Ribuan bunga semarakan Tembilahan Festival Flower.

Dalam Pawai Takbiran Sambut Kedatangan Idul Fitri 1432 H

Arbindonesia.com  (Tembilahan) – Ribuan kuntum bunga dengan ribuan peserta pawai semarakan malam pawai takbiran menyambut datangnya Idul Fitri 1432 H. Bupati Kabupaten Inhil, Indra M Adnan mengisyaratkan akan menjadikan tema Tembilahan Festival Flower pawai takbiran kali ini sebagai ikon daerah.
“Tembilahan Festival Flower sebagai Tema pawai malam takbiran menyambut datangnya Idul Fitri 1432 H ini akan kita jadikan sebagai salah satu ikon daerah. Kita berharap malam pesta kemenangan ini dapat mempererat ukuwah dan rasa persaudaraan kita sesama umat muslim,” Ungkap Bupati saat memberikan sambutan sesaat sebelum melepas barisan peserta pawai malam takbiran.

Dari pantauan www.detikriau.wordpress.com, ribuan peserta pawai dengan ratusan kendaraan hias roda empat yang berbaris sepanjang puluhan kilo meter ini terdiri dari perwakilan pelajar dari hampir seluruh sekolah setingkat SLTP dan SLTA sekota Tembilah dan Tembilahan Hulu, utusan Mushola, Surau dan Masjid se Kecamatan Tembilahan Kota dan Kecamatan Tembilahan Hulu, Dinas, Kantor dan Badan se Kab. Inhil, serta puluhan peserta kategori umum. Untuk masing-masing kategori peserta, panitia menyediakan masing-masing satu ekor lembu bagi peserta yang mampu meraih penilaian terbaik.

Semarak peserta malam takbiran yang bertaburan bunga ini disakskan oleh ratusan Ribu masyrakat kota Tembilahan yang berjejer rapi disepanjang jalan. Pawai dilepas dari podium utama di depan Bank Riau, melintasi jalan Jendaral Sudirman, jalan H. Abd Manaf, Jalan H. Sadri, Jalan Telaga Biru, Jalan Letda M. Boya dan kembali berakhir di Depan Kantor Bank Riau.
Malam pawai akbiran ini, Satuan Polisi Lalu Lintas Polres Inhil dibantu dengan personil Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika diturunkan untuk menjaga kelancaran arus lalu lintas.(drc)




KEMENAG RI TETAPKAN 1 SYAWAL JATUH PADA RABU 31 AGUSTUS 2011

Arbindonesia.com  (Tembilahan) – Keputusan sidAng isbat yang dilaksanakan di Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Jakarta bersama Majelis Ulama Islam dan beberapa organisasi islam memutuskan 1 syawal jatuh pada Rabu, tanggal 31 Agustus 2011.

Dari hasil siaran langsungn sidang isbat di TV One yang dimulai pukul 19.15 Wib, laporan 30 pusat pemantauan tidak satupun yang berhasil melihat adanya hilal. Untuk itu ditetapkan esok hari, selasa 30 agustus 2011 umat islam masih melaksanakan ibadah puasa.

Terkait keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang telah menetapkan Idul Fitri pada 30 Agustus, menurut Dirjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kemenag Prof Nasaruddin Umar di Jakarta, kemarin., tidak semua warga Muhammadiyah akan berlebaran pada 30 Agustus. Sebagian warga Muhammadiyah akan merayakan Lebaran dengan tetap mengikuti keputusan pemerintah.

Ia mengingatkan, penyatuan kriteria penetapan Hari Raya Idul Fitri antara ormas Islam Muhammadiyah dengan wujud al-hilal, dan ormas Islam lainnya dengan rukyat al-hilal, sangat sulit.

“Dahulu Muhammadiyah juga menggunakan imkan al-rukyat dengan ketinggian hilal 6 derajat seperti halnya ormas lainnya, lalu Muhammadiyah menganggap itu terlalu tinggi dan diturunkan menjadi 4 derajat. Kemudian dari 4 derajat, beberapa tahun kemudian, Muhammadiyah kembali minta diturunkan menjadi 2 derajat, bahkan di bawahnya,” kata Umar.

Padahal, tutur dia, menurut ahli falaq dan pakar astronomi adalah tidak mungkin tinggi hilal (bulan sabit) 4 derajat bisa dirukyat, apalagi di bawah 2 derajat. “Padahal hadis-hadis mengharuskan hilal bisa dirukyat (dilihat),” katanya.

Sampai saat ini, ujar dia, negara-negara Arab juga menggunakan kriteria imkan al-rukyat 6 derajat, sedangkan negara-negara Asia Tenggara mengikuti kriteria yang dipakai di Indonesia. Meski demikian, ia mengimbau agar adanya penetapan Hari Raya Idul Fitri yang berbeda ini tidak membuat umat Islam terpecah-belah, karena persatuan umat hukumnya adalah wajib.

Sementara itu, Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Prof Thomas Djamaluddin mengatakan, sampai saat ini, di dunia tidak ada teleskop yang mampu melihat hilal di ketinggian di bawah 4 derajat.

“Problemnya dengan teleskop secanggih apa pun, baik cahaya hilal maupun cahaya senja di ufuk, sama-sama diperkuat, sehingga hilal di ketinggian rendah tetap sulit terlihat,” kata Thomas Djamaluddin di Jakarta, Minggu (28/8).

Ia menanggapi tentang adanya perbedaan pendapat dalam menentukan penanggalan hijriah.(drc)




NU: Hilal Belum Terlihat, Lebaran Hari Rabu

Kemungkinan besar kita akan berbeda dengan Muhammadiyah.
— Said Agil Siradj

Arbindonesia.com (JAKARTA)— Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memperkirakan kemungkinan besar perayaan Idul Fitri yang jatuh pada 1 Syawal 1423 Hijriah akan dilaksanakan pada Rabu (31/8/2011). Sampai saat ini PBNU sama sekali belum melihat adanya tanda-tanda hilal (bulan mati) pertanda masuknya hari terakhir Ramadhan.

“NU berpatokan ke hadis Juklak, ‘berpuasalah karena kamu melihat bulan’. Jadi, dilihat ada atau tidak bulannya, kelihatan atau tidak bulannya,” ujar Ketua Umum PBNU Said Agil Siradj, ditemui di sela-sela acara Mudik Bareng Pengurus PBNU di Kantor PWNU Jakarta, Sabtu (27/8/2011).
Dengan perkiraan tersebut, kata Said Agil, kemungkinan besar NU akan berbeda saat merayakan Idul Fitri dengan Muhammadiyah.

“Kemungkinan besar kita akan berbeda dengan Muhammadiyah,” jelasnya.
Lebih jauh Said Agil menambahkan, saat ini posisi hilal (bulan mati) berada pada posisi kurang dari dua derajat. Atas posisi hilal itu, nihil kemungkinannya dapat terlihat untuk kemudian diambil keputusan menentukan jatuhnya 1 Syawal 1423 Hijriah.

“Perhitungan hisab kurang dari dua derajat. Siapa pun, dengan posisi itu, tidak ada yang bisa melihat,” jelas Said Agil.

Meski begitu, Said Agil mengatakan, kemungkinan merayakan Lebaran secara bersamaan dengan Muhammadiyah pada Selasa (30/8/2011) mendatang tetap terbuka.
“Siapa tahu nanti kelihatan, jadi bisa Lebaran bersama-sama,” ujarnya. (Kompas/drc)




Sidang Isbat akan Digelar Sore Ini

Arbindonesia.com (JAKARTA) – Sore ini, tepatnya pada pukul 16.30 WIB, Senin (29/8), sidang istbat penetapan 1 Syawwal 1432 H akan digelar. Sejumlah tamu undangan tampak mulai berdatangan di kantor Kementerian Agama di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.

Selain perwakilan ormas dan duta besar negara Islam, sidang itsbat melibatkan sejumlah pakar hisab rukyat dan instansi yang tergabung dalam Badan Hisab Rukyat (BHR). Di antaranya, Observatorium Bosscha ITB, Planetarium Jakarta, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal).

Kasubdit Pembinaan Syariah dan Hisab Rukyat Kementerian Agama Muhyiddin mengatakan, sidang dilakukan sesuai ketetapan yang berlaku dalam syariat, yaitu penetapan awal bulan, terutama Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijah oleh pemerintah. Pemerintah mengaku tak bisa memaksakan hasil keputusan. Sifatnya hanya mengimbau, katanya. Termasuk potensi lebaran ganda yang diprediksikan tahun ini.

Muhyiddin mengatakan pengamatan hilal akan dilakukan di 12 titik utama. Titik-titik itu, di antaranya adalah Observatorium Hilal Lhok Nga, Aceh; Pekan Baru, Riau; Menara Timur Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung; Observatorium Bosscha, Lembang, Bandung, Jawa Barat; Pos Observasi Bulan (POB) Bukit Bela-belu, Bantul, Yogyakarta; Mataram, Nusa Tenggara Barat; SPD LAPAN, Biak, Papua; Makassar, Sulawesi Selatan; Samarinda, Kalimantan Timur; Nusa Tenggara Barat; Pantai Gebang, Madura; SPD LAPAN Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat. (republika/drc)




SAAT SENJA KETIKA RAMADHAN PERGI

Arbindonesia.com (PUISI)
Saat senja, ketika Ramadhan pergi
Keharuan menyentak dikalbu, menyentuh nurani
Seiring semburat merah jingga bertahta di rangka langit
Bulan Suci beranjak perlahan, menapak dalam keheningan
meninggalkan jejak-jejak cahaya hingga batas cakrawala
Dan aku luruh dalam kesedihan tak terungkapkan

Saat Senja, Ketika Ramadhan Pergi
Bersama segenap doa yang terangkum pada setiap sujud,
pada lembar demi lembar Tadarrus Al Qur’an,
pada tiap untai khusyuk Tarawih
pada ikhlas sedekah dan zakat
pada takjub kehadiran Lailatul Qadr
pada gema Takbir, Tahlil dan Tahmid
mengagungkan kebesaranMU ya Allah..
Rindu ini mengapung bersama airmata yang menitik perlahan
Akankah Ramadhan menemuiku lagi tahun depan?

Saat Senja, Ketika Ramadhan Pergi
Aku terkulai dalam sunyi mendekap kalbu
Diatas sajadah yang terbentang hingga kaki langit
bersama harapan menemuimu kembali, Ramadhan..
dengan segala gigil kangen yang senantiasa berdetak
di setiap nadiku
bersama lirih Zikir yang kulantunkan dengan bibir bergetar
menyebut namaMU ya Allah
menyebut namaMu ya Allah..




Idul Fitri Harus Jadi Momentum Instropeksi Para Elit Politik

Arbindonesia.com (JAKARTA) – Elite politik dan pejabat negara dihimbau agar memanfaatkan momentum Hari Raya Idul Fitri tahun 1432 Hijriah pekan depan sebagai momen untuk mawas diri. Pejabat eksekutif, legislatif, dan yudikatif perlu bertemu dengan rakyat dalam ajang halal bihalal sambil mengevaluasi, apakah kebijakan politik selama ini memihak rakyat atau belum.

Harapan itu diungkapkan Direktur Pusat Penelitian Islam dan Masyarakat (PPIM) Jakarta, Ali Munhanif, di Jakarta, Sabtu (27/8/2011). Dia mengimbau agar para politisi mau memandang halal bihalal tak sekadar semangat saling memaafkan, tetapi juga anjuran untuk memperbaiki perilaku seseorang.

Bagi para politisi, Lebaran bisa jadi momen untuk mawas diri, apakah kebijakan atau keputusan politik yang pernah diambil sudah membela kepentingan rakyat atau belum. Halal bihalal semestinya tidak hanya diucapkan, tapi juga dibenamkan dalam hati dan perbuatan. Intinya, bagaimana mengevaluasi perilaku lama dan memperbaikinya untuk ke depan.

Jika selama ini belum memihak rakyat, maka kebijakan itu harus dikoreksi dengan kebijakan baru yang lebih baik,” katanya.
Namun, berkaca dari perilaku politik kita, anjuran itu kemungkinan akan sulit terwujud. Masalahnya, anjuran agama kerap tidak bisa merasuk dalam perilaku politik.

Sebaliknya, para politisi malah memanfaatkan ajang Lebaran untuk pencitraan diri. Mereka menampilkan citra diri yang saleh, santun, dan bersih untuk membungkus perilaku politiknya mungkin saja korup. “Setelah halal bihalal, mungkin mereka akan kembali masuk dalam lingkaran kekuasaan politik yang korup, yang melahirkan mafia anggaran, mafia pajak, dan mafia peradilan. Tapi, tidak ada salahnya kita memberikan imbaun moral,” kata Ali Munhanif.

Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Komaruddin Hidayat, juga menyarankan para politisi dan petinggi negara dapat menggunakan perayaan Lebaran untuk merangkul rakyat bawah. Lewat ajang halal bihalal, elite bisa menyapa dan menyarap aspirasi rakyat secara langsung yang dalam proses politik formal kerap terabaikan.

Lebaran kini sudah menjadi bagian dari tradisi budaya bangsa yang dirayakan semua masyarakat. Dalam masa liburan nasional itu, banyak orang mudik ke kampung halaman, bertemu keluarga, dan saling memaafkan satu sama lain, termasuk para politisi. Menurut Komaruddin Hidayat, Lebaran adalah pesta rakyat yang sudah mentradisi sejak dulu. Tradisi ini juga bisa dimanfaatkan elite politik atau pejabat untuk bertemu masyarakat sebagai manusia biasa.

Mereka bisa menggelar semacam open house kepada para rakyat atau konsituen yang memilihnya, termasuk anggota legislatif dengan pulang ke kampung halaman. “Lewat momen silaturahmi Lebaran, para politisi bisa bertemu langsung dengan rakyat, melihat secara jujur keadaan nyata di lapangan, mendengarkan, dan menampung aspirasi rakyat. Setelah halal bihalal, semua itu dijadikan bahan untuk memperbaiki kinerja politik,” katanya.

Hanya saja, lanjut Komaruddin, jangan sampai ajang maaf memaafkan itu justru digunakan untuk melemahkan semangat pemberantasan korupsi. Halal bihalal itu untuk memperbaiki hubungan antarmansia dan dengan Tuhan, sementara korupsi merupakan kejahatan seseorang atau kelompok terhadap rakyat dan negara. Korupsi harus tetap diberantas dengan ketegasan hukum, bukan dengan norma agama yang bersifat imbauan moral.(jurnalmetro/drc)