ARB INdonesia, ACEH – Hari ini tepat 15 tahun usai bencana gempa dan tsunami Aceh. Kedahsyatan bencana itu merenggut 227 ribu korban di berbagai negara.
Jumlah korban terbesar berada di Indonesia dengan korban sekitar 130 ribu sampai 160 ribu jiwa. Bencana besar ini pun tercatat sebagai salah satu bencana alam yang paling mematikan dalam satu abad terakhir.
National Geographic mencatat tinggi tsunami yang menerjang setinggi 30 meter. Tsunami Aceh itu terjadi akibat gempa magnitudo 9,1 yang terjadi di lepas pantai barat Sumatera Utara.
Kala itu, sistem pendeteksi tsunami belum umum digunakan. Apabila dulu sudah ada alat pendeteksi, jumlah korban jiwa yang bisa selamat diprediksi mencapai 51 ribu orang.
Namun itu hanya bagi korbanyang tinggal di Sri Lanka dan India. Pasalnya, butuh dua jam bagi tsunami untuk mencapi area tersebut.
Sementara, terjangan tsunami mencapai Aceh hanya dalam waktu 30 menit saja. Apabila sudah ada pendeteksi tsunami, banyak warga yang akan tetap kesulitan menuju tempat tinggi.
Seluruh dunia pun turut memperhatikan bencana di Aceh. Mungkin banyak pula yang masih ingat ketika televisi menampilkan orang-orang berkumpul di Masjid Baiturrahman yang kokoh berdiri di tengah terjangan ombak.
Masyarakat internasional pun ikut mengulurkan tangan untuk membantu korban. Pada 29 Desember 2005, perwakilan Indonesia, Thailand, Sri Lanka, Maladewa, dan Malaysia diundang ke Kantor PBB di New York untuk membahas bantuan.
Palang Merah Internasional, Takhta Suci Vatikan, dan Uni Eropa turut memberikan bantuan. Saat itu, korban baru diketahui berjumlah 40 ribu orang.
Untuk mengenang gempa dan tsunami Aceh, pemerintah pun mendirikan Museum Tsunami pada 2008 lalu. Arsiteknya adalah Ridwan Kamil yang kala itu masih seorang dosen dari Institut Teknologi Bandung.
Museum itu mengambil konsep rumah tradisional Aceh. Isi museumnya terdapat foto-foto korban dan kisah dari para survivor bencana gempa dan tsunami Aceh serta berbagai ornamen bernuansa Islami.
Kisah Umi Kalsum
Pantai Ulee Lheue di Banda Aceh yang sempat terkena tsunami pada 2004. (dok.Instagram @ash_bharlly/https://www.instagram.com/p/Bdo4c7TnLuu/Henry
26 Desember 2004 seorang wanita bernama Umi Kalsum sedang sibuk menanam bunga di Desa Alu Naga, Kabupaten Aceh Besar. Perempuan yang tengah larut menggeluti hobinya itu tiba-tiba dikagetkan oleh guncangan gempa dengan episentrum di lepas pesisir barat Sumatera, Indonesia, tepatnya di bujur 3.316° N 95.854° E, kurang lebih 160 km sebelah barat Aceh sedalam 10 kilometer.
Kala itu, sekitar pukul 07.58 WIB, gempa berkekuatan 9,1 skala Richter (SR) menghantam Aceh, Pantai Barat Semenanjung Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, Sri Lanka, bahkan sampai Pantai Timur Afrika. Beberapa menit kemudian, gelombang tsunami menerjang.
Umi langsung bergegas lari. Sang anak sempat memintanya untuk tidak lari, tapi wanita yang saat itu berumur 48 tahun memilih berlari mengajak cucunya.
Baru beberapa meter berlari, tubuh Umi dan cucuknya terhempas ombak tsunami. “Kami sudah teraduk-aduk dalam air, sesaat sempat saya lihat cucu saya dalam air, saya coba raih tapi tidak dapat, yang ada tangan saya kesangkut di pagar, ini hampir putus,” cerita Umi.
Umi Kalsum pun hilang kesadarannya karena terombang-ambing gelombang pekat tsunami. Tapi tiba-tiba ada ular yang mendekat dan melilitnya. “Saya sadar pertama sudah di jembatan ini (Jembatan Kajhu), ya subhanallah mulut ular itu di depan mata saya, tubuh saya itu dililitnya,” ujar Umi Kalsum dalam bahasa Aceh.
Si ular terus membawanya mendekat ke relawan. Tiga pemuda dari PMI kemudian menjemputnya dan melepaskan lilitan ular dari tubuhnya. “Sempat saya bilang sama anak itu, pas ditarik saya, nak ada ular, tidak apa-apa katanya dia nggak ganggu kita,” cerita nenek yang juga kehilangan 30 sanak saudaranya saat tsunami menghantam desanya.
Selain itu Umi juga melihat ayam jago miliknya juga selamat berenang di atas sehelai papan tidur miliknya. “Ayam meutuah (mulia) itu juga selamat di atas papan tidur saya, itulah mungkin kuasa Allah,” ujar Umi.
Sumber liputan6.com https://m.liputan6.com/global/read/4141830/26-12-2004-memperingati-15-tahun-bencana-tsunami-aceh?medium=Headline__mobile&campaign=Headline_click_5
Nikmati Promo Khusus Tahun Baru dari Inhil Pratama dan Tembilahan Pratama, Yuk Pesan dari Sekarang
ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Hotel Inhil Pratama dan Tembilahan Pratama lagi bikin promo seru, nih. New Year’s Eve Package, khusus menyambut tahun baru 2020.
Marketing Hotel Inhil Pratama, Sri Afrida Yuliani mengatakan khusus New Year’s Eve Package, menyediakan kamar beberapa type kamar yang include dengan dinner dan breakfast dengan konsep khusus yang dijamin akan membuat suasana malam tahun baru menjadi sangat romantis.
Inhil Pratama menyuguhkan type Deluxe room IDR 599.000,- net. Sedangkan untuk kamar type Superior IDR 350.000,-net, type Standar III room IDR 300.000.,-.
“Semua type kamar khusus di Inhil Pratama include dinner dan breakfast untuk 2 orang,” kata Wanita yang biasa disapa Iin tersebut saat berbincang dengan medialokal.co, Rabu (24/12/2019).
Dikatakannya, Kalau dinnernya seperti menu-menu dinner hotel, yang pasti menu lengkap.
Sekedar diketahui, Hotel Inhil Pratama dan Tembilahan Pratama merupakan tempat yang sempurna untuk menikmati liburan di Tembilahan.
Dari kedua hotel ini, para tamu dapat menikmati akses mudah ke semua hal yang dapat ditemukan di sebuah kota yang aktif ini.
Yang tidak ketinggalan adalah akses mudah dari hotel ini ke pasar jongkok untuk berwisata belanja.
Semua akomodasi tamu dilengkapi dengan fasilitas yang telah dirancang dengan baik demi menjaga kenyamanan.
Disamping itu, hotel juga oleh-oleh khas Inhil seperti amplang udang dan Madu Asli dari Hutan Inhil.
Nikmati pelayanan tidak terbandingkan dan penginapan yang sungguh bergengsi di Inhil Pratama di Tembilahan.
Information or reservation please contact Inhil Pratama Jalan Guru Hasan no 88 Tembilahan-Inhil-Riau, (0768)-21105, 21107, 7000988 atau di no HP 0853-7102-5555, No WA 0823 8180 2323. (arb)
Mas Yudi Adalah Kakiku, dan Mas Agung Adalah Mataku
Sugeng Wahyudi (), dan Agung () selalu bersama untuk berjualan kerupuk untuk nafkah sehari-hari, dan bergantian mengantar ke tempat ibadah. Foto/SINDOnews/Yuswantoro
ARB INdonesia – “Mas Yudi itu sudah menjadi kaki saya, kemanapun saya pergi selalu bersamanya,”. “Mas Agung adalah mata saya, dia menunjukkan jalan bagi langkah kami berdua,”.
Dalam berjalan mencari nafkah. Menyusuri kerasnya jalanan, untuk menjual kerupuk, dan mencari nafkah untuk menyambung hidup. Sugeng Wahyudi (32), dan Agung (29) selalu bersama.
Menggunakan sepeda roda tiga yang telah dimodifikasi, keduanya selalu setia menyusuri jalanan yang tidak ramah lagi bagi keduanya. Debu, terik mentari, dan bising suara klakson, serta mesin-mesin selalu menjadi pengiring setiap tangkah mereka.
Sugeng Wahyudi, yang akrab disapa Yudi, adalah penganut Katolik yang taat. Almarhum bapaknya asli Papua, sementara ibunya orang Blitar. Dia dibesarkan di lereng selatan Gunung Kawi, tepatnya di Desa Nyawangan, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar.
Sejak lahir, Yudi mengalami keterbatasan penglihatan. Dia buta. Saat masih kecil, dia dibawa ke Yayasan Bhakti Luhur Malang, untuk menempuh pendidikan di sekolah luar biasa (SLB), dan hidup di asrama.
Sementara Agung pemeluk Islam yang taat, berasal dari Yogyakarta. Dia penyandang tuna daksa. Kakinya memiliki keterbatasan, sehingga menyulitkannya untuk bergerak. Kemana-mana, Agung selalu berada di atas sepeda roda tiga.
Agung berada di depan sebagai pengendali setir sepeda roda tiganya. Dia juga menjadi pemandu arah kemana mereka harus berjalan. Sementara Yudi yang memiliki penglihatan terbatas, namun fisik kaki dan tangannya normal, berjalan di belakang mendorong sepeda.
Yudi menjadi “kaki” penggerak sepeda roda tiga, untuk bisa terus melaju menyusuri jalanan. Sementara Agung, menjadi “mata” yang menentukan arah kemana keduanya harus berjalan berjualan kerupuk.
Bukan hanya berjalan di sekitaran rumah singgah “Komunitas Rumah Sahabat” saja. Keduanya sudah bergerak kemana-mana. Bahkan, kemarin keduanya baru saja sampai di rumah singgah “Komunitas Rumah Sahabat” di Jalan Bandulan, Kelurahan Bandulan, Kecamatan Sukun, Kota Malang.
Empat hari lamanya, keduanya meninggalkan rumah singgah itu untuk berjualan kerupuk. Mereka berjalan menyusuri jalanan Kota Malang, menuju ke Kepanjen, Kabupaten Malang, dan berakhir di Kesamben, Kabupaten Blitar, lalu kembali lagi ke Kota Malang.
Jarak tempuh sepanjang 2 x 60 km tersebut, mereka tempuh selama empat hari perjalanan. Kerupuk dalam keranjang mampu mereka jual habis. “Selama berada di perjalanan ya kalau capek istirahat di SPBU, mushola, ya dimana saja tempat yang aman dan nyaman bisa buat tidur,” ujar Yudi, sambil mengumbar tawanya yang khas.
Pemuda yang selalu ceria ini, begitu bahagia hidup bersama para sahabatnya. Berkat Agung, dia bisa berjalanan kemana saja. Dia juga bisa mengikuti Misa Minggu di Gereja Katolik Paroki Vincentius A. Paulo di Jalan Langsep, Kota Malang.
Jarak rumah singgah “Komunitas Rumah Sahabat” dengan gereja tersebut, sekitar 3 km. Jalannya berupa turunan tajam, dan tanjakan. Lalulintasnya sangat padat, karena menjadi jalur menuju daerah industri di Desa Pandanlandung, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang.
Yudi penuh semangat datang ke gereja, diantarkan Agung sahabatnya. Saat Yudi khusuk mengikuti Misa Minggu, Agung yang pemeluk Islam taat, dengan setia menanti di luar gereja. “Kadang saya menunggu Yudi ikut Misa Minggu, sambil jualan kerupuk di luar gereja,” ujar Agung.
“Jadi semangat kalau ke gereja ada yang mengantarkan. Kalau tidak ada yang mengantarkan, ya saya kesulitan jalannya. Bisa nabrak-nabrak jalannya,” kata Yudi sambil terkekeh penuh keakraban.
Pergi dan pulang mereka selalu bersama. Demikian juga saat Agung harus menjalankan ibadah sholat lima waktu di mushola, atau saat menjalankan Sholat Jumat di masjid, Yudi dengan setia mengantarkannya.
“Kalau Mas Agung sholat, saya menunggu di luar masjid. Sambil duduk-duduk saja. Beberapa kali saya juga ditanya oleh umat yang akan sholat, karena tidak masuk ke Masjid. Ya saya jawab kalau saya hanya mengantarkan teman,” kata Yudi.
Sama halnya dengan Yudi, Agung juga sangat semangat untuk sholat ketika diantarkan oleh Yudi. “Ke mushola atau masjid jadi lebih mudah, soalnya Mas Yudi yang mengatarkan. Saya bisa ikut sholat berjamaah,” ujar Agung.
Mereka hidup saling melengkapi, dalam segala keterbatasan yang dimilikinya. Mereka tidak pernah merasa tersekat-sekat, meskipun hidup berbeda agama. “Belum tentu juga orang yang seiman dengan saya bersedia mengantarkan saya ke gereja seperti Mas Agung,” ujar Yudi, sambil tertawa lepas.
Kedua pemuda ini sudah beberapa tahun ini tinggal bersama di rumah singgah “Komunitas Rumah Sahabat”. Mereka yang tinggal di rumah singgah tersebut, rata-rata para penyandang disabilitas, mulai dari tuna daksa, buta, serta mengalami gangguan penglihatan.
Rumah ini menghadirkan hidup nyata dalam kebhinekaan. Bisa saling melengkapi satu sama lain, tanpa memandang suku, ras, golongan, dan agama. Mereka hidup dalam cinta kasih yang nyata, saling tolong-menolong, bergotong royong, membangun toleransi, dan bekerja keras untuk hidup dan menghidupi.
Tak perlu banyak teori dan wacana tentang ke-Indonesiaan, persatuan, serta Pancasila untuk mewujudkan Bhineka Tunggal Ika di rumah singgah ini. Toleransi, kerja keras, persahabatan, dan persaudaraan sejati itu mengalir begitu indah dalam kehidupan setiap hari.
“Kami selalu hidup bersama sebagai anak-anak Indonesia, yang tumbuh dalam segala perbedaan dan keterbatasan,” ujar Akhiles Alokako (50), pendiri Komunitas Rumah Sahabat.
Baginya, rasa cinta kepada Indonesia, dan Pancasila, tidak hanya sekedar banyak wacana dan teori, tetapi langkah kongkrit dalam kehidupan sehari-hari. “Kami yang penuh keterbatasan, mengamalkannya semampu yang kami bisa di kehidupan sehari-hari,” tuturnya.
Pria asli Bajawa, Flores, NTT tersebut, tinggal di Kota Malang, sejak 22 tahun silam. Dia datang berniat menjadi pastor, dan ingin mengabdikan diri untuk kemanusiaan. Langkahnya ternyata membawanya ke Yayasan Bhakti Luhur, dan menjadi bagian dari kerasulan awam untuk melayani anak-anak penyandang disabilitas.
Keahliannya bermusik, membawanya menjadi guru musik untuk para penyandang disabilitas, sampai dia memilih keluar dari Yayasan Bhakti Luhur pada tahun 2007, dan mulai merintis Komunitas Rumah Sahabat.
Rumah singgah yang harus berpindah-pindah tempat, karena harus menyesuaikan dengan kemampuan keuangan untuk mengontrak rumah tersebut, awalnya diisi oleh anak-anak jalanan. “Mereka sudah banyak yang mandiri sekarang,” ujar Akhiles.
Di kemudian hari, Komunitas Rumah Sahabat ini bukan hanya menampung anak-anak jalanan. Tetapi, juga para penyandang disabilitas. Menurut Akhiles, banyak yang enggan mengurus para penyandang disabilitas, makanya Komunitas Rumah Sahabat hadir sebisa mungkin untuk mereka.
Guru musik yang sempat mengajar ke sejumlah sekolah di Kota Malang, dan Lumajang tersebut, terpaksa juga harus mengalami keterbatasan untuk bergerak, setelah dia menjadi korban kecelakaan. Keterbatasan itu, membuatnya fokus bermusik bersama para penyandang disabilitas di Komunitas Rumah Sahabat.
Dia sudah sangat senang, ketika persaudaraan sejati yang dibangun tanpa basa-basi oleh para penyandang disabilitas di Komunitas Rumah Sahabat, mulai dicontoh oleh masyarakat kampung yang tinggal di dekat rumah singgah.
Dicontohkannya, suatu hari pernah melihat ibu-ibu yang mengenajak hijab di dekat rumah singgah, pergi mengatarkan keluarganya yang menyandang disabilitas ke gereja untuk beribadah. “Perubahan-perubahan kecil ke arah yang lebih baik di sekitar kami, sudah sangat membuat kami bahagia,” ungkapnya.
Di rumah singgah Komunitas Rumah Sahabat tersebut, kini juga menjadi tempat untuk para disabilitas berkarya dan hidup mandiri. Bukan hanya berjualan kerupuk, mereka juga bermusik.
Ada dua grup musik dengan genre musik berbeda yang dikembangkan mereka. Satu grup musik bernaama Netra Laras, yang lebih banyak beraliran musik Capursari. Pemainnya Akhiles, Yudi, Agung, Joko, Rofi.
Sementara, satu grup musik lagi beraliran pop, yakni RJY. Nama itu singkatan dari tiga nama pemainnya, yakni Rofi, Yudi, dan Joko. Akhiles biasa mengisi keyboard melodi dua, sementara Yudi merupakan pemegang gitar melodi dan vokal.
Joko yang mengalami keterbatasan penglihatan, atau lowfision, merupakan pemain keyboard melodi satu. Rofi seorang penyandang tuna netra, menjadi pemain bass, dan Agung adalah penggebuk drum yang handal, meskipun mengalami keterbatasan pada kakinya.
Mereka merupakan sahabat disabilitas dewasa dan remaja, yang sudah lepas dari sekolah dan harus hidup mandiri. Selain berjualan kerupuk dan ngamen, mereka juga menerima undangan untuk bermain musik mengisi acara.
Akhiles menegaskan, yang mereka butuhkan bukanlah belas kasihan. Tetapi kesempatan yang sama layaknya orang normal pada umumnya. “Kami punya kemampuan dan kemauan, meskipun banyak keterbatasan. Yang kami butuhkan ruang apresiasi serta kesempatan, bukan belas kasihan,” tegasnya.
Hadirnya media sosial, juga mulai mereka manfaatkan untuk mempromosikan karya-karya musik RJY dan Netra Laras. Video sederhana saat mereka tampil di berbagai kesempatan, telah mereka unggah di akun youtube Netra Laras Music.
Mereka juga pernah rekaman dan mengeluarkan album dalam bentuk VCD. Sayangnya, produksi yang telah dibuat dengan modal patungan itu sulit dipasarkan. Namun, semua itu tidak pernah membuat mereka patah semangat untuk hidup mandiri.
Semangat, kerja keras, kebersamaan, serta sikap saling menghormati dalam segala perbedaan dan keterbatasan yang dihadirkan para penyandang disabilitas ini, menghadirkan contoh yang baik bagi masyarakat. Mereka mampu hidup berdampingan dengan tetangga dan saling menghormati, tanpa sedikitpun meminta belas kasihan.
Yudi, Agung, Joko, Rofi, Akhiles, serta sahabat-sahabat disabilitas lainnya di rumah singgah Komunitas Rumah Sahabat, memiliki banyak keterbatasan fisik, tetapi mereka memiliki hati seluas samudera untuk menerima segala perbedaan dan keterbatasan itu dalam persaudaraan sejati.
Sumber Sindonews.com https://jatim.sindonews.com/read/18100/1/mas-yudi-adalah-kakiku-dan-mas-agung-adalah-mataku-1576977173
Suaminya Jadi Pilot Pesawat yang Angkut Harley Selundupan Ari Askhara hingga Dituduh Terima Uang Panas, Iis Dahlia Geram: Orang Tersakiti Loh, Pilot itu Nggak Ada yang Bisa Korupsi!
ARB INdonesia, JAKARTA – Pedangdut Iis Dahlia kembali dibuat geram. Masih belum usai perihal kasus penyelundupan Harley Davidson dan sepeda Brompton yang menyeret nama suaminya.
Kali ini isu perihal korupsi juga disangkutkan dengan sang suami.
Bukan tanpa sebab, suami Iis Dahlia yang bernama Satrio Dewandono memang diketahui sebagai pilot pesawat Garuda Indonesia yang menyelundupkan barang ilegal tersebut dari Perancis.
Akibatnya, sang suami kerap dikait-kaitkan dengan kasus penyelundupan mantan Dirut Garuda Ari Askhara karena keterlibatannya.
Bahkan netizen sempat mempertanyakan apakah suami Iis juga ikut korupsi.
Gara-gara hal tersebutlah Iis mengaku kesal dan geram karena sang suami terus menerus diserang.
Baru-baru ini, dalam tayangan Insert yang diunggah kanal YouTube Trans TV Official pada Rabu (18/12/2019) Iis langsung blak-blakan menyangkal.
“Orang tersakiti loh, orang kerja dari pagi ketemu pagi dibilangnya korupsi,”
“Korupsi dari mana artis?”
“Duit negara mana yang gue pake?” ucap Iis Dahlia saat diwawancara apakah dirinya ikut korupsi.
“Ada nggak duitnya temen saya yang gue pake, nggak ada,”
“Gue utang ama bank, dan gue bayar, itu resiko gue,” tambah Iis Dahlia.
Bahkan saat nama suaminya dikait-kaitkan dengan korupsi, Iis Dahlia dengan lantang menyangkal dan mengatakan jika profesi suaminya tidak akan memiliki celah untuk bisa korupsi.
“Lakik gue kerja,”
“Pilot itu gak ada yang bisa korupsi, ada jam terbang, ada gaji yang pasti,” beber Iis Dahlia.
Tak cukup sampai di situ, dilansir dari Grid.ID, Iis Dahlia ternyata merasa tak nyaman saat harta kekayaan yang dimilikinya ikut disorot netizen.
“Kenapa rumah tangga gue, kenapa harta gue yang diudul-udul. Gue kerja 32 tahun,”
“Dari SMP kelas 2 udah kerja loh, sampe sekarang, tiap hari, 32 tahun hampir tiap hari aku kerja,” tutur Iis saat dijumpai di kawasan Tendean, Mampang, Jakarta Selatan.
Sumber grid.id https://www.grid.id/read/041961102/suaminya-jadi-pilot-pesawat-yang-angkut-harley-selundupan-ari-askhara-hingga-dituduh-terima-uang-panas-iis-dahlia-geram-orang-tersakiti-loh-pilot-itu-nggak-ada-yang-?page=3
Yuni Shara Blak-blakan Soal Trauma KDRT dan Pakai Alat Bantu Seks Selama Menjanda
Yuni Shara membuat pengakuan soal KDRT yang pernah dialaminya, termasuk memilih untuk menggunakan alat bantu seks ketimbang menikah lagi.
ARB INdonesia – Pernikahan pertama penyanyi Yuni Shara dengan Raymond Manthey pada tahun 1993 silam, berakhir dengan perceraian.
Pernikahan Yuni Shara dengan Raymond Manthey memang hanya bertahan 4 bulan, namun ternyata meninggalkan trauma mendalam dalam kehidupan pribadi Yuni Shara sampai sekarang.
Tak banyak diketahui sebelumnya, ternyata Yuni Shara pernah mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) ketika menjalani pernikahan pertamanya dengan Raymond Manthey.
Saking trauma dengan kehidupan pernikahannya yang dipenuhi dengan kekerasan, Yuni Shara merasakan imbasnya sampai ke kehidupan seksualnya.
Pun, trauma itu juga belum sembuh benar ketika Yuni Shara memutuskan kembali menikah untuk yang kedua kalinya dengan Henry Siahaan pada tahun 2002 silam.
Sama dengan nasib pernikahan pertamanya, Yuni Shara dan Henry Siahaan akhirnya bercerai pada tahun 2008.
Sayangnya, meskipun sudah menikah lagi, Yuni Shara belum bisa benar-benar mengobati rasa traumanya.
“Dari aku nikah pertama, itu aku sudah di-KDRT setiap hari,” kata Yuni Shara saat berbincang dengan Deddy Corbuzier dalam channel YouTubenya yang tayang 18 Desember 2019.
“Itu yang (pernikahan) pertama aku masih muda, jadi itu sangat membekas,” kata Yuni Shara.
“Jadi aku enggak terlalu kepengin (berhubungan seksual) waktu itu. Jadi kalau aku berhubungan, aku (cuma) melayani, iya.”
“Kalau dia marah, dia kasar. (Setelah itu) dia minta maaf berlebihan, psyco,” ceplos Yuni Shara.
“Bagus aku enggak gila, yang dilakukan itu menyakitkan banget, tapi mungkin Tuhan pengin saya melakukan itu, jadi aku selalu accepted, jadi aku berdamai dengan diri aku terus.”
Enam tahun menjalani pernikahan dengan Henry Siahaan, Yuni Shara mengaku masih mengalami trauma dengan lawan jenis.
Bahkan, Deddy Corbuzier sendiri terkejut ketika Yuni Shara mengamini jika sampai saat ini dia masih mengalami trauma jika bersentuhan dengan laki-laki.
“Karena KDRT, lu jadi trauma sama sentuhan?” tanya Deddy Corbuzier.
“Awalnya iya,” jawab Yuni Shara.
“Jadi lu enggak menikmati? Waktu sexual intercourse?” tanya Deddy Corbuzier lagi.
“Ya sangat enggak dong, pura-pura. Aku enggak tau rasanya orgasm. Jadi selama menikah lagi, aku (cuma) melayani, iya,” jawab kakak dari Krisdayanti itu.
Permasalahan domestik yang dibongkar habis-habisan oleh Yuni Shara ini, membuat Yuni pada akhirnya memilih untuk mengambil jalan pintas.
Yuni Shara mengakui dirinya enggan memulai hubungan percintaan lagi karena tak mau disulitkan dengan segudang keribetannya.
Sampai pada akhirnya Yuni Shara menyebutkan kalau dia memilih untuk mencari ‘teman yang tak merepotkan’ alias alat bantu seks untuk memenuhi kebutuhannya.
“Sudah umur tua nih, aku pergi lah ke Holland, saya pergi ke sex shop,”
“Karena enggak ada yang tau aku (di Holland), jadi aku tanya-tanya aja.”
“Sejak itu aku punya ‘teman’,” kata Yuni Shara mengaku tanpa malu-malu.
Yuni Shara punya alasan tersendiri mengapa dia lebih memilih untuk menggunakan alat bantu seks yang dia beli di Amsterdam, Belanda, ketimbang menikah lagi.
“Enggak ngerepotin, aku bisa atur sendiri, aku bisa simpan sendiri, that’s my bestfriend,” aku Yuni Shara.
Usai membuat pengakuan mengejutkan itu, Yuni Shara mengajak perempuan untuk tak malu menyandang status sebagai janda.
Bagi Yuni Shara, 12 tahun menyandang status itu, membuatnya bisa lebih banyak berkarya dan menghargai serta menyayangi diri sendiri.
Baginya, bermanfaat bagi orang lain, terutama orang-orang di sekitarnya, adalah hal yang paling penting.
Terbukti, kini Yuni Shara memiliki sebuah sekolah berbiaya murah meriah di kampung halamannya, Batu, Jawa Timur.
Sumber grid.id https://www.grid.id/amp/041959234/yuni-shara-blak-blakan-soal-trauma-kdrt-dan-pakai-alat-bantu-seks-selama-menjanda
Blak-blakan di Hadapan Deddy Corbuzier, Yuni Shara : Aku Enggak Tahu Rasanya Orgasme
Yuni Shara. Foto : Instagram
ARB INdonesia, ‘FAKTA’ – mengejutkan diungkapkan penyanyi senior tentang kehidupannya berumah tangga yang telah dua kali mengalami kegagalan. Paling mencengangkan, kakak kandung Krisdayanti ini mengaku hampir tidak pernah mengalami orgasme.
Ini tak terlepas dari pengalaman pahit masa lalu pada pernikahan pertama, dimana Yuni jadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). “Dari aku nikah pertama itu aku sudah di-KDRT setiap hari. Yang pertama kenapa, aku masih muda, itu sangat membekas. Jadi aku enggak terlalu kepengen (berhubungan seks), jadi kalau berhubungan aku melayaninya,” ujarnya dalam tayangan Youtube Channel, Deddy Corbuzier.
Sakit dan luka hati itu sangat membekas bagi Yuni. “Karena KDRT sangat enggak menikmati hubungan seksual, pura-pura (menikmati). Aku enggak tahu rasanya orgasme, dulu,” jelasnya.
Bahkan ini terus terbawa ke hubungan pernikahan selanjutnya. Jikapun harus melakukan hubungan suami istri, Yuni harus susah payah mulainya. “Terus berhubungan itu susahnya setengah mati, jadi selama aku menikah lagi, selama itu aku melayaninya (suami saat itu). Aku perempuan Jawa yang kalau sudah pasangan, aku mengabdi,” ungkapnya.
Dan secara gamblang, dia menyebut, “aku hampir tidak pernah orgasme dengan pria,”. Ya, pria, kini Yuni punya cara sendiri memuaskan hasrat sebagai manusia.
Meski tak menyebutkan, namun dia menyiratkan, kini dia memiliki alat tertentu ‘sex toys’ untuk membuatnya orgasme. “Kalau aku pas kepengen aja enggak ngerepotin. Kita banyak alat bantu. Setelah dengan tidak dengan itu (pernikahan) semuanya. Sudah umur tua, baru berapa tahunlah, tiga tahun, pergi ke sex shop. Aku tanya-tanya, ini itu yang bagus dan dijelasin,” bebernya.
“Sejak itu aku punya teman dan aku bisa orgasme. Tidak dengan cowok dan bukan dengan cewek juga,” ujarnya tertawa.
Diakui Yuni, masalah dalam sex lifenya tersebut berasal dari dalam dirinya. Bahkan dia sudah konsultasi ke dokter. “Problemnya di aku. Sudah ke dokter, diantarin temanku. Pas sudah dicek dokter, (kata dokter) gampang illfeel, dan lain-lain, banyak banget. Temanku langsung bengong,” kenangnya.
Seperti diketahui, Yuni sempat menikah dengan Raymond Manthey pada tahun 1993 dan 2002 dengan Henry Siahaan. Dari pernikahan kedua, Yuni mendapatkan seorang putra, bernama Marcelo.
Sumber Pojoksatu.id https://pojoksatu.id/seleb/2019/12/20/blak-blakan-di-hadapan-deddy-corbuzier-yuni-shara-aku-enggak-tahu-rasanya-orgasme/