Kekecewaan Masyarakat Inhil Dibalik Gemerlap Kemeriahan Pembukaan Porda VII Riau.

TEMBILAHAN (www. detikriau.wordpress.com)- Dibalik gemerlap kemewahan acara pembukaan Porda VII Riau yang diadakan di stadion sungai beringin Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir menyimpan kekecewaan masyarakat Inhil karena mayoritas ribuan masyarakat yang datang tidak diperkenankan untuk memasuki stadion.

 

Ironis dan sangat egois jika Porda VII Riau yang digadang-gadangkan merupakan suatu penghargaan dan kesempatan bagi masyarakat kabupaten Inhil namun pada malam puncak kemeriahan acara justru mendatang kekecewaan yang mendalam dihati masyarakat.

 

“Kita sudah capek-capek berangkat jalan kaki dari rumah, terus di jalan macet pulak dengan harapan dapat menonton acara pembukaan Porda VII Riau. Namun saat kita sampai di stadion kita tidak di perbolehkan untuk masuk bagaimana kita tidak kecewa dengan sistem seperti ini,” kata Suryati, warga tembilahan, sabtu malam (15/10).

 

Lebih jauh lagi suryati mengeluhkan sistem yang terjadi, suryati mempertanyakan apakah pelaksanaan Porda VII Riau ini untuk masyarakat Inhil atau hanya untuk sebagian orang yang memiliki kepentingan tertentu saja. “Jika Porda ini dilaksanakan pemerintah untuk masyarakat tentu tidak ada alasan untuk tidak memperbolehkan masyarakat untuk memasuki stadion karena kita yakin di tepi lapangan masih banyak ruang kosong untuk kita. Jika memang terkoordinir saya yakin tidak ada masalah walaupun masyarakat memadati pinggir-pinggir lapangan,” katanya lagi.

 

Bukan itu saja bukti dari ketidak perhatian Panpel kepada masyarakat, dua layar lebar yang terpasang semuanya berada di dalam lapangan. “Walaupun kita tidak boleh masuk seharusnya panitia mempersiapakan layar lebar satu atau dua buah yang menghadap keluar tentu masyarakat tidak kecewa karena masih bisa melihat rangkaian acara,” Imbuhnya.

 

Marhadi,salah seorang warga Rumbai Jaya yang sudah jauh-jauh menmpuh perjalanan ke Kota Tembilahan untuk sekedar menyaksikan pesta olahraga rakyat Riau ini juga mendulang kekecewaan. Marhadi bahkan yakin bukan hanya dirinya yang datang dari daerah, tapi mungkin masih ada ratusan bahkan mungkin ribuan masyarakat luar kota Tembilahan yang ingin melihat kemeriahan acara pembukaan Porda yang jauh-jauh hari sudah didengar mereka.

 

“Kita melihat acara ini hanya untuk orang-orang yang memiliki kepentingan saja yang diijinkan masuk untuk menonton acara pembukaan. Sebagai orang yang datang dari luar kota tembilahan, harapan kami tentu sangat besar untuk melihat acara yang dikabarkan akan sangat meriah ini, namun nyatanya kita malah dilarang untuk memasuki stadion,” katanya dengan nada kecewa.

 

Memang pada pertengahan acara pintu samping untuk penonton dibuka oleh petugas namun itu belum cukup untuk mengobati kekecewaan masyarakat karena tempat duduk penonton yang terdapat di tepi lapangan sudah penuh oleh pelajar yang tentu saja di koordinir panitia. “Hanya sebagian kecil tempat untuk masyarakat. Kita kecewa dengan kejadian malam ini,” katanya lagi sambil melangkah pergi dengan wajah muram.(Ahmad Safwan)

 




PERTUNJUKAN KEMBANG API MERIAHKAN ACARA PEMBUKAAN PORDA VII RIAU


Tembilahan (www.detikriau.wordpress.com) – Tepat pukul 22.18 Wib, bertempat di Stadion Beringin, Tembilahan, Gubernur Riau, H.M. Rusli Zainal secara resmi menyatakan membuka rangkaian kegiatan PORDA VII Riau yang kemudian disusul sahutan suara sirene dilanjutkan lantunan lagu Indonesia tanah air beta dengan iringan pertunjukan kembang api yang sempat menghipnotis ribuan pasang mata selama kurang lebih 25 menit dan ditutup dengan lantunan lagu “We Are The Campion”. Gubernur memberikan pujian kepada Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir atas meriahnya acara pada pembukaan Pekan Olahraga Daerah (PORDA) ke- VII Provinsi Riau ini.

“Tadi, ketua DPRD Provinsi Riau, Pak Johar, sempat berbisik pada saya, “kalau melihat persiapan yang diramu panitia pada acara pembukaan, ini sudah bisa dikategorikan setaraf Iven Nasional” dan secara pribadi saya memberikan penghargaan tinggi atas semua karya ini.” Ungkap Gubernur Riau menyatakan kekaguman dirinya dan Ketua DPRD Prov Riau menyaksikan rangkaian acara yang dikemas dengan apik oleh Panitia melalui penampilan pentas seni kolaborasi oleh 1500 mahasiswa dan pelajar Inhil saat memulai kata sambutannya beberapa saat sebelum meresmikan secara langsung rangkaian acara PORDA VII Riau di Tembilahan ini.

Menurut Gubernur, Pada PON XVII di Kalimantan Timur tahun 2008 yang lalu, Riau berhasil menduduki peringkat sepuluh Nasional. Kemudian pada POPNAS  X di Yogyakarta tahun 2009, pada peringkat 5 Nasional. Selanjutnya pada POPNAS XI bulan September 2011 bulan lalu di Pekanbaru, Riau berhasil bertengger di peringkat 3 besar. Gubernur berkeyakinan dengan semua usaha yang telah dipersiapkan, Riau akan mampu menjadi Juara Umum, atau paling tidak minimal kembali di posisi tiga besar.

“Jadi saya berharap agar PORDA ini dapat dijadikan ajang menguji kemampuan oleh atlit Riau agar kelak mampu mempersembahkan prestasi terbaik dalam ajang PON 2012 mendatang demi keharuman nama Provinsi Riau,” Tegas Gubernur disambut  tepuk tangan dari hampir seluruh pejabat teras di Provinsi Riau, 12 Bupati dan Walikota, Ribuan peserta kontingen beserta masyarakat Inhil yang terlihat sangat antusias melihat langsung acara pembukaan iven olahraga paling bergengsi di Provinsi Riau ini.

Acara PORDA VII Riau ini diikuti sebanyak 3.171 Atlit pada 16 Cabang Olahraga. 967 Atlit telah berlaga pada 4 cabang olahraga (taekwondo, Karate, Pencak Silat dan Sepak Takraw. Red) sebelum acara pembukaan dan 2204 Atlit akan kembali berlaga untuk memperebutkan medali pada 12 Cabang olahraga lainnya. (fsl)

 




Aburizal: 3 Sektor Strategis Dikuasai Asing

www.detikriau.wordpress.com – Pertumbuhan jumlah wirausaha di Indonesia, terutama dari kalangan muda, sangat lambat. Indonesia dengan segala sumber daya alam yang dimilikinya ternyata hanya memiliki tidak lebih dari 0,18 persen dari total penduduknya yang berjumlah 230 juta jiwa. Maka, seperti tampak sekarang, Indonesia hanya menjadi pasar yang besar bagi produk bangsa dan korporasi asing.


“Saat ini, kepemilikan asing di tiga sektor ekonomi strategis Indonesia dimiliki secara mayoritas oleh asing. Perbankan nasional, 80 persennya dikuasai asing.

Sektor energi, 90 persennya juga dikuasai asing. Sektor telekomunikasi, yang merupakan sektor strategis, juga dikuasai 90 persen oleh asing,” kata pengusaha nasional, Aburizal Bakrie, pada Kuliah Umum tentang kewirausahaan di Aula Utama Institut Teknologi Bandung (ITB), Jawa Barat, Sabtu, 15 Oktober 2011.

Maka, menurut Aburizal, tidak ada pilihan kecuali mempercepat proses pertumbuhan wirausaha di dalam negeri. Harus ada upaya serius untuk menciptakan orang-orang yang mampu mengambil peluang yang ada dan menciptakan lapangan kerja, untuk dirinya maupun untuk orang lain.

Dijelaskannya, jumlah wirausaha yang tidak lebih dari 0,18 persen itu jumlah yang cukup jauh dibandingkan angka yang disarankan PBB, yakni sekitar 2 persen dari jumlah penduduknya. “Untuk negara maju, bahkan jumlah wirausaha umumnya sudah di atas 5 persen dari penduduknya,” ujarnya.

Percepatan pertumbuhan wirausaha, kata mantan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat itu, juga menjadi penting untuk menopang perekonomian Indonesia. Sebab, seperti ketika Indonesia dilanda krisis moneter pada 1997, perusahaan besar banyak yang gulung tikar yang mengakibatkan PHK besar-besaran, dan justru perusahaan-perusahaan kecil yang dapat bertahan.

“Sepuluh tahun kemudian, data Kementerian Koperasi dan UKM pada akhir 2008, menunjukkan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) sekitar 50 juta, meningkat sekitar 39 persen dari tahun 1998,” jelasnya. Dari jumlah tersebut, usaha mikro mencapai 95 persen lebih dan usaha besar hanya sekitar 0,01 persen. “UMKM mampu menyerap tenaga kerja lebih dari 90 persen dari total pekerja yang ada, dan mampu menyumbang lebih dari 50 persen GDP nasional.”

ITB, sebagai lembaga pendidikan dan peguruan tinggi, kata Aburizal, mesti bisa berperan lebih banyak lagi untuk menumbuhkan semangat kewirausahaan dan membentuk orang-orang yang tahan banting dengan segala kesukaran yang dihadapi untuk membangun kemandirian.

“Jangan perbankan kita, energi dan pertambangan kita, telekomunikasi kita, dikuasai asing. Jangan! Kita harus bisa mengelolanya sendiri, untuk kita, untuk kesejahteraan bangsa kita,” kata Aburizal.

Kuliah Umum bertajuk bertajuk Peran Kewirausahaan dalam Mempercepat Kebangkitan Bangsa itu diselenggarakan sebagai rangkaian Pembukaan Sekolah Pengusahan Muda ITB. Diikuti 300 mahasiswa yang merupakan peserta sekolah tersebut. Hadir pula Rektor ITB, Prof Akhmaloka.(Vivanews)




Indrapraja Bukan Sekolah Berstatus Swasta

Tembilahan (www.detikriau.wordpress.com) – Berkembangnya rumor tidak sedap mengenai perubahan nama SDN 032, SMPN 1 dan SMAN 1 Tembilahan Kota menjadi SDN, SMPN dan SMAN “Indrapraja” menurut kadisdik terjadi hanya dikarenakan adanya kesalahan penafsiran. Secara prinsif, perubahan nama ini hanya untuk membedakan taraf sekolah unggulan bukan merubah nomenklatur.

“Ini semua hanya terjadi karena kesalahan penafsiran. Sekolah yang diberi tambahan nama “Indrapraja” itu tidak ada hubungannya dengan Bupati Inhil. Kebetulan saja ada persamaan nama depan. Lagi pula, sekolah itu nantinya tetap berstatus Negri Bukan Swasta,” Jelas Kadisdik Inhil, Anwar Nawang ketika dikomfirmasi detikriau terkait berkembangnya isu ini, Jum’at (14/10/2011).

Ditambahkan Kadisdik, status negri untuk sekolah SDN Indrapraja, SMPN Indrapraja dan SMAN Indrapraja sudah diterima Disdik Inhil dalam  beberapa hari ini. “Mana mungkin sekolah Negri kita swastakan. Perubahan nama ini tidak lebih dari sekedar membedakan sekolah unggulan dengan yang tidak unggulan bukan merubah nomenklatur. Nama Indrapraja itu sekali lagi hanya sekedar nama karena memang daerah kita dinamai Indragiri Hilir. Itu saja.” Tegas Kadisdik.

Dari informasi yang dirangkum dilapangan, beredar desas-desus ditengah masyarakat bahwa siswa-siswi yang diterima pada penerimaan tahun ajaran baru pada beberapa sekolah tersebut nantinya akan dialihkan kepada sekolah “Indrapraja”. Parahnya menurut berita yang belum jelas darimana asalnya itu menyebutkan, sekolah Indrapraja ini didirikan dan dimiliki oleh Bupati Inhil, Indra Muchlis Adnan dan berstatus sebagai sekolah swasta.

Kabar ini sontak membuat resah beberapa orang tua murid. Mereka dengan tegas menolak dan menyatakan merasa ditipu kalau memang ini dilaksanakan.

“Jelas kita merasa dibodohi pak. Kemaren waktu mendaftar, saya memasukkan anak saya di SMAN 1 bukan di SMA Indrapraja. Kalau tanpa musyawarah dipindahkan yang menurut kabarnya SMA Indrapraja ini berstatus swasta jelas kita akan menolak karena sama saja ini dengan perampokan,” Jelas seorang wali murid yang tidak bersedia menyebutkan namanya mengungkapkan kegundahannya ketika bertemu detikriau baru-baru ini di Tembilahan. (fsl)




SENIN MENDATANG, SALAH SATU DARI KESRA ATAU THR GURU SUDAH BISA DIREALISASIKAN.

Tembilahan (www.detikriau.wordpress.com) – Kekecewaan tenaga pendidik di Kabupaten Inhil atas keterlambatan pemberian THR dan Kesra dalam beberapa hari kedepan segera akan terjawab. Kadisdik Inhil, Anwar Nawang mengatakan, hari senin mendatang (17/10/2011) paling tidak salah satu antara Kesra atau THR pembayarannya sudah bisa direalisasikan.

‘Kita akui memang terjadi keterlambatan pembayarannya.  Hal ini terjadi dikarenakan adanya keterlambatan penyerahan absen oleh 3 UPTD yang berakibat kitapun jadi terlambat memasukkan pada RKA. Kemaren saya sempat memberi peringatan keras pada tiga kepala UPTD tersebut. Menurut saya, kalau memang tidak bisa bekerja sebaiknya mengundurkan diri saja.” Jawab Anwar saat dikomfirmasi detikriau terkait permasalahan yang banyak menimbulkan kekesalan kalangan guru ini disela-sela acara “welcome Party” di halaman Kantor Bupati Inhil menyambut kedatangan tamu dari 11 Kabupaten/Kota yang hadir di Inhil dalam rangka pelaksanaan PORDA VII Riau. (Jumat malam, 14/10/2011).

Ditambahkan Anwar, senin mendatang pembayaran sudah bisa disalurkan.”Insyaallah senin depan sudah bisa kita bayarkan. tapi untuk salah satunya dulu. Kalau tidak THR. ya Kesranya.” Jelas Kadisdik. (fsl)




KABUPATEN KUANSING SABET JUARA UMUM PENCAK SILAT

Tembilahan (www.detikriau.wordpress.com) – Pesilat Asal Kabupaten Kuantan singingi akhirnya berhasil duduk  pada peringkat pertama dari 11 Kabupaten/Kota yang ikut berlaga di Pekan Olahraga Daerah (PORDA) ke- VII Riau (Kabupaten Rohil abstain. Red) dengan perolehan 5 Medali Emas, 6 Perak dan 3 Perunggu. Kabupaten Indragiri Hilir selaku tuan rumah  hanya berhasil menempati posisi ke tujuh.

Duduk diurutan kedua Kota Madya Pekanbaru dengan perolehan 4 emas, 6 perak dan 7 perunggu. Selanjutnya secara berturut-turut disusul oleh Kabupaten Bengkalis dengan 3 emas, 2 perak dan 2 perunggu, Kabupaten Rohul dengan dengan 3 emas, 1 perak, 4 perunggu.



Pada posisi kelima, diduduki Kabupaten Kampar dengan 2 emas, 2 perak dan 2 perunggu, kemudian Kabupaten Inhu dengan 2 emas dan 3 perunggu. Sedangkan tuan rumah Kabupaten Indragiri Hilir yang menduduki  peringkat tujuh dengan perolehan medali 1 emas, 4 perak dan 7 perunggu.

Posisi kedelapan adalah Kabupaten Siak dengan 1 emas, 1 perak dan 4 perunggu. Kota Dumai dengan 1 emas , Kabupaten Pelalawan dengan 6 perunggu dan duduk di juru kunci adalah Kabupaten meranti tanpa perolehan medali.

Usai pertandingan, setelah penyerahan medali langsung dilaksanakan acara penutupan. (fsl)