Seniman Musik Tembilahan IKBOT Gelar Peringatan Maulid Nabi Muhammad
ARB INdonesia, INDRAGIRI HILIR – Puluhan Seniman Musik yang bergabung dalam Ikatan Keluarga Besar Orgen Tunggal (IKBOT) Tembilahan,memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw 1441 H di Rumah Kediaman Udin,Jalan Baharudin Yusuf,Tembilahan Jum’at (29/11/2019) malam.
Melalui kegiatan bertemakan “Dengan Memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad SAW Mari Kita Tingkatkan Iman, Taqwa, Kebersamaan dan Kekompakan Dalam Berorganisasi” ini, Ketua panitia pelaksana Hendri Budi mengajak kepada semua anggota IKBOT untuk menjadikan ajaran dan keteladanan Nabi Muhammad SAW sebagai panutan dan sumber inspirasi.
Juga diharapkan hikmah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dapat dijadikan sebagai panutan dalam setiap beraktivitas.
“Kehadiran kita pada peringatan Maulid ini adalah untuk lebih meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT, serta menanamkan kecintaan yang mendalam kepada Nabi Besar Muhammad SAW,” katanya.
Dia juga mengucapkan ribuan terimaksih kepada seluruh Kerabat dari Ikatan Keluarga Besar Orgen Tunggal Tembilahan yang telah berupaya memberikan sumbangsih baik itu berupa dukungan moril maupun fikiran sehingga acara ini dapat dilaksanakan.
“Alhamdulilah acara peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw sukses berkat kebersamaan anggota Ikatan keluarga besar orgen tunggal tembilahan,”tambahkannya.
Kegiatan ini menurut Hendri merupakan agenda rutin IKBOT baik acara 1 Muharram, maulid nabi saw dan isra miraj Nabi Muhammad SAW.
Mudah-mudahan dengan peringatan Maulid nabi muhammad saw ini mendapatkan berkah dari pada Allah SWT.
” Harapan kami terutama kepada panitia, kepada anggota IKBOT, mudah-mudahan hari besar islam ini kita ambil sisi positifnya , IKBOT bukan haya saja bergoyang di pentas tapi Ikbot segi ke agamaan bisa menjadikan iman dan taqwa kepada allah swt dan rasa solidaritas kebersamaan kita antara sesama pemain, penyanyi dan punya alat, “harapnya.
Kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diawali dengan pembacaan ayat suci al qur’an oleh H.H. Ilham Syah juga diisi dengan rangkaian tausyiah oleh H Abdul Bar Samad. (***)
Bukan Keperawanan Alasan Persani Pulangkan Shalfa Avrila Siani
Shalfa Avrila Siani ditemani ibunya ketika melaporkan tudingan pemulangan secara paksa oleh Persani. Foto : iNews
ARB INdonesia, JAKARTA – Kisruh soal adanya berita soal pesenam Jawa Timur yang dipulangkan lantaran persoalan keperawanan akhirnya terjawab. Kemenpora yang menelusuri persoalan tersebut akhirnya mendapatkan jawaban mengapa Persatuan Senam Seluruh Indonesia (Persani) akhirnya memulangkan Shalfa Avrila Siani.
Sebelumnya beredar kabar kalau Persani telah mencoret satu atlet putrinya untuk berlaga di SEA Games 2019 lantaran sudah tidak perawan. Hal ini sempat mengejutkan keluarganya dan melakukan cek keperawanan di sebuah rumah sakit. Hasilnya, Shalfa dinyatakan masih perawan.
Sesmenpora Gatot Dewa Broto dalam keterangannya yang diterima SINDOnews, Jumat (29/11/2019), mengatakan langsung mengecek kebenaran berita tersebut dengan menghubungi Ketua PB Persani Ita Yuliati. Dari informasi yang diterima, tidak benar kalau Shalfa dipulangkan secara paksa.
“Yang benar kata Pak Indra (pelatihnya di Jatim) bahwa atlet tersebut indisipin dan kurang fokus. Hal ini berdampak prestasi menurun, sehingga diputuskan pelatih tidak disertakan di SEA Games dan digantikan oleh atlet lain yang peringkatnya jauh lebih tinggi,” papar Gatot.
Kemenpora sangat prihatin dengan kejadian ini. “Kami sudah langsung komunikasi dengan Persani. Ini terkait dengan masalah kondisi prestasinya, jadi tak ada hubungannya dengan masalah, mohon maaf, cek keperawanan.”
Sesuai dengan Perpres 95/2017, hak promosi dan degradasi atlet memang ada di cabang olahraga bukan di Kemenpora maupun KONI. “Tetapi jika benar bahwa pemulangan atlet itu karena dugaan masalah keperawanan yang dikatakan pelatihnya, kami akan tindak tegas. Karena ini selain masalah privasi dan kehormatan seseorang, juga itu tak ada hubungannya dengan soal prestasi,” tegas Gatot.
Lebih lanjut Gatot mengimbau agar cabor untuk tidak menimbulkan kehebohan sekecil apapun. Sebab, hal tersebut akan berdampak luas pada konsentrasi kontingen Indonesia secara keseluruhan. “Lebih baik berkonsultasi langsung pada pimpinan induk cabor ataupun KONI dan jika tidak dapat terselesaikan langsung ke Kemenpora agar isu-isu sensitif seperti itu bisa segera dimitigasi secepatnya.”
Sumber Sindonews.com
https://sports.sindonews.com/read/1463659/51/bukan-keperawanan-alasan-persani-pulangkan-shalfa-avrila-siani-1575002048
Hasil Tes Keperawanan Atlet SEA Games 2019 Kediri Masih Utuh
Ayu Kurniawati, ibu kandung SAS (18), atlet SEA Games 2019 asal Kediri yang dipulangkan karena alasan tidak perawan. Foto/SINDOnews/Solichan Arif
ARB INdonesia, KEDIRI – Pemulangan SAS (18) atlet senam lantai Sea Games 2019 asal Kota Kediri karena alasan sudah tidak perawan membuat keluarga merasa terpukul.
Ayu Kurniawati, ibunda SAS menegaskan belum bisa menerima alasan keperawanan yang disampaikan pelatih pelatnas Persani (Persatuan Senam Indonesia).
Selain mencoreng masa depan putrinya, hasil tes dokter kandungan RS Bhayangkara Kediri menyatakan selaput dara SAS masih utuh.
“Embel embel tidak perawan itu yang membuat kami tidak terima,” kata Ayu ditemui di rumahnya di Kelurahan Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jumat (29/11/2019).
Pemulangan paksa SAS dari mess Persani di Gresik ke Kota Kediri berlangsung dramatis. Ayu mengaku dihubungi Irma, seorang pelatih SAS di mess Persani. Dalam komunikasi via telepon keluarga diminta segera menjemput pulang SAS dengan alasan sering pulang malam dan kerap pacaran.
Hal yang paling mengejutkan dan bahkan sampai membuat Satrio Utomo, suaminya syok, kata Ayu, dari hasil interogasi pelatih, putrinya dikatakan sudah tidak perawan. “Disampaikan bahwa selaput dara anak saya robek seperti bekas diperkosa,” kata Ayu dengan mata berkaca kaca.
Pada Rabu 20 November 2019, dengan diantar keponakannya, karena suaminya tidak sanggup mengantar, Ayu langsung meluncur ke Gresik melakukan penjemputan. Mereka tiba di lokasi sekitar jam 12 malam dan disitu hanya bertemu asisten pelatih.
Menurut Ayu, saat itu putri sulungnya hanya berurai air mata. Siswi SMAN 01 Kebomas Gresik itu memilih bungkam. “Sesampai di rumah anak saya baru bersedia cerita,” kata Ayu.
SAS tidak menampik tuduhan berpacaran. Namun dalam menjalin hubungan dirinya mengaku masih tahu batas norma. Terkait tuduhan tidak perawan, SAS sempat mempersilakan pelatihnya untuk melakukan tes keperawanan. “Namun pelatihnya tidak pernah melakukan tes keperawanan,” ungkap Ayu.
Mengetahui itu Ayu kemudian memberanikan diri menghubungi Indra Sabarani, Kepala bidang Profesi Persani Jatim sekaligus penanggung jawab atlet.
Dalam komunikasi via telepon Indra mengatakan alasan pemulangan karena SAS sudah tidak perawan.
Namun hal itu langsung dibantah Ayu bahwa selama ini tidak ada tes medis. Mendengar itu Indra, kemudian meminta SAS untuk menjalani tes keperawanan di rumah sakit Surabaya. “Kami sempat datang ke Surabaya, namun gagal karena sudah tutup,” kata Ayu.
Anehnya, pada Selasa 26 November 2019, Zahari, seorang pelatih tiba-tiba menelpon Ayu yang intinya meminta SAS kembali ke Mess untuk berlatih kembali. SAS yang semula murung kembali ceria karena merasa masih memiliki kesempatan berlaga di SEA Games 2019 di Filipina.
Kegembiraan itu ternyata tidak berlangsung lama. Ayu tiba-tiba kembali dihubungi oleh Zahari yang intinya Indra Sabarani mempertanyakan hasil tes keperawanan SAS. “Saya kemudian menawarkan jika tes dilakukan di RS Bhayangkara Kediri, dan saat itu oleh bang Zahri (Zahari) dibolehkan,” kata dia.
Hasil tes dokter kandungan RS Bhayangkara Kediri menyatakan SAS masih perawan. Namun yang bikin Ayu terkejut, surat keterangan keperawanan itu oleh pihak pelatih, terutama Indra Sabarani ditolak. Melalui Zahari, Indra meminta SAS dites ulang di RS Petrokimia Gresik.
Ayu dengan tegas menolak permintaan itu dengan alasan proses tes keperawanan menyakitkan. Selain itu ia merasa ada sesuatu yang aneh jika hasil tes resmi yang dikeluarkan rumah sakit (RS Bhayangkara) masih diragukan. Ayu mengaku legowo jika pemulangan anaknya karena alasan indispliner. “Hal yang kami tidak terima adalah karena alasan tidak perawan,” kata dia.
Menurut Ayu, keluarga menyesalkan hal itu. Untuk itu dengan menggandeng kuasa hukum keluarga menuntut pelatnas untuk melakukan pengembalian nama baik putri sulungnya. “Karena anak ini masih pelajar dan memiliki masa depan yang masih panjang,” kata dia.
Sumber Sindonews.com
https://sports.sindonews.com/read/1463819/51/hasil-tes-keperawanan-atlet-sea-games-2019-kediri-masih-utuh-1575032389
Pasca-Dituding Tak Perawan, Atlet SEA Games 2019 Kediri Putuskan Mundur
Tampak Ayu Kurniawati, ibu kandung SAS (18) atlet Sea Games 2019 yang dipulangkan paksa karena dianggap sudah tidak perawan. (Foto /SINDOnews /solichan arif)
ARB INdonesia, KEDIRI – SAS (18) atlet senam lantai Sea Games 2019 asal Kota Kediri yang dipulangkan paksa karena alasan tidak perawan sudah memutuskan hengkang dari olahraga yang pernah mengharumkan nama daerah, bangsa dan negara.
Menurut Ayu Kurniawati, putri sulungnya sudah terlanjur patah hati. Kalaupun ada keadilan yang memberinya kesempatan kembali ke pelatnas, SAS akan menolak.
“Sudah memutuskan tidak mau lagi menjadi atlet, “tutur Ayu kepada Sindonews.com saat ditemui di rumahnya Kelurahan Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, Kotamadya Kediri Jumat (29/11/2019).
SAS mengenal olahraga senam lantai sejak kelas dua sekolah dasar. Selama dibimbing guru di sekolah dan KONI daerah, bakatnya semakin menonjol. Melihat potensi yang dimiliki putri sulung pasangan Satrio Utomo dan Ayu Kurniawati, KONI Jawa Timur merekomendasikan SAS masuk ke pusat pelatihan Persani (Persatuan Senam Indonesia) di Gresik.
“Sejak kelas empat SD anak saya kemudian pindah ke Gresik. Tinggal di mess atlet dan sekolah,” terang Ayu.
Di Gresik hingga kelas 3 SMA (SMAN 01 Kebomas) prestasi atlet SAS terus menanjak. Ia menyabet sejumlah medali emas tingkat daerah dan nasional. Diantaranya meraih emas di Kejurnas Jambi dan menyabet perunggu di kejuaraan Olahraga Asian School 2017 di Singapura.
“Total ada 49 medali, “kata Ayu yang memperlihatkan beberapa medali yang ditempatkan di dalam bingkai kaca (pigora). SAS tercatat sebagai atlet Pelatda selama dua tahun dimana setiap bulan menerima honor dari negara Rp 4 juta per bulan. Kemudian selama dua bulan (Oktober dan November 2019) masuk Pelatnas dengan gaji tiap bulan Rp 6 juta.
Namun karier sebagai atlet yang ditapaki selama sepuluh tahun itu runtuh seketika setelah Persani memulangkan paksa dengan alasan tidak perawan. Ayu tidak membantah putri sulungnya memang pacaran. Ia juga tidak menyangkal pernah mendapat pemberitahuan dari pelatih jika SAS melakukan pelanggaran indispliner.
Namun Ayu tidak bisa menerima pemulangan paksa itu karena alasan sudah tidak perawan. Selain menghancurkan masa depan anaknya, hasil tes keperawanan di dokter kandungan RS Bhayangkara Kediri menyatakan tidak ada selaput dara yang rusak. “Tapi kenapa hasil tes dari RS Bhayangkara itu tidak bisa diterima?, “keluhnya.
Saat ini SAS masih berada di Gresik. Ia tidak lagi tinggal di mess Persani, melainkan bertempat di kos. Yang membuat Ayu sedih, anaknya lebih banyak menyendiri dan enggan bersekolah. SAS juga mengungkapkan ingin pindah sekolah ke Kediri.
“Dia bilang setelah lulus SMA ini ingin langsung kerja. Baginya karier menjadi atlet sudah tutup buku, “ungkap Ayu yang menuntut nama baik anaknya untuk dikembalikan.
Kuasa hukum SAS, Imam Moklas menyesalkan keputusan Persani yang memulangkan paksa kliennya dengan alasan tidak perawan. Saat kebenaran alasan itu (keperawanan) dipertanyakan, anehnya Persani berkelit dengan dalih pelanggaran indispliner, yakni pacaran dan sering keluar malam.
Imam Moklas tidak tahu pasti apakah pacaran termasuk pelanggaran indispliner dalam perjanjian antara atlet dan Persani. Namun dengan masuk ke Pelatnas, kliennya sudah melalui proses verifikasi yang panjang dan kompeherensif.
“Kalau memang kesalahannya indispliner, kenapa alasan yang disampaikan adalah soal virginitas?, “tanyanya.
Dalam kasus ini kuasa hukum SAS telah mengirim surat pengaduan resmi ke Presiden Joko Widodo, Kemenpora, KONI dan Persani.
Sumber Sindonews.com
https://sports.sindonews.com/read/1463809/51/pasca-dituding-tak-perawan-atlet-sea-games-2019-kediri-putuskan-mundur-1575031642
Geram karena Kamar Mandi Dikunci, Marbut Masjid Dibacok Tetangga
Foto: SS- Bantenhits.com
ARB INdonesia, BANTEN – Gara-gara dipicu masalah sepele, warga bernama Rohin (52) menjadi korban pembacokan oleh tetangganya sendiri di Kampung Kuranten, Kelurahan Saruni, Kecamatan Majasari, Pandeglang, Banten, Jumat (29/11/2019).
Pria yang berpeofesi sebagai marbot masjid Al-Jami Kuranten dibacok menggunakan golok seorang warga bernama Suheli (50). Motifnya, pelaku geram tak bisa memakai kamar mandi masjid karena sudah dikunci korban.
“Pelaku merasa kesal kepada korban karena pada saat pelaku akan menumpang mandi di masjid pintu masuk dikunci korban karena kondisi air di masjid sedang kekurangan,” kata Kasatreskrim Polres Pandeglang AKP Ambarita seperti dikutip Bantenhits.com–jaringan–Suara.com.
Akibat bacokan itu, korban mengalami sejumlah luka-luka di tubuhnya. Kemudian korban langsung dilarikan ke RSUD Berkah Pandeglang untuk mendapatkan pertolongan.
Setelah mendapatkan laporan kasus pembacokan itu, polisi pun langsung bergerak meringkus Suheli. Dari tangan tersangka, polisi juga telah menyita sebiah golok yang digunakan untuk membacok korban.
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Bayi di India Ini Memakan Usus Ibunya?
Foto : Screenshot vedio
ARB INdonesia – Narasi bahwa ada bayi yang dikandung selama 11 bulan yang memakan usus ibunya sampai habis beredar di media sosial. Dalam narasi itu, disebutkan pula bahwa bayi itu menggigit tangan perawat saat dilahirkan dan dokter harus memberinya suntikan hingga 17 kali untuk membunuh bayi itu.
Narasi itu dilengkapi dengan video seorang bayi yang diletakkan di atas kain sarung di sebuah pekarangan. Dalam video berdurasi 16 detik itu, bayi yang sedang menangis tersebut dikerubungi oleh warga. Kulit bayi itu pecah-pecah. Matanya pun merah. Menurut narasi itu, peristiwa ini terjadi di India.
Salah satu akun yang mengunggah narasi itu adalah akun Majoen di Facebook, yakni pada Kamis, 28 November 2019. Narasi yang diunggah oleh akun Majoen tersebut berbunyi:
“Bayi 11 bulan dalam perut ibunya. Habis usus ibunya dimakan oleh bayi ini. Kemudian dokter mengoperasi ibunya untuk mengeluarkan bayi ini. Ketika bayi ini keluar, dia menggigit tangan perawat. Setelah 3 jam, si perawat meninggal, ibu bayi ini pun meninggal setelah bayi ini keluar. Bayi ini lahir dengan berat 8 kg, setelah 3 jam bertambah naik beratnya menjadi 13 kg. Bayi ini lahir hari Jumat, tidak tahu Allah ingin kasih peringatan apa untuk kita semua. Bayi ini kemudian dibunuh, dokter memberinya suntik mematikan sampai 17 kali baru bayi ini mati. Ini kisah benar-benar terjadi di India, Wallahua’lam.”
Hingga kini, video unggahan akun Majoen tersebut telah ditonton lebih dari 8 ribu kali. Unggahan itu juga telah dibagikan sebanyak 533 kali.
Gambar tangkapan layar unggahan akun Majoen di Facebook.
PEMERIKSAAN FAKTA
Pertama-tama, Tim CekFakta Tempo menggunakan tools inVID untuk mendapatkan cuplikan gambar dari video yang diunggah akun Majoen. Kemudian, gambar itu dimasukkan ke reverse image tools Google untuk mendapatkan informasi yang terkait video itu. Hasilnya, ditemukan video yang sama yang diunggah kanal Ashish Dhankhar di YouTube
Video itu diunggah oleh kanal Ashish Dhankhar pada 13 Juni 2019 dengan judul “Plastic baby”. Dalam keterangan videonya, kanal Ashish Dhankhar menyatakan bahwa bayi “collodion” itu lahir di Bahraich, sebuah distrik di negara bagian Uttar Pradesh, India.
Berbekal informasi lokasi tersebut, Tempo memasukkan kata kunci “collodion baby in Bahraich”. Hasilnya, ditemukan artikel dari situs media Lebanon, An-Nahar, terkait bayi “collodion” itu yang dimuat pada 27 November 2019. Menurut artikel tersebut, bayi itu memang lahir di India, yakni pada 13 Juni 2019. Bayi tersebut menderita kelainan genetik yang bernama harlequin ichthyosis.
Berita itu juga dimuat oleh situs media India, Amar Ujala. Bayi itu lahir di pusat kesehatan primer Gaighat, Bahraich, pada 13 Juni. Namun, saat bayi itu lahir, para petugas di pusat kesehatan tersebut syok. Bayi itu pun disarankan untuk dipindahkan ke rumah sakit distrik di Bahraich.
Orang tua bayi itu bernama Shahim dan Majida Begum. Majida mulai merasakan kandungannya sakit ketika subuh. Awalnya, dia ingin melahirkan di rumah. Namun, karena kondisinya memubruk, Majida dilarikan ke pusat kesehatan primer Gaighat. Di sana, Majida melahirkan bayi laki-laki itu pada pukul 06.30.
Petugas di pusat kesehatan primer Gaighat mengkonfirmasi bahwa bayi itu merupakan bayi “collodion” atau bayi “plastik”. Kabar itu menyebar dan memicu warga Gaighat berkerumun di pusat kesehatan tersebut. Majida dan bayinya pun disarankan untuk dirujuk ke rumah sakit distrik. Saat itu, kondisi si bayi kritis.
Dilansir dari situs media India, Patrika, walaupun bayi itu disarankan untuk dirujuk ke rumah sakit distrik di Bahraich, orang tua si bayi memilih untuk membawanya pulang. Namun, beberapa jam kemudian, bayi itu meninggal.
Menurut dokter rumah sakit distrik di Bahraich, KK Verma, tubuh bayi “collodion” sebenarnya tidak terselimuti plastik, melainkan membran yang mirip plastik. Verma juga mengatakan bahwa kelainan yang diderita bayi itu bisa terjadi jika, saat masih berbentuk janin, bayi itu tidak berkembang secara maksimal. Selain itu, kondisi tersebut dapat disebabkan oleh kelalaian sang ibu ketika mengandung.
Dikutip dari situs resmi Foundation for Ichthyosis & Related Skin Types, bayi “collodion” adalah istilah untuk bayi yang dilahirkan dengan selaput mengkilat yang menyerupai plastik. Bayi “collodion” bukanlah entitas penyakit, melainkan bentuk dari ichthyosis, sebuah kelainan genetika kulit yang langka.
Ilustrasi kelainan genetik harlequin ichthyosis.
Seperti yang telah disebutkan di atas, tipe ichthyosis yang diderita oleh bayi yang dilahirkan di Bahraich, India, tadi adalah harlequin ichthyosis. Dikutip dari situs resmi Genetics Home Reference, harlequin ichthyosis adalah kelainan genetik parah yang utamanya menyerang kulit.
Bayi dengan kondisi ini dilahirkan dengan kulit yang sangat keras dan tebal yang menutupi sebagian besar tubuhnya. Kulit tersebut membentuk piring besar seperti berlian yang dipisahkan oleh retakan yang dalam. Kelainan kulit ini memengaruhi bentuk kelopak mata, hidung, mulut, dan telinga, serta membatasi pergerakan lengan dan kaki. Pergerakan dada yang terbatas dapat menyebabkan kesulitan bernapas, bahkan gagal napas.
KESIMPULAN
Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, narasi bahwa ada bayi yang dikandung selama 11 bulan memakan usus ibunya sampai habis merupakan narasi yang menyesatkan. Bayi itu memang lahir di India. Namun, bayi tersebut tidak seperti yang dideskripsikan oleh akun Majoen di Facebook. Bayi itu menderita kelainan genetik harlequin ichthyosis.