Sektor Kesehatan Makin Dikomersialisasi

www.detikriau.wordpress.com (TEMBILAHAN) – Masyarakat mungkin merindukan tenaga medis seperti dokter, perawat dan bidan yang lebih mengedepankan nilai pengabdian, ketimbang sisi komersial. Pengabdian seorang tenaga medis mungkin saat sekarang ini hanya ada ditayangan televisi seperti penayangan Trans TV yang biasa tayang pada sore hari. Dimana tenaga medis dengan sukarela membantu masyarakat, tanpa memikirkan imbalan.

Setakat ini, yang terlihat dalam alam nyata kita adalah komersialisasi kesehatan. Dimana-mana untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, harus ada uang terlebih dahulu. Kalau tidak ada uang, rasanya sangat mustahil seorang warga akan memperolehnya, meski ketika itu nyawa sudah hampir mereggang.

Meskipun ada semacam pengobatan gratis, itupun biasanya disponsori oleh kalangan tertentu, apakah itu partai politik ataupun lembaga-lembaga lainnya yang sarat dengan pesanan dari sponsor. Tapi yang namanya murni, rasanya sangat jauh dari harapan dan mungkin hanya ada dalam mimpi warga saja.

Itu semua tentunya berakar pada komersialisasi dan leberalisme dunia pendidikan. Fakultas kedokteran dan lembaga pendidikan lainnya yang berkaitan dengan dunia medis saat ini sudah menjadi barang yang sangat mahal. Hanya kalangan orang “beruang” saja yang mampu menyekolahkan anak mereka kesana yang tentunya tidak mungkin terjangkau oleh masyarakat kebanyakan.

Besarnya biaya investasi yang harus ditanamkan seorang tenaga medis tentunya berimbas pada upaya untuk mencari keuntungan tanpa memikirkan pengabdian sebagaimana yang diatur dan menjadi sumpah seorang tenaga medis. Akibatnya, seorang tenaga medis dalam bekerja, lebih mengedepankan komersialisasi.

Itulah yang terjadi disetiap wilayah di Negara ini, tidak terkecuali di Inhil. Dimana akan mudah ditemui, pasien yang terlantar hanya karena ketidakmampuan biaya. Meskipun dalam berobat mereka menggunakan Jamkesda, Jamkesmas, yang tentunya pengobatan mereka ditanggung oleh daerah maupun Negara. Tapi dalam prakteknya, mereka sering termarjinalkan.

“Kalau sudah ke dokter saya takut, biayanya mahal. Orang seperti kami mungkin tak sanggup untuk membayar biaya perobatan. Memang ada Kartu Jamkesda dan Jamkesmas yang terkadang dimiliki, tapi biaya obat terkadang selangit dan tidak terjangkau,” kata Fauziah, salah seorang warga Tembilahan ketika berbincang-bincang baru-baru ini.

Akibat komersialiasi bidang kesehatan, banyak warga yang menggunakan jasa pengobatan alternatif. Meski terkadang tidak masuk logika, tapi masyarakat sepertinya tidak punya alternatif lain. Ambil contoh, dengan menggunakan semacam media air putih ditambah dengan jampi-jampi mampu untuk mengobati berbagai penyakit termasuk yang kronis.

“Mau tidak mau kita terpaksa berobat untuk jalur alternatif. Sebab kalau ke medis, apalagi harus operasi terkadang kita takut. Dimana harus mencarikan biayanya yang begitu mahal,” kata Iqwal, salah seorang warga yang kebetulan sempat berbincang belum lama ini.

Apa yang kita saksikan belakangan ini, tentu membuat miris. Paska 66 tahun Indonesia merdeka, bukan pelayanan kesehatan semakin mudah dan terjangkau, tapi malah sebaliknya. Kondisi itu tentunya berbeda dengan waktu Indonesia merdeka, karena banyak faktor yang menyebabkan itu terjadi. Tapi kalau sekarang tentunya berbeda, tapi kalau itu terjadi, hanya karena komersialiasi dan liberalisme dunai kesehatan, dan tidak adanya kesadaran tanaga medis dalam melakukan pengabdian. Selanjutnya, apa relevansinya dengan kampanye bea kesehatan gratis yang sering didengungkan dalam setiap kali ikrar janji pilkada? Apakah sekedar janji bohong?………(drc2 )




Akibat Cuaca Panas, Kebun Rawan Terbakar

www.detikriau.wordpress.com (TEMBILAHAN )– Dampak dari kemarau yang terjadi di Kabupaten Inhil semakin dirasakan oleh masyarakat. Di pedesaan, masyarakat diresahkan dengan kurangnya air bersih untuk dikonsumsi masyarakat. tidak hanya itu, kebun-kebun masyarakat belakangan ini rawan terjadinya kebakaran.
Rawannya kebun akan kebakaran terjadi didesa Sialang Jaya, baru-baru ini sudah dua hektar kebun masyarakat yang terbakar. Beruntung pohon-pohon kelapa tidak ikut terbakar dan hanya daun-daunnya saja yg layu akibat terkena hawa panas api.
“saya kira api berasal dari puntung-puntung rokok dari warga yang lewat, kebetulan rumput dikebun saya baru selesai saya tebas jadi rumputnya sudah kering sehingga api dengan mudah menyala dikarenakan hari yang panas sehingga sedikit saja ada nyala api maka api akan cepat membesar,” kata Maliyanto, pemiliki kebun.
Selain rawannya kebakaran, kekurangan air bersih untuk diminum juga terjadi didesa Sialang Jaya, walaupun sudah terdapat sumur bor tapi bagi masyarakat yang terbiasa mengkonsumsi air hujan untuk minum tetap merasa tidak nyaman.
“Walaupun sudah ada sumur bor, tapi bagi kami yang terbiasa mengkonsumsi air hujan air sumur bor tersebut tidak begitu enak diminum. Tidak biasanya panas terjadi selama ini sehingga menyebabkan air hujan yang ditampung masyarakat habis,” kata parmi. (drc3)




Masyarakat Gembira Sambut Perbaikan Jalan Lintas Sungai Piring Menuju Sungai Luar

www.detikriau.wordpress.com (TEMBILAHAN) – Harapan masyarakat Kecamatan Batang Tuaka agar jalan lintas antara Sungai Luar menuju Sungai Piring layak untuk dilewati akan segera terwujud. jika selama ini masyarakat terpaksa melalui badan jalan yang rusak dan berlobang disana-sini, licin dan berair dalam musim penghujan maka tidak terlalu lama lagi masyarakat akan melalui jalan yang baik karena saat ini Pemda melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU) telah melakukan perbaikan jalan.
Jalan lintas antar sungai piring menuju sungai luar sudah lama mengalami kerusakan bahkan akhir-akhir ini kondisi jalan tersebut sudah sangat memperihatinkan, banyak lobang-lobang besar yang terdapat dibadan jalan yang terpaksa di timbuni masyarakat dengan menggunakan pohon-pohon kelapa yang dipotong-potong dan dilintangkan di lobang-lobang besar tersebut agar kendaraan bisa lewat.
Perbaikan jalan tersebut disambut gembira oleh seluruh masyarakat yang sering melintasi jalan tersebut untuk pergi berkerja ataupun bagi anak-anak sekolah. “Sudah lama kita mengharapkan agar jalan lintas sungai piring menuju kesungai luar ini diperbaiki, bayangkan saja sejak dari pembuatan sampai sekarang baru ini Pemda memperbaikinya,” kata Masrun, seorang warga sungai piring.
Akses jalan sebagai jalur transportasi merupakan salah satu faktor penting dalam menunjang pertumbuhan ekonomi suatu daerah, dengan baiknya jalan lintas tersebut masyarakat mengharap agar akses transportasi akan berjalan baik dan pertumbuhan ekonomi masyarakat akan semakin meningkat karena banyak masyarakat yang menggunakan jalan tersebut untuk berusaha.
“Dengan baiknya jalan tersebut nanti maka pertumbuhan ekonomi tentu akan meningkat, tidak hanya kita yang akan lebih mudah pergi ketembilahan untuk belanja, tapi bagi para pembelok (pedagang keliling antar desa. Red) yang berjualan mengejar pasar-pasr di pedesaan juga akan semakin mudah dan masyarakat akan dengan mudah berbelanja,” kata Iham, pemilik toko kelontong yang tinggal didesa sialang jaya. (drc3)




Terkait Pasien Yang Terlantar Dewan Akan Panggil Manajemen RSUD Puri Husada

www.detikriau.wordpress.com (TEMBILAHAN) – Dewan mengagendakan akan melakukan hearing terhadap manajemen RSUD Puri Husada Tembilahan, IDI Inhil dan Diskes, terkait terlantarnya pasien pendarahan sampai meninggal dunia. Pernyataan ini disampaikan Ketua Fraksi Bintang Reformasi dan Keadilan DPRD Inhil, H Bakri H Anwar, menurutnya pihaknya akan mempertanyakan kepada pihak terkait terkait masalah ini.

“Kita (Komisi IV DPRD Inhil, red) rencanakan akan melakukan pemanggilan terhadap manajemen RSUD Puri Husada Tembilahan, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Inhil dan Diskes Inhil atas terlantarnya pasien pendarahan di RSUD Puri Husada Tembilahan hingga meninggal beberapa hari lalu,” ungkap H Bakri H Anwar.

Politisi Partai Bintang Reformasi (PBR) ini menyayangkan lambannya penanganan pihak RSUD sehingga menyebabkan pasien terlantar sampai meninggal dunia. Jangan sampai karena dokternya liburan, sehingga mengabaikan keselamatan pasien. Kejadian seperti ini, tandasnya tidak boleh terulang lagi.

Terang Bakri, pemanggilan ini terkait laporan warga Kelurahan Sungai Beringin, Kecamatan Tembilahan, Rudianto (35) yang menyesalkan dan kecewa akan buruknya pelayanan RSUD Puri Husada Tembilahan sehingga isterinya yang mengalami pendarahan setelah melahirkan meninggal dunia.

Rudianto menceritakan almarhumah isterinya, Rina (30) yang melahirkan melalui operasi caecar anak ketiga di RS Pematang Reba, Inhu, setelah pulang ke Tembilahan ternyata mengalami pendarahan. Maka, dibawanya ke RSUD Puri Husada Tembilahan, Jum’at (2/9/) lalu.

Ternyata, setelah sampai di RSUD Puri Husada menurut perawat jaga dokter tidak ada sedang liburan di kampung. Dokter akan berada di Tembilahan pada Senin (4/9/11). Sehingga selama itu almarhumah isterinya tidak mendapatkan pelayanan maksimal.

Pada saat itu perawat menjanjikan kepadanya bahwa dokter akan datang memeriksa isterinya Senin pagi. Namun setelah ditunggu tak datang juga, maka terpaksa ia datang menjemput dokter tersebut ke rumahnya.”Saat itu perawat menyatakan dokter akan datang ke rumah sakit Senin pagi, namun tidak juga datang. Maka, terpaksa saya jemput ke rumahnya, sedihnya saat dokter itu tiba isteri saya meninggal dunia,” ceritanya. (drc)




Kemarau Panjang, Kualitas Air PDAM di Lahang Buruk

www.detikriau.wordpress.com (LAHANG LAMA) – Pelanggan PDAM Tirta Indragiri yang berada di Lahang Lama, ibu kota Kecamatan Gaung mengeluhkan kualitas air yang mereka terima. Hampir satu bulan belakangan, air yang sampai ke pelanggan kualitasnya sangat buruk. Airnya berwarna keruh dan rasanya sedikit payau.

Ungkapan itu disampaikan oleh Adam salah seorang pelanggan PDAM baru-baru ini melalui sambungan telepon selular. Menurutnya, Buruknya kualitas air ini menyebabkan dirinya dan keluarga tidak mau menggunakan air yang ada termasuk untuk mandi dan mencuci.

“Warna airnya sangat keruh dan rasanya agak payau. Tidak jauh bedanya dengan air yang ada di Sungai Gaung. Dengan kualitas air seperti itu, sudah barang tentu tidak bisa digunakan untuk mandi dan mencuci. Sebab kalau dipergunakan untuk mandi, rasanya dibadan agak lengket, begitu juga untuk mencuci malah semakin membuat pakaian menjadi kotor,” kata Adam menjelaskan.

Akibatnya, ia terpaksa menggunakan air sumur untuk mandi dan mencuci, sebab kualitasnya jauh lebih baik dari air PDAM yang mereka terima. “Dari pada menggunakan air PDAM, rasanya lebih baik menggunakan air sumur,” terangnya.

Ditambahkan Adam, buruknya kualitas air PDAM dikarenakan bahan baku yang digunakan adalah air sungai Gaung. Bila kemarau panjang seperti sekarang ini maka sumber air disungai Gaung akan menjadi keruh dan berlumpur serta rasanya menjadi payau.

Hal itu tentunya berbeda ketika musim penghujan, dimana warna air berobah agak kemerahan, dan rasanya payaunya menjadi hilang. “Karena disini, kualitas air masih tergantung dengan musim. Disaat penghujan air bersih, dan saat kemarau ya keruh seperti ini,” bebernya. (Suf)




Terkait Penangkaran Burung Walet di Tembilahan Penarikan PAD Masih Belum Maksimal

www.detikriau.wordpress.com (TEMBILAHAN) – Meski potensi walet di Inhil sangat besar, kenyataannya sumbangsih sektor ini untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) masih jauh dari harapan. Untuk itu, harus ada langkah konkrit guna memaksimalkannya sebagai salah satu sektor sumber penerimaan PAD.

Terkait persoalan tersebut, Kabid Pendapatan Dispenda Kab. Inhil, Irsyad Pohan dalam hearing publik, Selasa, (13/9) di ruangan Badan Anggaran (Banggar) mengungkapkan sering menemukan data yang dimiliki sering kali tidak sesuai dengan keadaan dilapangan. Dari informasi yang didapatnya, kebanyakan dalam pengurusan izin masyarakat memang tidak membunyikan untuk membuat penangkaran burung wallet terkait adanya pelarangan pembuatan penangkaran burung wallet pada lokasi dalam Kota Tembilahan. “Pada kenyatannya, setiap berdirinya ruko hampir dapat dipastikan diatasnya dijadikan tempat penangkaran burung. “Akhirnya tentu data yang kita peroleh tidak akan pernah sama dengan data riil dilapangan.” katanya.

Masih menurutnya, Jadi kalau kita ingin tertib, bagaimana kalau surat edaran tersebut bisa dicabut saja. Sehingga nantinya akan lebih mudah, dan tentunya akan berdampak peningkatan PAD. “Selama ini dalam penarikan kita tidak mempermasalahkan ada izin atau tidak, yang penting ada Objek,” ujarnya.

Sementara itu Sekretaris Badan Perizinan Kabupaten Inhil, Rusmaidi, mengungkapkan izin penangkaran sarang burung wallet ini memang diakuinya belum tertib. Untuk izin gangguan (HO) Badan perizinan setidaknya menerbitkan sekitar 500 an izin namun bukan untuk penangkaran sarang burung wallet.

Sementara itu Hadi Rahman, Kasi Penegakan Hukum (Gakkum) Kantor Satuan Polisi Pamong Praja Inhil, terkait pendataan mengenai pengkaran sarang burung wallet ini sangat diperlukan kejujuran objek pajak itu sendiri. “Sejauh ini kita sudah selalu melakukan himbauan masalah perizinan ini kepada pengusaha, tapi masih banyak yang belum mematuhi,” terang Hadi Rahman. ( Suf)