Ketua PBNU Said Aqil tuding Ustadz Ba’asyir ngebom gereja. Mana buktinya?

JAKARTA (www.detikriau.wordpress.com) – Setelah menuduh Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dan Ustadz Abdullah Sungkar sebagai pengebom gereja, KH Said Aqil Siradj dituntut untuk membuktikan tudingannya. Gereja apa saja yang dibom itu?
Luar biasa semangat Ketua Umum PBNU Prof Dr KH Said Aqil Siradj MA dalam menyerang siapa saja yang dianggap berseberangan dengan pemikirannya.
Setelah membabi buta menyerang 12 ormas Islam secara salah, Said Aqil juga mengarahkan bidikannya kepada tokoh Islam yang sudah wafat dan terpenjara. Dua tokoh yang dicaci-maki Said Aqil itu Abdulah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir. Tuduhan pun jauh lebih dahsyat: pengebom gereja untuk mendirikan Negara Islam.
“Abu Bakar Ba’asyir dan Abdullah Sungkar juga mendirikan NII, lalu dikejar-kejar oleh tentara waktu zaman Orde Baru lari ke Malaysia bikin pesantren di Johor. Kalau Abdullah Sungkar pokoknya gereja harus dibom, tapi kalau Abu Bakar Ba’asyir agak mending dikit, gereja yang legal jangan, gereja yang tidak legal itu yang harus dibom,” ujar Said Aqil berapi-api dalam workshop “Deradikalisasi Agama Berbasis Kyai/Nyai dan Pesantren” yang digelar Muslimat NU di Park Hotel Jakarta, Sabtu (3/12/2011). Tak sendirian, dalam acara tersebut Said Aqil tampil bersama Ketua Umum Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyad Mbai.
Untuk memuluskan aksi terorisme, jelas Said Aqil, Ustadz Abdullah Sungkar dan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir membuka pesantren di Malaysia untuk mengkader generasi teror yang disiapkan untuk beraksi di Indonesia. “Bikin pesantren di Johor merekrut semua santri-santri yang dari Indonesia dan didoktrin menjadi pelaku-pelaku teror atau minimal atau kelompok-kelompok radikal,” jelas Said Aqil di hadapan puluhan kiyai dan nyai Nahdliyin. “Begitu reformasi, di sini terbuka, tentara sudah tidak berfungsi, mereka kembali ke Indonesia, kebebasan ini dimanfaatkan oleh mereka semaksimal mungkin, jadi kebebasan ini dimanfaatkan oleh gerakan-gerakan radikal,” imbuh kiyai pernah menjabat sebagai Penasihat organisasi Salibis PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia) dan Anggota Kehormatan Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) itu.
Mendengar namanya dituding sebagai aktor di balik pemboman gereja, Ustadz Abu, sapaan akrab Abu Bakar Ba’asyir merasa aneh dengan tuduhan tersebut. Ulama sepuh yang sedang menjalani vonis zalim 9 tahun ini balik menantang Said Aqil untuk membuktikan tuduhannya. Ustadz Abu menuntut Ketua Umum PBNU itu agar bisa membuktikan data-data yang valid, kapan dan di mana dirinya melakukan pengeboman maupun menyuruh orang lain untuk mengebom gereja? Lalu gereja apa saja yang dibom oleh Ba’asyir atau orang yang diperintahkan Ba’asyir?
“Kalau saya yang memerintahkan buktinya apa? Saya tidak mengerti soal bom. Bahkan seperti bom gereja di Solo itu saya bantah, itu tidak betul ngebom gereja kecuali ada bukti gereja itu memang tempat berunding untuk menyerang umat Islam, meskipun niatnya mati syahid. Tapi meski saya tidak setuju, saya tetap doakan mudah-mudahan diterima dan diampuni dosanya,” jelas Ustadz Abu kepada voa-islam.com di sel Bareskrim Mabes Polri Selasa siang (6/12/2011).
Ustadz Abu menegaskan bahwa tudingan Said Aqil bahwa dirinya mendoktrin pelaku teror untuk ngebom gereja itu tidak benar. Selama ini, jelas Ustadz Abu, dirinya tidak mengajarkan jihad berdasarkan hawa nafsu dan pemikirannya sendiri, melainkan jihad yang sesuai dengan nas-nas Al-Qur’an dan hadits, sesuai perintah Allah dan Rasul-Nya.
“Semua tuduhan itu tidak betul, saya sama sekali tidak berbicara masalah bom seperti itu. Tapi saya memang menerangkan masalah jihad, itu pun bukan pikiran saya tapi saya menerangkan perintah Allah dan Rasul,” tegas Amir Jama’ah Anshorut Tauhid (JAT) itu.
Menurut Ba’asyir, tuduhan terhadap dirinya sebagai aktor pengeboman gereja di Indonesia sangat tidak beralasan. Hanya menunjukkan bahwa orang yang menuduh itu miskin informasi. Karena pernyatakaan sikap Ba’asyir baik secara pribadi maupun institusi JAT, tegas menyatakan secara terbuka kepada media bahwa ia justru tidak setuju dengan aksi pengeboman yang pernah terjadi di depan Gereja Bethel Solo, Jawa Tengah pada Minggu (25/9/2011).
“Seperti bom gereja di Solo saya sudah mengeluarkan pernyataan itu tidak betul. Meskipun itu rumah ibadahnya orang kafir, tidak boleh diganggu kecuali ada bukti bahwa gereja itu jadi markas berunding untuk menyerang orang Islam, apalagi masjid. Jadi tuduhan itu sama sekali tidak pernah ada!” tandas pendiri Pesantren Al-Mukmin Ngruki itu. (voa/arrahmah.com)




TRANPORTASI BATUBARA PT .RBH GUNAKAN JALUR BARU

Pihak Terkait diminta S egera Lakukan Pengawasan
TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com) –PT. Riau Bara Harum (PT. RBH) tampaknya tidak henti-hentinya membuat masalah. Setelah ruas jalan KM 5 Desa Bagan Jaya luluh lantak akibat tranportasi batubara oleh ratusan truk berbobot puluhan ton ini, kini mereka mulai berputar arah dengan mempergunakan ruas jalan baru. Dikhawatirkan kalau tidak ada sikap yang tegas, infrastruktur jalan yang menjadi penghubung satu-satunya Kabupaten Inhil dengan Kabupaten Inhu ini tidak akan lama lagi juga akan bernasib sama, hancur, berlobang dan berdebu.
Menurut informasi yang diterima dari Amain yang mengaku warga Rumbai Jaya ini, kompoi kendaraan truk angkutan batu bara milik PT RBH yang melewati ruas jalan provinsi dari Inhil menuju Inhu ini sudah beberapa waktu belakangan ini mulai ramai terlihat, bahkan kondisi ini sempat dipergunakan sebagian kelompok pemuda untuk mencari penghasilan tambahan dengan meminta uang tips.” Sudah beberapa minggu belakangan ini sudah menjadi pemandang biasa kalau melihat ratusan truk milik PT RBH melintasi alur baru ini bang. malah kalau abang mau, tolonglah sekali-kali lihat kondisi kampung kami dan sekalian di foto agar tidak ada yang menyebutkan saya berikan informasi kosong,” Ujarnya ketika bertemu Vokal disebuah warung kopi di Kota Tembilahan, baru-baru ini.
Apa yang dikatakan Amain juga dibenarkan oleh seorang teman sebangkunya, Iwan. Menurut iwan, kondisi seperti ini harus disikapi dengan segera agar ruas jalan satu-satunya dari Kabupaten Inhil menju Kabupaten tetangga Inhu ini tidak mengalami nasib yang sama dengan jalur sebelumnya.
“Tolonglah kalau bisa pemkab inhil, dewan atau siapapun itu untuk segera menyikapi hal ini. Kalau terlambat, kita khawatir ruas jalan ini juga akan mengalami kerusakan. Kalau ini sampai terjadi tentunya akan mengganggu kelancaran arus tranportasi masyarakat yang ingin menuju keluar Kabupaten Inhil,” Ujar Iwan. (fsl)




ABDULLAH PERTANYAKAN KEADILAN PUTUSAN PA TEMBILAHAN

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com) –– Putusan bernomor 332/pdt.G/2010/PA.TBH tertanggal 22/11/2011 yang dikeluarkan pengadilan agama Tembilahan membuat Abdullah tersentak. Amar putusan majelis hakim yang diketua oleh Drs. Asfawi MH dinilainya semata hanya didasari hukum umum dengan putusan membagi dua harta gono-gini yang diperoleh dari usaha dalam pernikahannya dengan Chadijah. Abdullah menilai putusan majelis hakim ini sama sekali tidak mempertimbangkan syariah islam.

“hukum syari’ah, seorang istri yang dikategorikan Nusyuz (durhaka) tidak berhak lagi atas nafkah, pakaian dan pembagian waktu. Ketiga perkara tersebut tidak wajib dan si istri tidak berhak untuk menuntut.” Ujar Pria kelahiran Aceh ini.

Menurut Abdullah, istrinya bahkan lebih dari berlaku “nusyuz” karena nyata telah berbuat jinah.” Saya syah bercerai pada 19 april 2011. Dan belum putus gugatan cerai ini, istri saya sudah melahirkan kembali padahal saya sudah lama tidak berkumpul. Apa anak yang dilahirkan ini tidak buah dari jinah? dan sebelumnya perbuatan tidak senonoh dirinya juga pernah tertangkap tangan oleh anaknya sendiri.” Cerita Abdullah

“Saat tertangkap tangan berbuat tidak senonoh itu, anak-anak saya sempat melakukan pemukulan pada suami yang katanya sudah nikah secara syiri dan diproses dikantor polisi walau akhirnya diselesaikan secara kekeluargaan”.

“sebelum putusan PA ini, saya sudah pernah membuat kesepakatan untuk membagi dua harta ini dihadapan beberapa orang saksi secara tertulis dan chadijahpun setuju. Anehnya, saat saya akan menjual separoh harta milik saya, dengan berbagai dalih, chadijah tidak bersedia untuk menandatangani. Lantas untuk apalagi putusan PA ini kalaupun nantinya kejadiannya sama. Semua pertimbangan ini telah saya sampaikan pada majelis hakim. Tapi kenapa terkesan diabaikan?” Tanya Abdullah.

Dengan alasan itikad tidak baik dari chadijah untuk mengalihkan harta bersama ini. Abdullah menilai seharusnya PA menghukum chadijah untuk menyerahkan seluruh harta itu pada dirinya karena chadijah memang sama sekali tidak berhak lantaran telah durhaka dan berbuat jinah. Apalagi tiga anak-anak buah perkawinan mereka memilih hidup bersama dirinya.

Dari informasi yang diterima dari sumber yang dipercaya, putusan membagi dua harta bersama ini nyatanya juga ditolak sang istri dan menuntut seluruh harta juga harus jadi miliknya.(fsl)




ISTRIKU LEMPAR AIB DIWAJAHKU

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com) — Tubuh renta laki-laki paruh baya ini terlihat kuyu. Semburai rambut berwarna perak hampir rata memenuhi kepala. Dirinya lebih banyak menunduk, bertutur kata terpatah-patah dan sekali-kali terbatuk-batuk kecil. Walau berusaha ditegar-tegarkan, tidak terelak, setitik air mengalir disudut mata yang sudah mulai terlihat kuyu.

Sosok laki-laki yang terlihat lembut ini tidak pernah meyangka perjuangan keras seumur hidupnya untuk menafkahi keluarga di negri jiran dibalas sang kekasih hati dengan aib. Yang lebih memiriskan, si”laknat” perebut kekasih hati justru seorang bujang perantau yang selama ini sudah ditimang-timang dan dianggap anak sendiri.

“saya melangsungkan pernikahan secara sah dengan istri saya, Chadijah (38) pada tahun 1993 di Kuala Lumpur, Malaysia. Kemudian pulang ke Tanah air lalu menetap di Tembilahan dan dikaruniai empat orang anak yakni Aryunanda Zulhermi Syahputra (18), M. Yusri Rizki Riandi (17), Dinda Rania (11) dan Aidil Akabar (5)” Ungkap Abdullah (52) memulai kisah ketika ditemui di kediamannya, Jum’at (2/11/2011)

Menurut pengakuan Abdullah, karena tuntutan ekonomi, tahun 2000 dirinyapun kembali ke Malaysia untuk bekerja ”sejak saya kembali bekerja di Malaysia, nafkah anak dan istri saya secara rutin setiap minggunya saya kirimkan, dan setiap tahun mereka selalu berangkat ke Malaysia dan kami kembali berkumpul,”Ceritanya dengan mata terlihat berkaca-kaca dan sekali-kali tertunduk menahan getaran hati.

Kata Abdullah lagi, kunjungan anak dan istrinya itu setiap tahun terus berlanjut dan akhirnya berhenti sejak tahun 2006 yang lalu. Walau sudah berkali-kali diminta, istrinya tidak pernah lagi bersedia memenuhi. “Namun walaupun istri tidak lagi pernah bersedia menjenguk saya diperantauan, sebagai seorang suami, saya tetap rutin mengirimkan uang untuk menafkahi mereka.” Jelasnya

April 2009, Abdullah mendapat telpon dari anak-anaknya dan meminta agar dirinya segera pulang ke Tembilahan dan permintaan itupun dipenuhinya. Setibanya di Tembilahan pada bulan mei ditahun yang sama. Ia mendapati chadijah sudah meninggalkan rumah dan pergi dengan pria lain yang tidak lain adalah seorang pria perantauan dari hulu. “bujangan kelahiran tahun 80-an itu selama ini saya yang menafkahi hidup dan termasuk membiayai pendidikannya. Saya sama sekali tidak pernah menduga dirinya sanggup mencampakkan aib dimuka saya,”Ujarnya tertunduk lemas. (fsl)




The great story about Syaikh Usamah bin Ladin: Hari-hari bersama sang Imam (2)

www.detikriau.wordpress.com — Syaikh Dr. Aiman azh-Zhawahiri hafizhahullah, pemimpin umum tanzhim Al-Qaeda, kembali menceritakan pengalaman berharga yang penuh hikmah selama mendampingi syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah. Banyak sisi kemanusiaan syaikh Usamah yang diangkatnya.

Di antaranya, bagaimana syaikh Usamah mendidik anak-anak beliau sebelum dan selama kecamuk invasi salibis internasional bulan Oktober 2001 sampai saat beliau syahid di Pakistan? Bagaimana kelembutan hati dan kasih sayang syaikh Usamah kepada sesama muslim? Inilah lanjutan terjemahan video syaikh Dr. Aiman azh-Zhawahiri berjudul ‘Ayyamun ma’a al-Imam’ yang dirilis oleh Yayasan Media as-Sahab pada tanggal 20 Dzulhijah 1432 H/16 November 2011 M.

***

Kejadian yang juga saya ingat pada kesempatan ini, yang saya ketahui dan mungkin tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Semua orang melihat ketika sang singa Islam, Syaikh Usamah bin Ladin, meraung dengan meneriakkan: Amerika sekali-kali tidak akan bermimpi aman, beliau mengancam Amerika dan mengancam Bush, mungkin orang tidak tahu bahwa beliau adalah orang yang sangat kasih sayang, santun, dan lembut. Beliau memiliki perasaan yang sangat lembut dan sangat pemalu yang belum pernah kami lihat orang seperti itu sebelumnya. Akhak mulianya diakui oleh kawan dan lawan. Tidak ada seorang pun yang pernah duduk bersama Syaikh Usamah bin Ladin kecuali pasti memuji akhlaknya, kebaikannya, rasa malu yang besar, dan sangat lapang dada.

Syaikh Ayman Az Zhawahiri hafizhahullah bersama Syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah

Misalnya, saya ingat Syaikh Usamah bin Ladin — semoga Allah merahmati beliau — ada sebuah peristiwa bersamaku yang menunjukkan betapa sangat lembut perasaan beliau. Ketika itu sampai kepada kami berita syahidnya keluargaku — semoga Allah merahmati mereka semua dan juga ikhwan-ikhwan yang syahid bersama mereka —, orang yang membawa berita tersebut — ketika itu kami tengah berada di Tora Bora — Syaikh Usamah meminta kepada ikhwah yang membawa berita tersebut agar tidak berbicara denganku. Lalu kami melaksanakan shalat Subuh dan Syaikh Usamah mempersilahkan saya untuk mengimami para ikhwah shalat Subuh. Selesai shalat Subuh kami duduk untuk membaca dzikir habis shalat, saya lihat para ikhwah keluar satu persatu, sehingga tinggal saya sendirian yang ada di situ.

Kemudian ikhwah yang membawa berita itu masuk, mengucapkan salam kepadaku dan menyampaikan ta’ziyahnya kepadaku. Ia juga mengingatkanku supaya bersabar dan ikhlas. Ikhwah tersebut menyampaikan kepadaku bahwa istriku, anak laki-lakiku, dan anak perempuanku terbunuh. Ia menyampaikan kepadaku bahwa tiga saudaraku terbunuh, sebagian anak-anak laki-laki dan perempuan mereka juga terbunuh. Saya pun mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Saya ikhlas dan memohon kepada Allah SWT agar membantuku.

Pada saat itulah Syaikh Usamah —semoga Allah merahmati beliau— masuk dan memelukku, dengan berlinangan air mata dan menangis tersedu-sedu. Beliau menyampaikan ta’ziyahnya lalu para ikhwah masuk satu persatu menyampaikan ta’ziyahnya kepada saya, menyabarkan saya dan meneguhkan saya.

Hari itu jadwalnya kami setelah shalat Subuh bergerak ke tempat lain. Saat itu jumlah kelompok kami kira-kira 30an orang lebih. Syaikh Usamah meminta sebagian besar ikhwah untuk bergerak, dan beliau mengatakan kepada saya: “Saya, antum dan beberapa ikhwah tinggal di sini.” Saya pun menjawab: “Tidak usah wahai Syaikh, kita bergerak saja, insya Allah pergerakan itu akan melupakan orang dari kesedihannya.” Beliau menyahut lagi: “Tidak .. tidak … tidak, tidak usah.” Syaikh Usamah pun tetap dalam pendiriannya dan kami pun tinggal di tempat tersebut satu hari —semoga Allah membalas beliau dengan kebaikan—. Beliau menunggu urat-urat saya rilek dan perasaan saya tenang, setelah itu kami baru bergerak. Setelah itu hilanglah goncangan pertama saya al-hamdulillah, kami memohon kepada Allah agar memberikan kepada kita semua ganti dari orang-orang kita yang telah syahid, dan juga kaum muslimin yang meninggal dunia.

Setelah itu, ketika saya bercerita tetang anakku yang bernama Muhammad di hadapan Syaikh Usamah, saya menceritakannya ketika goncangan jiwa dan perasaan itu telah hilang. Saya melihat-lihat kedua mata Syaikh Usamah mencucurkan air mata. Padahal, mataku tidak meneteskan air mata karena semua sudah berlalu. Setiap kali saya menceritakan anakku, Muhammad, saya melihat kedua mata Syaikh Usamah mengucurkan air mata —semoga Allah merahmati beliau—.

Kisah lain, di antara sikap beliau yang indah yang saya ingat beliau adalah orang yang pertama kali menyampaikan ta’ziyahnya kepadaku atas meninggalnya ibuku — semoga Allah merahmati ibuku dan juga seluruh kaum muslimin baik yang sudah meninggal ataupun yang masih hidup —. Beliau menyampaikan ta’ziyahnya yang indah kepadaku dan beliau mengirim sebuah surat yang indah kepadaku yang berisi ucapan ta’ziyah. Saya berterima kasih kepada beliau dan saya katakan: “Wahai Syaikh, engkau lebih dahulu tahu tentang wafatnya ibuku sebelum aku tahu, semoga Allah membalasmu dengan balasan yang paling baik.”

Selain itu, di antara hal yang diketahui oleh semua orang yang dekat dengan Syaikh Usamah adalah bahwa beliau itu berhati lembut dan mudah meneteskan airmata. Mata beliau selalu meneteskan air mata apabila beliau berkhotbah atau berbicara atau berdoa. Syaikh Usamah bin Ladin dikenal sebagai orang yang sangat mudah meneteskan air mata. Sampai-sampai suatu saat beliau pernah meminta pendapat kepadaku. Beliau mengatakan kepadaku: “Beberapa ikhwah mengatakan kepadaku bahwa engkau (syaikh Usamah, edt) terkadang sebelum berbicara pun meneteskan air mata, bisakah kiranya antum tahan sedikit?” Beliau kemudian bertanya kepadaku: “Apa pendapatmu?” Saya menjawab: “Wahai Syaikh ini adalah kasih sayang yang Allah ciptakan dalam hatimu, maka jangan bersedih karenanya. Ini adalah karunia Allah SWT yang dianugerahkan kepadamu.”

Hal yang lain lagi, sisi-sisi yang saya lihat dari Syaikh Usamah  bin Ladin — semoga Allah merahmati beliau —, pernah suatu saat ketika kami berada di kamp ‘Ainuk dekat Kabul — tepatnya selatan Kabul — waktu itu Syaikh Usamah ada di sana bersama saya, datang beberapa ikhwah dan duduk-duduk bersama kami. Pada kesempatan itu Syaikh Usamah berbicara mengenai Palestina, terjadi demonstrasi di Gaza … seingat saya pada waktu itu beliau mengatakan: “Wahai ikhwan-ikhwan di Palestina! Darah kalian adalah darah kami, anak kalian adalah anak kami. Darah dibalas darah, penghancuran dibalas penghancuran.” Sepertinya ini kata-kata yang beliau sampaikan ketika itu, saya tidak ingat persisnya. Sebuah kalimat dari sekian kalimat beliau yang menyatakan sumpahnya untuk membela Palestina.

Kisah tentang kecintaan Syaikh Usamah adalah sebuah kisah tersendiri yang harus saya ceritakan secara lebih rinci, insya Allah. Seorang ikhwah datang dan mengatakan kepada Syaikh Usamah: “Saya melihat di media massa para wanita keluar dalam sebuah demonstrasi. Para wanita itu berdemo dengan membawa spanduk yang bertuliskan kata-kata yang artinya ‘kami menunggu janjimu wahai Usamah’ atau kata kata semacam itu.”

Syaikh Usamah pun terdiam demi mendengar hal itu. Beliau sangat tersentuh. Setelah itu Syaikh Usamah pergi shalat Isya’ di masjid yang ada di kompleks kamp latihan. Suasana sangat hening. Setelah melaksanakan shalat, Syaikh Usamah bersandar begini ke dinding masjid. Beliau shalat sunnah dan saya mendengar beliau menangis tersedu-sedu. Saya bertanya-tanya dalam hati; kenapa beliau menangis seperti ini? Beliau menangis seperti ini lantaran mendengar berita yang menyebutkan bahwa wanita-wanita Palestina menunggu janji Usamah bin Ladin. Padahal menurut pandangan saya beliau telah memenuhi janjinya. Kita memohon kepada Allah agar merahmati beliau, kita semua dan seluruh kaum muslimin.

Sisi indah lainnya dalam kehidupan Syaikh Usamah bersama anak-anak beliau adalah,  bahwa setiap orang yang dekat dengan beliau pasti melihat adab yang tinggi dan mulia pada anak-anak beliau — semoga Allah menjaga mereka semua, menjaga kita, anak-anak kita, juga anak-anak kaum muslimin, serta membimbing mereka semua untuk taat kepada-Nya —.

Syaikh Usamah bin Ladin adalah seorang milyader yang kaya raya. Namun anak-anak beliau biasa melayani tamu-tamu beliau dan anak-anak beliau tidak membiarkan para tamu melakukan apapun sendirian. Mencucikan tangan, menyiapkan makanan, mengeringkan tangan, menyiapkan tempat. Semua itu mereka lakukan dengan penuh adab dan penghormatan terhadap tamu-tamu Syaikh Usamah bin Ladin.

Saya sering sekali mendengar orang mengatakan: “Masya Allah! Tarbiyah mulia macam apa yang dilakukan oleh Syaikh Usamah kepada anak-anaknya?!” Syaikh Usamah bin Ladin, meskipun dalam kondisi berpindah-pindah dan tidak menetap, beliau sangat perhatian terhadap tarbiyah dan taklim anak-anaknya. Beliau berusaha sungguh-sungguh agar anak-anaknya menghafal Al-Qur’an sebelum belajar pelajaran yang lain-lain. Dan perkiraan saya beberapa orang di antara mereka telah banyak juz yang mereka hafal, atau bahkan mungkin — saya tidak tahu persis — beberapa orang di antara mereka telah selesai menghafalkan Al Qur’an. Kita memohon kepada Allah agar membimbing anak-anak kaum muslimin untuk hal yang seperti itu.

Inilah kisah Syaikh Usamah bin Ladin pada sisi ilmu dan taklim. Sisi ini mungkin telah saya paparkan sebagiannya dalam buku Fursan Tahta Rayatun Nabi, cet. II. Namun sisi ini belum mendapatkan porsi penjelasan yang cukup. Yakni bahwa Syaikh Usamah sangat serius dalam menebarkan dakwah dan taklim.

Syaikh Usamah mendatangkan seorang pengajar khusus untuk anak-anaknya untuk mengajarkan Al Qur’an. Pengajar yang beliau datangkan itu bukanlah seorang pengajar biasa. Dia adalah seorang ulama’ mulia dari Syinqith (Kota Chinguetti di Mauritania, terletak di sebelah timur Mandat Adrar, Mauritania –pen.). Dia adalah seorang yang sangat mahir dalam ilmu-ilmu bahasa Arab, ilmu Qira-at dan Rasmul Qur’an. Banyak ikhwah yang belajar darinya. Saya sendiri belajar darinya dan dia adalah Syaikh saya juga. Sebagian dari biografinya yang elok telah saya sampaikan dalam buku Tabri’ah.

Beliau (pengajar yang didatangkan oleh Syaikh Usamah) itu bukanlah seorang Syaikh biasa. Beliau adalah seorang muhajir dan murabith di jalan Allah. Beliau adalah seorang petempur perwira sebagaimana Syaikh Usamah bin Ladin juga. Beliau memiliki seekor kuda di kampung Arab. Kampung Arab ini juga menyimpan cerita yang sangat panjang. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan supaya saya dapat menceritakan kampung yang penuh berkah ini. Sebuah kampung yang hebat yan belum pernah saya lihat seumur hidupku selain kampung itu. Saya juga tidak pernah merasakan bahagia sebagaimana kebahagiaan saya ketika tinggal di kampung yang sangat sederhana ini.

Syaikh tersebut memiliki seekor kuda yang kemudian Syaikh Usamah membelinya lalu beliau gabungkan dalam koleksi kuda beliau. Kami dulu selalu pergi belajar kepada Syaikh ini dan beliau pun memperlakukan kami dengan hormat, menyiapkan teh asal Muritania yang khas dengan tangan beliau sendiri. Beliau menyiapkan makanan buat kami. Kami katakan kepada beliau: “Jangan wahai Syaikh, karena engkau adalah Syaikh kami.” Beliau tidak pernah mengijinkan sama sekali, beliau harus melayani kami dengan tangan beliau sendiri.

Syaikh DR. Mahfudh Waladul Walid Al-Muritani (ulama dan mujahid dari Mauritania yang menjadi guru privat mujahidin Arab dan anak-anak syaikh Usamah bin Ladin di Afghan).

Saya ingat dulu saya pernah meminta kepada beliau supaya saya dapat belajar kepada beliau mengenai Ulumul Qur’an dan bahasa Arab. Lalu beliau mengatakan kepadaku: “Kita mulai pertama dengan membenarkan bacaan Al-Qur’an. Karena Kitabullah itu lebih berhak untuk diperhatikan daripada perkataan manusia. Setelah itu baru kita belajar ilmu-ilmu bahasa Arab.” Hal ini sebagaimana yang telah saya ceritakan sebelumnya dalam buku At Tabri-ah.

Pertama kali beliau membacakan kepada saya sebuah muqadimah sedang (tidak panjang dan tidak pendek) tentang Tajwid. Setelah itu kami mempelajari Nudhum Al- Jazariyah. Dan beliau masya Allah merupakan lautan ilmu, namun kalau menjelaskan pelajaran kepada kami, beliau membeberkannya dengan sangat panjang lebar. Sampai-sampai saya pernah melihat beliau di masjid kampung, beliau menjelaskan ilmu tajwid kepada para ikhwah dengan sangat panjang lebar.

Misalnya beliau pernah menjelaskan tentang perbendaan antara ikhfa’ dan idgham, beliau membawa sesuatu dan mengatakan kepada para ikhwah: “Sesuatu ini saya masukkan dalam jubahku ini. Inilah yang dimaksud dengan ikhfa’. Sesuatu ini sudah tidak ada lagi bekasnya, inilah yang dimaksud idgham.” Begitulah beliau menjelaskannya dengan sangat mudah.

Waktu itu ketika saya ikut pelajaran beliau dengan materi Al-Jazariyah, terkadang ikut bersama saya Syaikh Abu Hafsh Al-Kumandani, dan terkadang ikut juga Syaikh Abu Ubaidah Al-Mauritani yang telah syahid — semoga Allah merahmati beliau. Beliau sendiri yang melayani kami. Terkadang ketika kami pulang dari tempat beliau, beliau ikut bersama kami pergi ke pasar, tiba-tiba beliau membelikan buah-buahan buat saya. Saya katakan kepada beliau: “Wahai Maulana, ini adalah kewajibanku.” Beliau menjawab: “Tidak … tidak … tidak. Ini bukan untukmu tapi ini untuk Muhammad, anakmu. Jangan kamu tolak!”

Satu saat lagi tiba-tiba beliau membelikan ikan. Saya katakan kepada beliau: “Wahai Maulana, ini adalah kewajibanku. Bagaimana ini?!”  Beliau menjawab: “Tidak … tidak … tidak. Ini untuk Muhammad, anakmu.”

Orang mulia ini, yang saya mendapatkan kehormatan untuk belajar dari beliau, adalah ustadznya anak-anak Syaikh Usamah dalam menghafal Al Qur’an. Beliau sangat keras dalam memperlakukan mereka. Saya ingat suatu kali pernah beliau berteriak kepada salah seorang anak Syaikh Usamah: “Wahai bocah, kamu tidak bisa diajak bicara, yang bisa diajak bicara adalah ayahmu. Kamu hanya bisa diomongi dengan tongkat.” Sementara anak-anak Syaikh Usamah dalam keadaan tunduk dan diam. Mereka tidak sanggup memandang beliau, karena mereka memiliki adab yang telah mereka pelajari dari Syaikh Usamah terhadap ustadz-ustadz mereka.

Muhammad ‘Athif als Abu Hafs Al-Kumandani als Abu Hafs Al-Mishri

Tentu saja Syaikh Al-Muritani ini sangat serius dalam masalah tarbiyah, sampai–sampai terkadang di masjid kampung beliau mengajarkan materi tarbiyah. Beliau menjelaskan kitab Tarbiyatul Abna’ Fil Islam, dan beliau sangat memperhatikan masalah tarbiyah ini.

Saya ingat, anak-anak Syaikh Usamah sangat rekat dengan beliau. Di medan-medan perang dan di daerah-daerah perbatasan perang, mereka menjaga beliau sebagaimana anak-anak singa menjaga induknya, mereka tidak pernah berpisah dengan bayangannya. Mereka menjaga beliau dengan mempertaruhkan nyawa mereka.

Keterikatan anak-anak Syaikh Usamah dan juga para pengawal Syaikh Usamah dengan Syaikh ini ada kisahnya tersendiri, insya Allah akan kami ceritakan, akan tetapi ingatan saya masih tumpang-tindih. Saya ingat dua peristiwa yang terjadi antara anak-anak Syaikh Usamah dengan Syaikh ini dan anak-anaknya. Dua peristiwa yang sangat-sangat menyentuh perasaan.

Peristiwa pertama: Dahulu ketika kami di Jalalabad, ketika orang-orang munafik telah menguasai Jalalabad. Ketika itu kami memutuskan untuk mendaki gunung Tora Bora. Pada saat itu anak-anak Syaikh Usamah telah datang  bersamanya. Kami sudah memperkirakan bahwa keadaannya akan berjalan seperti ini, dan Kabul akan jatuh. Dan demikianlah yang terjadi. Waktu itu beberapa anak Syaikh Usamah yang masih kecil, di antaranya adalah Khalid — semoga Allah merahmatinya, dia syahid bersama Syaikh Usamah dalam peristiwa penyergapan ayahnya —. Dialah yang paling besar dan ada lagi dua orang yang umurnya lebih muda daripada Khalid. Kami memutuskan untuk bergerak. Kami keluar dari kota dan kami putuskan untuk mendaki gunung Tora Bora ketika waktu Maghrib.

Pada waktu antara Ashar dan Maghrib datang salah seorang ikhwah, dan Syaikh Al-Muritani tersebut mempersilahkan anak-anak syaikh Usamah untuk menyalami ayah mereka. Ikhwah ini adalah orang yang diamanahi oleh Syaikh Usamah untuk membawa anak-anak tersebut ke tempat yang aman, untuk kemudian membawa mereka kepada keluarganya sehingga mereka bisa berkumpul dengan keluarga Syaikh Usamah.

Kemudian tibalah saat perpisahan. Syaikh Usamah membawa mereka menyendiri agak jauh, sedangkan saya memperhatikan peristiwa ini dari jauh dengan perasaan yang sangat haru. Seorang ayah berpamitan dengan tiga orang anaknya yang masih kecil, sementara mereka tidak tahu kapan akan bertemu lagi. Di duniakah atau di akhirat? Apakah ini awal wasiat buat mereka ataukah wasiat terakhir? Syaikh Usamah berpamitan dengan mereka, bersalaman dengan mereka dan mengatakan kepada mereka: “Kalian pergi dengan om kalian ini. Insya Allah dia akan membawa kalian kepada keluarga.” Anak-anak yang besar, air mata mereka mengalir, Syaikh Usamah sangat terharu, sedangkan anak yang kecil sangat kasihan tidak mengerti apa yang terjadi.

Tapi anak yang terkecil ini mengatakan kepada Syaikh Usamah: “Tapi abi, tas sekolahku di Kabul, saya mau tas sekolahku.” Kabul telah jatuh ke tangan bangsa Salib. Syaikh Usamah mengatakan kepada anaknya yang masih kecil tersebut: “Insya Allah semuanya baik sayangku. Insya Allah om nanti akan memberimu tas sekolah lagi.” Kemudian mereka berpisah. Peristiwa yang sangat mengharukan. Seorang bapak meninggalkan anak-anaknya. Tidak tahu di mana dan kapan ia akan bertemu lagi dengan mereka. Mereka pun meninggalkan bapak mereka dan tidak tahu kapan dan di mana akan ketemu lagi.

Peristiwa satu lagi, yang membuatku sangat hormat kepada Syaikh Usamah adalah ketika kami mulai bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Waktu itu ada bersama kami salah satu anak Syaikh Usamah, yang menyertai kami selama serangan yang dilancarkan oleh bangsa Salibis. Kami mengendarai mobil dengan penuh tawakal kepada Allah, dan menderita. Sebuah mobil semi truk yang mengangkut kami dalam kegelapan. Di suatu titik tertentu mobil ini mogok. Anak Syakh Usamah ini pun turun bersama dengan penunjuk jalan menuju tempat lain sementara kami menuju tempat yang lain lagi.

Dalam kondisi seperti ini di tengah-tengah kegelapan, Syaikh Usamah turun untuk berpamitan dengan anaknya, dan tidak ada yang tahu selain Allah SWT apakah mereka akan bertemu lagi atau tidak. Apa kiranya yang dikatakan Syaikh Usamah pada saat seperti itu? Beliau mengatakan kepada anaknya: “Wahai anakku kita tetap dalam janji kita, kita tetap dalam jihad fi sabilillah.” Sebuah peristiwa yang sangat besar, yang saya ingat yang dialami Syaikh Usamah.

Saya cukupkan sampai di sini. Insya Allah kita bertemu lagi dengan kisah Syaikh Usamah, Sang Imam dan pembaharu, dalam pertemuan yang lain. (arrahmah)




The great story about Syaikh Usamah bin Ladin: Hari-hari bersama sang Imam (1)

www.detikriau.wordpress.com — Di antara kelompok ulama dan komandan mujahidin Al-Qaeda yang menyertai syaikh Usamah bin Ladin rahimahullahdalam waktu yang sangat lama dan sampai hari ini masih meneruskan jihad fi sabilillah melawan aliansi zionis-salibis internasional, syaikh Dr. Aiman Azh-Zhawahiri mungkin nama yang paling menonjol. Selain saat ini menjadi pemimpin tertinggi mujahidin Al-Qaeda, beliau sejak tahun 1996 turut membidani lahirnya front perlawanan Islam semesta terhadap aliansi zionis-salibis internasional. 

Sebagai tangan kanan syaikh Usamah, beliau memiliki banyak kenangan selama hidup bersama sang pendiri Al-Qaeda. Kenangan-kenangan itulah yang dituturkannya kepada umat Islam, sesuai permintaan para ikhwah mujahidin, sebagai bentuk ketulusan kepada jihad syaikh Usamah. Yayasan media As-Sahab merilis video syaikh Dr. Aiman Azh-Zhawahiri tersebut pada tanggal 16 November 2011 dengan judul ‘Ayyamun ma’al Imam’. Situs Arrahmah.com menerjemahkannya untuk para pembaca. Semoga bermanfaat.

بسم الله الرحمن الرحيم

HARI-HARI BERSAMA SANG IMAM (1)

Oleh:

Dr. Syaikh Aiman Azh-Zhowahiri

Dipublikasikan oleh Media As-Sahab

20 Dzulhijjah 1432 H

16 November 2011 M

Dengan nama Allah … segala puji bagi Allah … Semoga shalawat dan salam senantiasa terlimpahkan kepada Rasulullah, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti beliau.

Ikhwah sekalian, kaum muslimin di manapun antum berada: As Salamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Wa ba’du:

Ikhwan-ikhwan telah meminta kepadaku — semoga Allah memberikan pahala yang baik kepada mereka — agar saya bercerita tentang beberapa kenanganku bersama sang Imam dan pembaharu, seorang Syaikh dan Mujahid, yang menghidupkan kembali kewajiban jihad pada jaman ini, sang singa Islam, Syaikh Usamah bin Ladin — semoga Allah merahmati beliau —. Para Ikhwah juga meminta saya agar bercerita tentang sisi kemanusiaan dalam keseharian beliau, yang bisa jadi tidak diketahui oleh seluruh kaum muslimin. Sisi yang penting dan mulia ini, yang mana semua orang yang pernah hidup bersama manusia satu ini mendapat kemuliaan dengan berkesempatan bergaul dengan beliau. Seorang manusia yang memiliki akhlak yang luhur, perasaan yang mulia, dermawan dan lapang dada.

Sebenarnya saya — al hamdulillah — telah mendapat kemuliaan dari Allah dengan bergaul bersama laki-laki ini dalam waktu yang cukup lama, baik ketika bepergian maupun ketika menetap, dan juga dalam berbagai macam kondisi. Al Hamdulillah, saya telah melihat sendiri sisi-sisi kehidupan beliau yang sangat agung dan mulia. Saya ingin menceritakan sebagiannya kepada ikhwah sekalian, kaum muslimin, sebagaimana permintaan para ikhwan.

Saya sendiri meminta kepada para ikhwah agar saya bercerita secara lepas, yakni sesuai dengan apa yang muncul dalam perasaan, karena kenangan bersama Syaikh Usmah ini —masya Allah — sangat banyak dan bermacam-macam, di mana terdapat banyak sekali hikmah, pelajaran dan arahan-arahan yang beliau berikan. Beberapa di antaranya telah saya tulis dalam beberapa poin dalam kertas, dan insya Allah saya akan ceritakan kepada antum kenangan-kenangan baik yang saya ingat dalam kesempatan ini. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan kepada kita dan memberikan kesempatan-kesempatan lain untuk bercerita tentang kemuliaan laki-laki mulia ini.

Di antara yang paling penting dari sifat beliau yang dirasakan semua orang yang bergaul dengan beliau — semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya yang luas kepada beiau dan menyusulkan kita dengan beliau di surga Firdaus yang paling tinggi — adalah bahwa beliau ini sangat tulus kepada para ikhwah beliau. Beliau selalu mengingatkan para ikhwah ­agar berbuat kebaikan dan senantiasa meluruskan perbuatan-perbuatan mereka.

Memang Syaikh Usamah adalah orang yang berakhlak mulia, santun, bukan orang dungu, bukan orang yang bersuara keras dan juga bukan orang yang jahil. Akan tetapi beliau sangat bersedih apabila beliau merasakan ada ikhwah beliau dalam jihad ini yang didholimi, atau belum mendapatkan haknya secara layak. Dan memang, di antara ikhwah yang pernah hidup bersama beliau — semoga Allah merahmati mereka semua — adalah Asy Syahid Abu UbaidahAl-Bansyiri. Beliau ibarat sebuah gunung dalam jihad di jaman ini, yang belum memperoleh haknya secara layak untuk dikenalkan. Juga Fadlilatusy Syaikh Abu Hafsh Al-Mishri, sang komandan dan mujahid, atau yang dikenal dengan Abu Hafsh Al-Kumandani — semoga Allah merahmati beliau dan juga para syuhada’ yang lain —. Syaikh Usamah selalu menceritakan kebaikan mereka dan mendoakan mereka agar dirahmati Allah. Saya ingat suatu saat beliau mengatakan kepadaku: “Segala puji bagi Allah  yang telah mendatangkanku ke bumi jihad sehingga saya dapat berkenalan dengan Abu Ubaidah”. Saya ingat, di masa serangan yang dilancarkan Amerika Salibis terhadap Afghanistan ini, beliau pernah membaca di beberapa media reportase yang mencibir dua singa dan dua pahlawan besar yang mulia tersebut. Maka beliau pun mengirim surat kepada saya dan mengatakan: “Bantahlah mereka yang mencibir dua saudara kita ini!” Saya sendiri telah menyebutkan sebagian dari keutamaan yang dimiliki kedua ikhwah tersebut dalam pembicaraanku dan dalam buku Fursan Tahta Rayatin Nabicetakan II.

Selain itu Syaikh Usamah — semoga Allah merahmati beliau — juga banyak bercerita tentang Syaikh Abdullah Azzam, seorang Syaikh, imamul jihad di jaman ini, semoga Allah merahmati beliau, tentang kebaikannya dan selalu memuji beliau. Syaikh Usamah bin Ladin pernah mengatakan bahwa orang ini (Syaikh Abdullah Azzam) telah menghidupkan kembali jihad di jaman ini. Dan Syaikh Usamah sering kali memuji beliau

Selain itu Syaikh Usamah juga sering mengatakan yang baik-baik dan terbawa perasaan beliau ketika bercerita tentang 19 ikhwah yang telah melakukan serangan terhadap berhala Hubal jaman ini, Amerika, di Pentagon — markas militer — dan New York — simbol kedikdayaan ekonominya —. Sementara pesawat yang keempat tengah menuju Gedung Putih atau ke Gedung Kongres. Beliau menceritakan tentang mereka dengan penuh ketulusan. Saya, dan juga antum, ingat bahwa pesan yang pertama kali syaikh Usamah sampaikan setelah dimulainya serangan Salibis di Tora Bora. Dalam pesannya itu beliau menyampaikan kata-kata dukungan kepada 19 ikhwah tersebut. Antum semua juga ingat bagaimana penampilan Syaikh Usamah dalam menyampaikan pesan pertamanya itu, kelihatan beliau sangat lelah, capek, lesu dan seterusnya. Kondisi semacam ini kami semua mengalaminya lantaran cuaca yang sangat-sangat dingin ditambah lagi makanan yang sedikit dan kurang tidur, persediaan air sangat kurang dan air membeku. Sampai-sampai air yang berada 500 m (di bawah puncak gunung Tora Bora) pun juga telah membeku. Dalam kondisi yang sangat berat seperti ini, sementara musuh bersama orang-orang munafik mengepung kami, kaum Salib membombardar dari atas, namun Syaikh Usamah tetap bersikukuh untuk merekam pesan-pesan beliau sebagai bentuk kesetiaan beliau terhadap 19 ikhwah tersebut. Seolah beliau khawatir syahid menjemput beliau di tempat tersebut sementara beliau belum sempat menyampaikan dukungan beliau terhadap para ikhwah perwira tersebut.

Syaikh Sulaiman Abu Ghaits, Syaikh Usamah bin Ladin, Syaikh Aiman Adh Dhawahiri, dan Syaikh Abu Hafs Al Misri, di Tora Bora pada tanggal 20 Rajab 1422 H / 7 Oktober 2001 M

Tentu, insya Allah dalam kesempatan lain saya akan  kembali untuk bercerita tentang Tora Bora dengan berbagai sikap kepahlawanan dan teladan-teladan indah yang dipersembahkan oleh para pemuda Islam di Tora Bora, dan insya Allah kami akan bercerita lebih rinci masalah ini. Di Tora Bora kami semua sudah pasrahkan semua urusan kami kepada Allah SWT. Musuh — orang-orang munafik — mengepung kami, sementara NATO membombardir kami dari atas. Kami membayangkan bahwa bumi ini akan menjadi arang setiap saat. Sementara para ikhwah telah menyiapkan diri mereka untuk berperang sampai mati. Namun tentu saja, akan kami ceritakan nanti, ternyata ketakutan kaum Salib sangatlah besar. Mereka ketakutan meskipun mereka memiliki kekuatan yang selalu mereka bangga-banggakan, bahwa mereka adalah bangsa paling perkasa dalam sepanjang sejarah manusia. Para penggemar film Hollywood itu takut semua untuk masuk wilayah Tora Bora yang ditempati 300 singa Islam. Inilah salah satu sebab Allah mentakdirkan Syaikh Usamah bin Ladin keluar untuk melanjutkan lagi pertempuran dan pertarungan dengan bangsa Salib itu. Hal itu supaya seluruh kaum muslimin paham bahwa Allah SWT itu Mahakuasa, dan bahwa Allah SWT sendiri telah menjelaskan perihal siapa sejatinya para Salibis tersebut. Allah SWT berfirman:

(إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ وَتَرْجُونَ مِنَ اللهِ مَا لَا يَرْجُونَ).

Jika kalian merasa sakit maka sesungguhnya mereka pun merasakan sakit sebagaimana kalian merasa sakit. Namun kalian memiliki harapan dari Allah sementara mereka tidak. (QS. An-Nisa’ (4): 104)

 

Intinya, dalam kondisi yang sulit ini Syaikh Usamah terus bersikukuh untuk merekam pesan-pesannya meskipun dalam kondisi sebagaimana yang antum lihat sendiri, sebagai bentuk kesetiaan beliau kepada 19 ikhwah tersebut.

Setelah itu, setelah Syaikh Usamah — semoga Allah merahmati beliau — keluar dari Tora Bora, pesan pertama kali yang beliau sampaikan adalah beliau menjelaskan satu persatu nama 19 ikhwah tersebut.

Syaikh Usamah bin Ladin — semoga Allah merahmati beliau — sangat setia dan tulus terhadap Syaikh Abu Abdur Rahman Al-Kindi. Syaikh Usamah pernah mengirim surat kepada saya dan mengatakan: “Ceritakan apa-apa saja yang dilakukan orang ini supaya semua orang mengenalnya dan mengenal jasa-jasanya!” Maka saya ceritakan itu di salah satu pesan saya. Di sana saya ceritakan tentang hijrah beliau, kedermawanan beliau, kebaikan beliau, dan bahwa beliau terbunuh dalam kondisi menghadapi musuh, tidak lari ke belakang dalam perang melawan kaum Salib.

Syaikh Usamah juga sangat tulus dan setia dengan Syaikh Ibnusy Syaikh Al-Libi — semoga Allah merahmatinya —. Syaikh Usamah pernah mengatakan kepadaku: “Orang ini telah mengorbankan dirinya untuk kita.” Karena Syaikh Ibnusy Syaikh Al Libi … mungkin akan saya ceritakan lagi insya Allah ketika membahas kronologi yang lebih rinci tentang Tora Bora, jika Allah mengijinkan … Komandan militer pasukan Islam yang berjihad di Tora Bora adalah Syaikh Ibnusy Syaikh Al-Libi. Syaikh Usamah menyerahkan usaha mengeluarkan sebagian besar ikhwah dari Tora Bora kepada Syaikh Ibnusy Syaikh Al Libi, sebagaimana yang akan saya ceritakan secara lebih rinci nanti insya Allah, bagaimana kecerdasan Syaikh Ibnusy Syaikh Al Libi di bidang strategi dan lapangan, lantaran karunia Allah semata. Syaikh Ibnusy Syaikh Al-Libi diserahi tanggung jawab untuk mengeluarkan mereka dari Tora Bora ke Pakistan. Tugas yang sangat-sangat berat dan penting ini pun berhasil beliau laksanakan dengan sukses, dalam situasi yang sangat berat, cuaca yang sangat dingin dan dalam keadaan dikepung. Beliau meloloskan diri bersama mereka dari kepungan orang-orang munafik. Beliau meloloskan diri bersama mereka di bawah hujan bom yang dihamburkan oleh bangsa Salib yang mana pada saat itu telah menguasai seluruh wilayah Afghanistan dan tinggal Tora Bora saja yang belum mereka kuasai, yang saat itu tengah mereka gempur. Beliau berhasil lolos bersama mereka ke wilayah perbatasan Pakistan. Sementara di Pakistan kaum Salib tidak berhasil menangkap para ikhwah tersebut kecuali dengan bantuan pengkhianatan yang dilakukan beberapa kabilah Pakistan — dan kisah ini sudah umum diketahui —. Intinya ketika Syaikh Ibnusy Syaikh Al-Libi ditempatkan di penjara Kuhat, beliau membawa uang yang banyak untuk mengurusi para ikhwah yang bersama beliau tersebut. Maka para petinggi militer Pakistan yang biasa menerima suap dan berkhianat pun menawar beliau agar menyerahkan uang tersebut dan sebagai gantinya mereka akan melepaskannya dan mereka akan menghapus namanya sehingga seolah beliau tidak tertangkap. Sementara Syaikh Ibnusy Syaikh Al-Libi — supaya semua orang kenal pahlawan satu ini dan supaya para ikhwah beliau di Libia mengikuti jejak beliau, yang insya Allah pembelaan mereka adalah pembelaan terhadap Islam dan kaum muslimin, dan semoga ada di antara mereka ribuan Ibnusy Syaikh Al-Libi yang akan menggantikan Syaikh Ibnusy Syaikh Al Libi, insya Allah —. Ketika para petinggi militer Pakistan itu mengutarakan tawaran mereka tersebut, beliau menjawab: “Tidak! Saya tidak akan meninggalkan ikhwan-ikhwan saya. Tapi kalau kalian mau saya akan berikan kepada kalian uang ini kepada kalian, bahkan lebih, jika kalian mau mengeluarkan kami semua.” Maka para petinggi militer Pakistan itu pun menolak sehingga Syaikh Ibnusy Syaikh Al-Libi tetap dalam tahanan bersama para ikhwah yang bersama beliau sampai akhirnya pemerintahan jahat Qaddafi membunuhnya. Insya Allah para ikhwah mujahidin Libia yang punya harga diri, dan bahkan semua orang Libia yang berjiwa perwira, yang mengalir dalam aliran darahnya kecintaan terhadap Islam dan Nabi SAW, akan membalaskan untuk sang singa dari Libia ini terhadap kejahatan Qaddafi, juga terhadap kejahatan Barat bangsa Salib, NATO, yang telah menyiksa dan menyerahkan Syaikh Ibnusy Syaikh Al-Libi kepada Qaddafi untuk dibunuhnya.

Syaikh Ibnusy Syaikh Al-Libi alias Ali Muhammad Abdul Aziz Al-Fakhiri (46 th)

Dahulu Syaikh Usamah mengatakan: “Orang ini telah mengorbankan nyawanya untuk kita.” Inilah tafsiran dari apa yang dikatakan oleh Syaikh Usamah bin Ladin.

Selain itu Syaikh Usamah bin Ladin mengirim surat kepada saya selalu menceritakan apa yang pernah dilakukan oleh Syaikh Musthafa Abul Yazid. Syaikh Usamah mengatakan kepada saya: “Orang ini telah berkorban dengan nyawanya dan keluarganya untuk kita.” Maksudnya Syaikh Musthafa Abul Yazid adalah orang yang mengatur urusan para ikhwah mujahidin. Beliau berhubungan dengan para mujahidin, berhubungan dengan Muhajirin, berhubungan dengan Anshar, beliau adalah bapak bagi mereka semua. Harga yang harus beliau bayar untuk kegiatan yang penuh berkah ini, beliau akhirnya terendus oleh para mata-mata NATO kemudian NATO berhasil membunuh beliau bersama keluarga, bahkan juga membunuh anak-anak yatim yang sedang beliau pelihara dan beliau ajari menghafal Al-Qur’an. Semoga Allah merahmati beliau.

Syaikh Musthafa Abul Yazid, sedang diwawancarai oleh wartawan stasiun TV Al-Jazeera

Inilah sisi-sisi ketulusan dan kesetiaan Syaikh Usamah bin Ladin kepada para ikhwannya.  (arrahmah)