Ketua DPRD 'Sensitif' Ditanya Soal Rumor Pergantian Sekda Inhil
Foto : Ketua DPRD Inhil, H Ferriyandi
ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), H Ferriyandi terlihat ‘sensitif’ ketika ditanyai oleh media soal isu maraknya pemberitaan terkait pergantian Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Indragiri Hilir (Hilir).
Ferriyandi yang sudah beberapa periode dipercaya sebagai wakil rakyat itu enggan memberikan komentar terkait isu yang berkembang soal adanya wacana pergantian Sekretaris Daerah (Sekda) Inhil yang dijabat H Said Syarifuddin.
“Jangan ah, tak ada urusan saya itu,” celetupnya H Ferryandi dengan nada geram, sambil melangkahkan kakinya menuju pintu keluar Gedung DPRD Inhil, Ju’mat (3/1/2020).
Bahkan ketika ditanyai soal kinerja Sekda Inhil sejauh ini juga menolak memberikan tanggapannya, malah Ketua DPRD Inhil memberi jawaban yang aneh, seakan menuding media ‘mengadu domba’.
Padahal, DPRD diberi tugas dan wewenang untuk melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan pemerintahan, Wewenang tersebut juga dilengkapi dengan hak DPRD untuk mengajukan hak interpelasi, hak angket dan hak menyatakan pendapat.
“Jangan kalian adu-adu saya diluar, No Comen” pungkas Ketua DPRD Inhil bergegas meninggalkan wartawan.
Hingga berita ini diterbitkan, rumor pergantian Sekda Inhil masih belum bisa dipastikan kebenarannya.
Reporter Arbain
Ketua DPRD INHIL (kiri), Arbindonesia.com (merah)
Alternatif Tempat Liburan Keluarga, Yuuk ke Kolam Renang di Desa Kuala Keritang
ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Kolam Renang yang berada di Desa Kuala Keritang, Kecamatan Keritang, Kabupaten Indragiri Hilir, bisa menjadi sebagai alternatif tempat liburan wisata permandian keluarga.
Pasalnya, Kolam Renang yang masih tergolong baru tersebut tampak ramai dikunjungi warga Keritang untuk mengisi liburan bersama keluarga.
Indo’ Ewe’, pengunjung asal Tembilahan kepada Wartawan Arbindonesia.com mengatakan, mengisi liburan tahun baru 2020 dirinya sengaja memilih obyek wisata kolam renang yang tergolong baru namun sangat cocok buat liburan keluarga dan anak-anak.
Menurut Indo’ Ewe’, selain keberadaannya ramah lingkungan, kolam ini sangat representatif buat keluarga yang membawak anak-anaknya untuk liburan dan sekedar permainan permandian anak-anak.
“Kolam renang Kuala Keritang juga lengkap dengan aneka hiburan lainnya, selain bisa selfie juga. Yah, hiburannya lengkap, banyak hiasan unik dan tidak ditemukan di kolam-kolam tempat lainnya.” kata Indo’ Ewe’, Rabu (1/1/2020).
Selain itu, Besse Nurandiana salah satu pengunjung lainnya mengaku, dirinya memilih Kolam Renang Kuala Keritang sebagai tempat wisata dalam liburan hari pertama tahun baru, sebab lingkungan kolam terasa asri dan bersahabat dengan anak-anak.
“Mendengar ada kolam renang baru dan dibuka resmi Tanggal 1 Januari 2020, maka sekalian ngasuh anak dalam mengisi waktu liburan langsung memilih berwisata di Desa Kuala Keritang,” ungkapnya.
Besse Nurandiana juga mengatakan, Kolam Renang Kuala Keritang tidak kalah dengan obyek wisata yang lain, sehingga wajar banyak warga lokal yang mengunjunginya.
Sementara itu, Heiber selaku pemilik wisata kolam renang tersebut sangat berterima kasih atas kunjungan dan penghargaan kepada masyarakat yang berkunjung.
“Terimakasih atas kepercayaan masyarakat untuk memilih kolam renang di Desa Kuala Keritang ini, sebagai alternatif liburan dan tempat wisata permandian keluarga anda semua,” Kata Heiber.
Ditambahkan Heiber, kita akan memberikan layanan terbaik kepada pengunjung dan kita akan trus lakukan pengembangan wisata kolam renang ini agar maju dan lebih baik lagi kedepannya. (Suk)
11.573 Kali Aktivitas Gempa di Indonesia Sepanjang 2019, 17 Guncangan yang Parah
ARB INdonesia, NASIONAL – Total terjadi 11.573 kali aktivitas gempa bumi di Indonesia dalam berbagai magnitudo dan kedalaman selama 2019, menurut hasil pantauan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
“Telah terjadi aktivitas gempa bumi sebanyak 11.573 kali dalam berbagai magnitudo dan kedalaman. Jika dibandingkan tahun 2018 dengan jumlah gempa sebanyak 11.920 maka aktivitas gempa selama 2019 mengalami sedikit penurunan jumlah,” ujar Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono di Jakarta, Jumat (27/12). Seperti dilansir Antara.
Menurut data yang dikumpulkan BMKG, aktivitas gempa dengan magnitudo di atas M5,0 terjadi 344 kali sedangkan dengan kekuatan kurang dari M5,0 terjadi 11.229 kali.
Dari data itu bisa disimpulkan selama 2019 aktivitas gempa bumi di Indonesia didominasi oleh aktivitas gempa bumi berkekuatan di bawah M5,0.
Sementara itu, gempa yang guncangannya dirasakan masyarakat selama 2019 terjadi sebanyak 1.107 kali.
“Berdasarkan peta aktivitas gempa bumi (seismisitas) selama tahun 2019 tampak bahwa kluster aktivitas gempa bumi paling aktif terjadi di daerah Nias, Lombok-Sumba, Laut Maluku Utara, Ambon, Laut Banda, dan Sarmi-Mamberamo,” kata Daryono.
Sementara itu terdapat 17 kali gempa yang menimbulkan kerusakan bangunan yaitu:
1. Gempa Morotai 16 Januari 2019 (M5,3)
2. Gempa Solok Selatan 28 Februari 2019 (M5,6)
3. Gempa Lombok 17 Maret 2019 (M 5,4)
4. Gempa Sumenep 2 April 2019 (M 5,0)
5. Gempa Banggai 12 April 2019 (M 6,9)
6. Gempa Maluku 7 Juni 2019 (M 7,0)
7. Gempa Sarmi Papua 20 Juni 2019 (M 6,2)
8. Gempa Banda 24 Juni 2019 (M 7,4)
9. Gempa Mamberamo Papua 24 Juni 2019 (M 6,1)
10. Gempa Sumbawa 13 Juli 2019 (M 5,3)
11. Gempa Labuha Halmahera Selatan 14 Juli 2019 (M 7,2)
12. Gempa Banten 2 Agustus 2019 (M 6,9)
13. Gempa Bali 13 Agustus 2019 (M 5,0)
14. Gempa Gunung Salak 23 Agustus 2019 (M 4,0)
15. Gempa Ambon 26 September 2019 (M 6,5)
16. Gempa Ambon 10 Oktober 2019 (M 5,2)
17. Gempa Maluku 14 November 2019 (M 7,1)
ARB INdonesia, ACEH – Hari ini tepat 15 tahun usai bencana gempa dan tsunami Aceh. Kedahsyatan bencana itu merenggut 227 ribu korban di berbagai negara.
Jumlah korban terbesar berada di Indonesia dengan korban sekitar 130 ribu sampai 160 ribu jiwa. Bencana besar ini pun tercatat sebagai salah satu bencana alam yang paling mematikan dalam satu abad terakhir.
National Geographic mencatat tinggi tsunami yang menerjang setinggi 30 meter. Tsunami Aceh itu terjadi akibat gempa magnitudo 9,1 yang terjadi di lepas pantai barat Sumatera Utara.
Kala itu, sistem pendeteksi tsunami belum umum digunakan. Apabila dulu sudah ada alat pendeteksi, jumlah korban jiwa yang bisa selamat diprediksi mencapai 51 ribu orang.
Namun itu hanya bagi korbanyang tinggal di Sri Lanka dan India. Pasalnya, butuh dua jam bagi tsunami untuk mencapi area tersebut.
Sementara, terjangan tsunami mencapai Aceh hanya dalam waktu 30 menit saja. Apabila sudah ada pendeteksi tsunami, banyak warga yang akan tetap kesulitan menuju tempat tinggi.
Seluruh dunia pun turut memperhatikan bencana di Aceh. Mungkin banyak pula yang masih ingat ketika televisi menampilkan orang-orang berkumpul di Masjid Baiturrahman yang kokoh berdiri di tengah terjangan ombak.
Masyarakat internasional pun ikut mengulurkan tangan untuk membantu korban. Pada 29 Desember 2005, perwakilan Indonesia, Thailand, Sri Lanka, Maladewa, dan Malaysia diundang ke Kantor PBB di New York untuk membahas bantuan.
Palang Merah Internasional, Takhta Suci Vatikan, dan Uni Eropa turut memberikan bantuan. Saat itu, korban baru diketahui berjumlah 40 ribu orang.
Untuk mengenang gempa dan tsunami Aceh, pemerintah pun mendirikan Museum Tsunami pada 2008 lalu. Arsiteknya adalah Ridwan Kamil yang kala itu masih seorang dosen dari Institut Teknologi Bandung.
Museum itu mengambil konsep rumah tradisional Aceh. Isi museumnya terdapat foto-foto korban dan kisah dari para survivor bencana gempa dan tsunami Aceh serta berbagai ornamen bernuansa Islami.
Kisah Umi Kalsum
Pantai Ulee Lheue di Banda Aceh yang sempat terkena tsunami pada 2004. (dok.Instagram @ash_bharlly/https://www.instagram.com/p/Bdo4c7TnLuu/Henry
26 Desember 2004 seorang wanita bernama Umi Kalsum sedang sibuk menanam bunga di Desa Alu Naga, Kabupaten Aceh Besar. Perempuan yang tengah larut menggeluti hobinya itu tiba-tiba dikagetkan oleh guncangan gempa dengan episentrum di lepas pesisir barat Sumatera, Indonesia, tepatnya di bujur 3.316° N 95.854° E, kurang lebih 160 km sebelah barat Aceh sedalam 10 kilometer.
Kala itu, sekitar pukul 07.58 WIB, gempa berkekuatan 9,1 skala Richter (SR) menghantam Aceh, Pantai Barat Semenanjung Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, Sri Lanka, bahkan sampai Pantai Timur Afrika. Beberapa menit kemudian, gelombang tsunami menerjang.
Umi langsung bergegas lari. Sang anak sempat memintanya untuk tidak lari, tapi wanita yang saat itu berumur 48 tahun memilih berlari mengajak cucunya.
Baru beberapa meter berlari, tubuh Umi dan cucuknya terhempas ombak tsunami. “Kami sudah teraduk-aduk dalam air, sesaat sempat saya lihat cucu saya dalam air, saya coba raih tapi tidak dapat, yang ada tangan saya kesangkut di pagar, ini hampir putus,” cerita Umi.
Umi Kalsum pun hilang kesadarannya karena terombang-ambing gelombang pekat tsunami. Tapi tiba-tiba ada ular yang mendekat dan melilitnya. “Saya sadar pertama sudah di jembatan ini (Jembatan Kajhu), ya subhanallah mulut ular itu di depan mata saya, tubuh saya itu dililitnya,” ujar Umi Kalsum dalam bahasa Aceh.
Si ular terus membawanya mendekat ke relawan. Tiga pemuda dari PMI kemudian menjemputnya dan melepaskan lilitan ular dari tubuhnya. “Sempat saya bilang sama anak itu, pas ditarik saya, nak ada ular, tidak apa-apa katanya dia nggak ganggu kita,” cerita nenek yang juga kehilangan 30 sanak saudaranya saat tsunami menghantam desanya.
Selain itu Umi juga melihat ayam jago miliknya juga selamat berenang di atas sehelai papan tidur miliknya. “Ayam meutuah (mulia) itu juga selamat di atas papan tidur saya, itulah mungkin kuasa Allah,” ujar Umi.
Sumber liputan6.com https://m.liputan6.com/global/read/4141830/26-12-2004-memperingati-15-tahun-bencana-tsunami-aceh?medium=Headline__mobile&campaign=Headline_click_5
Nikmati Promo Khusus Tahun Baru dari Inhil Pratama dan Tembilahan Pratama, Yuk Pesan dari Sekarang
ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Hotel Inhil Pratama dan Tembilahan Pratama lagi bikin promo seru, nih. New Year’s Eve Package, khusus menyambut tahun baru 2020.
Marketing Hotel Inhil Pratama, Sri Afrida Yuliani mengatakan khusus New Year’s Eve Package, menyediakan kamar beberapa type kamar yang include dengan dinner dan breakfast dengan konsep khusus yang dijamin akan membuat suasana malam tahun baru menjadi sangat romantis.
Inhil Pratama menyuguhkan type Deluxe room IDR 599.000,- net. Sedangkan untuk kamar type Superior IDR 350.000,-net, type Standar III room IDR 300.000.,-.
“Semua type kamar khusus di Inhil Pratama include dinner dan breakfast untuk 2 orang,” kata Wanita yang biasa disapa Iin tersebut saat berbincang dengan medialokal.co, Rabu (24/12/2019).
Dikatakannya, Kalau dinnernya seperti menu-menu dinner hotel, yang pasti menu lengkap.
Sekedar diketahui, Hotel Inhil Pratama dan Tembilahan Pratama merupakan tempat yang sempurna untuk menikmati liburan di Tembilahan.
Dari kedua hotel ini, para tamu dapat menikmati akses mudah ke semua hal yang dapat ditemukan di sebuah kota yang aktif ini.
Yang tidak ketinggalan adalah akses mudah dari hotel ini ke pasar jongkok untuk berwisata belanja.
Semua akomodasi tamu dilengkapi dengan fasilitas yang telah dirancang dengan baik demi menjaga kenyamanan.
Disamping itu, hotel juga oleh-oleh khas Inhil seperti amplang udang dan Madu Asli dari Hutan Inhil.
Nikmati pelayanan tidak terbandingkan dan penginapan yang sungguh bergengsi di Inhil Pratama di Tembilahan.
Information or reservation please contact Inhil Pratama Jalan Guru Hasan no 88 Tembilahan-Inhil-Riau, (0768)-21105, 21107, 7000988 atau di no HP 0853-7102-5555, No WA 0823 8180 2323. (arb)
Mas Yudi Adalah Kakiku, dan Mas Agung Adalah Mataku
Sugeng Wahyudi (), dan Agung () selalu bersama untuk berjualan kerupuk untuk nafkah sehari-hari, dan bergantian mengantar ke tempat ibadah. Foto/SINDOnews/Yuswantoro
ARB INdonesia – “Mas Yudi itu sudah menjadi kaki saya, kemanapun saya pergi selalu bersamanya,”. “Mas Agung adalah mata saya, dia menunjukkan jalan bagi langkah kami berdua,”.
Dalam berjalan mencari nafkah. Menyusuri kerasnya jalanan, untuk menjual kerupuk, dan mencari nafkah untuk menyambung hidup. Sugeng Wahyudi (32), dan Agung (29) selalu bersama.
Menggunakan sepeda roda tiga yang telah dimodifikasi, keduanya selalu setia menyusuri jalanan yang tidak ramah lagi bagi keduanya. Debu, terik mentari, dan bising suara klakson, serta mesin-mesin selalu menjadi pengiring setiap tangkah mereka.
Sugeng Wahyudi, yang akrab disapa Yudi, adalah penganut Katolik yang taat. Almarhum bapaknya asli Papua, sementara ibunya orang Blitar. Dia dibesarkan di lereng selatan Gunung Kawi, tepatnya di Desa Nyawangan, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar.
Sejak lahir, Yudi mengalami keterbatasan penglihatan. Dia buta. Saat masih kecil, dia dibawa ke Yayasan Bhakti Luhur Malang, untuk menempuh pendidikan di sekolah luar biasa (SLB), dan hidup di asrama.
Sementara Agung pemeluk Islam yang taat, berasal dari Yogyakarta. Dia penyandang tuna daksa. Kakinya memiliki keterbatasan, sehingga menyulitkannya untuk bergerak. Kemana-mana, Agung selalu berada di atas sepeda roda tiga.
Agung berada di depan sebagai pengendali setir sepeda roda tiganya. Dia juga menjadi pemandu arah kemana mereka harus berjalan. Sementara Yudi yang memiliki penglihatan terbatas, namun fisik kaki dan tangannya normal, berjalan di belakang mendorong sepeda.
Yudi menjadi “kaki” penggerak sepeda roda tiga, untuk bisa terus melaju menyusuri jalanan. Sementara Agung, menjadi “mata” yang menentukan arah kemana keduanya harus berjalan berjualan kerupuk.
Bukan hanya berjalan di sekitaran rumah singgah “Komunitas Rumah Sahabat” saja. Keduanya sudah bergerak kemana-mana. Bahkan, kemarin keduanya baru saja sampai di rumah singgah “Komunitas Rumah Sahabat” di Jalan Bandulan, Kelurahan Bandulan, Kecamatan Sukun, Kota Malang.
Empat hari lamanya, keduanya meninggalkan rumah singgah itu untuk berjualan kerupuk. Mereka berjalan menyusuri jalanan Kota Malang, menuju ke Kepanjen, Kabupaten Malang, dan berakhir di Kesamben, Kabupaten Blitar, lalu kembali lagi ke Kota Malang.
Jarak tempuh sepanjang 2 x 60 km tersebut, mereka tempuh selama empat hari perjalanan. Kerupuk dalam keranjang mampu mereka jual habis. “Selama berada di perjalanan ya kalau capek istirahat di SPBU, mushola, ya dimana saja tempat yang aman dan nyaman bisa buat tidur,” ujar Yudi, sambil mengumbar tawanya yang khas.
Pemuda yang selalu ceria ini, begitu bahagia hidup bersama para sahabatnya. Berkat Agung, dia bisa berjalanan kemana saja. Dia juga bisa mengikuti Misa Minggu di Gereja Katolik Paroki Vincentius A. Paulo di Jalan Langsep, Kota Malang.
Jarak rumah singgah “Komunitas Rumah Sahabat” dengan gereja tersebut, sekitar 3 km. Jalannya berupa turunan tajam, dan tanjakan. Lalulintasnya sangat padat, karena menjadi jalur menuju daerah industri di Desa Pandanlandung, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang.
Yudi penuh semangat datang ke gereja, diantarkan Agung sahabatnya. Saat Yudi khusuk mengikuti Misa Minggu, Agung yang pemeluk Islam taat, dengan setia menanti di luar gereja. “Kadang saya menunggu Yudi ikut Misa Minggu, sambil jualan kerupuk di luar gereja,” ujar Agung.
“Jadi semangat kalau ke gereja ada yang mengantarkan. Kalau tidak ada yang mengantarkan, ya saya kesulitan jalannya. Bisa nabrak-nabrak jalannya,” kata Yudi sambil terkekeh penuh keakraban.
Pergi dan pulang mereka selalu bersama. Demikian juga saat Agung harus menjalankan ibadah sholat lima waktu di mushola, atau saat menjalankan Sholat Jumat di masjid, Yudi dengan setia mengantarkannya.
“Kalau Mas Agung sholat, saya menunggu di luar masjid. Sambil duduk-duduk saja. Beberapa kali saya juga ditanya oleh umat yang akan sholat, karena tidak masuk ke Masjid. Ya saya jawab kalau saya hanya mengantarkan teman,” kata Yudi.
Sama halnya dengan Yudi, Agung juga sangat semangat untuk sholat ketika diantarkan oleh Yudi. “Ke mushola atau masjid jadi lebih mudah, soalnya Mas Yudi yang mengatarkan. Saya bisa ikut sholat berjamaah,” ujar Agung.
Mereka hidup saling melengkapi, dalam segala keterbatasan yang dimilikinya. Mereka tidak pernah merasa tersekat-sekat, meskipun hidup berbeda agama. “Belum tentu juga orang yang seiman dengan saya bersedia mengantarkan saya ke gereja seperti Mas Agung,” ujar Yudi, sambil tertawa lepas.
Kedua pemuda ini sudah beberapa tahun ini tinggal bersama di rumah singgah “Komunitas Rumah Sahabat”. Mereka yang tinggal di rumah singgah tersebut, rata-rata para penyandang disabilitas, mulai dari tuna daksa, buta, serta mengalami gangguan penglihatan.
Rumah ini menghadirkan hidup nyata dalam kebhinekaan. Bisa saling melengkapi satu sama lain, tanpa memandang suku, ras, golongan, dan agama. Mereka hidup dalam cinta kasih yang nyata, saling tolong-menolong, bergotong royong, membangun toleransi, dan bekerja keras untuk hidup dan menghidupi.
Tak perlu banyak teori dan wacana tentang ke-Indonesiaan, persatuan, serta Pancasila untuk mewujudkan Bhineka Tunggal Ika di rumah singgah ini. Toleransi, kerja keras, persahabatan, dan persaudaraan sejati itu mengalir begitu indah dalam kehidupan setiap hari.
“Kami selalu hidup bersama sebagai anak-anak Indonesia, yang tumbuh dalam segala perbedaan dan keterbatasan,” ujar Akhiles Alokako (50), pendiri Komunitas Rumah Sahabat.
Baginya, rasa cinta kepada Indonesia, dan Pancasila, tidak hanya sekedar banyak wacana dan teori, tetapi langkah kongkrit dalam kehidupan sehari-hari. “Kami yang penuh keterbatasan, mengamalkannya semampu yang kami bisa di kehidupan sehari-hari,” tuturnya.
Pria asli Bajawa, Flores, NTT tersebut, tinggal di Kota Malang, sejak 22 tahun silam. Dia datang berniat menjadi pastor, dan ingin mengabdikan diri untuk kemanusiaan. Langkahnya ternyata membawanya ke Yayasan Bhakti Luhur, dan menjadi bagian dari kerasulan awam untuk melayani anak-anak penyandang disabilitas.
Keahliannya bermusik, membawanya menjadi guru musik untuk para penyandang disabilitas, sampai dia memilih keluar dari Yayasan Bhakti Luhur pada tahun 2007, dan mulai merintis Komunitas Rumah Sahabat.
Rumah singgah yang harus berpindah-pindah tempat, karena harus menyesuaikan dengan kemampuan keuangan untuk mengontrak rumah tersebut, awalnya diisi oleh anak-anak jalanan. “Mereka sudah banyak yang mandiri sekarang,” ujar Akhiles.
Di kemudian hari, Komunitas Rumah Sahabat ini bukan hanya menampung anak-anak jalanan. Tetapi, juga para penyandang disabilitas. Menurut Akhiles, banyak yang enggan mengurus para penyandang disabilitas, makanya Komunitas Rumah Sahabat hadir sebisa mungkin untuk mereka.
Guru musik yang sempat mengajar ke sejumlah sekolah di Kota Malang, dan Lumajang tersebut, terpaksa juga harus mengalami keterbatasan untuk bergerak, setelah dia menjadi korban kecelakaan. Keterbatasan itu, membuatnya fokus bermusik bersama para penyandang disabilitas di Komunitas Rumah Sahabat.
Dia sudah sangat senang, ketika persaudaraan sejati yang dibangun tanpa basa-basi oleh para penyandang disabilitas di Komunitas Rumah Sahabat, mulai dicontoh oleh masyarakat kampung yang tinggal di dekat rumah singgah.
Dicontohkannya, suatu hari pernah melihat ibu-ibu yang mengenajak hijab di dekat rumah singgah, pergi mengatarkan keluarganya yang menyandang disabilitas ke gereja untuk beribadah. “Perubahan-perubahan kecil ke arah yang lebih baik di sekitar kami, sudah sangat membuat kami bahagia,” ungkapnya.
Di rumah singgah Komunitas Rumah Sahabat tersebut, kini juga menjadi tempat untuk para disabilitas berkarya dan hidup mandiri. Bukan hanya berjualan kerupuk, mereka juga bermusik.
Ada dua grup musik dengan genre musik berbeda yang dikembangkan mereka. Satu grup musik bernaama Netra Laras, yang lebih banyak beraliran musik Capursari. Pemainnya Akhiles, Yudi, Agung, Joko, Rofi.
Sementara, satu grup musik lagi beraliran pop, yakni RJY. Nama itu singkatan dari tiga nama pemainnya, yakni Rofi, Yudi, dan Joko. Akhiles biasa mengisi keyboard melodi dua, sementara Yudi merupakan pemegang gitar melodi dan vokal.
Joko yang mengalami keterbatasan penglihatan, atau lowfision, merupakan pemain keyboard melodi satu. Rofi seorang penyandang tuna netra, menjadi pemain bass, dan Agung adalah penggebuk drum yang handal, meskipun mengalami keterbatasan pada kakinya.
Mereka merupakan sahabat disabilitas dewasa dan remaja, yang sudah lepas dari sekolah dan harus hidup mandiri. Selain berjualan kerupuk dan ngamen, mereka juga menerima undangan untuk bermain musik mengisi acara.
Akhiles menegaskan, yang mereka butuhkan bukanlah belas kasihan. Tetapi kesempatan yang sama layaknya orang normal pada umumnya. “Kami punya kemampuan dan kemauan, meskipun banyak keterbatasan. Yang kami butuhkan ruang apresiasi serta kesempatan, bukan belas kasihan,” tegasnya.
Hadirnya media sosial, juga mulai mereka manfaatkan untuk mempromosikan karya-karya musik RJY dan Netra Laras. Video sederhana saat mereka tampil di berbagai kesempatan, telah mereka unggah di akun youtube Netra Laras Music.
Mereka juga pernah rekaman dan mengeluarkan album dalam bentuk VCD. Sayangnya, produksi yang telah dibuat dengan modal patungan itu sulit dipasarkan. Namun, semua itu tidak pernah membuat mereka patah semangat untuk hidup mandiri.
Semangat, kerja keras, kebersamaan, serta sikap saling menghormati dalam segala perbedaan dan keterbatasan yang dihadirkan para penyandang disabilitas ini, menghadirkan contoh yang baik bagi masyarakat. Mereka mampu hidup berdampingan dengan tetangga dan saling menghormati, tanpa sedikitpun meminta belas kasihan.
Yudi, Agung, Joko, Rofi, Akhiles, serta sahabat-sahabat disabilitas lainnya di rumah singgah Komunitas Rumah Sahabat, memiliki banyak keterbatasan fisik, tetapi mereka memiliki hati seluas samudera untuk menerima segala perbedaan dan keterbatasan itu dalam persaudaraan sejati.
Sumber Sindonews.com https://jatim.sindonews.com/read/18100/1/mas-yudi-adalah-kakiku-dan-mas-agung-adalah-mataku-1576977173