Warga Tembilahan Buat Berbagai Acara Sambut Pergantian Tahun

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com) – Seperti tahun-tahun sebelumnya, pergantian tahun selalu disambut dengan meriah oleh masyarakat kota Tembilahan. Masyarakat sudah mulai mempersiap berbagai kegiatan dalam menyambut pergantian tahun tersebut, bahkan persiapan sudah jauh-jauh hari mereka lakukan.

 

Acara yang sering dilakukan masyarakat, selain karena biaya murah dan mudah dilakukan adalah pesta bakar ayam. Hampir disetiap kawasan biasanya kegiatan semacam itu dilakukan. Makanya, malam tahun baru juga menjadi rezeki bagi sebagian warga dengan bermunculannya pedagang ayam potong dadakan di banyak ruas jalan yang ada dikota Tembilahan.

 

Selain itu kegiatan lainnya yang sering dilakukan masyarakat adalah menggelar pesta music orgen tunggal. Dana biasanya dikumpulkan dengan cara iuran untuk melaksanakan acara semacam ini. Biasanya pesta berlangsung selepas shalat Isya hingga dini hari selepas pergantian tahun berlangsung.

 

“Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap pergantian tahun kita selalu mengadakan acara bakar ayam. Kegiatan semacam ini sudah sering kita lakukan setiap pergantian tahun baru,” kata Wati warga jalan Kayu Jati, Kelurahan Tembilahan Hulu, ketika berbincang-bincang, Jumat, (30/12).

 

Masih menurutnya, kegiatan bakar ayam seakan menjadi sebuah tradisi yang rasanya kurang apdol kalau tidak dilakukan setiap pergantian tahun. Sambil menunggu jam 00.00 Wib saat pergantian tahun, rasanya enak berkumpul keluarga sambil makan daging ayam bakar.

 

Sementara itu, pantauan di lapangan, suasa pergantian tahun sudah mulai terasa di kota Tembilahan beberapa hari belakangan ini. Hal itu dengan terlihatnya pedagang terompet yang bermunculan dibanyak ruas jalan yang ada. Pedagang tersebut ada yang menjual terompet hasil buatan sendiri, ada juga mereka yang menjual terompet secara kulakan.

 

Harga terompet yang dijualpun berpariasi. Mulai dari yang paling murah Rp 5.000/buah, Rp 10.000/buah, bahkan ada yang harganya mencapai Rp 50.000/buah. Omset merekapun cukup lumayan, karena banyak anak-anak yang kebetulan lewat di dekat pedagang terompet, lantas merengek kepada orang tua dan minta dibelikan.

 

“Mau tidak mau kita terpaksa membeli, karena anak ingin membeli terompet. Tidak kita belikan ia akan merengek dan menangis sepanjang jalan. Makanya ya kita ikuti saja, beruntung ada terompet yang harganya murah,” kata Suardi warga Tembilahan Kota.

 

Sementara itu tempat pavorit yang yang digunakan oleh kaula muda untuk menghabis tahun baru adalah jembatan Kuala Getek dan jembatan Rumbai Jaya. Untuk jembatan Kuala Getek, warga yang datang bukan hanya dari Tembilahan, tapi juga warga yang berasal dari Kecamatan Batang Tuaka, Gaung dan GAS.

 

Hanya saja permasalahan belakangan jalan penghubung kesana sangat rusak. Terutama dari Sungai Luar ke Sungai Piring. Disaat pasang dan musim penghujan tinggi membuat lobang besar yang ada diruas jalan tersebut jadi tidak terlihat. Jadi sangat memungkinkan pengendara kenderaan roda dua biasa terperosok ke dalam lobang kalau tidak hapal dengan kondisi jalan.

 

Untuk jembatan Rumabai Jaya, warga dari Kecamatan Tempuling, Kecamatan Kempas dan Enok yang banyak menghabiskan pergantian tahun bersama teman. Ada yang membuat pesta, dan ada yang hanya sekedar duduk-duduk sambil berbincang bersama teman-teman. (Suf)




PKS KOMIT LAKUKAN PERBAIKAN SISTEM PENGOLAHAN RESIDU PABRIK

Tembilahan (www.detikriau.wordpress.com) – Untuk mengantisipasi residu pengolahan kelapa sawit. Pabrik Keritang Sawit (PKS) kini sedang merampungkan kolam-kolam pengelolaan limbah, Sebelum dibuang, pada kolam ke 12, perusahaan melepas ikan untuk memastikan limbah itu tidak lagi berbahaya bagi lingkungan. Saat ini pembangunan sudah diatas 80 persen.

“Untuk menghindari kejadian serupa kedepannya, perusahaan kini sedang merampungkan kolam-kolam pengolahan limbah. Total kolam sebanyak 12 buah dan sekarang pekerjaan sudah lebih 80 persen,”Ujar Deny memberikan penjelasan saat dikomfirasi melalui sambungan telepon selularnya, Kamis (29/12/2011).

Terkait permasalahan ini, Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Indragiri Hilir, Ir. Tengku Edy ketika dikomfirmasi membenarkan bahwa bahwa BLH sudah memintakan pihak perusahaan untuk memperbaiki sitem IPAL mereka agar kedepan tidak lagi terjadi kejadian serupa yang dapat merugikan masyarakat.”Beberapa waktu lalu kita sudah kirimkan sample limbah pabrik mereka ke Pekanbaru, hanya saja sampai hari ini kita belum terima apa hasilnya. Kalau memang nantinya baku mutunya masih melebihi ketentuan maka kita akan paksa perusahaan untuk kembali memperbaiki. Kita lihatlah dalam beberapa hari ini,” Ujar Tengku Edy memberikan komfirmasi. (fsl)




LIMBAH BOCOR, PERUSAHAAN DIKENAI DENDA ADAT

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com) – Heboh ditemukannya mengapung ratusan ikan di anak sungai yang megalir di desa Keritang Hulu, Kecamatan Kemuning beberapa waktu lalu yang dituding akibat limpahan residu pengolahan sawit milik Pabrik Keritang Sawit (PKS) tidak dibantah oleh pihak manajemen. Hanya saja, menurut pihak manajemen, perusahaan telah membayar denda adat dan memberikan bantuan pembuatan sumur bor bagi masyarakat di lima dusun di desa Keritang Hulu.

“Kita tidak membantah, mungkin saja saat itu ada residu sisa pengolahan sawit pabrik kita yang mengalir ke-anak sungai dan katanya menyebabkan matinya ratusan ikan. Namun untuk kelalaian ini, kita sudah membayarkan denda adat kepada masyarakat setempat serta memberikan bantuan berupa pembuatan sumur sebagai sumber air bersih bagi masyarakat,” Jawab Deny Fernando (42), Putra Kelahiran Kabupaten Indragiri Hulu yang menjabat Manajer Operasional di PKS ketika dikomfirmasi melalui sambungan telepon selularnya, baru-baru ini.

Diceritakan Deny, dari hasil kesepakatan tokoh-tokoh masyarakat setempat, kalau pihak perusahaan berbuat salah dan menyebabkan kerugian bagi masyarakat, maka diharuskan untuk meminta maaf dengan cara mengganti kerugian seekor lembu. Menurut Deny, memenuhi denda itu, perusahaan membayarkan denda hukum adat senilai Rp. 50 juta dan membuatkan sumur sebanyak 5 s/d 6 buah ditiap-tiap dusun. “Desa Keritang Hulu berbatasan langsung dengan Kabupaten Inhu, saya merasa ini juga kampung halaman saya. Jadi mana mungkin saya mau menyengsarakan saudara saya sendiri. PKS hanya sebuah perusahaan kecil yang pastinya juga tetap berorientasi profit namun pertimbangan sosial tetap menjadi tolak ukur utama dalam setiap kebijakan,” Ujarnya memberikan penjelasan.

Kepala Dusun Tua Desa Keritang Hulu Kecamatan Kemuning, H.Zainudin membenarkan bahwa pihak perusahaan sudah memberikan bantuan pembuatan sumur bagi masyarakat dusunnya. Menurut Kadus, dari hasil kesepakatan masyarakat di dusunnya, dana untuk pembuatan sumur itu kini dipergunakan untuk mendirikan tambahan ruang kelas di Sekolah Dasar yang ada di didusunnya.”saat ini masyarakat sudah kebali mempergunakan air sungai untuk berbagai kebutuhan harian. Alhamdulillah sekarang tidak ada masalah lagi,” Ujar Kadus ketika sempat ditemui dikediamannya baru-baru ini. (fsl)




TETAP MELAUT ATAU BERHENTI MAKAN

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com) – Walau disetiap penghujung tahun gelombang laut terbilang cukup tinggi, kondisi ini belum menghalangi sebahagian besar nelayan di Kabupaten Indragiri Hilir untuk tetap turun melaut. Menurut mereka, aktifitas sebagai nelayan ini terpaksa harus mereka lakukan karena mereka tidak memiliki sumber penghasilan ekonomi lain untuk menghidupi keluarga.

“Mana bisa saya berhenti melaut pak. Saya tidak memiliki keahlian lain untuk menghidupi istri dan tiga anak saya yang masih kecil. Istirahat satu hari saja berarti kami sekeluarga juga harus rela untuk istirahat mengganjal perut,” Keluh Atan, seorang nelayan Desa Bekawan Kecamatan Mandah, Kamis (29/12/2011)

Apa yang disampaikan Atan juga diamini oleh Majid, seorang nelayan Desa Sungai Bela Kecamatan Kuindra. Beberapa buah perahu yang selama ini dipinjamkan dengan cara kongsi pada nelayan setempat, sampai hari ini juga masih turun melaut seperti biasa.”Masih pak, nelayan kita tetap melaut. Ya mau apalagi, kalau, istirahat artinya mereka tidak mendapatkan pemasukan. Tapi kalau memang kondisinya sudah tidak memungkinkan, mau tidak mau kita juga terpaksa harus istirahat. Alhamdulillah sampai hari ini kita masih bekerja walaupun hasilnya agak menurun.” Ungkap Majid, ketika dikomfirmasi melalui sambungan telepon selularnya. Kamis (29/12/2011)

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (KKP) Kabupaten Indragiri Hilir, Saripek ketika dikomfirmasikan melalui sambungan telepon selularnya mengakui kondisi mulai tingginya gelombang yang menyebabkan nelayan terganggu melaksanakan aktifitas. Namun dari hasil tinjauan KKP ke beberapa perkampungan Nelayan di daerah pesisir Inhil, sebahagian besar nelayan masih turun melaut sebagaimana biasanya.

“ya, memang setiap akhir tahun gelombang laut besar dan menyebabkan nelayan susah untuk mencari ikan. Namun secara resmi kita belum menerima keluhan nelayan. Dari hasil pantauan kita dibeberapa daerah pesisir Inhil, nelayan masih melaut seperti biasa.” Jelas Saripek.

Masih menurut Saripek, saat ini KKP sudah mengusulkan kepada kementrian kelautan RI untuk meminta bantuan tanggap darurat. Bantuan ini nantinya akan diperuntukan bagi nelayan selama dalam masa mereka istirahat melaut.” kita doakan saja mudah-mudahan kondisi alam tidak semakin memburuk dan nelayan kita masih tetap bisa mencari rezky,” Ujar saripek sambil mengatakan jumlah Nelayan di Kabupaten Indragiri Hilir berjumlah kurang lebih 8 ribu Kepala Keluarga. (fsl)




Pekarangan SD 11 Pekan Arba Terendam Air

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com) – Lurah Pekan Arba, Rio A.P,  meminta kepada Dinas terkait untuk dapat meninggikan pekarangan gedung SD 11. Sebab saat musim penghujan, dan pasang tinggi seperti sekarang ini, pekarangan terendam sehingga cukup menggangu aktivitas sekolah, terutama untuk kegiatan ekstrakurikuler.

“Saat hujan, bisa lihat sendiri pekarangan sekolah terendam selama berhari-hari. Untuk masuk kelokal saja, guru dan siswa terpaksa harus melepas sepatu. Kalau tidak sudah pasti sepatu akan basah,” kata Lurah Pekan Arba, Kamis, (28/12).

Masih menurutnya, kondisi lapangan yang terendam juga menghambat ketika akan melaksanakan upacara pada hari Senin. Bagaimana mana mau melaksanakan upacara kalau seluruh lapangan digenangi oleh air. Untuk itu, diharapkan bagimana lapangan ini bisa ditinggikan, sehingga walau pasang naik aktivitas masih bisa dilaksanakan dilapangan.

“Intinya kami semua disini meminta lapangan ini bisa ditinggikan. Karena bagaimanapun juga pendidikan sangat penting bagi peningkatan SDM. Semua itu tentu, harus didukung dengan infrastruktu yang memadai,” imbuhnya.

Masih menurutnya, lapangan tersebut sebenarnya sudah ditimbun dan ditinggikan. Tapi ternyata tidak cukup untuk mencegah terjadinya banjir. Seharusnya lapangan tersebut memang dilakukan semenisasi baru bisa baik. “Tapi kendalanya ada pada pendanaan, karena untuk semenisasi keseluruhan butuh dana yang besar,” pungkasnya (Suf)




Jalan Rusak, Warga Kayu Putih Harap Perhatian Pemerintah

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com) – Warga Jalan Batang Tuaka Gang, Kayu Putih, Kelurahan Tembilahan Kota, Kecamatan Tembilahan berharap agar pemerintah bersedia menganggarkan dana untuk melakukan perbaikan jalan mereka. Kondisi jalan yang saat ini dipenuhi lubang, berlumpur dan terendam saat banjir dikhawatirkan dapat membahayakan pengguna jalan.

“Akhir tahun seperti ini, setiap pasang naik, jalan ini terendam air. Bahkan sudah beberapa kali pengguna jalan terjatuh akibat terperosok ke dalam lubang yang hampir rata menutupi permukaan jalan ini.” Ungkap seorang warga, Diki ketika bertemu Www.detikriau.wordpress.com saat melihat secara langsung kondisi jalan ini. Rabu (28/12/2011)

Gang dengan lebar 1,5 meter dan panjang kurang lebih 140 meter ini merupakan kawasan perumahan yang cukup padat, kondisi jalan yang rusak parah seperti ini, tentunya harus segera untuk diperhatikan dan dilakukan perbaikan.”Posisinya yang masuk dalam kawasan Tembilahan Kota tentunya harus menjadi perhatian tersendiri apalagi kondisinya sudah sangat memprihatinkan, kasihan warga. Takutnya kalau lambat diperbaiki kondisi jalan akan semakin parah karena setiap hari air pasang naik dan memenuhi badan jalan”Ungkap Diki mengakhiri. (fsl)