Asisten II Tutup PIOS ke III di Inhil

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com) – Asisten II Sekdakab Inhil Ir H Syafrinal Hedy, secara resmi menutup Pekan Ilmiah Olahraga dan Seni (PIOS) ke III yang siikuti perguruan tinggi Islam di Provinsi Riau dan Kepri  di aula utama STAI Auliaurrasyidin Tembilahan, Jumat malam (24/11), setelah selama hampir sepekan kegiatan tersebut berlangsung. 

Dalam sambutannya mantan Kadishutbun tersebut mangatakan kegitan seperti ini diharapkan tidak menjadi ritual seremonial belaka. Tapi inti dari kegiatan ini dalam rangka menggali berbagai potensi yang dimiliki, yang nantinya bisa disumbangkan dalam rangka memajukan daerah.

“Inhil saat ini sedang giat-giatnya melakukan pembangunan di berbagai aspek, tidak terkecuali sektor pendidikan. Besar harapan kita, STAI mampu menyumbangkan berbagai inovasi pendidikan bagi Inhil. Sehingga kedepan sektor pendidikan di Inhil semakin maju sesuai dengan kebetuhan zaman,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut ia berharap, kegiatan PIOS hendaknya mampu mempererat jalinan silaturrahim masing perguruan tinggi Islam yang ada di Riau dan Kepri. Meski masing masing utusan sama sama ingin meraih prestasi terbaik, tapi bukan berarti harus menghalalkan segala cara dalam menggapai ambisi tersebut.

“Utamakan ukhuwah islamiah atas prestasi yang didapat. Terimakasih kepada panitia PIOS, kami ucapkan  selamat Ultah ke  II STAI, terus melakukan inovasi pendidikan dalam rangka kemajuan daerah,” harapnya.

Dalam penyelenggaran PIOS ke III di Tembilahan, kontingen tuan rumah berhasil menjadi juara umum. Setelah utusan mereka dalam berbagai iven yang dipertandingkan rata-rata mampu menjadi yang terbaik, mengalahkan berbagai peserta dari daerah lain. Terutama untuk cabang-cabang Ilmiah dan Seni. (Suf)




MASYARAKAT SAYANGKAN PENGGUNAAN KENDARAAN “PLAT MERAH” DILUAR PERUNTUKAN.

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com) – Dipenghujung pekan, sudah menjadi kebiasaan sebagian warga Tembilahan untuk berlibur bersama keluarga. Ini tentunya hal yang positif untuk kembali menyegarkan pikiran setelah lima hari penuh disibukkan dengan berbagai aktifitas kerja. Dengan kondisi kota Tembilahan yang sangat minim dengan tempat-tempat rekreasi, kebanyakan masyarakat Tembilahan memilih berlibur ke luar kota seperti ibu kota Provinsi, Pekanbaru. Dari ratusan kendaraan roda dua maupun roda empat yang mulai terlihat ramai menuju arah keluar kota sejak jum’at sore, tidak sedikit dari kendaraan yang melaju kencang itu terpasang tanda nomor kendaraan “berplat merah”. Yang menjadi pertanyaan, layakkah kendaraan yang khusus dipergunakan untuk penunjang kelancaran kerja ini dipergunakan diluar peruntukan?

Kenyataan seperti ini tentunya menjadi tandatanya dibenak masyarakat karena sepengetahuan mereka, kendaraan titipan rakyat ini seluruh pembiyaan untuk perawatan dan operasionalnya juga dibebankan melalui APBD, gunanya? Tidak lain agar sipenerima titipan fasilitas rakyat ini dapat lebih lancar melakukan berbagai aktifitas kerja yang pada akhirnya tentu untuk memberikan pelayanan yang terbaik pada masyarakat juga.

“Saya sendiri heran bang, apa memang dibenarkan kendaraan yang dibeli dari uang rakyat ini bisa seenaknya dipergunakan diluar jam kerja? Apalagi liburan jelas tidak ada kaitannya dengan tugas kedinasan,” Tanya Anwar (43), Jum’at (25/11/2011).

Menurut Anwar, sampai hari ini, karena memang tempat tinggalnya berada pada sisi jalan lintas provinsi, pemandangan mempesona ini sering mengganggu matanya.”Saya bukannya iri bang, sama sekali jauh dari rasa itu, hanya saja, mbok ya sadar dikitlah karena peruntukkan titipan kendaraan dinas itu sudah begitu jelas. Kalau nggak takut sanksi urusan di dunia, paling tidak malulah ketika nanti harus mempertanggungjawabkan barang amanah ini dihadapan Tuhan,” Sindirnya sambil mengingatkan.

Bukan hanya Anwar, rupanya kondisi nyeleneh ini juga banyak mengganggu benak masyarakat kota Tembilahan lainnya seperti Rian (17). Laki-laki berperawakan kurus dengan kulit putih bersih ini malah sambil tertawa kecil bertutur kalau ada masyarakat Inhil yang tidak mengetahui hal ini, itu baru namanya aneh.” Biasa bang, mungkin ya daripada ngerogoh kantong sendiri, ya aji mumpung, selagi ada kesempatan, kenapa nggak mau.” Ujarnya sambil tertawa renyai ketika ditanya terkait hal ini.

Dari pantauan, tidak hanya dihari libur, penggunaan kendaraan dinas yang diluar peruntukan juga menjadi pemandangan biasa setiap hari lainnya. Mulai dari mengantar pulang pergi anak sekolah, belanja keperluan pasar, jalan-jalan sore dan berbagai tetek bengek keperluan pribadi lainnya. Mirisnya, siapa yang bisa menertibkan penyalahgunaan seperti ini karena siapapun tau yang diberikan fasilitas kendaraan roda empat tentunya bukan PNS biasa. (fsl)




SIKAT LAPTOP PNS, OKNUM KULI TINTA DI BUI

TEMBILAHAN (VOKAL) – Gara-gara kedapatan mencuri 1 unit Notebook merek Asus  type E.ee PC warna hitam, milik Maryanto (41) salah satu pegawai Kantor BKD Kabupaten Inhil, Jalan SKB Tembilahan. Akhirnya, AN (29) diringkus oleh petugas Polsek Kota Tembilahan Rabu (23/11)

 

Dalam keterangannya Kapolres Indragiri Hilir AKBP Dedi Rahman Dayan SIK. M.si melalui Kapolsek Kota Iptu R.Tarigan, Jum’at (25/11) mengatakan kronologi penangkapan terhadap tersangka, berawal adanya laporan dari korban yang kehilangan Notebooknya didalam ruang kerjanya.

 

“menurut keterangan korban, setiap diadakan apel pagi dikantornya, seluruh fasilitas kerja yang dibawanya termasuk laptop diletakkan diatas meja ruangan kerjanya.

Namun alangkah terkejutnya korban setelah Ia selesai apel dan masuk kedalam ruangannya, tiba-tiba Notebook itu sudah raib,  cerita korban saat melapor ke Polsek Kota” kata Iptu R.Tarigan.

 

Bahkan sebelum korban melapor ke Polsek Kota, korban juga mengaku bersama teman-temannya sudah berusaha untuk mencari keberadaan Notebook itu, tapi tidak juga menemukan hasil, barulah kemudian Ia mengadukan permasalahan tersebut ke Kantor Polisi Polsek Kota Tembilahan.

 

“Sekitar Pukul 8.30 WIB, Korban datang melapor ke Polsek Kota untuk mengadukan kejadian yang dia alami.  Atas laporan dari masyarakat tersebut kemudian kita langsung meluncur ke TKP untuk mencari keterangan-keterangan dari saksi lainnya” tegas Iptu R.Tarigan Kapolsek Kota.

Berawal dari keterangan korban dan para saksi lainnya, bahwa sebelum kegiatan apel pagi, diketahui, tersangka yang mengaku wartawan salah satu situs online pekanbaru mendatangi kantor BKD untuk maksud melakukan komfirmasi. Namun karena memang saat itu akan dilaksanakan apel pagi, oleh pegawai BKD, tersangka dipersilahkan untuk menunggu.

 

“Begitu tersangka behasil kita amankan sekira pukul 13.00 WIB, saat Ia berada di salah satu Warnet. Awalnya tersangka sempat berbelit kalau Dia bukan pelakunya, Namun berkat kejelian Anggota pada akhirnya tersangka baru mengaku kalau Dia pelakunya” tambah Iptu R. Tarigan lagi.

 

Kemudian setelah dilakukan penyidikan dan pengembangan oleh petugas, ternyata tersangka mengakui bahwa dirinya yang melakukan penncurian laptop tersebut.

Diduga tersangka juga ada kaitannya dengan hilangnya beberapa peralatan elektronik diperkantoran belakangan hari ini. “Saat ini tersangka beserta barang bukti berupa Notebook, sudah diamankan di Polres Indragiri Hilir untuk penyidikan dan pengembangan lebih lanjut” pungkasnya. (fsl)




MERASA DITIPU, CALON PELANGGAN PLN LAPOR POLISI

Terkait Permohonan Pelanggan Baru PLN Ranting Tembilahan

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com) – Seorang warga Tembilahan, berinisial (T), merasa telah tertipu. Harapan untuk mendapatkan pasokan listrik setelah menunggu sekian lama akhirnya harus berakhir dengan rasa kecewa. Bagaimana tidak, pendaftaran sebagai pelanggan baru di PLN Ranting Tembilahan atas namanya, setelah disetujui, nyatanya malah dialihkan pada pihak lain. Merasa telah diberlakukan tidak adil, perbuatan ini langsung dilaporkannya secara resmi di Mapolres Inhil. Rabu (23/11/2011).

 

“Ya bang, saya sudah membuatkan laporan terhadap dugaan penipuan yang terjadi pada saya. Waktu itu saya diterima di salah satu unit bagian reserse polres inhil,” Ujar T sambil berjanji nanti akan memberikan salinan laporan polisinya kepada Vokal, Kamis (24/11/2011)

 

Menurut kisah T, dirinya melakukan pendaftaran sebagai pelangan baru pada PLN Ranting Tembilahan sekira bulan maret 2011 lalu. Dan tidak berselang lama datang petugas dari PLN yang katanya akan melakukan survey kerumah calon pelanggan.” Begitu selesai di survey mereka katakan diterima atau tidaknya permohonan saya untuk menjadi pelanggan baru tergantung dari keputusan PLN dan sayapun menunggu.” Jelas T

 

Masih menurut keterangan “T”, setelah menunggu sekian lama, sabtu (19/11/2011) dirinya mendapatkan kabar dari petugas PLN Ranting Tembilahan yang melakukan survey dirumah kediamannya beberapa waktu lalu bahwa permohonan dirinya untuk menjadi pelanggan PLN sudah diterima dan bahkan meterannya sudah keluar sejak beberapa bulan yang lalu.” Karena merasa dicurangi, senin (21/11/2011) sayapun mendatangi Kantor PLN Ranting Tembilahan di jalan Gunung Daek dan ternyata benar”. Papar T dengan nada suara kesal.

 

Anehnya, masih kata T juga, ketika dipertanyakannya kepada salah seorang petugas PLN (sambil mengatakan seingat dirinya petugas tersebut bernama AAN), bahwa dirinya tidak mengetahui. Di dalam file computer, saya ketahui meteran atas nama saya itu kini terpasang di wilayah dengan kode “AL”. “Dari informasi yang saya terima, kode AL itu untuk wilayah seputaran jalan Subrantas,” paparnya menceritakan pengalamannya saat memintakan penjelasan di kantor PLN ranting Tembilahan.

 

Bahkan “T” sempat merasa aneh, menurut penjelasan salah seorang rekanan PLN yang diterimanya, meteran atas nama saya, kini masih ada di gudang.” Kok lucu ya, kalau memang ada di gudang kenapa tidak segera diberikan kepada saya. Karena merasa tertipu seperti inilah saya akhirnya melaporkan kepada petugas kepolisian,” Ujarya mengakhiri.

 

Terkait laporan ini, ketika coba dikomfirmasikan kepada Kapolres Inhil, AKBP Dedi Rahman Dayan melalui Paur Humas, Azhari mengaku belum mengetahui secara pasti dan dirinya berpesan agar Vokal esok hari kembali menemuinya di kantor.

“Maaf, kebetulan sekarang saya sudah berada di rumah dan mengenai ini saya memang belum mengetahui. Besok bisa pak faisal bawa pelapornya untuk kita cek kebenarannya agar bisa untuk segera kita tindaklanjuti,” Jawab Paur Humas Polres Inhil, Azhari. Kamis (24/11/2011).

 

Pengurus Asosiasi Kelistrikan Indonesia (AKLINDO) kantor cabang Tembilahan, Alvianto ketika dikomfirmasi Vokal berharap agar kasus ini dapat segera ditindaklanjuti dan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.”Saya menduga permasalahan seperti ini bukan hanya 1 kasus ini saja. Saya sudah dengar beberapa keluhan semacam ini. Tentunya kita berharap laporan ini untuk segera ditindaklanjuti petugas kepolisian sesuai ketentuan hukum yang berlaku agar kelak tidak ada lagi upaya oknum-oknum tertentu yang melakukan permainan tidak benar dan yang pasti merugikan masyarakat.” Jawab Alvinato, Kamis (24/11/2011). (fsl)




WULAN SEBUT KEPSEK KASIH LESTARI BOHONG.

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com) – Terkait tudingan kepala sekolah dasar (SD) Kasih Lestari Tembilahan, Gautama Putra, M.Pd yang menyatakan alasan tidak dipakainya lagi Nur Wulansari sebagai tenaga pengajar honor dengan alasan ketidakmaampuan memenuhi prestasi, kembali di bantah Wulan. Menurutnya, Kepsek SD Kasih Lestari telah berbohong.

 

“Mana pernah saya mengucapkan janji untuk menyanggupi memastikan akan menyelesaikan sarjana dalam waktu tiga bulan. Yang saya ucapkan waktu itu bahwa saya sedang menyelesaikan sarjana dan mengakui terhambat karena masalah minimnya biaya. Apalagi kalau dibilang saya tidak berprestasi dengan tidak membuat perangkat kerja dan silabus, ini sama sekali bohong,” Kata Wulan ketika kembali dipertanyakan terkait hasil komfirmasi dari kepala sekolah SD Kasih Lestari sebelumnya di Tembilahan, Kamis (24/11/2011)

 

Menurut penjelasan Wulan, terkait silabus mata pelajaran agama, semuanya sudah dirinya buat secara lengkap dan bahkan dijadikan contoh oleh rekan-rekan pengajar lainnya. “Kalau memang itu untuk silabus mata pelajaran SBR, ini memang benar, tapi inikan mata pelajaran muatan lokal. Memang belum ada keharusan. Baru sebulan kemaren ada pengiriman tenaga pengajar untuk pelatihan mata pelajaran SBR dalam penyusunan perangkat kerja dan silabus,” Jawab Nur Wulansari dengan nada kalimat kesal.(fsl)




YAYASAN “Pradjnamitra Maitreya Cabang Tembilahan”, DITENGGARAI KEBIRI HAK GURU

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com) – Tenaga Pengajar, Nur Wulansari merasa tindakan penonaktifan dirinya secara sepihak tanpa adanya penjelasan dari Sekolah Dasar Kasih Lestari yang dimiliki oleh Yayasan Pradjnamitra Maitreya Cabang Tembilahan, tempatnya selama ini memberikan mata pelajaran Agama Islam dan mata pelajaran Seni Budaya Riau (SBR), sebagai bentuk sebuah tindakan pengebirian atas hak-haknya. Lebih mirisnya, Wulan juga mengaku, Kepala Sekolah, Gautama Putra M.Pd sempat melontarkan perkataan tidak pantas dan cenderung menghina dirinya.

 

“sampai hari ini saya tidak pernah diberikan alasan yang jelas mengenai penyebab pemberhentian diri saya. Dalam sebuah pertemuan di sekolah dengan pak Gautama, dirinya hanya menyampaikan bahwa satu-satunya alasan adalah “dia tidak pantas untuk menjadi pimpinan saya”. Katanya dia sanggup membimbing semua guru yang lain terkecuali saya dan dirinya sempat melontarkan kalau saya tidak “punya otak” serta menyarankan saya untuk mengundurkan diri atau dirinya yang mundur dari yayasan,” Papar Wulan di Tembilahan, baru-baru ini.

 

Menurut Wulan, kalimat menyarankan itu sama saja dengan pemaksaan untuk mengundurkan diri karena masih diiringi dengan tantangan “saya yang mundur dari yayasan atau dirinya” bahkan dengan tegas pak Gautama bilang permasalahan Wulan sudah dibicarakan dirinya bersama yayasan dan diputuskan yayasan tidak lagi memakai wulan sebagai tanaga pengajar.” Apa ini tidak mencerminkan tindakan pengebirian hak-hak saya?. Bukankah pemberhentian seorang pekerja harus didasari dengan alasan yang jelas dan semestinya harus didahului dengan beberapakali surat peringatan?.” Tanya Wulan.

 

Menurut penjelasan Wulan, selama ini, pengabdian yang diberikannya sejak juni 2010 dengan surat pengangkatan bernomor; 046/SK-YPM/TBH/VII/2010, di sekolah dasar swasta dibawah naungan yayasan warga “mata sipit” ini sama sekali tanpa adanya ikatan kontrak kerja, termasuk seluruh tenaga pengajar lainnya.

 

Terkait permasalahan ini, Kepala Sekolah Dasar (SD) Kasih Lestari, Gautama Putra, M.Pd ketika dikomfirmasi, Rabu (23/11/2011) memberikan penjelasan bahwa yayasan tidak pernah memecat Wulan selain tidak lagi memakai Nur Wulansari sebagai tenaga pengajar disebabkan persyaratan prestasi yang tidak terpenuhi.

 

Kata Gautama, Yayasan menetapkan tenaga pengajar kita minimal berpendidikan S1. Dulu awal masuk menjadi tenaga pengajar disini, Wulan mengucapkan bahwa sarjananya akan selesai paling lama 3 bulan kedepan tapi sudah setahun lamanya bukti ucapannya itu tidak juga mampu dipenuhinya. “termasuk dari sisi prestasi, kita nilai Wulan juga tidak bagus. Dalam memberikan pengajaran, kita sudah meminta Wulan untuk membuatkan silabus dan itupun juga tidak pernah dibuatnya. Jadi ya sudah menjadi putusan kalau yayasan tidak lagi memakai Wulan sebagai tenaga pengajar.” Ucap Gautama Putra.

 

Ketika dipertanyakan apakah benar selama ini sekolah tidak pernah memberikan semacam kontrak ikatan kerja pada tenaga pengajarnya, Gautama membenarkan. “Ya ” jawabnya.

 

Menurut keterangan sumber yang cukup dipercaya juga mengakui ketidak adanya semacam ikatan kerja secara tertulis.” Tidak ada bang, kita tidak ada ikatan kontrak kerja secara tertulis, semua hubungan kerja selama ini hanya dilakukan secara lisan dan satu-satunya pegangan kita hanya SK pengangkatan”.

 

Bahkan menurut keterangannya, Ucapan Kepala Sekolah Dasar kasih lestari yang menyatakan Yayasan melakukan persyaratan minimal bagi tenaga pengajar berpendidikan S1 dinilai sebagai alasan yang dibuat-buat dan terlalu mengada-ada. Menurut penjelasannya juga, tidak semua tenaga pengajar sekolah dasar swasta kasih lestari berpendidikan S1.

 

“Menurut pengetahuan saya itu tidak benar bang. Selama ini saya belum pernah mendengar keharusan seperti itu. Kalaulah benar, kenapa hanya Wulan saja yang dimintakan persyaratan seperti itu?. Setahu saya, pendidikan tenaga pengajar, 6 orang berpendidikan S1, 2 orang pengajar berpendidikan D3, 1 orang D2 dan 2 orang tenaga pengajar lainnya hanya tamatan SMEA,” Ucap seorang sumber dan meminta agar namanya jangan dikorankan.(fsl)