Warga Ingin Vaksin Gratis: Pakai Duit yang Dikorupsi, Balikin

Vaksin Sinovac yang baru tiba di Indonesia disimpan di Bio Farma Bandung (Muchlis – Biro Setpres)


ARBindonesia.com, JAKARTA – Pemerintah telah mendatangkan vaksin corona ke dalam negeri. Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengatakan  vaksin untuk melawan pandemi covid-19 bakal diberikan untuk 107 juta orang penduduk.


Angka tersebut diperoleh berdasarkan perhitungan 67 persen dari 160 juta orang penduduk yang berada di rentang usia 18-59 tahun. Hanya saja, dari 107 juta penduduk itu, tak semua dapat gratis, alias harus beli sendiri.


Skemanya lewat dua program: subsidi pemerintah 32 juta orang, 75 juta dijual untuk mandiri. Tak bisa semua gratis, pemerintah menyebut anggaran jadi kendala.


Pemerintah belum menetapkan harga vaksin covid-19 untuk setiap dosisnya. Namun PT Bio Farma (Persero) pernah menyampaikan harga vaksin corona di kisaran Rp72.500– Rp145 ribu. Belum lama ini harga yang diusulkan naik lagi menjadi Rp200 ribu per dosis. Jika asumsi satu orang mendapatkan 2 dosis, maka vaksin yang kudu dibayar sekitar Rp400 ribu.


Masyarakat merespons, cenderung keberatan dengan vaksin berbayar atau sikap pemerintah yang enggan memberi gratis. Salah satunya adalah Surya, pria berusia 30 tahun yang tinggal di wilayah Pancoran, Jakarta Selatan. Menurutnya, pemerintah berkewajiban untuk menyediakan vaksin gratis bagi seluruh masyarakat.


“Kalau vaksin ya harusnya pemerintah yang nanggung. Jangan ibarat kata, masyarakat lagi yang harus bayar,” kata Surya, Selasa (15/12).


Surya mengatakan, sejak pandemi Covid-19 terjadi di Indonesia, masyarakat mengalami kesulitan secara ekonomi, termasuk dirinya.
“Uang ratusan ribu, kalau lagi corona gini itu gede banget lah,” kata dia.


Jangankan untuk membayar vaksin, ia bahkan mengaku tak memiliki untuk membayar kontrakan.


“Boro-boro bayar vaksin, uang bayar kontrakan aja enggak ada. Kalau alasannya (pemerintah) enggak ada dana, pakai aja duit yang dikorupsi. Suruh balikin untuk vaksin buat rakyat aja,” ujar dia.


Warga Pancoran lainnya, Tarso juga sependapat dengan Surya. Menurut pria 60 tahun ini, jika memang pemerintah ingin menyelamatkan rakyat, vaksin harus disediakan secara gratis, sebab jika berbayar, tak semua masyarakat bisa mendapatkannya.


“Istilahnya ini ekonomi udah morat-marit kayak gini, ekonomi rakyat istilahnya buat hidup aja udah susah, kok malah suruh bayar,” ucap dia.


Jika memang harus berbayar, ia mengaku tidak akan mau mengeluarkan uang untuk vaksin. Alasannya, kata dia, masih ada kebutuhan pokok lainnya yang bisa dipenuhinya dengan uang ratusan ribu.


“Jangan sampai memberatkan rakyat. Bagi orang yang mampu, pejabat, itu enggak masalah. Kalau bagi rakyat kecil berat, makan harian aja susah banget,” ucap dia.


Ia juga mengatakan jika pemerintah beralasan tak memiliki anggaran untuk subsidi, anggaran untuk bansos bisa diganti untuk vaksin.


Sebab, selama ini, kata dia, bansos yang diberikan pemerintah bermasalah dan tidak tepat sasaran.


“Bisa itu dialihkan anggarannya, wong pemerintah yang berkuasa,” ujar dia.


Sementara itu, warga lainnya, May, mengatakan siap untuk membayar vaksin jika keadaan ekonominya normal. Namun, kata dia, saat ini, kondisi ekonominya tengah sulit.


“Kalau lagi ada duit, saya juga mendingan pilih bayar untuk sekeluarga, biar aman. Tapi kalau keadaan begini, buat makan aja susah. Harusnya kewajiban pemerintah,” mata May.


Ia mengatakan, jika mengikuti harga vaksin yang diusulkan senilai Rp400 dengan asumsi dua dosis. Ia membutuhkan uang setidaknya Rp2,4 juta untuk membayar bagi enam anggota keluarganya.
“Duit dari mana. Enggak mau saya, mendingan buat bayar kontrakan. Kalau gratis enggak papa,” ucap dia.


Tidak hanya ketiga warga itu yang meminta agar vaksin diberikan secara gratis, Herman, warga Mampang Prapatan, pun berpendapat demikian. Menurut Herman, pandemi ini adalah keadaan darurat yang seharusnya disikapi pemerintah dengan mengutamakan kesehatan masyarakat.


“Ya kalau bayar mah kita keberatan. Sedangkan kan warga itu enggak mungkin, apalagi lagi corona gini. Kayak saya jualan, dulu sebelum corona alhamdulillah ada begitu, sekarang kan udah sepi banget,” kata Herman.


Sama seperti warga lainnya, Herman juga menyatakan tidak akan mau mengeluarkan uang jika memang ia tak kebagian subsidi vaksin dari pemerintah.


“Ya misalnya harganya Rp400 ribu. Saya keluarga ada lima orang. Jutaan berarti saya harus keluarkan (uang),” ucap dia.
Sementara itu, berbeda dengan keempat warga sebelumnya, Tarman (30) mengaku tak akan mau divaksin meski diberikan secara gratis oleh pemerintah.


“Saya takut divaksin, jadi saya enggak mau walaupun gratis. Apalagi harus berbayar. Saya tidak mau pokoknya,” ucap Herman.
Ia sendiri mengaku percaya dengan adanya corona, namun menurutnya, banyak warga lainnya yang lebih penting mendapatkan vaksin dibanding dirinya.


“Ya mungkin orang-orang lanjut usia, tenaga kesehatan,” ucap dia.


sumber cnnindonesia.com




Kebakaran di Tembilahan, ini Identitas 6 Korban dan Kronologisnya

ARBindonesia.com, INDRAGIRI HILIR – Identitas 6 orang korban yang meninggal dunia akibat kebakaran yang terjadi di kisaran Jalan H Sadri dan Abdul Manaf, Tembilahan telah diketahui.


Dari keterangan yang di sampaikan Kapolres Inhil, AKBP Dian Setyawan keenam korban ditemukan petugas Damkar di ujung lorong lantai 2 Wisma Abu dalam kondisi bertumpuk.


Diduga korban meninggal dunia akibat kekurangan oksigen, karena terjebak dalam ruangan bagian belakang lantai 2 yang tertutup tembok.


“Diduga korban tidak bisa turun karena
kondisi api sudah membesar di bagian tangga dan lantai 1,” terang Kapolres, Senin (14/12/2020).


Selain itu, AKBP Dian Setyawan juga menerangkan kronologis peristiwa kebakaran terjadi sekira pukul 18.45 WIB.


Dari keterangan saksi, Andi mengetuk pintu kamar Adi Mulyadi untuk mematikan sekring listrik karena mendengar teriakan kebakaran di samping rumah yang bersangkutan.


Selanjutnya Adi Mulyadi pergi keluar rumah dan melihat kobaran api berasal dari depan Wisma Abu.


Kemudian saksi meminta tolong kepada warga sekitar untuk membantu memadamkan api.


Sekira pukul 19.30 Wib api berhasil dipadamkan oleh petugas pemadam kebakaran.


“Penyebab awal kebakaran diduga dari konsleting listrik di bagian receptionis lobbi depan. Atas peristiwa kebakaran tersebut kerugian materiil ditaksir 400 juta,” ungkap Kapolres.


Berikut Identitas 6 Korban Jiwa, satu diantara perempuan :


  1. Sahruji (24 tahun) alamat Desa Parit Kemang, Kecamatan Gaung, Kabupaten Inhil. (Mahasiswa).
  2. Heldi Gustyawan (18 tahun), alamat Desa Pangkalan Batang Barat (Rt 010/Rw 003), Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis,(Pelajar).
  3. Ilham Novariansyah (20 tahun) alamt Desa Bira, Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba, Prov. Sulawesi Selatan, (Tidak Bekerja).
  4. Kamaludin (36 tahun), alamat Desa Lahang Baru (Rt 025/Rw 012) Kecamatan Gaung, Kabupaten Inhil, (Swasta).
  5. Mahyuni (42 tahun), almat Desa Tegal Rejo Jaya (Rt 009/Rw 005), Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Inhil, (Petani).
  6. Siti Nurhaliza (21 tahun), alamat Desa Batang Tumu, Kecamatan Mandah, Kabupaten Inhil, ( Mahasiswi). (Data Polres Inhil).


(Arbain)




Kebakaran di Jalan H Sadri Tembilahan, 6 orang Meninggal Dunia

Petugas saat memadamkan api, foto Arbain


ARBindonesia.com, INDRAGIRI HILIR – Selain menghanguskan beberapa unit rumah dan ruko, Peristiwa kebakaran di Jalan H Sadri Tembilahan juga memakan korban jiwa sebanyak 6 orang.


Dari keterangan yang disampaikan Kapolres Inhil, AKBP Dian Setyawan mengatakan
bahwa ada 6 orang korban jiwa atas musibah kebakaran yang baru saja terjadi.


“5 Laki-laki dan 1 orang perempuan.
Diduga 6 orang tersebut merupakan tamu dari penginapan Wisma Abu yang ikut terbakar,” kata Kapolres, Senin (14/12/2020) malam.


“Untuk sementara, Identitas korban saat ini belum diketahui. Korban saat ini berada di RSUD Puri Husada Tembilahan” tambahnya.


Foto Korban meninggal dunia atas musibah kebakaran di Tembilahan, Inhil -Riau


Mengenai penyebab kebakaran itu sendiri, pihak Kepolisian akan mendatangkan Tim dari Polda Riau untuk melakukan olah TKP.


Selain itu, satu orang petugas pemadam juga dilarikan ke RSUD Puri Husada Tembilahan.


“Karena kehabisan oksigen saat membantu 6 orang korban. Saat ini kondisinya sudah membaik,” tutup tutup Kapolres.


Untuk diketahui, peristiwa kebakaran itu terjadi sekitar pukul 18.30 WIB, dan berhasil
dipadamkan oleh petugas kebakaran sekitar pukul 19.15 WIB.


(Arbain)




Implementasi CSR, PLTU Tembilahan Santuni Anak Yatim Piatu

ARBindonesia.com, INDRAGIRI HILIR – PT PJB Services PLTU Tembilahan menyantuni sejumlah anak yatim piatu, Senin (14/12/2020). Kegiatan kemanusiaan tersebut dilakukan sebagai wujud implementasi tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) PLTU Tembilahan.


Tercatat, 24 orang anak yatim piatu memperoleh bantuan CSR dari PLTU Tembilahan. Mereka merupakan anak-anak yang tinggal di sekitar kawasan PLTU Tembilahan atau yang dikenal dengan istilah ring 1.


Bantuan CSR secara simbolis diserahkan langsung oleh Manager PLTU Tembilahan, Wahyono. Hadir pula dalam kegiatan saat itu, Ketua Asosiasi Perusahaan Sahabat Anak Indonesia (APSAI), Dr. Halomoan.


Menurut Manager PLTU Tembilahan, Wahyono, bantuan CSR yang ditujukan bagi anak yatim piatu adalah bentuk perhatian dan kepedulian PLTU Tembilahan terhadap sesama.


“Alhamdulillah, hari ini PLTU Tembilahan bisa hadir di tengah adik-adik yatim piatu, memberikan sedikit bantuan bagi mereka,” tukas Wahyono usai kegiatan.


Wahyono juga mengungkapkan, bantuan CSR bagi anak yatim piatu ini adalah cerminan rasa syukur atas dukungan masyarakat terhadap PLTU Tembilahan selama ini.


“Tanpa dukungan itu, mungkin kami saat ini tidak dapat berdiri berdampingan dengan masyarakat dalam upaya menerangi negeri,” tutur Wahyono.


Lebih lanjut, Wahyono berharap agar dukungan masyarakat terhadap PLTU Tembilahan dapat terus berlanjut. Di samping itu, Dia juga berharap, bantum yang diberikan dapat bermanfaat bagi anak-anak yatim piatu tersebut.


“Semoga dengan dukungan masyarakat, kami dapat bekerja lebih baik lagi. Dan untuk bantuan yang telah diberikan, semoga dapat bermanfaat. Sekali lagi Saya ucapkan terima kasih kepada segenap masyarakat,” pungkas Wahyono.


Sementara itu, Ketua Asosiasi Perusahaan Sahabat Anak Indonesia (APSAI), Dr. Halomoan mengapresiasi sikap peduli terhadap sesama yang ditunjukkan oleh PLTU Tembilahan dengan cara memberikan santunan bagi anak-anak yatim piatu.


“Tentunya ini akan sangat membantu mereka (anak yatim piatu, red) untuk memenuhi keperluan, seperti mungkin keperluan sekolah. Kesadaran oleh perusahaan seperti PLTU Tembilahan ini lah yang sebenarnya kita perlukan,” jelas dr Halomoan.


Senada dengan Manager PLTU Tembilahan, dr Halomoan mengharapkan, bantuan CSR yang diberikan dapat dimanfaatkan dengan baik oleh anak-anak yatim piatu penerima bantuan.


“Semoga juga barokah. Apalagi di tengah pandemi Covid-19 ini, ekonomi masih dalam masa pemulihan, Saya yakin bantuan itu akan sangat-sangat bermanfaat bagi mereka,” tandas dr Halomoan.


Untuk diketahui, pada gelaran tersebut, pihak panitia penyelenggara tetap mematuhi protokol kesehatan, menerapkan 3M, yakni memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak. (*)




Gaji Sudah Dibayarkan, Pekerja Proyek Pembangunan RSUD Tembilahan Besok Kembali Bekerja

Para Pekerja saat berkumpul di lokasi Proyek pembangunan RS Tembilahan, foto Arbindonesia.com


ARBindonesia.com, INDRAGIRI HILIR – Gaji para pekerja proyek Pembangunan RSUD Tembilahan yang sempat tertunda dibayarkan oleh pihak perusahaan akhirnya dibayarkan, Senin (14/12/2020) sore.


Dengan telah dibayarkannya upah tersebut, besok (Selasa 14/12) para pekerja akan kembali melakukan pekerjaannya seperti biasa.


“Sudah dibayarkan, besok kami mulai kembali bekerja,” kata Teguh saat dihubungi melalui seluler, Senin (14/12/2020).


Selain itu, Teguh yang juga merupakan Kepala mandor dalam pengerjaan proyek tersebut berharap hal serupa (Gaji Tertunda) tidak terulang kembali kedepannya.


“Agar kami bisa bekerja maksimal, harapan kami semua sebagai pekerja tentunya hal serupa tidak terulang kembali,” tutupnya.


Dalam pemberitaan sebelumnya, akibat gaji para pekerja belum dibayarkan oleh pihak Perusahaan, proyek pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Puri Husada Tembilahan terpaksa terhenti untuk sementara.


Pasalnya, hampir satu setengah bulan gaji harian para pekerja proyek tersebut belum juga dikeluarkan oleh pihak perusahaan (PT Kiyolan Mulya Karya).


Hal itu yang membuat para pekerja pada beberapa hari belakangan ini tidak melakukan aktivitas pekerjaannya seperti biasa.


(Arbain)




Dua Pencuri Zonk, Berhasil Bobol Pintu Kontrakan Tapi Kok' Kabur


Ket: Tampak kumci rumah kontrakan dibongkar maling di Jalan Datuk Bandar, Gang Sakur, Senin (14/12), sekira pukul 00.30 WIB. (Dok. Istimewa)


ARBindonesia.com, INDRAGIRI HILIR – ‘Zonk‘, itulah hasil yang didapat dua orang pria yang nekat melakukan pencurian di rumah kontrakan yang berpenghuni, Senin (14/12/2020).


Pasalnya, maling yang berjumlah dua orang itu kabur setelah berhasil membobol pintu salah satu rumah warga di Jalan Datuk Bandar, Lorong Sakura, Gang Bunga Ros, Tembilahan, Inhil.


Ia terpaksa melarikan diri setelah upaya pencurian yang dilakukan dua orang pria tersebut kepergok oleh penghuni rumah.


Menurut pengakuan penghuni rumah, Deky menyampaikan bahwa maling yang berjumalah dua orang itu masuk kerumah dengan mencungkil gembok pintu rumah dengan menggunakan alat yang diduga benda tumpul.


“Dua orang, gembok dirusak,” sebut Deky kepada awak media, Senin (14/12), sekira pukul 00.45 WIB.


Untungnya kata Deky, abang iparnya (Tiar) sempat terbangun ketika mendengar suara pintu dibuka oleh pencuri tersebut.


“Abang terbangun, ada suara orang buka pintu,” sebutnya.


Pengakuan Tiar, saat mendengar suara orang masuk, lantas ia keluar kamar dan dua orang pencuri itu langsung kabur. Namun Tiar tidak sempat melihat ciri-ciri pencuri itu.


“Pencurinya kabur saat melihat saya terbangun,” terangnya.


Atas kejadian itu, pencuri tersebut tidak sempat mengambil barang berharga milik korban. Namun kunci pintu rusak akibat dibongkar pelaku.


Setelah peristiwa itu, korban langsung melaporkan kejadian tersebut ke Polres Inhil.


Tidak berselang lama, kemudian dua orang petugas Kepolisian langsung datang ke TKP untuk meminta keterangan.


(Arb)