FKWI Resmi terdaftar di Kemenkumham

loading…



ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Untuk penguatan kelembagaan berdasarkan azas legalitas yang sesuai dengan aturan Negara Republik Indonesia, Debi Candra Shr S.Sos selaku Ketua FKWI periode 2019-2022, Muhammad Daud, S.Kom selaku Sekjen dan Arbain, S.Pdi selaku Bendahara secara resmi mendaftarkan Akta Notaris Forum Komunikasi Wartawan Indragiri Hilir (FKWI) ke KEMENKUMHAM.

Penguatan badan hukum tersebut disaksikan langsung oleh pendiri FKWI Ir Wahyuni Khalid di kantor Notaris Yunusul Khairi di Jalan Gunung Daek, Kelurahan Tembilahan Kota, Kabupaten Inhil, Riau, Kamis (7/10/19).

Ir Wahyuni Khalid mengatakan dengan telah dilakukannya pembaharuan Akta Notaris serta mendaftarkan FKWI ke Menkumham sebuah bentuk memperkuat eksistensi serta keberadaan FKWI sebagai tempat berkumpulnya seluruh wartawan menjalankan tugas jurnalistiknya di Kabupaten Inhil.

“Forum wartawan ini merangkul seluruh jurnalis yang ada di Kabupaten Inhil,” sebut Mahyuni Khalid merupakan wartawan senior ternama masa Rusli Zainal

Ia memaparkan semenjak berdirinya FKWI tahun 2000 lalu, Mahyudi Khalid bersama para tokoh wartawan bercita-cita menyatukan persepsi dan meningkatkan kebersamaan dalam pengembangan profesionalitas jurnalis. Hingga pada 5 Mei tahun 2011 lalu FKWI didaftarkan ke Akta Notaris sebagai Badan Hukum beranggotakan para wartawan yang bertugas di Indragiri Hilir.

Maksud dan tujuan perubahan Akta Notaris serta mendaftar ke Menkumham 6 November 2019, menurut Mahyuni Khalid, agar regenerasi kepengurusan FKWI terus berlanjut tanpa ada intervensi dan rasa memiliki kepentingan kelompok-kelompok.

“Saya berharap kepengurusan FKWI beregenerasi, agar forum ini selalu hidup untuk menaungi seluruh wartawan,” tegasnya

Ditempat yang sama, Ketua FKWI Debi Candara mengatakan, sejak terbitnya legal formal forum ini, secara hukum sudah mengikat para anggota bergabung di dalamnya untuk mengikuti aturan AD/ART melaksanakan Musyawarah Besar dalam pergantian kepengurusan.

Bukan hanya aturan kelembagaan, Debi Candara menekankan kepada seluruh pengurus serta wartawan yang bergiat di FKWI tidak dibenarkan melakukan kegiatan yang bersifat individu dengan mengatasnamakan forum sesuai aturan dalam akta tersebut.

”Dengan kata lain, setiap kegiatan apa pun semuanya adalah atas nama lembaga, kecuali kegiatan dalam peliputan sebagai pewarta,”tegasnya.

Debi berkomitmen dan yakin bersama pengurus Periode 2019 – 2022 akan berupaya menanamkan citra positif organisasi FKWI di kalangan dunia pers dengan totalitas berkarya dan pengabdian kepada masyarakat dalam segala bidang. “Bukan hanya peningkatan kapasitas jurnalistik, namun hadirnya FKWI harus memberikan kontribusi untuk masyarakat luas,” tegasnya. (***)




Alam Batik Diminati dari Asia hingga Eropa

ARB INdonesia, BUDAYA – Sebagai salah satu warisan budaya asli Indonesia, batik terus berkembang pesat. Tak hanya motifnya yang kian bagus, warna batik pun kian beragam.

Kini, batik yang menggunakan pewarna alami semakin disenangi warga mancanegara dan bernilai tinggi. Ciri khas batik warna alam adalah warna-warna berkarakter tenang dan lembut.

Penggunaan bahan pewarna alami menjadi tren seiring gencarnya kampanye pelaestarian lingkungan. Bunga, dedaunan, bebatuan hingga akar-akaran menjadi pilihan bahan pewarna alam.

Fery Sugeng Santoso asal Pasuruan, Jawa Timur ini mencontohkan, untuk mendapatkan warna kuning, bahan yang digunakan adalah kayu tegeran. Jika menginginkan warna kuning muda, dalam pengikatannya menggunakan batu tawas yang mengandung aluminium.

Sementara, untuk warna kuning yang lebih tua, diikat menggunakan batu kapur karena mengandung tembaga dan kalsium. Untuk warna gelap seperti hitam dan abu-abu, yang digunakan untuk mengikat adalah bahan yang mengandung besi.

Batik dengan pewarna alam diyakini memberikan rasa percaya diri. Karena batik tak sekadar seni, tetapi juga mengandung filosofi. Inilah yang menjadi keyakinan pria yang kerap akrab dipanggil Ferry ini hingga dapat memasarkan produknya ke berbagai negara.
Hingga saat ini, karyanya telah mendapatkan apresiasi di sejumlah negara seperti Korea, Australia, Malaysia, Singapura, dan sejumlah negara di Eropa. Batik dengan pewarna alam memang lebih dihargai di negara-negara tersebut. Eropa tidak mau sintetis, maunya warna alam.

Ia mengakui, dengan idealismenya ini, produk yang dihasilkan tidak selalu mengikuti keinginan pasar. Akan tetapi, ia yakin, konsistensilah yang menjadi ciri khas produk Alam Batik. Selain itu, produk yang dihasilkan menjadi ekslusif bagi pemiliknya.

Bergabung SETC

Awalnya saya tidak suka dengan batik, namun setelah kenal dengan Sampoerna Enterpreneurship Training Center (SETC) pada tahun 2007 ia semakin mantap, apalagi diberikan pembinaan dari awal memulai usaha hingga cara pemasarannya, itupun masih dengan bendera usaha batik Dinar Agung milik orangtuanya.

Kemudian pada tahun 2009, Ferry mulai mendirikan Alam Batik di bawah pembinaan SETC, sejak saat itulah ia mengaku bisnisnya berkembang dengan pesat. Ihwal perkembangan bisnis Alam Batik, Ferry mengaku tidak membuat SETC berhenti mendampinginya.
Perkembangannya luar biasa. Apalagi sering diajak kegiatan pameran sehingga peluang besar untuk kami. Penting untuk campaign. Expo tidak hanya untuk jualan, tetapi juga memperkenalkan kepada masyarakat.

Kesempatan mengikuti pameran yang diselenggarakan SETC , menjadi kesempatan besar bagi Ferry untuk memperkenalkan produknya. Alasannya, hingga kini ia tak memasarkan produknya secara online.

“Saya ingin pembeli atau calon konsumen melihat, memegang langsung batik karya saya. Dari situ, dia akan merasakan keistimewaannya. Maka, kesempatan mengikuti expo, jadi kesempatan besar buat saya. Saya jualannya masih konvensional, belum online,” kata Ferry.

Selain mengikuti pameran lanjut Ferry, UKM binaan Sampoerna juga mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan terkait peningkatan kualitas produk dan kemasan. Bagi Ferry, pengetahuan mengenai hal ini, sangat bermanfaat bagi pengembangan bisnisnya.
Ke depannya, ia berharap, akan ada pelatihan dan pendampingan terus menerus untuk memperluas pasar UKM binaan.

Ferry juga mengungkapkan, ia kini kerap menjadi mentor pelatihan membatik dengan pewarna alam yang diselenggarakan oleh Sampoerna melalui SETC. “Bahkan belum lama ini saya diundang ke Belanda untuk fashion show dan memberikan pengalaman membatik dari bahan alami,” ungkapnya.

Kepergiannya ke Belanda undangan pribadi dari penyelenggara event Pasar Malam Azie.
“Kami diundang penyelenggara Pasar Malam Azie di Belanda dan diminta untuk memperkenalkan budaya yang kita miliki terutama batik,” tuturnya.

Karya-karya yang diperkenalkan di Belanda merupakan karya Ferry yang terbaik yaitu kain batik Kasampurnan, baju batik untuk musim panas dan gaun pesta batik.

Batik Kasampurnan yaitu Batik dengan warna lembut dan kebiruan bercorak kupu-kupu dengan bunga kenanga berada di sela-selanya.

“Orang bilang Kasampurnan yang dilihat langsung kupu-kupunya. Padahal kupu-kupunya menjadi efek, perjalanan kesempurnaan itu justru di belakangnya, yakni bunga Kenangan,” katanya menjelaskan.

“Kenanga sendiri dari kata ‘Keneng ‘a’ yang berarti mengingat. Apa yang diingat? Ajaran para leluhur sehingga kita menuju sempurna. Sempurna bukan hanya lahirnya, tetapi juga baginya,” tambahnya menguraikan.

Selama di Belanda Fery memamerkan karyanya melalui pameran dan fashion show di Enshede Belanda pada tanggal 27-29 September dan pada tanggal 5 Oktober di Almere. Selain memamerkan hasil karyanya, Fery juga menularkan ilmunya kepada kelompok-kelompok masyarakat pembatik yang ada di Belanda.

“Mereka sangat suka dengan batik Indonesia terutama yang menggunakan warna alami,” tuturnya.

Mengurangi Pengangguran

Membangun usaha pasti mengalami pasang surut dan inilah yang menjadi tantangan. Demikian pula yang dialami Ferry. Persoalan bahan baku tak jadi persoalan buatnya. Namun, yang menjadi tantangan adalah mencari sumber daya manusia (SDM) pembatik.

Di Pasuruan, hal ini menjadi tantangan tersendiri karena sebagian besar, terutama generasi muda, memilih bekerja di pabrik. “Apalagi Pasuruan. Pabrik banyak, jadi pencarian tenaga kerja berat. Kenapa saya sampai terlambat produksi, karena hambatan tenaga kerja, bukan bahan baku,” kata dia.

Namun walaupun begitu ia tetap berusaha keras untuk mencari orang-orang yang belum memiliki pekerjaan sehingga secara tidak langsung akan mengurangi pengangguran. Kini ia telah memiliki dan mendidik 10 hingga 15 pembatik remaja putus sekolah. Proses yang dilaluinya dilalui juga tak mudah untuk membuat mereka mau dididik menjadi pembatik. Imbalan layak adalah komitmen yang diberikan Ferry agar menjamin kesejahteraan hidup dan meningkatkan kehidupan sosial para pembatik muda ini.
Sebagai salah satu warisan budaya asli Indonesia, batik terus berkembang pesat. Tak hanya motifnya yang kian bagus, warna batik pun kian beragam.Di masa yang akan datang, Ferry memiliki impian untuk mengikutkan pembatik didikannya dalam berbagai pelatihan SETC, seperti yang pernah dijalaninya dengan tujuan untuk melatih kemandirian. Ia tak mempersoalkan jika mereka yang sudah dibina kemudian memilih jalan untuk berdikari.
“Harapan saya anak-anak muda ini diberi kesempatan untuk mendapat pelatihan-pelatihan untuk membentuk kemandirian,” ujar Ferry.

Impian lainnya, ia ingin merangkul lebih banyak lagi para remaja putus sekolah atau kelompok marjinal untuk dilatih menjadi pembatik.

“Mereka yang punya ijazah tidak susah (cari kerja). Tapi mereka yang tidak punya ijazah, tanggung jawab siapa? Saya selama ini merangkul anak putus sekolah untuk mengerjakan batik di rumah. Saya ingin lebih banyak lagi anak-anak yang demikian. Tapi saya tidak bisa melakukannya sendiri, harus ada partner,” kata Ferry.

Semoga apa yang diharapkan Fery Sugeng Santoso terwujud dan menjadi inspirasi semua orang. Apapun usahanya jika ditekuni akan membuahkan hasil yang sempurna. (syarif wibowo)

Sumber SINDONEWS. com




Tujuh Bahaya Begadang untuk Kesehatan

Foto Ilustrasi: Dengan kurangnya waktu tidur, sederet bahaya begadang mengintai Anda. (Istockphoto/bymuratdeniz)

ARB INdonesia, KESEHATAN – Kurang tidur dapat berpengaruh terhadap banyak hal. Mulai dari kesehatan fisik, mental, hingga mengganggu aktivitas harian. Dengan kurangnya waktu tidur, sederet bahaya begadang mengintai Anda.

Banyak ahli menekankan pentingnya tidur demi kesehatan mental dan fisik. Meski tampak mudah dan sepele, tapi tidur adalah aktivitas yang mewah bagi banyak orang, khususnya para pekerja yang kerap begadang untuk menyelesaikan tugasnya.

Begadang bukan hadir tanpa risiko. Ada sederet ancaman yang mengintai jika begadang jadi kebiasaan sehari-hari.

1. Kadar gula darah naik
Begadang bisa membuat kadar gula narah naik. Mengutip Bustle, studi pada 2015 menemukan, studi yang dilakukan terhadap sampel kecil menunjukkan partisipan wanita yang punya kebiasaan begadang lebih mungkin mengalami kenaikan gula darah.

Dalam kondisi parah, hiperglikemia atau kadar gula darah tinggi dapat berujung pada penyakit kardiovaskular dan kerusakan ginjal.

2. Risiko penyakit jantung
Begadang bisa membahayakan jantung. Sebuah penelitian menemukan, setiap satu jam waktu tidur yang berkurang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung sebesar 11 persen.

3. Kenaikan berat badan
Seringkali begadang membuat mulut ingin mengunyah. Apa daya, berbagai camilan pun dilahap. Padahal, hal ini jelas tak baik jika dilakukan terus menerus.

Perut akan kembali merasa lapar saat tengah malam. Mengutip Health, kebiasaan begadang yang akan membawa Anda pada aktivitas ngemil akan menimbulkan masalah pada proses metabolisme tubuh.

Makan larut malam bisa merusak periode puasa alami tubuh. Kebiasaan ini juga bisa mengganggu kemampuan tubuh untuk membakar lemak.

4. Rasa lelah
Tak hanya durasi, waktu Anda tidur juga berpengaruh terhadap tubuh. Alih-alih beristirahat, tidur selama delapan jam (waktu ideal untuk tidur) yang dimulai pada dini hari akan membuat Anda lelah dan pusing.

5. Ganggu mood hingga depresi
Bahaya begadang yang perlu diwaspadai adalah gangguan perasaan (mood) hingga depresi. Studi pada 2015 yang dipublikasikan pada Depression and Anxiety menyebut, kebiasaan tidur larut membuat seseorang mengalami perubahan mood dengan sangat bervariasi.

Sedangkan studi pada 2008 yang dipublikasikan pada Personality and Individual Differences menemukan, orang yang tidur cukup dan bangun pagi lebih mudah berpikir dan mencapai kesepakatan.

Sementara itu, kebiasaan begadang dan bangun siang berisiko mengganggu emosi seseorang. Dengan begadang, seseorang akan mudah gugup, depresi, tak percaya diri, dan mudah berubah pikiran.

6. Risiko kematian lebih tinggi
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Chronobiology International menunjukkan bahwa orang yang begadang memiliki risiko kematian 10 persen lebih tinggi daripada mereka yang tidak.

Mengutip Pop Sugar, studi ini melibatkan 433 ribu orang dewasa yang diteliti selama 6,5 tahun.

7. Tekanan darah tinggi
Coba cek tekanan darah setelah Anda begadang semalaman. Studi pada 2013 menemukan, orang yang gemar melek semalaman 30 persen lebih mungkin mengalami kenaikan tekanan darah daripada mereka yang gemar bangun pagi.

Beberapa bahaya begadang di atas perlu dicermati untuk mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat.

Sumber CNNIndonesia. com




Perempuan dalam Lingkaran Pertanyaan “Kapan Nikah dan Punya Anak”

Foto : Ilustrasi Wanita memegang Clapperboard. FOTO/iStockphoto

ARB INdnesia, ARTIKEL – Pernahkah Anda ditanya seputar pernikahan atau anak? Beberapa waktu lalu saya baru saja dikomentari soal hal tersebut. Seorang kawan lama di SMA mengirimkan pesan Instagram untuk merespons unggahan saya yang berisi foto diri bersama rekan lain.

“Makanya cepet punya dedek dong,” tulis kawan perempuan saya.

Di waktu lain, saya pernah mendapat pernyataan nyinyir serupa ketika pertama kali bertemu tante dari pihak suami. Selepas bersalaman, tanpa basa-basi ia langsung mendaratkan pertanyaan tentang jumlah anak. Perbincangan kami kemudian diakhiri dengan senyum canggung saya dan respons basa-basi lainnya seperti, “Cepet-cepet lah, jangan ditunda-tunda.”

Ada lagi komentar senada datang dari kawan perempuan suami saya–yang bahkan tidak saya kenal namanya. Ia lancang menanyakan soal anak, dan bahkan menekankan pada suami saya, bahwa usia pernikahan kami sudah cukup lama untuk dikategorikan normal belum memiliki anak. Saya cuma bisa ngeloyor, meninggalkan ia yang masih ngoceh soal kebahagiaan berumah tangga versi dia.

Komentar paling tidak sopan saya dapatkan datang dari tetangga, yakni ibu dari teman sekolah saya. Saat tak sengaja bertemu di jalan, dengan santai ia memegang bagian perut saya tanpa izin, sambil membandingkan dengan anak perempuannya yang tengah hamil. “Kapan nih isi? Si Anggun aja udah dua kali.”

Seolah tanpa beban, komentar-komentar itu meluncur dengan mudahnya dari mulut seorang perempuan kepada perempuan lain. Mereka seperti merasa punya tanggung jawab untuk menyamaratakan jalan hidup orang sesuai standar kebahagiaan umum. Barangkali mereka tak sadar, basa-basinya bisa sangat menyakitkan dan melecehkan kelompoknya sendiri.

Demikian pula dengan urusan cari jodoh. Destia (36 tahun), sudah kenyang menelan stigma karena memutuskan melajang sampai hari ini. Sepuluh tahun lalu, ia pernah dijodohkan dengan anak teman ibunya. Tapi, karena kurang sreg, Destia menolak. Lucunya, sampai dua tahun setelah aksi perjodohan, sang ibu masih berusaha membikin ia jatuh cinta.

“Ibu bilang ‘Jangan galak-galak. Kasihan dia baru putus, cobalah kamu hibur dia’. Tapi aku bilang itu bukan urusanku,” kata Destia.

Komentar yang paling sering ia dapatkan adalah soal umur. Dalam konsensus umum negara kita, perempuan akan dianggap “enggak laku atau terlalu selektif” ketika belum menikah di usia 30 tahun. Jika batas waktunya tiba, bersiap-siaplah diberondong pertanyaan “kapan nikah?”

Ingat kasus Mice Cartoon yang menganalogikan perempuan seperti bola? Komikusnya, Muhammad Misrad, mengumpamakan perempuan umur 17 tahun seperti bola sepak, diperebutkan banyak laki-laki. Sementara perempuan umur 50 tahun ibarat bola golf, dipukul sejauh-jauhnya. Tapi Destia tak mau ambil pusing dengan stereotip itu. “Beli mangga di pasar aja milih yang bagus, masa nyari suami nggak milih,” ujar Destia, tegas.

Perempuan Bisa Lebih Bias terhadap Sesamanya

Konsensus sosial membentuk standar kebahagiaan yang berbeda bagi perempuan. Mereka dituntut menikah cepat dan punya anak untuk bisa dapat predikat ‘bahagia’. Komentar soal anak juga lebih sering menyasar perempuan yang sudah menikah, dibanding suami mereka.

Stigma kemandulan lebih lekat menempel pada perempuan. Padahal, menurut ilmu medis, persentase infertilitas antara perempuan dan laki-laki sama besar. Sementara standar yang sama tidak disematkan kepada laki-laki. Amat jarang bagi laki-laki mendapat komentar nyinyir soal pernikahan di umur yang menginjak kepala tiga.

Laki-laki lebih sering ditanya soal jabatan, atau pekerjaan–sesuatu hal yang bisa diusahakan. Pertanyaan yang sama tidak berlaku untuk perempuan. Mereka dilihat dari hal-hal yang kadang mereka sendiri tak punya kuasa untuk memperjuangkannya. Setinggi apa pun jabatan dan prestasi perempuan, mereka akan tetap ditanya soal nikah dan anak.

Harus diakui, banyak komentar semacam itu terlontar dari sesama perempuan, entah itu kerabat, teman, atau bahkan orang yang tak dikenal. Perempuan memang bisa bias terhadap sesamanya. Sebagaimana dilansir BBC, kecenderungan itu telah banyak diteliti. Penyebabnya adalah evolusi. Otak bawah sadar manusia memiliki kemampuan memproses suatu hal lebih besar daripada otak sadar. Ia bekerja dengan cara pintas, yang dikenal sebagai heuristik.

Heuristik merupakan bagian otak reptil manusia yang terbentuk dari pengalaman. Misal ketika pertama kali terkena api, kita mengaitkannya dengan panas. Seterusnya, otak akan mengasosiasikan api dengan panas.
Begitu juga dengan bias gender.

Ketika perempuan dibesarkan dalam lingkungan tidak proporsional, di mana laki-laki berada di posisi teratas, maka otak mereka akan mengaitkan laki-laki dengan “pemimpin dan sukses”–yang sebaliknya berlaku untuk deskripsi perempuan.

“Perempuan juga diasumsikan tidak kompeten, sementara laki-laki diasumsikan kompeten, sampai semua terbukti sebaliknya,” ungkap Joan Roughgarden, seorang ahli ekologi dan biologi evolusioner dari Amerika Serikat.

Untuk mendapatkan pengakuan yang sama, perempuan harus bekerja dua kali lebih keras dibanding laki-laki. Teori itu sudah dibuktikan oleh Catherine Nichols, seorang penulis asal Boston. Ia pernah mengirim sinopsis novelnya kepada 50 agen menggunakan nama asli tapi hanya mendapat dua respons positif. Sementara ketika menggunakan nama laki-laki, Nichols menerima 17 balasan positif.

Pada kisah Destia, misalnya, ia perempuan independen yang menguasai banyak bahasa, termasuk Spanyol. Ia sering bertemu dan mewawancarai pesepakbola dunia untuk kantor berita asing–posisi yang jarang didapat jurnalis perempuan. Ia juga punya mimpi untuk mengejar gelar master tahun depan. Begitu banyak hal positif dari dirinya, tapi yang dibahas oleh orang selalu tentang pernikahan.

Padahal, dengan hidupnya saat ini, Destia bisa jalan-jalan ke berbagai penjuru dunia tanpa harus pusing memikirkan izin dari pasangan atau urusan anak. Bertemu dengan berbagai orang, menjalin relasi, dan meraih posisi. Rasa-rasanya bahagia memang bisa ditempuh dengan berbagai cara, bukan melulu soal lulus tepat waktu, menikah, dan punya anak.

Sumber Tirto. id




Tidur Pakai Bra, Berbahaya atau Malah Bermanfaat untuk Kesehatan?

Ilustrasi bra. Foto: Dok. iStock

ARB INdonesia, KESEHATAN – Saat tidur, sebagian wanita memilih untuk mengenakan bra karena disebut bisa membuat payudara melorot. Namun, ada juga yang menganggap tidur mengenakan bra justru tak baik untuk kesehatan, selain soal kenyamanan.

Jadi apakah tidur mengenakan bra bisa bermanfaat bagi kesehatan dan berpengaruh pada bentuk atau kekencangan payudara? Apakah kita sebaiknya tidur mengenakan bra, atau tidak?

“Payudara yang melorot merupakan fakta yang tak bisa ditolak pada wanita semakin ia bertambah umur. Itu disebabkan jaringan ikat penyokong payudara kehilangan kelenturannya seiring waktu,” jawab Dr Seth Rankin, pemilik London Doctors Clinic, dikutip dari Cosmopolitan.

Tentu ada banyak faktor yang bisa berkontribusi menyebabkan payudara melorot, lanjutnya. Yakni termasuk kehamilan, menyusui, genetik, merokok, penurunan atau kenaikan bobot drastis, dan mungkin juga aktivitas dengan intensitas tinggi.

Ia menyebut cukup sulit untuk mengukur apa dampak mengenakan bra saat tidur, karena banyak faktor lain yang lebih memiliki dampak signifikan. Tapi ia menegaskan bahwa belum tentu mengenakan bra tidak berdampak pada melorotnya payudara.

“Coba kita lihat dari sudut pandang sains. Payudara melorot ke bawah disebabkan oleh tarikan gravitasi pada massa yang ada di payudaramu. Maka dari itu mereka yang memiliki payudara besar akan lebih mudah melorot, karena banyaknya lemak dalam jaringan yang akan tertarik gravitasi,” terangnya.

Kemudian ia mengatakan, saat kita berbaring, efek gravitasi mendorong jaringan payudara kembali ke dada, bukan lagi ke bawah ke arah kaki. Sehingga mengenakan bra sebenarnya tidak berdampak-dampak amat, karena payudara secara alamiah akan terdorong kembali ke dada.

Berdasarkan logika gravitasi ini, memakai bra atau tidak dalam posisi berbaring yang lama mungkin bisa mencegah cepatnya payudara melorot. Sayangnya, untuk bisa mencapai hal ini kita membutuhkan waktu berbaring lebih dari 20 jam per hari.

Di sisi lain, mengenakan bra yang mengikat daerah dada juga bisa menyebabkan kulit untuk pulih dan menyebabkan ‘bekas’ pada kulit karena penggunaan bra yang kencang. Di area dada banyak melintang otot, pembuluh darah, jaringan limfe hingga saraf. Oleh karena itu jika bra terlalu kencang, bisa saja membatasi suplai darah ke payudara dan area sekitarnya.

“Sama seperti sistem limfe, bra yang kencang bisa membatasi aliran limfe ke banyak kelenjar limfe di sekitar payudara dan ketiak, mengganggu fungsi vital sistem tubuh untuk membuang racun,” jelasnya lagi.

Oleh karena itu, ia menyarankan untuk melepaskan payudara apabila ingin tidur. Dan tak perlu khawatir payudaramu akan melorot karenanya.

Sumber detikcom




BPJS Kesehatan Tanggung Perawatan Penyakit Kejiwaan

ARB INdonesia, JAKARTA – Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dengan Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang dikelola oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan memberi perlindungan bagi penderita gangguan kesehatan mental.

Kepala Humas BPJS Kesehatan M. Iqbal Anas Ma’ruf menyatakan, program JKN KIS mencakup pelayanan kesehatan yang dibutuhkan oleh masyarakat termasuk gangguan kesehatan mental.

Dia menyebutkan, manfaat yang tidak dijamin secara tegas sudah dibunyikan pasal 52, Peraturan Presiden (Perpres) 82 tahun 2018.

“Penyakit kejiwaan yang secara medis sudah ditegakkan masuk dalam JKN KIS. Pelayanan kesehatan tetap sesuai prosedur pelayanan kesehatan berjenjang,” ujar Iqbal seperti dikutip dari Kotan. co.id, Senin (7/10/2019).

Dengan demikian, peserta BPJS Kesehatan bisa mendapatkan pengobatan dan terapi gangguan kesehatan mental secara gratis. Tentu ada prosedur yang harus dilakukan guna mendapatkan manfaat tersebut.

Peserta harus mendatangi fasilitas kesehatan (Faskes) tingkat pertama yakni puskesmas atau klinik setempat.

Bila kasusnya adalah gangguan kesehatan mental dan tak bisa diatasi di Faskes pertama, maka dokter akan memberikan rujukan ke rumah sakit umum maupun rumah sakit jiwa yang memiliki kompetensi kejiwaan yang telah bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.

Bisa juga langsung mendatangi rumah sakit bila dalam kondisi darurat yang membuat pasien bisa cacat permanen.

“Manfaat medis yang diterima oleh peserta terkait gangguan kesehatan mental sama. Hal yang membedakan hanya manfaat non medis seperti kamar dan sebagainya, sesuai kelas ruang perawatan. Namun untuk orang dengan gangguan jiwa atau mental juga ditanggung oleh JKN KIS, tapi saat dirawat di rumahsakit jiwa tidak ada perbedaan kelas,” papara Iqbal.

Dia menyatakan, program JKN KIS untuk gangguan kesehatan mental sudah digunakan di seluruh Indonesia.
JKS KIS juga sudah bekerja sama dengan seluruh rumah sakit jiwa di seluruh Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari manfaat yang diberikan oleh JKN KIS bagi penderita gangguan kesehatan jiwa.

“Makanya menjadi peserta JKN KIS, dengan bergotong royong membayar iuran. Semua warga termasuk penderita gangguan jiwa terjamin kesehatannya. Pada 2018 lalu biaya terkait jiwa senilai Rp 1,2 triliun. Untuk tahun ini, nilainya akan berbanding lurus dengan penambahan peserta,” tutur Iqbal.

Hingga September 2019, terdapat 221,2 juta peserta program JKN. Peserta tersebut tersebar di seluruh Indonesia. Sedangkan jumlah fasilitas kesehatan JKN yang sudah bekerja sama dengan program ini mencapai 27.315fasilitas kesehatan per kuartal ketiga 2019.

Fasilitas kesehatan tersebut terdiri dari puskesmas, dokter praktik perorangan, dokter gigi, RS Kelas D Pratama, Klinik Utama, Apotik PRB dan Kronis, dan Optik.

Adapun besaran iuran bulanan yang harus dibayar peserta JKN-KIS bagi Peserta Pekerja Penerima Upah yang bekerja di BUMN, BUMD dan Swasta sebesar 5 persen dari gaji per bulan dengan ketentuan, 4 persen dibayar oleh Pemberi Kerja dan 1 persen dibayar oleh peserta.

Adapun iuran bulanan bagi peserta mandiri sebesar Rp 25.500 untuk manfaat pelayanan di ruang perawatan Kelas III. Senilai Rp 51.000dengan manfaat pelayanan di ruang perawatan Kelas II. Sebesar Rp 80.000 dengan manfaat pelayanan di ruang perawatan Kelas I. 

Sumber Kompascom