Fatwa MUI: Ajaran Islam Suci adalah aliran sesat

SUKABUMI (www.detikriau.wordpress.com) – Ajaran Islam Suci di Kampung Ciburial RT 63/12 Desa/Kecamatan Gunungguruh, merupakan aliran sesat karena telah mengingkari rukun iman dan Islam serta mengubah bacaan syahadat.

Demikian yang diungkapkan Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

“Kami menyatakan sesat kepada ajaran aliran ini yang mengatasnamakan Islam Suci dari hasil rapat kajian Fatwa MUI memutuskan bahwa aliran tersebut sesat karena dengan jelas telah mengingkari Rukun Iman dan Islam, bahkan yang paling jelas adalah bacaaan syahadat yang dirubah,” kata Ketua Komisi Fatwa MUI Kabupaten Sukabumi, KH Komarudin di Islamic Center di Kecamatan Cisaat, Sabtu (12/11/2011).

Komaruddin juga menambahkan bahwa ajaran Islam Suci tidak mengenal shalat lima waktu, tetapi tiga waktu dan menghadap ke empat penjuru.

“Ritual solat yang dilakukan oleh pengikut aliran yang diketuai Cecep alias Mama Bin Danu Wikarta ini jelas menyimpang, kami pun dalam menetapkan aliran ini sesat setelah melakukan pengkajian dari laporan warga sekitar yang merasa terganggung dengan aliran tersebut,” tambahnya.

Di tempat yang sama, Anggota Komisi Fatwa MUI Kabupaten Sukabumi, KH Zaenal Falah menuturkan, terungkapnya aliran suci tersebut berawal dari laporan keluarga jamaah pengikuti aliran Islam Suci. Malah, aktivitas yang dipimpin Cecep alias Mama Bin Danu Wikarta ini sudah berjalan sekitar tiga tahun.

Dari laporan salah seorang pengikutnya yang taubat, pengikutnya sekarang sudah mencapai 80 orang. Kebanyakan bukan dari Kampung Ciburial, melainkan dari berbagai wilayah, termasuk dari Kecamatan Cikidang,” katanya.

Zaenal menambahkan, dalam keputusan rapat komisi MUI meminta agar para jamaah aliran sesat tersebut membubarkan atau menutup kegiatannya. Selain itu, MUI juga meminta agar aparat berwenang turun tangan dalam menyikapi ajaran sesat tersebut agar warga tidak turun tangan sendiri sebagai upaya pembubaran aliran tersebut.

“Kami khawatir, warga di sekitar yang mulai resah dengan kegiatan ini bisa jadi bersikap anarkis. Makanya kami minta kepada aparat turun tangan untuk membubarkan aliran tersebut,” katanya. (ans/arrahmah.com)

 

 




MENKES BELUM TERIMA LAPORAN BOCAH MENANGIS DARAH

Jakarta (www.detikriau.wordpress.com) – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) belum mendapatkan laporan lengkap kasus menangis darah yang dialami oleh bayi berusia tiga minggu, Muhammad Rehan. Laporan medis Rehan rencananya akan diterima Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih pada hari ini.
“Ibu Menkes belum dapat laporannya,” ujar Kepala Humas Kemkes, Ami, saat berbincang dengan detikcom, Minggu (13/11/2011) malam.

Rencananya, Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih baru akan menerima laporan perkembangan Muhammad Rehan pada hari ini.

“Baru laporan lengkapnya besok pagi (hari ini),” jelasnya.

Diketahui, sejak menangis darah pada 26 Oktober 2011 silam, Muhammad Rehan diperiksakan ke dokter spesialis mata. Pada pemeriksaan itu, Dokter menilai ada infeksi di mata bayi berusia tiga minggu itu.

Diagnosis itu didapat setelah Rehan dibawa ke dokter spesialis mata dr Hazhairul Bustani yang berpraktek di Jl Raya Serang Km 17 Bojong-Cikupa, Tangerang.

“Ada infeksi di mata. Dikasih obat tetes mata, agar steril,” tutur ibu Rehan, Siti Muamalah mengutip pernyataan dr Hazhairul, Minggu (13/11) kemarin.

Siti juga mengatakan, dokter menilai apa yang menimpa Rehan dapat semakin parah jika tidak mendapatkan penanganan medis. Namun dokter melihat kondisi mata Rehan belum terlalu parah.(detiknews)




KINERJA DISHUBKOMINFO KEMBALI MENUAI KRITIKAN

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com) – Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kabupaten Indragiri Hilir tidak henti-hentinya di hujami berbagai kritikan. Mulai dari  dugaan penyimpangan berbagai kegiatan, ketidakberesan Pengelolaan Perparkiran dan kali ini kritikan kembali terlontar dari Agen pengelola Angkutan pedesaan. Dengan berbagai kritikan yang ada, diharapkan pemerintah Inhil segera turun tangan untuk mengambil tindakan tegas agar Dinas ini kembali dapat menjalankan berbagai pelayanan kepada masyarakat dengan lebih baik.

Agen angkutan pedesaan, Amat menilai Dishubkominfo tidak mampu berlaku tegas dan menjalankan kebijakan yang bertentangan dengan ketentuan yang berlaku. Sebagai pihak yang memegang ijin pengelolaan angkutan pedesaan, Amat merasa hak-haknya terabaikan.

“Ada apa ini Dishubkominfo. Saya mengurus hak untuk mendapatkan ijin sebagai Agen angkutan pedesaan ini sesuai ketentuan dan memenuhi semua persyaratan yang telah dimintakan dan juga jelas mengeluarkan biaya.” Terang Amat memulai pembicaraan di Tembilahan, Ahad (13/11/2011).

Seharusnya, tambah Amat, semua keberangkatan kendaraan angkutan pedesaan harus mendapatkan surat jalan dari agen. Tugas Dishubkominfo nantinya hanya melakukan pengaturan kedatangan dan keberangkatan angkutan, memeriksa kelengkapan surat-surat kendaraan dan melakukan pencatatan jumlah penumpang baru kemudian mengeluarkan retribusi keberangkatan. Tapi kok sekarang hak-hak kita sebagai agen malah dirampas?” Ungkap Amat dengan nada suara geram.

Dijelaskan Amat, belakangan ini, petugas lapangan Dishubkominfo Inhil sudah tidak lagi menetapkan keharusan angkutan-angkutan pedesaan mengambil surat jalan keada Agen, akibatnya para sopir langsung memintakan ijin keberangkatan kepada petugas Dishubkominfo.

“Saya pernah ajukan keberatan mengenai hal ini kepada kepala terminal angkutan pedesaan (Muchtar. Red) dan malah dijawab hal itu bukan tugas mereka untuk menertibkan. Inikan Aneh. Untuk apa saya mengurus ijin dengan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit tapi malah hak-hak saya diabaikan? Cecar Amat.

Masih menurut keterangan Amat, saat ini setiap keberangkatan para sopir langsung menghubungi petugas Dishubkominfo dengan membayar biaya keberangkatan sebesar Rp. 5 ribu rupiah untuk sekali keberangkatan.

“Yang jadi pertanyaan, pungutan sebesar Rp. 5 ribu yang dibayarkan para sopir inikan diatas tariff retribusi yang menjadi keharusan. Kelebihan ini apakah juga disetorkan sebagai pendapatan daerah atau malah masuk kantong pribadi. Dan sekali lagi, kebijakan potong kompas ini jelas mengintimidasi hak-hak kami sebagai agen.” Ujar Amat mengkritik.

Terkait permasalahan ini, Kepala Bidang Perhubungan Darat Dishubkominfo Kab. Inhil, Sopran ketika coba dikomfirmasi melalui sambungan telepon selularnya malah bungkam dengan tidak bersedia mengangkat sambungan telepon walaupun handphone dalam keadaan hidup. Bahkan ketika dilakukan komfirmasi melalui pesan singkat ke nomor Handphone miliknya, sampai berita ini diangkat juga tidak bersedia membalas. Ada apa dengan Dinas yang di Nakhodai oleh mantan Kabag Humas Sekdakab Inhil ini? Apakah kebungkaman mereka memberikan isyarat pembenaran akan ketidakberesan yang sampai saat ini terus dipertontonkan oleh Dinas ini. (fsl)




PASANG KELING KEMBALI LANDA TEMBILAHAN

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com) – Luapan air laut yang lajim disebut banjir rob kembali melanda sejumlah kawasan dalam kota Tembilahan. Banjir tahunan yang dalam bahasa daerah Riau lebih dikenal dengan sebutan pasang keling ini hampir setiap akhir tahun sepertinya sudah menjadi langganan tetap. Kondisi ini semakin diperparah sebagai akibat tingginya curah hujan dan kurang berfungsinya drainase dalam kota.

“Pasang keling ini memang sudah lajim terjadi. Apalagi dipenghujung tahun seperti ini, biasanya curah hujan juga tinggi. Ironisnya, kondisi ini semakin diperparah dengan tidak berfungsi maksimalnya kebanyakan drainase yang ada di dalam kota,” Ujar Ridwan, seorang warga Tembilahan yang sempat di temui Vokal saat memantau terjadinya pasang keling ini di Tembilahan, Ahad (13/11/2011)

Menurut penilaian Ridwan, hampir seluruh drainase yang ada di dalam kota Tembilahan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Hal ini kebanyakan disebabkan penumpukan sampah yang mengakibatkan terganggunya aliran air.

“setiap bulannya saya selalu melihat petugas dari kebersihan kota melakukan pembersihan aliran drainase. Namun tentunya hal ini tidak akan bisa membuahkan hasil maksimal karena masih kurangnya kesadaran masyarakat untuk ikut ambil peduli seperti misalnya kebiasaan buruk dengan membuang sampah seenaknya di dalam drainase. Akibatnya, begitu pasang surut, aliran pembuangan air menuju laut menjadi terhambat.” Kata Ridwan lagi.

Dari pantauan lapangan, beberapa kawasan jalan dalam kota Tembilahan mulai diluapi banjir. Sperti beberapa ruas jalan gadjah mada, Jalan Kapten Muchtar, Jalan Yos Sudarso, Jalan H. Said, Jalan Kartini, jalan telaga biru, sudah digenangi air dengan ketinggian 10 sampai dengan 30 cm. yang lebih parahnya, kondisi jalan provinsi di parit VI Tembilahan, pasang keling yang naik bisa mencapai sebatas lutut orang dewasa. Akibatnya, jalan provinsi ini sering macet disebabkan banyaknya kendaraan yang mogok karena terendam air.(fsl)




MAYAT TANPA KELAMIN DITEMUKAN MENGAPUNG DIPERAIRAN DESA SUNGAI LUAR.

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com) – Herman (45), warga parit VI Desa sungai luar Kecamatan Batang tuaka sontak kaget. Bagaimana tidak, sore itu (sekira pukul 18.00 Wib) sedang asyik-asyiknya memancing ikan di perairan Sungai Luar dekat gudang H.Rusdi, tiba-tiba saja matanya terarah pada sebuah benda yang mengapung dalam keadaan tertelungkup dan begitu didekati, ternyata benda tersebut adalah sesosok mayat manusia yang sudah dalam kondisi membusuk.

Menurut pengakuan Herman, awalnya dirinya tidak menyangka kalau benda yang dilihatnya mengapung itu ada tubuh manusia. Karena merasa penasaran, dirinyapun langsung mendekat untuk memastikan.

“keruan saja saya kaget pak. Niat mau memancing ikan malah yang saya dapat sesosok mayat yang sudah dalam kondisi membusuk. Langsung saja saya lari dan memberitahukan penemuan mayat ini kepada warga sekitar,’ Ujar Herman menceritakan pengalamannya dihadapan petugas kepolisian.

Tidak berselang lama, puluhan warga setempat secara bersama-sama mendatangi tempat kejadian untuk melihat apa yang dilaporkan oleh Herman. Setelah diangkat ke atas darat oleh masyarakat, diketahui bahwa sosok mayat yang mengapung itu seorang laki-laki dengan hanya mngenakan celana dalam berwarna hitam dan kondisi tubuhnya sangat memprihatinkan karena sudah dalam kondisi rusak.

Ditubuh korban, pada bagian paha dan punggung terlihat bekas tusukan senjata tajam. Diperkirakan laki-laki malang  berusaha sekitar 30-an ini sudah mengehembuskan nafas terakhir sejak 3 sampai 4 hari yang lalu dan dengan sengaja dibuang ke sungai. Dan lebih mirisnya, kelamin korban sudah hilang diduga akibat dimakan oleh hewan air dan menimbulkan aroma busuk yang teramat menusuk hidung.

Diduga mayat Mr.X tersebut, adalah korban pembunuhan, kondisinya matanya terpelotot, kemudian kedua tangannya serta kedua kakinya masih dalam keadaan di terikat oleh seutas tali serta mulutnya ditutup lakban warna hitam, serta kepalanya ditutup dengan sebuah karung plastic warna putih  

Kapolres Indragiri Hilir AKBP TJ Djati Utomo SIK melalui Kapolsek Batang Tuaka Ipda R.Nababan kepada wartawan, Ahad (13/11) menjelaskan dari olah TKP yang sudah dilakukan, dugaan sementara mayat Mr. X tewas akibat pembunuhan, sebab pada diri korban juga ditemukan adanya beberapa luka robek bekas tusukan senjata tajam, serta dalam posisi tangan dan kakinya terikat, lalu mulutnya ditutup dengan lakban dan kepala korban ditutupi dengan sebuah karung plastik berwarna putih.

“Saat ini untuk jenazah Mr.X sudah dibawa ke Rumah Sakit Puri Husada Tembilahan, untuk dilakukan visum oleh petugas medis, jika sampai batas waktu yang sudah ditentukan, ternyata tidak ada pihak keluarga yang mengakui tentu akan segera kita makamkan sebagaimana mestinya” ujar Kapolsek Batang Tuaka Ipda R. Nababan memberikan penjelasan.(fsl)

 




JEMBATAN TASIK GEMILANG DIJADIKAN AJANG MESUM REMAJA

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com) – Jembatan Tasik Gemilang Desa Sungai Luar Kecamatan Batang Tuaka dengan minimnya lampu penerangan ternyata dimanfaatkan para pasangan muda-mudi untuk bermesraan, celaknya, kegiatan ini mereka pertontonkan dengan bebas dan tanpa malu-malu. Dimintakan pemerintah setempat segera melakukan penertiban agar tidak semakin menimbulkan keresahan masyarakat setempat.

“Kami sangat berharap agar pemerintah daerah segera melaukan penertiban. Sekarang masyarakat sudah mulai merasa resah. Perbuatan yang mereka pertontonkan dengan tanpa malu-malu ini justru membuat kami para orang tua menjadi risih. Kita khawatir kebiasaan buruk ini kedepannya akan memberikan efek yang tidak baik bagi remaja didaerah kami,” Ungkap Junaidi, warga setempat, Ahad (13/11/2011)

Dari pantauan lapangan, sabtu malam (12/11/2011), puluhan kendaraan roda dua berjejer disepanjang badan jembatan. Pengemudi yang rata-rata pasangan muda-mudi di bawah umur ini, asyik bercengkerama sambil duduk-duduk diatas kendaraan dan bahkan ada yang sambil baring-baring di samping kendaraan dengan beralaskan seadanya. Celakanya, tanpa sungkan-sungkan, dihadapan Vokal, mereka seperti tanpa malu asyik berpelukan (maaf) dan sambil berciuman.

“Bukan malam minggu saja bang, hamper setiap malam sepanjang jembatan ini kini ramai dijadikan para remaja untuk melakukan adegan mesum. Apalgi kondisinya memang gelap karena minimnya lampu penerangan, Sebut Udin seorang warga Desa Sungai Luar.

Udin berharap pihak agar tempat ini tidak disalahdunaan sebaiknya segera untuk dipasang lampu penerangan dan diharapkan petugas terkait untuk aktif melakukan patrol.

Kondisi diatas jembatan ini akan ramai didatangi kalangan remaja sejak pukul 18.30 WIB sampai menjelang pukul 22.00 WIB. Selain digunakan sebagai tempat berpacaran, kawasan ini juga rawan terjadi perbuatan maksiat lainnya. Sehingga diharapkan aparat terkait pro aktif menertibkan kondisi yang cenderung merusak seperti ini. (fsl)