Terkait Kasus GCM, Kejaksaan Terus Kumpulkan Bukti-Bukti

www.detikriau.wordpress.com (TEMBILAHAN) – Kejaksaan Negeri Tembilahan, terus mengumpulkan bukti-bukti untuk mengungkapkan dugaan tindak pidana korupsi dalam kasus PT Gemilang Citra Mandiri (GCM), badan usaha milik daerah yang sampai saat ini tidak tau lagi dimana rimbanya.
Ungkapan itu disampaikan oleh Kepala Kejaksaan Negeri Tembilahan, Ferziansyah Sesunan SH.MH, melalui Kasi Intel Muspidauan SH. MH, ketika ditemui di ruangan kerjanya, Selasa, (20/9), terkait perkembangan proses pengungkapan kasus PT GCM.

“Saat ini kita sedang mengumpulkan bukti-bukti tambahan dalam rangka memperkuat alat bukti yang kita miliki. Ketika nanti sudah cukup, kita tentu akan memproses lebih jauh sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku,” jelasnya.

Masih menurutnya, untuk pengungkapan dugaan tindak pidana korupsi dalam kasus yang terjadi di PT GCM diakuinya membutuhkan proses yang panjang. Sebab, pihaknya membutuhkan berbagai telaah yang mendalam dengan menggunakan tenaga ahli. Agar nantinya, ketika dianggakat kepermukaan dapat menjerat mereka yang telah berbuat, karena alat bukti yang kita gunakan benar-benar kuat, hingga membuat pelaku tidak bisa berkelit.

“Jangan sampai nantinya, karena lemahnya alat bukti yang kita gunakan untuk pengungkapan kasus itu, hasilnya malah mengecewakan masyarakat. Makanya, biarlah dulu alat buktinya kita kumpulkan sebanyak mungkin, hingga memperkuat kita nantinya dalam proses lebih lanjut,” ungkapnya.

Sebagaimana diketahui, kasus PT GCM sempat mencuat beberapa waktu yang lalu dan banyak menyita perhatian publik di Inhil. Hal itu tidak terlepas, dikarenakan kerugian anggaran yang cukup besar dan banyak melibatkan orang penting di daerah ini. (drc)




TIGA PAKET PEMELIHARAAN LAHAN REBOISASI KATANYA TELAH SELESAI

www.detikriau.wordpress.com (TEMBILAHAN) – Proyek pemeliharaan reboisasi yang berlokasi di Desa Sungai Berapit, Perigi Raja dan Kampung Baru sudah dikerjakan dan mengacu pada aturan yang berlaku. Jadi sudah tidak ada permasalahan lagi dalam pengerjaannya di lapangan.

Ungkapan itu disampaikan oleh Kabid Pemeliharaan Hutan dan Lahan (PRH) Drs Ediwan Efendi, kepada wartawan ketika dikonfirmasi diruangan kerjanya. Dijelaskannya, luas satu areal dari tiga lokasi proyek pemeliharaan reboisasi biaya pemeliharaan perpaketnya sekitar 70 juta.

“Sejauh ini pengerjaannya di lapangan sudah 90 persen lebih, jadi sudah bisa dikatakan hampir selesai. Tinggal jaminan 5 persen masih ada di dinas,” kata mantan Sekretaris KPUD Inhil didampingi Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Heri Permana S Hut,
Sementara itu, PPTK Heri Permana S Hut dalam kesempatan yang sama mengungkapkan, untuk proyek pemeliharaan dalam tiga paket tersebut, bentuk kegiatan hanya berupa pembersihan lahan. Tidak ada kegitan penyulaman maupun penyisipan yang dilakukan.
” Proyek tersebut dikerjakan oleh rekanan. dan ditunjuk langsung oleh panitia alias PL, karena nilainya hanya 70 juta untuk satu paket proyek, ” terangnya.(drc)




Kesulitan Memperoleh Kayu, Banyak Fasilitas Umum Rusak

www.detikriau.wordpress.com (TEMBILAHAN)– Masyarakat Desa Teluk Bunian Kecamatan Pelagiran, mengeluhkan kerusakan jalan jerambah yang ada di Desa Mereka. Kerusakan ini sudah berlangsung sedemikian lama dan upaya untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi terbentur pada persoalan sulitnya untuk memperoleh bahan baku kayu belakangan ini di Inhil.

“Ada begitu banyak kerusakan jalan jerambah yang terjadi di Desa kita. Pihak desa sudah berupaya untuk memperbaiki dengan menggunakan dana desa Mandiri. Permasalahan yang ada, belakangan ini warga kesulitan untuk mendapatkan kayu yang merupakan bahan baku utama untuk perbaikan jalan jerambah tersebut,” kata H Din salah seorang tokoh masyarakat Desa Teluk Bunian, melalui, HP, Selasa, (20/9/2011).

Sulitnya mendapatkan kayu belakangan ini dikarenakan ketatnya pegawasan dan razia pemberantasan illegal logging yang dilakukan oleh aparat terkait. Akibat itu semua, kayu seakan menjadi barang yang langka. “Meskipun ada, terkadang harganya selangit, hingga sangat memberatkan anggaran,” ujarnya.

Kondisi yang sama menimpa Desa Batang Tumu. Ada begitu banyak jalan jerambah yang rusak, hingga sekarang tidak bisa diperbaiki oleh warga akibat kesulitan untuk memperoleh kayu. Meski kerusakan sudah berlangsung cukup lama, warga terpaksa membiarkan kerusakan yang ada.

“Pada dasarnya kita ingin memperbaiki jalan jerambah yang mengalami kerusakan. Masalahya, di desa kita sangat sulit untuk mendapatkan kayu, persoalan itulah yang membuat kita merasa sangat pusing,” kata Ijai warga Desa batang Tumu, Selasa, (20/9) melalui HP.

Terkait hal ini, Hariansyah AMd, anggota dewan dari Partai demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dari Dapil V (Kecamatan Mandah pelangiran) membenarkan kondisi yang ada. Menurutnya, bukan hanya fasilitas umum seperti jalan jerambah yang tidak bisa diperbaiki masyarakat, tapi juga rumah warga juga seperti itu. Akibatnya, warga terpaksa menambal kerusakan rumah mereka, terutama dinding dengan menggunakan seng.

“Mau tidak mau terpaksa menambal menggunakan seng. Mau gimana lagi, karena papan sudah sangat sulit untuk didapat. Dari pada rumah, berlobang dan terbuka, ya terpaksa ditambal dengan seng saja,” kata Hariansyah. (drc)




BAK TRUK SAMPAH GANGGU AKTIFITAS BELAJAR

www.detikriau.wordpress.com (Tembilahan) – Penempatan bak truk sampah di Jl. Jendral Sudirman ujung, tepatnya didepan SD 003 Tembilahan Kota, disamping sangat mengganggu pengguna jalan, bau tidak nyaman yang dikeluarkannya juga cukup menggangu. Masyarakat sekitar terutama murid dan tenaga pengajar SD 003 berharap instansi terkait untuk segera memindahkannya ke areal lain.
“Ia pak, apalagi saat cuaca panas terik, baunya cukup kuat dan sangat tidak mengenakkan. Rasanya isi perut mau keluar semua,”Sebut Sari (11) seorang murid SD tersebut.
Teman sepermainannya, Indah (11) juga melontarkan kritikan yang sama. Menurutnya, tempat penampungan sampah tersebut selain berbau tidak sedap juga mengundang kedatangan lalat.
“Kalau mau jajan makanan di sekolah, kita rasanya jadi geli pak, soalnya banyak lalat. Ini mungkin karena memang didepan sekolah kita ada bak sampah yang cukup besar. Apalagi kalau sampah-sampah itu terlambat diangkut dan sedang turun hujan, alamat ribuan lalat akan berdatangan dan sampai masuk ke ruang kelas tempat kami belajar.”Keluhnya.
Untuk itu, tenaga pengajar disekolah ini sangat berharap agar instansi berwenang untuk segera mencarikan alternative penempatan dilokasi lain. Menurutnya, keberadaan bak sampah ini sudah sangat dirasakan menggangu aktifitas disekolah tersebut.
“sebaiknya ya dipindah ke lokasi lain. Kasihan anak-anak. Konsentrasi belajar mereka jadi terganggu dikarenakan bau tidak sedap dan banyaknya lalat yang beterbangan.”Pinta seorang tenaga pengajar yang enggan menyebutkan namanya.
Dari pantauan di lokasi, memang keberadaan bak truk sampah ini terlihat sangat tidak memadai. Padatnya aktifitas pertokoan, ramainya pengguna jalan serta sempitnya ruas jalan tentu akan rawan terjadinya kecelakaan. Yang lebih utama, penempatannya persis di hadapan sebuah sekolah dasar tentu polusi udara yang dihasilkannya dapat mengganggu konsentrasi disamping bahaya penyakit yang ditimbulkan akibat banyaknya lalat. (fsl)




ANAS DI SASAR, NAZAR DICECAR

Proyek Hambalang dan Dana Bos juga Mengalir ke Kongres Demokrat
www.detikriau.wordpress.com (JAKARTA) – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mulai mendalami dugaan adanya dana haram yang mengalir ke Ketua umum Partai Demokrat (PD) Anas Urbaningrum. Penyidik KPK pun mencecar tersangka suap proyek Wisma Atlet, M Nazaruddin, tentang dana untuk pemenangan Anas dalam Kongres PD di Bandung.

Kepada wartawan usai menjalani pemeriksaan di KPK, Senin (19/9) malam, Nazaruddin mengaku ditanyai seputar proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Kemenakertrans tahun 2008 yang menyeret istrinya, Neneng Sri Wahyuni sebagai tersangka. Menurut Nazar, saat diperiksa penyidik itu pula dirinya ditanyai soal keterlibatan PT Anugrah Nusantara.

“Ditanya PT Anugrah itu siapa aja pimpinannya. Pimpinan PT Anugrah saya bilang Anas Urbaningrum, Direktur Keuangannya, Yulianis. Itu dalam posisi (kasus) PLTS,” ujar Nazar yang menjalani pemeriksaan sejak menjelang pukul 12.00 dan baru berakhir pada pukul 21.30 WIB.

Lebih lanjut mantan Bendahara Umum PD itu menambahkan, dirinya juga ditanya penyidik soal dana untuk Kongres PD di Bandung tahun lalu. Menurutnya, sejak Januari sampai awal Mei 2010 lalu biaya untuk persiapan kongres partai binaan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu dikelola seseorang bernama Eva. Namun saat Kongers PD digelar dan ada uang yang hendak dibawa ke Bandung, maka Anas meminta uang yang dikelola Eva diserahkan ke Yulianis.

“Saya bilang ke Anas, diserahkan saja ke Eva. Tapi Anas mengarahkan agar uang itu dipegang Yulianis,” sebut Nazaruddin.

Lantas dari mana sumber uang itu? Nazaruddin pun menyebut satu per satu asal uangnya. Uang di antaranya berasal dari proyek sport center di Bukit Hambalang, Bogor. “Sumbernya dari proyek Hambalang yang diserahkan oleh pengusaha yang namanya Mahfud ke Yulianis,” beber Nazar.

Sumber dana lainnya adalah proyek e-KTP senilai Rp 40 miliar. “Terus dari proyek BOS yang diserahkan oleh pengusaha yang langsung ke Yulianis. Dan ada juga proyek dari PLN, yaitu proyek pembangkit PLN yang di Riau, yang dimenangkan oleh PT Rekin. Dan pembangkit yang di Kaltim,” kata Nazar merincikan.

Tak berhenti di situ, Nazaruddin juga mengaku dicecar soal keterlibatan Anas dalam proyek-proyek APBN itu. “Terus lebih fokus ditanyakan tentang keterlibatan Anas,” tandasnya.

Nazar juga mengulangi pernyataannya di depan penyidik KPK perihal aliran dana ke DPR. Dipaparkannya pula tentang penjelasan Wakil Sekjen Partai Demokrat Angelina Sondakh di depan ruangan ketua Fraksi Partai Demokrat tentang dana Rp 9 miliar dari proyek di Kemenpora.

“Uangnya sampai ke Wayan Koster dan Angelina. Setelah itu dari Wayan Koster dan Angelina Rp 8 miliar diserahkan ke Mirwan Amir (Wakil Ketua Banggar) dari Demokrat. Dari Mirwan Amir diserahkan ke pimpinan Banggar lain. Dan diserahkan kepada Anas dan ketua Fraksi Partai Demokrat Rp 1 miliar,” urainya.

Sebelumnya Ketua KPK Busyro Muqoddas juga menyatakan bahwa pihaknya akan mendalami berbagai pengakuan dan kesaksian dari berbagai pihak yang diperiksa terkait kasus Nazaruddin. Termasuk di antaranya terkait tentang Anas Urbaningrum. (gel/ara/jpnn)




HARGA ANJLOK. PENANGKAR WALET ENGGAN JUAL HASIL PANEN

www.detikriau.wordpress.com [Tembilahan] – Sejak sepuluh hari jelang Idul Fitri 1432 H kemarin, harga jual sarang burung walet di Indragiri Hilir terus anjlok hingga 40 %. Akibatnya, meski telah dipanen, banyak pemilik rumah walet di Tembilahan enggan menjual hasil panen.

Hal itu diungkapkan oleh Akuang (34), seorang pemilik rumah walet yang ada di jalan Arsyad Ahmad (H. Said) Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir-Riau Ketika ditemui di kediamannya. ia mengaku telah memanen sarang burung walet milik nya, namun dikarenakan harga jual anjlok, Akuang enggan untuk menjual hasil panen tersebut.

“Kami berpikir akan menyimpannya saja, dari pada harus dijual tapi harganya anjlok” ungkap Akuang menyampaikan ke engganan nya, Senin (19/9/11)

Lanjutnya, meski tidak langsung dijual, sarang walet yang telah dipanen tidak akan mengalami kerusakan jika di simpan dengan baik. Bahkan menurutnya jika cara menyimpannya benar, kualitas sarang burung walet yang telah dipanen tidak akan mengalami perubahan.

“Dulu pernah juga kondisinya seperti ini, tapi tak lama kemudian harganya stabil kembali” terang nya.

Masih menurut Akuang, anjlok nya harga sarang burung walet seperti sekarang ini diduga diakibatkan beredarnya sarang burung walet merah palsu. Diakuinya, sarang burung walet merah yang asli dipercaya memiliki khasiat yang unik, sehingga sarang walet merah sangat dicari oleh para penampung atau pembeli sarang walet.

“Kalau di Tembilahan sarang waletnya semua putih, tidak ada yang berwarna merah. Kalaupun ada, saya yakin mungkin itu palsu. Katanya yang palsu itu ada racun nya” tegas akuang.

Perbandingan harga jual sebelum dan setelah terjadinya penurunan. (September 2011) :

Kelas (Jenis putih biasa) Harga sebelumnya Harga Sekarang
A Rp 11.Juta Rp 7.Juta
B (sudut) Rp 9.5 Juta Rp 6 Juta
C (BS= Pecah dan Berjamur) Rp 7.5 Juta Rp 4 Juta
(**/drc/ztc)