tembilahan, detikriau.org – Kepala Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Kabupaten Indragiri Hilir DR H Dianto Mampanini SE MT memastikan data yang dirilis oleh Kementrian Koperasi melalui Surat bernomor 85 tertanggal 10 November 2016 tentang Daftar Koperasi Tidak Aktif khususnya Koperasi yang beroperasional di Kabupaten Inhil adalah data yang tidak benar.

Bahkan ia mempertanyakan keakuratan acuan data yang dipergunakan sebagai dasar untuk merilis daftar Koperasi tidak aktif tersebut yang kini menyebabkan timbulnya keresahan pada beberapa Koperasi terdampak.

“Data yang dirilis sangat jauh berbeda dengan realisasi yang ada dilapangan. Kita pertanyakan darimana dasar yang dipergunakan Kementrian Koperasi untuk menentukan  aktif atau tidaknya sebuah koperasi khususnya yang berada di wilayah hukum Kabupaten Indragiri Hilir,” Pertanyakan Dianto melalui detikriau.org ditemui diruang kerjanya, senin (19/12/2016)

Ditambahkan Dianto, jika pihak Kementrian menyatakan bahwa data itu bersumber dari Online Data System, Ia memastikan Diskop UMKM Inhil tidak pernah menginput data.

Satu-satunya laporan tertulis yang pernah disampaikan Diskop UMKM adalah laporan tentang jumlah koperasi tidak aktif sebanyak 167 Koperasi bukan sebanyak 370 koperasi sebagaimana rilis data yang dilampirkan pihak Kementrian Koperasi.

“167 Koperasi itu memang tidak aktif. Data yang kita lampirkan lengkap dengan By Name dan By Addres.  itu yang kita mintakan rekomendasi untuk dibekukan. Lantas dari mana dasar penentuan sebanyak 370 Koperasi tidak aktif yang dirilis pihak Kementrian itu. “ Klarifikasikan Dianto

Disayangkan Dianto banyak  Koperasi-Koperasi yang sehat dan beraktifitas secara aktif namun nama Koperasinya justru ikut tercantum dalam daftar koperasi tidak aktif.

“Ini kesalahan sangat fatal. Kita sangat sesalkan Kementrian Koperasi tidak pernah melakukan crosscheck sebelum mempublikasi data tersebut secara terbuka,” Sesal Dianto./ dro




Heboh di Medsos Koperasi SUBUR Akan Dibekukan. H Ridwan Sampaikan Bantahan

DR H Dianto Mampanini SE MT; “saya pastikan Koperasi Subur adalah Koperasi yang aktif. Tidak mungkin dibekukan

Ketua Koperasi SUBUR, H Ridwan
Ketua Koperasi SUBUR, H Ridwan

Tembilahan, detikriau.org – Ketua Koperasi “Subur”  H Ridwan membantah beredarnya pemberitaan akan dibekukannya izin operasional koperasi yang kini berada dibawah kepemimpinannya. Informasi yang disebarluaskan oleh oknum yang disebutnya “tidak bertanggungjawab” melalui akun Media Sosial Facebook itu dipastikannya adalah berita menyesatkan.

“Sama sekali tidak benar. Kabar itu berita yang menyesatkan. Koperasi subur hingga hari ini masih beraktifitas secara jelas dan memiliki jumlah anggota yang tidak sedikit. Apa dasarnya operasional kami harus dibekukan,”Sampaikan H Ridwan kepada detikriau.org saat ditemui di Kantor Dinas Koperasi UMKM Inhil, senin (19/12/2016)

Menurut H Ridwan, berita itu pertama kali diterimanya dari salah seorang anggota Koperasi “Subur”.

Pada dinding akun facebook milik anggota koperasi Subur tersebut tersiar kabar yang memberitakan bahwa “Koperasi Subur yang telah berdiri sejak tahun 1960-an kini termasuk dalam daftar Koperasi yang direkomendasikan untuk dilakukan pembekuan izin operasionalnya”.

Mendapatkan informasi tersebut, H Ridwan segera merespon.

Bahkan secara pribadi ia mengaku sudah mereplay tangapan pada berita tersebut  untuk mempertanyakan sumber berita  yang disebarluaskannya.

“Saya bahkan sudah lampirkan nomor Handphone pribadi saya dengan maksud untuk memintakan klarifikasi secara langsung. Tapi sampai hari ini permintaan itu tidak direspon,” Imbuh H Ridwan.

Diakuinya akibat kabar berita ini tentunya akan menimbulkan kegelisahan, baik bagi pengurus maupun anggota koperasi Subur.

“Makanya hari ini saya sengaja mendatangi Dinas Koperasi dan UMKM Inhil untuk mendapatkan klarifikasi.” Tuntas H Ridwan

Terkait persoalan ini, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Inhil, DR H Dianto Mampnini SE MT memastikan bahwa informasi yang disebarluaskan melalui Meida Sosial FB tentang Koperasi “Subur” adalah berita yang tidak benar.

Sebagai Kepala Dinas yang mengayomi Koperasi yang berada di Kabupaten Inhil, Dianto memastikan Koperasi “Subur” sampai hari ini masih terdata sebagai koperasi aktif.

‘Informasi itu saya pastikan tidak benar. Koperasi subur koperasi yang aktif dan secara berkala melakukan RAT. Tidak ada alasan jika Koperasi Subur harus dibekukan,” Bantah Dianto.

Menurut Dianto, tersiarnya kabar pemberitaan “menyesatkan” itu diduganya didasarkan pada Surat dari kementrian Koperasi yang merilis Daftar Koperasi Tidak Aktif di seluruh Indonesia. Termasuk data Koperasi di Kabupaten Inhil.

Data kementrian Koperasi menurutnya masih bersifat data umum dan belum diklarifikasi. Permasalahan seperti ini menurut Dianto tidak hanya terjadi di Kabupaten Inhil tetapi hampir diseluruh wilayah Indonesia.

“Sekali lagi saya pastikan Koperasi Subur adalah Koperasi yang aktif. Tidak mungkin dibekukan.” Tegas Dianto

Dianto juga menghimbau kepada seluruh Pengurus maupun anggota Koperasi Subur untuk tidak menanggapi kabar berita rencana pembekuan izin Koperasi Subur.

“Nanti kita akan tindaklajuti dengan surat resmi untuk mengklarifikasi berita yang menyesatkan ini.” Yakinkan Dianto./dro




Wah..wah..wah, Harusnya Tidak Ada Masyarakat Inhil yang Miskin

Tembilahan, detikriau.org – Jika potensi perkebunan kelapa di Kabupaten Inhil sebesar ini, kami yakini tentu tidak ada satupun penduduknya yang berada dibawah garis kemiskinan.

Pernyataan ini menurut Kepala Dinas Koperasi UMKM Kabupaten Indragiri Hilir DR H Dianto mampanini SE MT diterimanya saat melakukan kunjungan disalah satu sentra pengolahan kerajinan di Yogyakarta beberapa waktu yang lalu.

“wah…wah…wah, jika potensi sumberdaya alam sebesar itu, kami yakin tidak akan ada satupun penduduk disana yang miskin,” ujar Dianto menyampaikan tanggapan pengrajin di Yogyakarta dengan penuh kekaguman saat mendapatkan penjelasan akan besarnya potensi hasil perkebunan kelapa yang dimiliki kabupaten Inhil

Dalam kesempatan itu Dianto juga mengaku mencoba mempertanyakan apakah pengrajin di Yogyakarta mau bekerjasama. Bekerjasama dengannya dalam kaitan sebagai pemasok bahan baku. Namun kata Dianto, tawaran itu langsung di tolak.

“Kalau kami bersedia, Bapak pasti akan menjadi sangat kaya. Tapi kalau potensi sumberdaya itu bisa dikelola dengan baik oleh masyarakat di sana, sekali lagi kami pastikan tidak akan ada satupun penduduk Inhil yang miskin.” Tekankan pengulangan disampaikan Dianto

Sekedar diketahui, Disamping daging buah, tanaman kelapa mempunyai berbagai produk sampingan yang sangat bermanfaat dan bernilai  ekonomi tinggi.

Tanaman kelapa merupakan komoditas perkebunan yang sangat potensial, sering diindentikkan sebagai sebuah pohon kehidupan karena hampir semua bagian tanaman kelapa bermanfaat dan berguna bagi kebutuhan hidup manusia.

Secara umum, dari bagian buah kelapa saja yang terdiri dari: sabut, tempurung, daging buah, dan air kelapa. Semuanya tidak ada yang terbuang dan dapat dibuat untuk menghasilkan berbagai produk industri.

Sabut kelapa misalnya dapat dimanfaatkan sebagai sapu, pengisi jok mobil, coir fibre, keset, dan matras.

Sedangkan air kelapanya disamping segar untuk diminum secara langsung juga dapat digunakan untuk membuat cuka, penggumpal lateks dan nata de coco.

Tempurung dapat  dimanfaatkan untuk membuat carbon aktif, arang briket, charcoal, dan berbagai kerajinan tangan.

Daging buah dapat dipakai sebagai bahan baku untuk menghasilkan  santan, kopra, minyak kelapa,  coconut cream, dan kelapa parutan kering (desiccated coconut).

Tidak hanya pada bagian buah, batang kelapa sendiri juga dapat dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomis tinggi. Batang dapat digunakan sebagai bahan-bahan bangunan baik hingga menghasilkan berbagai peralatan rumah tangga (pot, mebel, dan lain-lain).

Dan bagian daun kelapa dapat diambil lidinya yang dapat  dirangkai menjadi sapu./dro




Ini Contoh Pemanfaatan Sabut Kelapa yang Patut ditiru

“Hanya Bermodal  Rp 100.000, Sekarang Raup Penghasilan Ratusan Juta”

Tembilahan, detikriau.org – Sebagai daerah yang memiliki hamparan kelapa dalam terluas, lebih dari separo penduduk di Kabupaten Inhil menggantungkan hidup dari hasil produksinya. Selama ini, untuk mendapatkan penghasilan, masyarakat hanya memperoleh manfaat dari produksi daging buah. Sementara produk sampingan, seperti tempurung, sabut, lidi dan batang sebagian besar tidak termanfaatkan dan bahkan terbuang sebagai limbah.

Sabut kelapa, contohnya, disaat panen tiba, limbah ini melimpah. Kebanyakan petani baru memanfaatkannya untuk mengasapi daging buah dalam proses pembuatan kopra dan tidak sedikit pula produk limbah ini akhirnya hanya dibakar dan tidak termanfaatkan.

Padahal memberi nilai tambah pada limbah tak hanya punya dampak positif bagi kelestarian alam. Aktivitas mengolah sampah juga bisa meraup laba. Mahasim contohnya, pengusaha di Kebumen, Jateng menghasilkan puluhan juta rupiah dari kreasi sabut kelapa.

Dikutip kisah dari laman kompas.com, Bersama rekannya, Darda, Mahasim memulai usaha membuat kerajinan dari sabut kelapa dengan modal awal Rp 100.000. Produk awal berupa keset berbagai ukuran. Selanjutnya ia berkreasi membuat tas, topi, sandal, pot, coconet, hingga bantal, guling, dan kasur dari sabut kelapa. Selain itu, ia juga mengkombinasikan bahan dasar sabut dengan batok kelapa, kayu kelapa atau glugu dikreasi menjadi tas dan kursi. Kerangka kursi dari kayu kelapa sementara bagian dalam jok kursi dari sabut kelapa.

Selain itu, Mahasim juga membuat pot dari sabut kelapa, baik pot biasa maupun pot gantung. Salah satu keunggulan cocopot yaitu bisa menahan air sehingga menghemat penyiraman. Selain itu, kalau digunakan untuk menanam bibit cocopot punya keunggulan. Saat memindahkan bibit ke lahan cocopot bisa sekaligus ditanam. Dibandingkan polybag plastik, cocopot lebih ramah lingkungan.

Selain produk kerajinan, proses penggilingan butiran sabut menjadi serat sabut atau fiber juga mengeluarkan hasil sampingan berupa cocopeat. Cocopeat ini selanjutnya diolah menjadi pupuk organik. Setiap hari Hasim menggiling 3.000-4.000 butir sabut. Sepuluh butir sabut bisa menghasilkan 1 kg cocopeat. Sesudah diolah menjadi pupuk, Hasim menjualnya seharga Rp 450 per kg, di luar ongkos kirim.

“Pupuk organik itu dijual ke Kalimatan Timur, 10-20 ton sebulan. Waktu mau lebaran mereka pesan 60 ton per bulan. Jumlah sebanyak itu masih bisa kami layani. Mereka pernah minta sampai 400 ton per bulan, kami nggak sanggup,” ungkap Mahasim, warga desa Rantewringin, Kecamatan Buluspesantren, Kebumen, Jateng.

Hasil produksi lain dari pengolahan sabut kelapa ini adalah sabutret atau serat sabut berkaret yang bisa menjadi isi dari kasur, bantal, guling, maupun jok kursi. Pengolahannya berbeda dengan keset atau coconet yang merupakan anyaman sabut fiber.

Sabutret merupakan sabut fiber yang diolah lebih lanjut. Sabut yang sudah digiling lalu dianyam jadi tali. Kemudian tali tersebut dioven. Selanjutnya tali itu diurai lagi supaya tidak keriting, lalu ditata di cetakan.

Sabut dalam cetakan itu kemudian disemprot lateks, dan dioven lagi. Jadilah lembaran sabutret yang kemudian dimasukkan ke dalam sarung guling, bantal, kasur, atau jok. Untuk kasur setebal 5 cm ia menjual seharga Rp 600.000. Sementara kasur setebal 15 cm harganya Rp 1,5 juta. Bantal dan guling harganya Rp 50.000.

Ia bercerita bahwa pernah ada permintaan kasur berisi sabut dari Amerika. Tidak tanggung-tanggung, buyerAmerika itu minta dikirim 3 kontainer per bulan. Tapi Hasim mengatakan tak sanggup karena skala usahanya belum bisa mencukupi. Meski saat ini bisnisnya terbilang cukup besar.

Selain mempekerjakan 15 orang yang menjadi karyawan tetap, ia juga punya mitra yang tersebar di lima kecamatan di Kebumen. Mitra paling banyak dari Kecamatan Buluspesantren dan Kliron. Mereka membuat barang jadi atau setengah jadi lalu dibawa ke AKAS (Aneka Kerajinan Anyaman Sabut Kelapa) untuk dipasarkan. Padahal, awalnya Mahasim hanya punya dua karyawan. Lalu, ia membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang diberi nama AKAS.

Omzet ratusan juta

Salah satu produk yang memberi pemasukan besar adalah coconet. Setiap bulan Mahasim harus mengirim produk berupa jaring dari sabut kelapa itu ke Timika, Balikpapan, dan Medan. Untuk coconet tali kecil harganya Rp 8.000/m, sementara coconet tali besar dijual seharga Rp 13.000/m. “Masing-masing tempat itu dikirimi satu tronton. Satu tronton isinya 200 rol. Satu rol panjangnya 50 m,” papar Mahasim.

Jadi, kalau dihitung untuk produk coconet saja omzet yang diperoleh Rp 240 juta (Rp 8.000 x 50 m x 200 rol x 3). Itu baru pemasukan dari satu produk. Selain itu masih ada pemasukan dari keset kecil sebanyak 5.000 lembar dan keset besar 2.000 lembar. Masing-masing harganya Rp 5.000 dan Rp 35.000. Selain melayani pasar lokal Kebumen, Mahasim juga mengirim produk ke Surabaya, Jakarta, Yogyakarta, Pontianak, dan Medan.

Ada pula pengiriman pot gantung untuk eksportir yang selanjutnya akan mengirim ke Australia. Tiap bulan Mahasim mengirim pot gantung sebanyak 200-300 pot, harganya Rp 30.000/pot. Selain Australia, Mahasim juga melayani permintaan tali sabut ke Jepang sebanyak 2500 ikat. Satu ikat panjangnya 10 m dan tiap meter dijual seharga Rp 5.000.

Pohon kelapa merupakan tanaman yang begitu melimpah di Inhil dan bahkan komoditi perkebunan ini sudah menjadi tumpuan hidup masyarakat selama ratusan tahun.  Itu sebabnya, bisnis ini bisa diterapkan oleh masyarakat dengan dukungan ketersediaan bahan baku yang melimpah.

Pemerintah, dalam hal ini berbagai instansi terkait harusnya dapat menjadi motor penggerak. Misalnya dengan mengadakan pelatihan-pelatihan pengolahan kerajinan dan mencari peluang pasar dari produk olahan limbah kelapa yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Dengannya, membumikan kelapa di Kabupaten yang bergelar Negri Sri Gemilang ini tidak hanya menjadi ajang seremonial belaka dan bahkan lebih mirisnya menjadi lahan proyek untuk meraup keuntungan pribadi dan kelompok semata./dro

 

 




Kadiskop UMKM Inhil Ajak Masyarakat Kreatif dan Inovatif Kelola Sumber Daya Alam

contoh produksi mebel dari produk sampingan perkebunan kelapa yang memiliki nilai ekonomis tinggi
contoh produksi mebel dari produk sampingan perkebunan kelapa yang memiliki nilai ekonomis tinggi. foto: net

Tembilahan, detikriau.org – Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Kabupaten Indragiri Hilir DR H Dianto Mampanini SE MT mengajak kepada seluruh masyarakat untuk memanfaatkan secara maksimal berbagai sumberdaya alam yang ada di Negri berjulukan Sri Gemilang dalam upaya meningkatkan penghasilan ekonomi keluarga.

Sumberdaya alam yang sangat melimpah di Kabupaten Inhil namun belum dikelola secara maksimal menurut Dianto diantaranya adalah produksi perkebunan kelapa.

“Inhil merupakan salah satu penghasil kelapa terbesar di dunia. Selama ini masyarakat kita sebahagian besar baru mengandalkan produksi daging buah untuk mendapatkan penghasilan, sementara produk sampingan tidak jarang hanya terbuang dan tak termanfaatkan.” paparkan Dianto dalam eksposnya tentang potensi sumber perkebunan kelapa rakyat dalam sebuah kegiatan pembukaan pelatihan belum lama ini di Kota Tembilahan.

Masyarakat Inhil, dinilai Dianto selama ini sangat dimanja dengan melimpahnya sumberdaya alam dari sektor perkebunan andalan masyarakat ini. Ribuan bahkan jutaan butir buah kelapa dihasilkan dari hamparan lahan perkebunan yang sangat luas. Setiap kali masa panen tiba, masyarakat akan mendapatkan penghasilan yang sangat melimpah yang mampu menopang kebutuhan penghidupan.

Begitu mudahnya mendapatkan penghasilan, masyarakat menjadi terlena. Sebagian masyarakat selama ini tidak lagi berpikir menggali sumber ekonomi lainnya. Produksi daging buah memanjakan dan cenderung menghilangkan pemikiran inovatif.

“masyarakat yang memiliki sumberdaya alam melimpah cenderung kurang inovatif. Kebiasaan hidup berkebun dan memperoleh penghasilan dari melimpahnya produksi daging buah memanjakan masyarakat Inhil selama ini,” Nilai Dinato

Namun belakang, disaat produksi buah mengalami penurunan yang disebabkan berbagai persoalan seperti tidak terpolanya peremajaan ditambah kerusakan lahan perkebunan kelapa rakyat, produksi daging buah sudah tidak lagi mampu menjadi andalan untuk menopang kebutuhan ekonomi keluarga.

Dalam kondisi ini, masyarakat harus mampu dilatih dan diajak untuk berpikiran kreatif dan inovatif.

Hasil perkebunan kelapa, bukan hanya daging buah yang memiliki nilai ekonomi. Bahkan jika mampu dikelola dengan baik, produk sampingan, seperti sabut, tempurung, air, lidi, daun dan batang justru akan mampu memberikan nilai ekonomis yang jauh lebih tinggi.

“Ini yang menjadi target kami. Kita akan coba ajak masyarakat untuk kreatif dan inovatif. Kreatif dalam mencari sumber penghasilan dan inovatif dalam mengelola berbagai sumberdaya yang ada untuk mendapatkan penghasilan.” Akhiri Dianto./dro