Kejaksaan Diminta Tuntaskan PR GCM dan Kebun K2I

Jadikan Alat Uji Kesungguhan Kejaksaan Tindak Perkara Korupsi

ARBIndonesia.com, (TEMBILAHAN) – Kasus PT Gemilang Citra Mandiri (GCM) dengan total anggaran 4.2 milyar dan juga kebun K2I di Dinas Kehutanan dan Perkebunan dengan total anggaran 3.9 milyar pada tahun 2006 yang lalu merupakan Pekerjaan Rumah (PR) yang mesti dituntaskan. Hal itu untuk membuktikan komitmen Kejaksaan Negeri Tembilahan dalam hal pengungkapan korupsi.

Apalagi lagi kedua kasus tersebut diketahui sudah pernah masuk ke Kejaksaan Negeri Tembilahan sebelumnya. Tapi sayangnya, tindak lanjut kasus tersebut tidak pernah didengar. Hal itu dapat dilihat, dengan tidak adanya satu orangpun yang pernah diproses secara hukum dalam rangka mempertanggungjawabkan perbuatan yang mereka lakukan.

Apalagi kalau digabungkan mata anggaran atas dua item kegiatan yang dimaksud jumlahnya bukanlah kecil, sebab kalau ditotal mencapai angka 8.1 milyar, tentu sebuah nilai yang cukup pantastis. Kalau seandainya anggran tersebut dialihkan untuk pemberdayaan ekonomi kerakyatan seperti pengembangan usaha kecil, tentunya akan membantu roda perekonomian masyarakat Inhil.

Ataupun anggaran yang dirampok dari dua kegiatan tersebut digunakan untuk pembelian alat berat dalam rangka menyelamatkan lahan perkebunan masyarakat Inhil yang rusak akibat intrusi air laut, tentunya petani Inhil tidak pantas untuk menjerit, karena lahan perkebunan mereka jadi terselamatkan dan tidak menjadi kritis seperti sekarang ini.

“Dua kasus tersebut adalah PR yang wajib dituntaskan oleh pihak Kejaksaan Negeri Tembilahan,” ujar Joni Faisal, SH seorang pemerhati Sosial di Inhil kepada www.detikriau.wordpress.com, Kamis, (28/7), terkait persoalan GCM dan juga kebun K2I.

Lebih jauh menurutnya, dua kasus tersebut hendaknya menjadi tonggak bagi pihak Kejaksaan dalam rangka menimbulkan kepercayaan masyarakat atas supremasi hukum di Inhil. Sebab selama ini kepercayaan masyarakat, atas penanganan berbagai persoalan korupsi sudah sampai titik nadir, akibat banyaknya kasus besar yang mengendap ketika sampai ke jalur hukum.

Masih menurunya, selain itu pengungkapan dua kasus tersebut paling tidak sebagai bentuk dari kesungguhan atas komitmen yang sering disampaikan Kejaksaan Negeri Tembilahan untuk menuntaskan berbagai persoalan korupsi di Inhil. Tentunya masyarakat akan selalu menunggu komitmen tersebut.

“Jangan sampai nantinya citra aparat penegak hukum terutama Kejaksaan makin tidak dipercaya oleh publik. Apalagi, kedua kasus tersebut sudah pernah ditangani disana. Maka jangan sampai hal serupa terjadi untuk kedua kalinya,” tukasnya. (Nejad)




AREAL PARKIR BANK RIAU RAWAN PENCURIAN

ARBIndonesia.com, (TEMBILAHAN) – Peringatan untuk setiap pengendara sepeda motor, saat memarkirkan sepeda motornya mohon dipastikan kendaraan dalam keadaan terkunci, tidak terkecuali dengan helm, sebab saat ini helm merupakan benda yang sering jadi incaran.

Hal itu dikarenakan seringnya masyarakat yang kehilangan helmnya saat memarkirkan sepeda motor ditempat parkir. Seperti yang terjadi pada Marfiansyah, korban pencurian helm, kamis(28/07).

Kepada wartawan Marfiansyah yang merupakan seorang mahasiswa di Fakultas Hukum Universitas Islam Indragiri mengatakan bahwa saat itu dia bersama temannya sedang membayar uang semester di bank Riau-Kepri. “Saya bersama teman saya ingin membayar uang semester di bank Riau-kepri. Saat saya sedang menunggu antrian. Saat itulah para pencuri tersebut beraksi,” kata Marfiansyah.

Menurut marfiansyah pelaku pencurian tersebut berjumlah dua orang, kedua orang tersebut sudah berada ditempat parkir saat dia datang. “Saat saya datang kesini saya sudah melihat mereka. Saat terjadinya pencurian tersebut polisi yang menjaga bank ini sudah mengejar kedua pencuri tersebut namun tidak berhasil menangkap mereka, yang kabur dengan menggunakan sepeda motor dengan no polisi BM 509 GI,” katanya.

Menurut Fahmi, temannya mafiansyah yang juga membayar uang semesternya dibank tersebut, para pencuri tersebut merupakan orang-orang yang cukup frofesional dalam pekerjaannya tersebut, terbukti dalam mengambil helm tersebut mereka tidak memutuskan tali pengaman helm tapi membuka tali pada besi helm padahal saat itu helm sudah dikaitkan kedalam jok. “ Kalau mereka memutuskan tali helm tersebut tentu mereka tidak bisa menjualnya dengan mahal,’ katanya.

Kejadian pencurian ini sudah diserahkan kepada pihak kepolisian, karena polisi yang bertugas disini sudah menghubungi pimpinannya. “Dengan kita mengetahui nomor polisi dari pelaku pencurian tersebut kita harap pihak kepolisian cepat menangkap pencurinya,” katanya lagi.

Kasus pencurian seperti ini memang sering terjadi diisini, kemarin teman saya pernah juga kehilangan helm disini saat ingin membayar uang semester juga. Dengan kejadian seperti ini kita harap agar pihak Bank harus meningkatkan keamanan, terutama di tempat parkir jelas Marfiansyah. Kamis (28/07). (Wawan)




MAHASISWA KKN UNISI GELAR PENGHIJAUAN

ARBIndonesia.com (TEMBILAHAN) – Dalam upaya menimalisir dampak pemanasan global, mahasiswa UNISI posko 2 yang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kelurahan Sungai Salak, Kecamatan Tempuling. sabtu (22/07) mengadakan kegiatan penghijauan pohon trembesi diareal pemukiman masyarakat.

Kegiatan penghijauan tersebut dilakukan di areal pemukiman masyarakat dalam rangka mewujudkan lingkungan yang hijau dan bebas polusi. Fitriyanti, salah seorang mahasiswa yang tergabung dalam kegiatan tersebut menjelaskan bahwa kegiatan tersebut selain sebagai upaya untuk melakukan penghijauan juga bertujuan untuk memberikan kesadaran dan cinta lingkungan kepada anak-anak di Kelurahan Sungai Salak.

“Dengan adanya kegiatan seperti ini kita harap dapat memberikan kenyamanan kepada masyarakat, selain itu kita berharap dapat memberikan kesadaran kepada anak-anak disini tentang pentingnya pohon dalam menjaga ekosistem,” katanya.

Penanaman pohon trembesi tersebut merupakan suatu langkah yang positif untuk menciptakan rasa tanggungjawab pada lingkungan. Dengan melakukan penanaman maka kemudian rasa tanggungjawab untuk menjaga dan memelihara agar pohon tersebut tumbuh subur akan dirasakan masyarakat Kelurahan Sungai Salak.

“Kita hanya sebagai pelopor penanaman, sedangkan nantinya yang akan merawat pohon-pohon tersebut adalah tanggungjawab dari masyarakat sungai salak. Kita harapkan kegiatan ini tidak berhenti disini, terus berkesinambungan dalam menciptakan daerah yang hijau, bebas polusi dan indah,” kata Fitriyanti lagi. (Wawan)




Alat Rontgen Milyaran Rupiah “Katanya” Disimpan di Gudang Dinkes

ARBIndonesia.com, (TEMBILAHAN) – Kepala Seksi (Kasi) Kefarmasian, Makanan, Minuman dan Perbekalan Dinas Kesehatan Kabupaten Inhil Azri , mengakui bahwa pengadaan alat rontgen pada tahun 2010 yang lalu barangnya saat ini memang belum dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Alat tersebut saat ini disimpan di gudang Dinas Kesehatan.

“Alat tersebut ada, saat ini barang tersebut kita simpan di gudang kita,” kata Azri saat ditemui Www.detikriau.wordpress.com, di ruangan kerjanya, Rabu, (27/7), ketika dimintai tanggapannya seputar pengadaan alat rontgen pada tahun 2010 yang hingga sekarang masih belum difungsikan.

Dalam kesempatan tersebut Azri juga meluruskan informasi seputar alat rontgen diperuntukan yang di peruntukan untuk Rumah Sakit Guntung tersebut. Dijelaskannya sesuai dengan rencana awal, pengadaan alat tersebut diperuntukan untuk Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) yang membutuhkan, dan bukan mutlak untuk RS Guntung. Bisa saja nantinya alat tersebut dipasang di RSUD Puri Husada Tembilahan, RSUD Pulau Kijang, ataupun RSUD Guntung.

Tapi berdasarkan kebutuhan yang mendesak, berkemungkinan alat tersebut akan dipasangkan ke RSUD Puri Husada Tembilahan. Alasannya, karena memang peralatan sejenis yang ada di RSUD tersebut sedang rusak. “Apalagi memang ada permohonan dari RSUD Puri Husada dengan Nomor 445/RSUD-YANMED/1020, terkait permohonan permintaan alat,” terang Azri.

Selain itu dijelaskannya, penggunaan alat medis tersebut membutuhkan tenaga dokter khusus yang tentunya tidak sembarangan bisa digunakan. Ditambah untuk pemasangan alat tersebut membutuhkan ruangan khusus dan penggunaanya membutuhkan daya listrik yang cukup besar.

Sementara itu, untuk kedua RSUD baik yang ada di Guntung dan Pulau Kijang, apakah persyaratan untuk pemasangan tersebut sudah terpenuhi atau belum bisa disaksikan sendiri. Sebab nantinya kalau sudah terpasang, tentunya tidak mungkin bisa dibongkar lagi, karena dapat menyebabkan kerusakan pada alat tersebut. “Makanya berbagai pertimbangan yang ada, alat tersebut belum difungsikan hingga sekarang,” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu yang bersangkutan juga meluruskan informasi bahwa pengadaan alat rontgen tersebut nilai 1.8 milyar seeperti yang disampaikan oleh salah seorang anggota dewan Dapil Kateman. Kata Azri, dana 1.8 milyar tersebut peruntukannya bukan hanya untuk alat rontgen, melainkan masih banyak lagi peralatan yang dibeli dengan total anggaran yang dimaksud.

“Tidak benarlah kalau harganya sampai 1.8 milyar, kalau sampai harga sejumlah itu, kemahalan,” ujarnya. (Nejad)




Warga Sungai Salak Kecewa Dengan Pimpinan PLN Sub Ranting

ARBIndonesia.com, (TEMBILAHAN) – Pemasangan jaringan baru yang dilaksanakan oleh PLN Ranting Tembilahan di Kelurahan Sungai Salak Kecamatan Tempuling meninggalkan banyak permasalahan. Salah satunya adalah warga yang belum menandatangi kontrak dan dipanggil oleh PLN Ranting Tembilahan, kenyataan rumah mereka telah telah terpasang meteran listrik.
Padahal sesuai dengan mekanisme dan prosedur pemasangan meteran baru dengan jelas dikatakan bahwa meteran dan api baru bisa masuk kalau memang pelanggan baru sudah dipanggil.

Selanjutnya ada kontrak perjanjian antara kedua belah pihak, lalu diikuti dengan persetujuan PLN Rantng Tembilahan, pembayaran DP ke bank, maka barulah bisa dipasangkan.
“Kenyataan ada pihak yang tidak mengikuti prosedur tersebut ternyata meteran dirumah mereka terpasang juga. Sedangkan kami yang sudah sekian lama mengikuti aturan yang telah ditetapkan malah tidak terpasang, makanya kami warga sungai Salak terus terang merasa kecewa dengan persoalan ini,” kata Rahmad kepada Www.detikriau.wordpress.com, Rabu, (27/7) melalui HP.

Ketika Www.detikriau.wordpress.com meminta salah satu pelanggan PLN yang tidak mengikuti prosedur tersebut, dengan tegas yang bersangkutan mengatakan nama Shaleh warga jalan Sederhana Kelurahan Sungai Salak. Hal itu diketahuinya, karena yang bersangkutan berbicara sendiri terkait persoalan tersebut. Tapi karena memang yang bersangkutan membayar lebih, makanya meteran dipasang.

Ketika disinggung lebih jauh siapa yang memasang meteran baru tersebut apakah dari Biro yang ditunjuk oleh PLN Ranting Tembilahan ataukah memang ada pihak lain yang memasangnya, menurut warga tersebut,” Dalam kasus ini yang memasangkan meteran baru adalah PLN Sub Ranting Sungai Salak yang bernama Sayuti,” katanya.

Sementara itu tudingan yang tidak sedap datang dari Udin warga lainnnya terhadap kepala PLN Sub Ranting Sungai Salak. Menurut yang bersangkutan banyak bermain dalam hal pemasangan jaringan meteran baru. Bahkan diketahuinya, ada pemasangan yang salah alamat. meskinya meteran yang dipasang adalah untuk si A, tapi realitanya di lapangan dipasangkan untuk si B, kebetulan nama yang bersangkutan sama.

Masih menurut warga tersebut informasi tersebut ia ketahui dari orang dalam sendiri. Makanya ketika warga yang merasa dirugikan dirugikan itu mengetahui persoalan yang terjadi, ia terus menuntut PLN Sub Ranting Sungai Salak untuk memasangkan meteran di rumahnya. “Tapi hingga sekarang, janji tersebut tidak juga ditepati oleh Sayuti, makanya warga tersebut sangat kecewa,” katanya.

Selain itu ada aturan yang mengikat, bahwa yang nama karyawan PLN dilarang untuk membawa pelanggan baru, karena persoalan tersebut sudah diserahkan ke Biro. Tapi kenyataannya, yang bersangkutan dalam hal ini Sayuti, terus melanggar aturan yang dibuat.

Dari rumor yang beredar di masyarakat Sungai Salak, berbagai kesalahan dan pelanggaran yang dilakukan oleh Kepala PLN Sub Ranting Sungai Salak Sayuti sudah diketahui oleh aparat penegak hukum disana. Persoalan tersebut bukannya diselesaikan lewat jalur hukum, tapi yang bersangkutan diduga dijadikan mesin ATM oleh aparat penegak hukum di Keluarahan Sungai Salak. (Nejad)




Komplik Manusia dan Buaya di Perairan GAS Pemkab Inhil terkesan Tidak Peduli

ARBIndonesia.com, (TEMBILAHAN) – Pemkab Inhil terkesan tidak peduli dengan komplik yang terjadi antara manusia dengan buaya muara di kawasan perairan sungai Gaung Anak Serka (GAS). Sejauh ini masing masing pihak telah jatuh korban, dari warga satu orang telah dimangsa buaya, dan satu ekor buaya ukuran sedang dengan panjang 1.5 meter tewas dibunuh warga setempat.

Menurut Jais salah seorang tokoh warga di Dusun Teluk Pergam Desa Teluk Tuasan kepada Www.detikriau.wordpress.com, melalui HP, Selasa,(26/7) menuturkan, warga saat ini masih ketakutan ketika akan pergi ke sungai. Maklum saja masih banyak perkiraan buaya yang berkeliaran di sepanjang sungai GAS tersebut. Hal itu diketahui, karena sewaktu-waktu masyarakat masih sering melihat buaya yang timbul dan berenang di sungai.

“Terus terang paska adanya warga yang dimangsa buaya, masyarakat memang ada rasa trauma ketika akan turun ke sungai. Karena kita masih sering menyaksikan buaya yang berenang dan timbul di sepanjang aliran sungai GAS,” kata Jais.

Masih menurutnya, diperkirakan banyaknya buaya di perairan GAS adalah hasil migrasi buaya yang ada di perairan Gaung. Sebab sebelumnya, kawasan GAS dan Gaung memang tidak terdapat buaya. Tapi belakangan ini periaran Gaung sudah sangat jarang ada buaya yang terlihat, sedangkan perairan GAS yang yang merajalela.

Ketika disinggung dengan upaya apa yang dilakukan masyarakat maupun Pemkab Inhil untuk menanggulangi permasalahan ini menurut Jais, sejauh ini beberapa waktu lalu masyarakat telah memanggil pawang buaya. Tapi kelihatannnya tidak berhasil dan bahkan pawang buaya tersebut yang menyerah.

“Sedangkan dari Pemkab sendiri belum ada upaya yang dilakukan untuk mengatasi komplik yang terjadi antara masyarakat dan buaya. Terus terang kita merasa kecewa dengan kondisi seperti ini,” katanya.

Sebelumnya Badan Konservasi Sumbar Daya Alam (BKSDA) Kabupaten Indragiri Hulu, siap untuk berkoordinasi, terkait dengan peristiwa adanya korban meninggal dunia akibat dimakan buaya di Dusun Teluk Pergam Desa Teluk Tuasan Kecamatan Gaung Anak Serka (GAS) Kabupaten Indragiri Hilir ,pada (27/6) yang lalu.

“Jika memang masyarakat disana memang sudah mulai resah akibat keberdaan buaya, kita siap untuk berkoodinasi dengan mesyarakat untuk mengambil langkah-langkah yang pasti untuk antisipasi agar tidak terjadi adanya korban lagi” kata Polmar Situmorang BKSDA Kabupaten Inhu saat dihubungi Www.detikriau.wordpress.com melalui ponselnya beberapa waktu lalu. (suf)