DUA GADIS BELIA DILARIKAN AYAH DUA ANAK DAN MANTAN NAPI

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com) —  Dua orang warga jalan Gunung Daek Kelurahan Tembilahan Kota, In dan Am dilarikan sang kekasih tanpa sepengetahuan orang tua. Ironisnya, Madi (24) kekasih In (15) adalah seorang laki-laki beristri dengan 2 orang anak, sedangkan, Rian (25) kekasih Am (16) seorang mantan narapidana.

Menurut pengakuan ayah tiri In, Tony (40), anaknya In dan Madi sudah melakukan pernikahan bawah tangan. Dan persoalan inipun awalnya tidak ada masalah. “Hanya saja istri saya, Radiyah tidak merestui hubungan In dengan Ayah dua anak itu. Dan awal bulan lalu, hubungan gelap anak tiri saya ini sempat heboh di Kecamatan Tembilahan Hulu. Namun saat itu sudah selesai dan telah dibuatkan surat pengakuan Madi telah menikahi secara siri anak tiri saya dan juga perjanjian untuk tidak lagi mengganggu,” Ujar Tony sambil menceritakan bahwa surat perjanjian tidak menemui lagi dan pengakuan menikah secara siri dengan anak tirinya yang masih dibawah umur itu dibuat di sebuah kantor Polsek.

Ternyata, ditambahkan Tony, tiga hari lalu anak tirinya hilang dari rumah dan belakangan baru diketahui kabur bersama Madi.

“Saya mau bilang apa bang, mereka berdua sepertinya mabuk kepayang. Saya tau anak saya dibawah umur dan ini perbuatan salah. Tapi apa yang bisa saya perbuat. Saya sudah beberapa kali menegur mereka tapi juga tidak ditanggapi” Ungkap laki-laki pekerja serabutan ini dengan mimik wajah yang sedikitpun tidak memperlihatkan rasa bersalah dan tanpa beban.

Kisah Am dan Rian,

Rian (25) mantan napi kasus perkelahian ini baru bebas bulan oktober 2011 yang lalu dan berteman dengan saudara kandung In, Rafli. Begitu menyelesaikan masa hukumannya, Rian menumpang tinggal dirumah Rafli  dan menjalin hubungan asmara dengan seorang gadis berinisial Am (16) tetangga In. karena hubungan tidak direstui, Am melarikan diri dengan Rian yang dikabarkan juga sempat menggondol uang dan perhiasan emas milik orang tua Am.

“Rian dihukum karena kasus perkelahian. Oktober lalu dirinya baru bebas dan menumpang tinggal dirumah kami. Waktu dilembaga, ia disel di Blok Ulin Rutan Kelas II A Tembilahan,” Ungkap Rafli.

Hanya sayangnya, ketika detikriau mencoba menemui orang tua Am, menurut penuturan Tony, mereka sedang berangkat ke Jambi bersama istrinya.

“Tadi pagi kedua orang tua Am dan Istri saya Radiyah berangkat ke Jambi. Dari kabar yang diterima, In dan Am sekarang berada di sana,” Ujar Ayah tiri In ketika memberikan Komfirmasi, rabu (16/11/2011).

Ketua RT O1 Jalan Telaga Biru, Wahyu Yudistira sangat menyesalkan terjadinya peristiwa ini. Dirinya menghimbau agar warganya memberikan laporan apabila ada orang yang bukan penduduk setempat menumpang tinggal.

“yang sangat saya sayangkan, Tony tidak pernah memberitahukan kalau ada orang asing yang menumpang tinggal di kediamannya dan saya dikabarkan setelah mendapat laporan dari orang tua Am. Ini yang sangat saya sesalkan. Saat ini juga, saya kembali menghimbau dan menjadi keharusan agar siapa saja yang menumpang tinggal di keidamannya segera memberitahukan ke RT setempat.”Ujar Wahyu berpesan. (fsl)




MAKAM ERWIN DIBONGKAR.

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com) – Jenajah Erwin (39) tahun korban dugaan pembunuhan yang ditemukan mengapung di perairan Desa Sungai Luar Kecamatan Batang Tuaka, sabtu (12/11) dan telah dikebumikan dipemakaman umum jalan tanjung harapan, tembilahan, senin (14/11) , akhirnya kembali dibongkar. Pembongkaran ini atas permintaan pihak keluarga dengan maksud untuk dikebumikan sebagaimana mestinya dikampung halaman, Pariaman, Sumatra Barat.

Dari pantauan, prosesi pembongkaran makam yang mulai dilaksanakan sekira pukul 15.30 Wib dilakukan oleh enam orang dengan cukup hati-hati. Setelah seluruh tanah penimbun kembali di angkat, secara perlahan-lahan peti jenajah yang masih terlihat baru mulai diangkat. Saat itu juga bau tidak sedap yang keluar mulai menusuk hidung dan membuat beberapa orang wartawan, pihak keluarga dan petugas kepolisian terpaksa harus menutup hidung.

Saat itu, terlihat suasana haru dan suara sayup-sayup isak tangis yang keluar dari mulut seorang bocah laki-laki kecil yang tertunduk dipangkuan seorang laki-laki. Diketahui bocah kecil ini adalah anak bungsu korban, Aldo. Setelah diangkat dan peti jenajah dibersihkan selanjutnya dibungkus menggunakan plastik hitam dan selanjutnya dimasukkan ke dalam mobil ambulance yang memang sudah sejak tadi menunggu untuk membawa jenajah ke kampung halamannya.

Kapolsek Batang Tuaka, Ipda R Nababan yang ikut menghadiri prosesi pembongkaran makam jenajah Erwin mengakui saat ini pihak kepolisian sudah mengantongi nama yang diduga sebagai tersangka. “Kita telah melakukan pemeriksaan kepada beberapa orang saksi dan dugaan tersangka sudah kita kantongi. Hanya saja saat ini belum bisa kita beritahukan karena penyidikan masih terus kita lakukan untuk mengumpulkan beberapa bukti pendukung.” Jelas Kapolsek saat dimintai komfirmasi oleh wartawan, Rabu (16/11/2011).




Penemuan Mayat Tanpa Identitas Terungkap.

Keluarga Korban Mengingankan Makamnya Segera Dibongkar

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com) – Misteri mayat tanpa identitas yang ditemukan di perairan sungai luar kecamatan Batang Tuaka akhirnya terungkap. Korban yang ditenggarai tewas akibat tindakan kriminal ini diyakini bernama Aswin (39) asal Pariaman Provinsi Sumatra Barat. Keluarga korban berharap pihak kepolisian memberikan ijin untuk memindahkan jasad korban untuk dikebumikan secara layak di kampung halamannya.

 

“begitu melihat foto-foto yang diperlihatkan oleh pihak kepolisian, saya sangat yakin kalau korban adalah saudara kandung saya, Aswin. Keyakinan ini semakin diperkuat begitu melihat tato ditangan kiri korban yang bertuliskan huruf “SW”. Ungkap Indra (40) tahun yang mengaku abang kandung korban ketika menjawab pertanyaan wartawan, Selasa (15/11/2011).

 

Menurut pengakuan Indra yang saat ini berdomisili di Jakarta, korban selama ini bertempat tinggal di Muara Bulian Provinsi Jambi. Sebelum lebaran Idul Adha, Ia mendapat kabar dari korban bahwa dirinya beserta anak dan istri akan pergi ke kota Tembilahan, hanya saja ketika kembali pulang ke Muara bulian hanya istri dan anak-anaknya yang kembali sedangkan korban tanpa diketahui sebabnya tetap tinggal di Tembilahan. “sejak itulah pihak keluarga sudah tidak mendapat kabar lagi dimana keberadaannya dan mulai risau” Ceritanya.

 

Ditengah kerisauan itu, Indra mendapat kabar dari salah seorang temannya yang berdomisili di Kota Rengat, Kabupaten Inhu, bahwa menurut kabar yang tertulis di sebuah media cetak di kota tembilahan ditemukan mayat tanpa identitas mengapung diperairan Desa Sungai Luar.

 

Kemudian atas kabar tersebut, Untuk mencari kepastian, Indra menghubungi pihak Polres Inhil untuk memintakan cirri-ciri fisik mayat yang ditemukan tersebut. Setelah merasa yakin, Indra langsung berangkat menuju Tembilahan.

 

Untuk itu Indra sangat berharap agar pihak Kepolisian membongkar mayat korban Mr.X yang kini sudah dimakamkan di TPU Tanjung Harapan Tembilahan, untuk selanjutnya untuk dibawa ke Pariaman Sumatra Barat, untuk dikebumikan sebagaimana mestinya.

Sementara itu Kasat Reskrim AKP Efendi melalui Kapolsek Batang Tuaka Ipda R.Nababan membenarkan sudah ada pihak yang datang mengaku kalau mayat Mr.X yang ditemukan mengapun di Sungai Luar kemarin adalah keluarganya.

“Memang benar. Indra (40) datang dari Jakarta mengaku kalau Dia adalah Abang kandung korban, dan Dia juga memohon persetujuan agar mayat Mr.X untuk dibongkar dan jasadnya dibawa untuk dimakamkan  di Parimanan” kata Ipda R.  Nababan

Dijelaskan lagi oleh R. Nababan, dengan terkuaknya identitas mayat Mr.X tersebut, selanjutnya akan dilakukan proses penyelidikan untuk mengungkap kejadian sebenarnya dan akan bekerja sama dengan Satuan Unit Reskrim Polres Indragiri Hilir.

“Yang jelas, kita akan segera bekerjasama dengan Unit Reskrim Polres Indragiri Hilir, untuk mengungkap kejadian sebenarnya yang dialami oleh korban serta menangkap siapa pelakunya” sebutnya. (fsl)    




MPI TUDING JAMBORE PGRI SYARAT KEPENTINGAN POLITIK

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com) — Ketua Komisi IV DPRD Inhil, Kartika Roni mengingatkan pengurus PGRI Inhil, agar jangan menggiring para guru, terutama PNS terlibat politik praktis dalam mendukung balon pada Pemilukada Inhil mendatang.
“Ini (Jambore PGRI, red) ada kepentingan politik, saya yakin akan ada deklarasi pada acara Jambore PGRI mendatang. Seharusnya guru, terutama PNS tidak terlibat politik praktis,” kata Roni dalam hearing yang dipimpin Ketua Komisi IV DPRD Inhil didampingi anggota Mansun dan Sumardi, Dinas Pendidikan Inhil diwakili Kabid Dikmenti, Syaiful Kelana dan dari MPI, Tengku Suhandri dan Yon Zacky serta perwakilan guru, M Fadli dan Zulfan Islami.
Roni mengatakan bahwa hearing ini kita gelar menindaklanjuti laporan dari MPI dan keluhan para guru terkait dengan tidak efektifnya peran PGRI Kabupaten Inhil dalam memperjuangkan hak-hak guru bahkan dirasakan keberadaan PGRI mengintimidasi guru karena disinyalir PGRI Kabupaten Inhil sudah terkontaminasi dengan politik selain itu, hering ini juga dilaksanakan terkait keluhan guru tentang pelaksanaan Jambore PGRI yang dipandang mengganggu pelaksanaan ujian semester para siswa dan pungutan dan bagi pelaksanaan Jambore PGRI, Sehingga kita harapkan kegiatan ini dapat ditunda pelaksanaannya.
Koordinator MPI, Tengku Suhandri menyebutkan kegiatan Jambore ini dipandang mengganggu pelaksanaan ujian semester para siswa pada awal Desember mendatang.
“Kami sebagai wali murid dan masyarakat merasakan keberatan Jambore PGRI diadakan saat siswa harus fokus menghadapi ujian semester pada Desember mendatang. Ditambah pula dengan adanya pungutan kepada guru dan siswa bagi pelaksanaan kegiatan ini,” ujar Tengku Suhandri, koordinator MPI dalam hearing tersebut.
Ia juga menyebutkan saat ini PGRI terkontaminasi kepentingan, karena faktanya di lapangan saat ini beberapa kali pelantikan PGRI dikecamatan ada deklarasi mendukung balon pada Pemilukada Inhil mendatang.
Perwakilan guru, M Fadli menyatakan bahwa selama ini memang keberadaan PGRI dipandang tidak memperjuangkan anggotanya, justru membuat beban, Seperti tidak memperjuangkan hak-hak anggota yang terabaikan, seperti keterlambatan pembayaran Kesra dan lainnya.
“Karena tidak pernah memperjuangkan kepentingan anggotanya selama ini, maka sebaiknya bubarkan saja kepengurusan PGRI Inhil,” tegas Fadli, guru SDN 016 Tembilahan Hulu. Pernyataan keras mengenai PGRI Inhil yang selama ini tidak akomodatif dan responsif juga disampaikan Zulfan Islami guru SMK Kotabaru, Keritang.
Dinas Pendidikan Inhil dalam kesempatan tersebut menyatakan pihaknya tidak mengetahui mengenai adanya pungutan bagi pelaksanaan Jambore PGRI tersebut.
“Saya telah mewanti-wanti pengurus PGRI, agar jangan bebani para guru dan siswa. Saya terkejut mengenai hal ini, saya akan sampaikan kepada Kepala Dinas,” sebut Kabid Dikmenti Disdik Inhil, Syaiful Kelana. Menurutnya, selama ini PGRI Inhil tidak ada mengkoordinasikan hal ini.
Tidak puas hanya mendengar apa yang disampaikan oleh Kabid Dikmenti Disdik, Syaiful Kelana, MPI beserta guru yang didampingi oleh ketua komisi IV Kartika Roni mendatangi kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Inhil untuk mendengar jawaban langsung oleh Plt Kadisdik Zulkifli.

Zulkipli menegaskan bahwa PGRI Kabupaten tidak mengetahui sama sekali atas adanya pungutan yang dilakukan oleh PGRI Kecamatan bahkan Zulkipli menambahkan bahwa Disdik sudah menghimbau jika para guru merasa keberatan disilahkan untuk tidak mengikuti kegiatan Jambore.

“Jauh-jauh hari sudah kita himbau kepada PGRI untuk tidak membebankan kegiatan Jambore ini kepada guru-guru apalagi terhadap siswa. Kegiatan Jambore ini dilakukan untuk menseleksi para guru yang nantinya akan dikirim untuk mengikuti Jambore PGRI yang diadakan oleh provinsi tanggal 21-26 november,” kata Zulkipli yang juga menjabat sebagai sekretaris PGRI Kabupaten Inhil.

Zulkipli berjanji akan menyampaikan semua keluhan dari para guru-guru terkait dengan tidak adanya peran PGRI dalam membela hak-hak guru-guru kepada Kadisdik. “Saya akan menyampaikan semua aspirasi ini kepada Kadisdik karena ini merupakan wewenang Kepala Dinas,” katanya.

Terkait keterlambatan dana Kesra dari APBD Kabupaten Zulkipli menerangkan bukanlah kehendak dari Disdik tapi atas kebijakan Pemkab. “Kita sudah mengajukan hal itu namun sampai sekarang belum dapat kebijakan dari Pemkab untuk mencairkan dana bantuan tersebut,” imbuhnya, selasa (15/11). (suf).




FASILITAS RSUD PURI HUSADA MEMPRIHATINKAN.

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com) – Agar kembali mampu meberikan pelayanan dengan baik kepada masyarakat, RSUD Puri Husada Tembilahan tampaknya memang harus dibenahi dengan lebih serius. Kondisi beberapa perlengkapan ruangan dan peralatan medis sebahagian sudah sangat tidak layak pakai dan berusia tua.

Kenyataan ini ditemukan saat dilakukan inpeksi mendadak (sidak) oleh Komisi IV DPRD Inhil, Selasa (15/11/2011). Dalam sidak yang dipimpin langsung oleh Ketua Komisi IV DPRD Inhil, Roni Kartika didampingi salah seorang anggota, Mansun, masih ditemukan peralatan medis keluaran tahun 80-an dan di ruang Perawatan Anak juga ditemukan kondisi kasur dan bantal yang menyedihkan, yakni sudah menghitam dan terdapat banyak robek disana-sini.

“Pak Direktur, ini tolong segera untuk diperhatikan, bagaimana kita bisa membuat pasien sehat kalau pasilitasnya saja sudah sangat menyedihkan seperti ini “ Ujar Roni kepada Direktur RSUD Puri Husada, Dr. Irianto yang ikut mendampingi secara langsung sidak Komisi IV DPRD Inhil ini.

Selanjutnya diruang Radiologi, ditemukan hanya 1 unit peralatan X-Ray yang bisa berfungsi dengan baik. Kata Irianto, sebenarnya RSUD Puri Husada memiliki 5 Unit peralatan X-Ray, tapi empat lainnya dalam kondisi tidak bisa dipakai karena rusak. “Kerusakan kemungkinan besar disebabkan ketiadaan stabilizer untuk peralatan X-Ray, sehingga apabila terjadi lonjakan listrik,  peralatan tersebut sangat mudah terbakar,” Jelas Irianto menerangkan kemungkinan yang menjadi penyebab rusaknya peralatan tersebut.

Diruang Poliklinik Penyakit Dalam dan Poliklinik Gigi, juga  ditemukan peralatan kesehatan yang sudah ‘tua’, yakni sudah beroperasional sejak tahun 80-an.

Ruangan Perawatan Kelas III juga menjadi sorotan dewan, dimana dijumpai kondisi kasur dan bantal yang seharusnya tidak layak pakai lagi. Toilet yang aliran airnya tidak lancar, kadang-kadang keruh. Bahkan, pada bagian luar kamar tampak tumpukan sampah didalam tong yang sudah penuh, tapi tidak diangkut dan ternyata, bukan hanya Ruangan Perawatan Kelas III saja yang kondisinya ‘alakadar’, tapi kondisi ini juga merembet ke Ruang Perawatan VIP Sri Gemilang, dimana kondisi air dan toiletnya juga tidak terurus.

Mengenai temuan dewan ini, Direktur RSUD Puri Husada Tembilahan, dr Irianto menyatakan bahwa pihaknya telah berusaha melakukan pembenahan terhadap berbagai fasilitas dan kekurangan RSUD Puri Husada ini.

“Kita harapkan permasalahan peralatan dan kebersihan RSUD Puri Husada Tembilahan ini benar-benar diperhatikan. Kasihan kita melihat pasien yang dirawat dengan fasilitas dan peralatan kesehayan yang memprihatinkan seperti ini,” sebut Kartika Roni kepada wartwan usai sidak tersebut.(fsl)




TOLAK PEMILIHAN ULANG, 2 CALON KADES ABSTAIN.

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com) – Pemungutan suara ulang Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Rantau Panjang Kecamatan Enok, senin (14/11/2011) kembali menuai kontroversi. 2 dari 3 calon Kades (Sahlal Mahrasi, S.Pd.I dan calon Incumbent Asmuni. Red ) menolak mengikuti pemilihan ulang. Mereka beralasan pilkades ulang ini tidak adil karena tidak melakukan pemungutan suara pada seluruh TPS. Walau tanpa dihadiri oleh kedua calon kades, Panitia pilkades tetap melanjutkan pemungutan suara.

“Pemilihan ulang ini jelas sangat tidak adil. Sejak awal, saya dengan tegas telah memintakan untuk melakukan pemungutan suara ulang pada semua TPS. Tapi permintaan saya tidak pernah diindahkan.”Ujar Asmuni ketika dikomfirmasimelalui sambungan Telepon selularnya, Selasa (15/11/2011)

Menurut penjelasan Asmuni, dari 4 TPS, Panitia mengambil kebijakan hanya melakukan pemilihan ulang pada dua TPS yakni TPS I dan TPS II. Padahal dari TPS III dan IV yang tidak dilakukan pemugutan suara ulang, dari 368 suara, salah satu calon (Zulkifli. Red) telah mengantongi 227 suara atau sebanyak 20,82 persen dari total 1090 pemilih. “apa ini adil?, kalau pemungutan suara ulang hanya dilakukan pada TPS I dan II tentunya Zukifli telah mengantongi keunggulan sebanyak 20 persen lebih suara. Padahal pemungutan suara pilkades juni lalu telah dinyatakan cacat hukum karena lebih dari 70 persen surat suara hangus disebabkan tidak ditandatangani oleh panitia ataupun yang mewakili. Artinya apa? Tentunya kalau panitia mau jujur dan tidak berat sebelah, pemungutan suara harus dilakukan secara total.” Papar Asmuni.

Bahkan Asmuni mengkritik lagi, seharusnya panitia pemilihan juga harus digantikan dengan panitia pemilihan baru karena panitia pilkades sebelumnya telah dilakukan pembubaran.”Kalah menang dalam bertanding itu hal yang biasa asalkan dilakukan dengan jujur dan adil. Kalau mau melaksanakan pilkades yang ini jelas merupakan bentuk sebuah demokrasi, tentunya harus taat aturan dan perundang-undangan yang berlaku. Kalau mau main enak sendiri dan mengangkangi semua aturan, apa ini masih bisa disebut sebuah demokrasi yang jujur dan adil?”Kata Asmuni mempertanyakan.

Praktisi hukum Mohd. Arsyad ketika di komfirmasidi Tembilahan terkait permasalahan ini, Selasa (15/11/2011) juga sempat menyayangkan tetap dilanjutkannya pemungutan suara meskipun belum mendapat persetujuan dari semua calon.”Seharusnya, panitia mengundang kembali semua calon kades dan mendudukan semua permasalahan dan menjelaskan semua aturan yang ada Karena proses pilkades ulang pasti berbeda dengan pilkades sebelumnya. Bahkan saya dengar, pemberitahuan pilkades ulang ini juga diberitahukan secara dadakan, calon baru diberitahukan kepastian pelaksanaan 2 hari sebelum dilaksanakan pemilihan suara ulang. Kalau dua calon tidak hadir dan hasil pemilihan juga tidak ditandatangani dua calon kades lainnya, apa pilkades ini bisa kita sebut benar secara hukum?. Permintaan pemilihan ulang pada semua TPS itu saya nilai sudah tepat.”Kata Arsyad memberikan jawaban. (fsl)