Mas Yudi Adalah Kakiku, dan Mas Agung Adalah Mataku

Sugeng Wahyudi (), dan Agung () selalu bersama untuk berjualan kerupuk untuk nafkah sehari-hari, dan bergantian mengantar ke tempat ibadah. Foto/SINDOnews/Yuswantoro






ARB INdonesia – “Mas Yudi itu sudah menjadi kaki saya, kemanapun saya pergi selalu bersamanya,”. “Mas Agung adalah mata saya, dia menunjukkan jalan bagi langkah kami berdua,”.

Dalam berjalan mencari nafkah. Menyusuri kerasnya jalanan, untuk menjual kerupuk, dan mencari nafkah untuk menyambung hidup. Sugeng Wahyudi (32), dan Agung (29) selalu bersama.

Menggunakan sepeda roda tiga yang telah dimodifikasi, keduanya selalu setia menyusuri jalanan yang tidak ramah lagi bagi keduanya. Debu, terik mentari, dan bising suara klakson, serta mesin-mesin selalu menjadi pengiring setiap tangkah mereka.






Sugeng Wahyudi, yang akrab disapa Yudi, adalah penganut Katolik yang taat. Almarhum bapaknya asli Papua, sementara ibunya orang Blitar. Dia dibesarkan di lereng selatan Gunung Kawi, tepatnya di Desa Nyawangan, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar.

Sejak lahir, Yudi mengalami keterbatasan penglihatan. Dia buta. Saat masih kecil, dia dibawa ke Yayasan Bhakti Luhur Malang, untuk menempuh pendidikan di sekolah luar biasa (SLB), dan hidup di asrama.

Sementara Agung pemeluk Islam yang taat, berasal dari Yogyakarta. Dia penyandang tuna daksa. Kakinya memiliki keterbatasan, sehingga menyulitkannya untuk bergerak. Kemana-mana, Agung selalu berada di atas sepeda roda tiga.






Agung berada di depan sebagai pengendali setir sepeda roda tiganya. Dia juga menjadi pemandu arah kemana mereka harus berjalan. Sementara Yudi yang memiliki penglihatan terbatas, namun fisik kaki dan tangannya normal, berjalan di belakang mendorong sepeda.

Yudi menjadi “kaki” penggerak sepeda roda tiga, untuk bisa terus melaju menyusuri jalanan. Sementara Agung, menjadi “mata” yang menentukan arah kemana keduanya harus berjalan berjualan kerupuk.

Bukan hanya berjalan di sekitaran rumah singgah “Komunitas Rumah Sahabat” saja. Keduanya sudah bergerak kemana-mana. Bahkan, kemarin keduanya baru saja sampai di rumah singgah “Komunitas Rumah Sahabat” di Jalan Bandulan, Kelurahan Bandulan, Kecamatan Sukun, Kota Malang.






Empat hari lamanya, keduanya meninggalkan rumah singgah itu untuk berjualan kerupuk. Mereka berjalan menyusuri jalanan Kota Malang, menuju ke Kepanjen, Kabupaten Malang, dan berakhir di Kesamben, Kabupaten Blitar, lalu kembali lagi ke Kota Malang.

Jarak tempuh sepanjang 2 x 60 km tersebut, mereka tempuh selama empat hari perjalanan. Kerupuk dalam keranjang mampu mereka jual habis. “Selama berada di perjalanan ya kalau capek istirahat di SPBU, mushola, ya dimana saja tempat yang aman dan nyaman bisa buat tidur,” ujar Yudi, sambil mengumbar tawanya yang khas.






Pemuda yang selalu ceria ini, begitu bahagia hidup bersama para sahabatnya. Berkat Agung, dia bisa berjalanan kemana saja. Dia juga bisa mengikuti Misa Minggu di Gereja Katolik Paroki Vincentius A. Paulo di Jalan Langsep, Kota Malang.

Jarak rumah singgah “Komunitas Rumah Sahabat” dengan gereja tersebut, sekitar 3 km. Jalannya berupa turunan tajam, dan tanjakan. Lalulintasnya sangat padat, karena menjadi jalur menuju daerah industri di Desa Pandanlandung, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang.

Yudi penuh semangat datang ke gereja, diantarkan Agung sahabatnya. Saat Yudi khusuk mengikuti Misa Minggu, Agung yang pemeluk Islam taat, dengan setia menanti di luar gereja. “Kadang saya menunggu Yudi ikut Misa Minggu, sambil jualan kerupuk di luar gereja,” ujar Agung.

“Jadi semangat kalau ke gereja ada yang mengantarkan. Kalau tidak ada yang mengantarkan, ya saya kesulitan jalannya. Bisa nabrak-nabrak jalannya,” kata Yudi sambil terkekeh penuh keakraban.






Pergi dan pulang mereka selalu bersama. Demikian juga saat Agung harus menjalankan ibadah sholat lima waktu di mushola, atau saat menjalankan Sholat Jumat di masjid, Yudi dengan setia mengantarkannya.

“Kalau Mas Agung sholat, saya menunggu di luar masjid. Sambil duduk-duduk saja. Beberapa kali saya juga ditanya oleh umat yang akan sholat, karena tidak masuk ke Masjid. Ya saya jawab kalau saya hanya mengantarkan teman,” kata Yudi.

Sama halnya dengan Yudi, Agung juga sangat semangat untuk sholat ketika diantarkan oleh Yudi. “Ke mushola atau masjid jadi lebih mudah, soalnya Mas Yudi yang mengatarkan. Saya bisa ikut sholat berjamaah,” ujar Agung.






Mereka hidup saling melengkapi, dalam segala keterbatasan yang dimilikinya. Mereka tidak pernah merasa tersekat-sekat, meskipun hidup berbeda agama. “Belum tentu juga orang yang seiman dengan saya bersedia mengantarkan saya ke gereja seperti Mas Agung,” ujar Yudi, sambil tertawa lepas.

Kedua pemuda ini sudah beberapa tahun ini tinggal bersama di rumah singgah “Komunitas Rumah Sahabat”. Mereka yang tinggal di rumah singgah tersebut, rata-rata para penyandang disabilitas, mulai dari tuna daksa, buta, serta mengalami gangguan penglihatan.

Rumah ini menghadirkan hidup nyata dalam kebhinekaan. Bisa saling melengkapi satu sama lain, tanpa memandang suku, ras, golongan, dan agama. Mereka hidup dalam cinta kasih yang nyata, saling tolong-menolong, bergotong royong, membangun toleransi, dan bekerja keras untuk hidup dan menghidupi.






Tak perlu banyak teori dan wacana tentang ke-Indonesiaan, persatuan, serta Pancasila untuk mewujudkan Bhineka Tunggal Ika di rumah singgah ini. Toleransi, kerja keras, persahabatan, dan persaudaraan sejati itu mengalir begitu indah dalam kehidupan setiap hari.

“Kami selalu hidup bersama sebagai anak-anak Indonesia, yang tumbuh dalam segala perbedaan dan keterbatasan,” ujar Akhiles Alokako (50), pendiri Komunitas Rumah Sahabat.

Baginya, rasa cinta kepada Indonesia, dan Pancasila, tidak hanya sekedar banyak wacana dan teori, tetapi langkah kongkrit dalam kehidupan sehari-hari. “Kami yang penuh keterbatasan, mengamalkannya semampu yang kami bisa di kehidupan sehari-hari,” tuturnya.






Pria asli Bajawa, Flores, NTT tersebut, tinggal di Kota Malang, sejak 22 tahun silam. Dia datang berniat menjadi pastor, dan ingin mengabdikan diri untuk kemanusiaan. Langkahnya ternyata membawanya ke Yayasan Bhakti Luhur, dan menjadi bagian dari kerasulan awam untuk melayani anak-anak penyandang disabilitas.

Keahliannya bermusik, membawanya menjadi guru musik untuk para penyandang disabilitas, sampai dia memilih keluar dari Yayasan Bhakti Luhur pada tahun 2007, dan mulai merintis Komunitas Rumah Sahabat.

Rumah singgah yang harus berpindah-pindah tempat, karena harus menyesuaikan dengan kemampuan keuangan untuk mengontrak rumah tersebut, awalnya diisi oleh anak-anak jalanan. “Mereka sudah banyak yang mandiri sekarang,” ujar Akhiles.






Di kemudian hari, Komunitas Rumah Sahabat ini bukan hanya menampung anak-anak jalanan. Tetapi, juga para penyandang disabilitas. Menurut Akhiles, banyak yang enggan mengurus para penyandang disabilitas, makanya Komunitas Rumah Sahabat hadir sebisa mungkin untuk mereka.

Guru musik yang sempat mengajar ke sejumlah sekolah di Kota Malang, dan Lumajang tersebut, terpaksa juga harus mengalami keterbatasan untuk bergerak, setelah dia menjadi korban kecelakaan. Keterbatasan itu, membuatnya fokus bermusik bersama para penyandang disabilitas di Komunitas Rumah Sahabat.

Dia sudah sangat senang, ketika persaudaraan sejati yang dibangun tanpa basa-basi oleh para penyandang disabilitas di Komunitas Rumah Sahabat, mulai dicontoh oleh masyarakat kampung yang tinggal di dekat rumah singgah.






Dicontohkannya, suatu hari pernah melihat ibu-ibu yang mengenajak hijab di dekat rumah singgah, pergi mengatarkan keluarganya yang menyandang disabilitas ke gereja untuk beribadah. “Perubahan-perubahan kecil ke arah yang lebih baik di sekitar kami, sudah sangat membuat kami bahagia,” ungkapnya.

Di rumah singgah Komunitas Rumah Sahabat tersebut, kini juga menjadi tempat untuk para disabilitas berkarya dan hidup mandiri. Bukan hanya berjualan kerupuk, mereka juga bermusik.

Ada dua grup musik dengan genre musik berbeda yang dikembangkan mereka. Satu grup musik bernaama Netra Laras, yang lebih banyak beraliran musik Capursari. Pemainnya Akhiles, Yudi, Agung, Joko, Rofi.






Sementara, satu grup musik lagi beraliran pop, yakni RJY. Nama itu singkatan dari tiga nama pemainnya, yakni Rofi, Yudi, dan Joko. Akhiles biasa mengisi keyboard melodi dua, sementara Yudi merupakan pemegang gitar melodi dan vokal.

Joko yang mengalami keterbatasan penglihatan, atau lowfision, merupakan pemain keyboard melodi satu. Rofi seorang penyandang tuna netra, menjadi pemain bass, dan Agung adalah penggebuk drum yang handal, meskipun mengalami keterbatasan pada kakinya.

Mereka merupakan sahabat disabilitas dewasa dan remaja, yang sudah lepas dari sekolah dan harus hidup mandiri. Selain berjualan kerupuk dan ngamen, mereka juga menerima undangan untuk bermain musik mengisi acara.






Akhiles menegaskan, yang mereka butuhkan bukanlah belas kasihan. Tetapi kesempatan yang sama layaknya orang normal pada umumnya. “Kami punya kemampuan dan kemauan, meskipun banyak keterbatasan. Yang kami butuhkan ruang apresiasi serta kesempatan, bukan belas kasihan,” tegasnya.

Hadirnya media sosial, juga mulai mereka manfaatkan untuk mempromosikan karya-karya musik RJY dan Netra Laras. Video sederhana saat mereka tampil di berbagai kesempatan, telah mereka unggah di akun youtube Netra Laras Music.






Mereka juga pernah rekaman dan mengeluarkan album dalam bentuk VCD. Sayangnya, produksi yang telah dibuat dengan modal patungan itu sulit dipasarkan. Namun, semua itu tidak pernah membuat mereka patah semangat untuk hidup mandiri.

Semangat, kerja keras, kebersamaan, serta sikap saling menghormati dalam segala perbedaan dan keterbatasan yang dihadirkan para penyandang disabilitas ini, menghadirkan contoh yang baik bagi masyarakat. Mereka mampu hidup berdampingan dengan tetangga dan saling menghormati, tanpa sedikitpun meminta belas kasihan.

Yudi, Agung, Joko, Rofi, Akhiles, serta sahabat-sahabat disabilitas lainnya di rumah singgah Komunitas Rumah Sahabat, memiliki banyak keterbatasan fisik, tetapi mereka memiliki hati seluas samudera untuk menerima segala perbedaan dan keterbatasan itu dalam persaudaraan sejati.






Sumber Sindonews.com
https://jatim.sindonews.com/read/18100/1/mas-yudi-adalah-kakiku-dan-mas-agung-adalah-mataku-1576977173




Gerebek Rumah Warga, Polisi Amankan Pasangan Tanpa Ikatan Nikah

Polisi saat menggerebek sebuah rumah yang dihuni pasangan tanpa ikatan pernikahan yang dilaporkan oleh warga Kelurahan Samata Kabupaten Gowa. Foto: Istimewa






ARB INdonesia, SUNGGUMINASA – Bhabinkamtibmas Kelurahan Samata Polsek Somba Opu Gowa, Brigpol Basir bersama pemerintah setempat melakukan penggerebekan di salah satu rumah yang dijadikan tempat berkumpul sepasang pria wanita tanpa ikatan nikah.

Kasubag Humas Polres Gowa AKP Mangatas Tambunan mengatakan, penggerebekan dilakukan pasca menerima informasi via SMS/WA dari salah satu warga bahwa disalah satu rumah diduga sering ditemukan pasangan tidak resmi.






“Warga sudah pernah menegur pria dan wanita tersebut untuk tidak tinggal bersama namun, himbauan warga tidak dihiraukan. Makanya digerebek Sabtu (21/12/2019) kemarin,” ungkapnya, Minggu (22/12/2019)

Karena imbauan tidak diindahkan lalu, polis dan pemerintah setempat serta komunitas peduli kamtibmas bergerak cepat menanggapi laporan warga tersebut.

Alhasil, didapati sepasang lelaki dan wanita berada dalam satu kamar perempuan berinisial AM dan laki-laki DN.






Mangatas menatakan, awalnya pasangan tersebut tidak mau membuka pintu namun, setelah menunggu kurang lebih 30 menit DN keluar dari kamar tanpa menggunakan baju.

Hasil interogasi lanjut Tambunan, mereka mengakui telah memadu kasih sejak SMA dan telah melakukan hal-hal yang tak pantas dilakukan oleh pria dan wanita tanpa ikatan nikah.

Untuk mencegah hal tersebut, sang Bhabin dan pemerintah setempat bersama tokoh masyarakat sepakat membawa keduanya ke rumah Imam Kelurahan Samata untuk dilakukan pembinaan dan menyampaikan pesan kepada kedua orang tua pasangan tersebut untuk dinikahkan.

“Saya berharap bentuk antisipasi yang dilakukan Bhabinkamtibmas Kelurahan Samata ini dapat terus dilakukan dan berharap para tokoh masyarakat disetiap Kelurahan maupun Desa dapat membantu anggota kami dilapangan,” tandasnya.






Sumber Sindonews.com
https://makassar.sindonews.com/read/37390/4/gerebek-rumah-warga-polisi-amankan-pasangan-tanpa-ikatan-nikah-1576977142




Mobil Terobos Perlintasan Kereta Api di Bekasi, 7 Penumpang Tewas

Foto ilustrasi okezone






ARB INdonesia, BEKASI – Mobil Daihatsu Sigra B 1778 FZI tertabrak kereta api di perlintasan sebidang, Desa Wanasari, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Bekasi, Sabtu (21/12) malam. Tujuh penumpang mobil tewas.

Tujuh korban tewas teridentifikasi masing-masing Watinah (50), Santi (30), Didit (12), Yanto, Bahrudin (51), Syarufudin (49), dan Yanda (32). Mereka warga Jalan Arjuna III Nomor 34 RT 07 RW 07 Kelurahan Utan Kayu Selatan, Kecamatan Matraman, Jakarta Timur.






“Korban sudah dievakuasi ke RSUD Kabupaten Bekasi setelah kejadian,” kata Kasubag Humas Polres Metro Bekasi, AKP Sunardi, Minggu (22/12).

Ia mengatakan, peristiwa pukul 22.15 WIB bermula saat pengemudi mobil diduga tidak menghiraukan peringatan dari warga. Selain itu, alarm palang perlintasan sudah bunyi.

“Palang kereta posisi sudah ditutup namun terbuka sedikit,” kata Sunardi.

Pengemudi mobil tersebut tetap melaju. Bersamaan dengan itu, Kereta Api Argo Parahayangan melintas dari arah dari timur menuju ke Jakarta dengan kecepatan tinggi.

“Korban arah dari utara menuju ke selatan tertabrak di jalur dua,” katanya.






Sumber merdeka.com
https://m.merdeka.com/peristiwa/mobil-terobos-perlintasan-kereta-api-di-bekasi-7-penumpang-tewas.html




Delapan Kecamatan di Limapuluh Kota Sumbar Terdampak Banjir dan Longsor

Akibat intensitas curah hujan yang tinggi menyebabkan banjir dan longsor menerjang delapan kecamatan di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Foto: Dok BNPB






ARB INdonesia, LIMAPULUH KOTA – Akibat intensitas curah hujan yang tinggi sejak 19 hingga 21 Desember 2019 pada pukul 19.00-15.00 WIB, menyebabkan banjir dan longsor menerjang delapan kecamatan di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat (Sumbar).

Wilayah terdampak meliputi Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kecamatan Kapur IX, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kecamatan Akabiluru, Kecamatan Guguak, Kecamatan Payakumbuh, Kecamatan Lareh Sago Halaban, dan Kecamatan Harau. Bencana banjir dan longsor menyebkan beberapa badan jalan retak-retak dan putus, rumah tertimbun longsor, dan rumah warga terendam.






Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Agus Wibowo, mengatakan, longsor di Nagari Koto Alam, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, menyebabkan sebagian badan jalan retak-retak sepanjang lebih kurang 60 meter, 4 rumah amblas, dan 6 KK (8 jiwa) terdampak.

Sementara longsor dan banjir di Nagari Koto Tua, Kecamatan Kapur IX menyebabkan jalan yang menghubungkan Lubuk Alai – Koto Lamo putus total, 4 unit rumah rusak dan 800 KK terisolasi. Pada hari ini Sabtu tanggal 21 -12-2019 sudah pulih kembali sehingga masyarakat tidak terisolasi lagi.

“Longsor di Nagari Suayan, Kecamatan Akabiluru menyebabkan tebing jalan longsor dan menimbun badan jalan, dan juga mengancam 6 KK, serta menyebabkan 2 unit rumah rumah terendam. Saat ini banjir sudah surut dan jalan sudah dapat dilalui lagi. Banjir juga terjadi di Nagari Sarial Laweh yang menyebaban amblasnya tebing sungai dan mengancam 8 KK (25 jiwa) penduduk di sekitarnya,” ujar Agus, Sabtu (21/12/2019).






Longsor juga terjadi Nagari Simpang Sugiran, Kecamatan Guguak, menyebabkan rumah warga bernama Lebayam (80) tertimbun material longsor dan menimbun badan jalan. Saat ini sudah tertangani dan jalan sudah bisa dilewati.

Adapun banjir di Nagari Piobang, Kecamatan Payakumbuh, menyebabkan 3 rumah warga terendam. Saat ini banjir sudah surut. Demikian juga banjir di Nagari Balai Panjang, Kecamatan Lareh Sago Halaban, menyebabkan rumah 190 KK terendam dan saat ini sudah surut.

Banjir juga menimpa Nagari Sarilamak dan Taram, Kecamatan Harau yang menyebabkan beberapa rumah warga terendam. Saat ini banjir sudah surut.

Petugas gabungan dari BPBD dan OPD terkait, TNI, Polri, warga dan lainnya sudah turun ke lapangan untuk melakukukan kaji cepat, pembersihan, penimbunan jalan dan memberikan bantuan kepada warga terdampak. Saat ini banjri sudah surut dan beberapa ruas jalan yang tertimbun material longsor sudah dapat dilewati.






Sumber Sindonews.com
https://daerah.sindonews.com/read/1476817/174/8-kecamatan-di-limapuluh-kota-sumbar-terdampak-banjir-dan-longsor-1576940810




Polisi Bongkar Gudang Rokok Ilegal di Pekanbaru

Ditresnarkoba Polda Riau, Kombes Pol Suhirman memimpin pengungkapan rokok Luffman ilegal di Pekanbaru.(Istimewa)






ARB INdonesia, PEKANBARU – Pihak kepolisian membongkar gudang berisi 331.900 bungkus rokok ilegal merek Luffman di Perumahan Gesa Residence Blok Gardenia, Jalan Akasia, Kecamatan Tampan, Kota Pekanbaru. Dalam pengungkapan itu, 5 orang pelaku diamankan.

“Awalnya kita terima informasi dari masyarakat, bahwa akan ada penyalahgunaan narkoba dengan jumlah orang yang banyak di sana,” ujar Direktur Reserse Narkoba (Dirresnarkoba) Polda Riau, Kombes Pol Suhirman, mengisahkan muasal pengungkapan tersebut, Sabtu (21/12).






Atas informasi tersebut, petugas melakukan pengintaian. Hasilnya, petugas menemukan 2 orang yang dicurigai, dan kemudian membututinya.

“Tibalah di suatu rumah di dalamnya kita temukan rokok merek Luffman ilegal atau tanpa pita cukai. Pengungkapan itu dilakukan pada Jumat (6/12) lalu,” sebut mantan Dirresnarkoba Polda Bangka Belitung (Babel) itu.

Dari keterangan dua tersangka, diketahui ada satu gudang lagi yang digunakan untuk menyimpan rokok ilegal. Kemudian petugas menuju ke lokasi dimaksud dan menemukan satu gudang rokok serupa dengan penemuan awal.






“Ternyata mereka sengaja menyewa rumah hanya untuk dijadikan gudang tempat penyimpanan rokok ilegal itu,” kata dia.

“Jadi semua total rokok ilegal yang kita sita sebanyak 331.900 bungkus. Itu jumlah yang banyak untuk pengungkapan rokok ilegal. Selanjutnya barang bukti rokok kita serahkan ke Ditreskrimsus (Direktorat Reserse Kriminal Khusus,red) Polda Riau untuk dilakukan pendalaman,” sambungnya.

Dirincikannya, dari 331.900 bungkus rokok Luffman ilegal, di antaranya Luffman Young Mild sebanyak 78.400 bungkus, Luffman Light 86.000 bungkus, dan Luffman Flavor 167.500 bungkus. Selain barang bukti, petugas turut mengamankan lima orang tersangka.

“Tersangka masing-masing berinisial N, FS, A, AG dan K. Adapun peran kelima tersangka itu sebagai penjaga gudang, juru muat, pengawal barang dari gudang ke tempat tujuan, dan pembeli,” imbuh Kombes Pol Suhirman.






Sumber Haluanriau.co
https://haluanriau.co/2019/12/21/polisi-bongkar-gudang-rokok-ilegal-di-pekanbaru/




Kenalan Lewat WhatsApp, Gadis Belia Diperkosa Pengangguran

Foto ilustrasi kekerasan seksual






ARB INdonesia, JATENG – Seorang gadis di bawah umur, disetubuhi pacarnya yang baru dikenalnya melalui group Whatsapp (WA) se-bulan terakhir.

Kapolres Kebumen AKBP Rudy Cahya Kurniawan mengungkapkan, tersangka melakukan persetubuhan sebanyak dua kali kepada Bunga yang masih duduk dibangku SMA kelas 2 di daerah Pemalang.






Mula-mula tersangka menjemput korban dan selanjutnya mengajaknya ke Kabupaten Pemalang.

“Tersangka membawa kabur korban selama tiga hari ke Kabupaten Pemalang, tanpa izin kepada orangtua korban,” jelas AKBP Rudy didampingi Kasat Reskrim AKP Edy Istanto dan Kanit PPA Aiptu Nikmatun, Sabtu (21/12).

Persetubuhan dilakukan oleh tersangka karena sering melihat film porno. Gadis yang masih polos itu pun menuruti ajakan AG di sebuah rumah saudara tersangka di daerah Pemalang.






Peristiwa dugaan persetubuhan itu terbongkar setelah orang tua Bunga curiga dan menanyakannya kepada putrinya setelah pulang ke rumah.

Mendapati jawaban yang menyakitkan, karena perbuatan tak senonoh tersangka kepada putrinya, selanjutnya orang tua melaporkan ke pihak polisi yang berujung pada penangkapan tersangka.

Kini kisah cintanya harus berakhir di balik jeruji besi. Akibat perbuatannya, tersangka dijerat dengan Pasal 332 KUH Pidana dengan ancaman penjara paling lama 7 tahun. (*)






Sumber Pojoksatu.id
https://pojoksatu.id/news/berita-nasional/2019/12/21/kenalan-lewat-whatsapp-gadis-belia-diperkosa-pengangguran/