LSM TUDING PROYEK DISHUB MUBAZIR

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com) — Keberadaan Bandara Tempuling di Kecamatan Tempuling dan Pelabuhan Parit 21 di Kelurahan Tembilahan Hilir, disinyalir tidak lebih dari proyek gagal. Sebab, meski pembangunannya sudah rampung tahun lalu, hingga sekarang pemanfaatannya belum terlihat.

Padahal pembangunan dua proyek tersebut membutuhkan anggaran yang sangat besar, hingga pelaksanaannya meski lewat proyek multiyears. Ironisinya setelah selesai, tidak sedikitkan manfaat dapat dirasakan oleh masyarakat.

Sebagai contoh, Pelabuhan Parit 21 yang pada saat pembangunan direncanakan seluruh aktivitas bongkar muat akan dilakukan disana, tidak lebih dari sebuah retorika belaka. Jangankan untuk melakukan aktivitas bongkar muat, untuk datang kesana saja orang sudah malas. Karena sarana jalan masih belum layak.

Sementara itu Bandara Tempuling, yang katanya untuk memperlancar arus orang dan barang ternyata omong kosong belaka. Aktivitas di bandara ini hanya berlangsung sekali dalam setahun. Itu terjadi pada saat pemberangkatan jamaah haji ke embarkasi Batam. Melihat kondisi tersebut, wajar saja kalau ada anggapan proyek yang menelan dana ratusan milyar tersebut adalah proyek gagal.

Ketua LSM Seribu Satu Parit, Januar Jaya merasa sangat kecewa dengan apa yang ia lihat. Dia menuding, pembangunan dua proyek tersebut, terkesan tanpa perencanaan yang matang, dan lebih pada mengejar kepentingan tertentu untuk keuntungan segelintir orang. Pada gilirannya mubazir yang jadi realita.

“Kita jangan hanya sok gagah membangunan proyek besar seperti itu, tapi tidak mampu dimanfaatkan sesuai dengan harapan yang diinginkan. Padahal masih banyak hal penting yang mestinya bisa dibangun dan langsung menyentuh dengan kepentingan masyarakat banyak seperti sektor pendidikan dan perkebunan,” katanya dengan nada suara kesal. (Sf)




Kasus Perceraian di Inhil Relatif Masih Tinggi

TEMBILAHAN (www.detikriau.wordpress.com) – Sampai dengan akhir Desember 2011, Pengadialan Agama (PA) Tembilahan sudah memutuskan 587 kasus dari total  638 perkara yang masuk. Angka tersebut tidak jauh bebeda dengan tahun sebelumnya, dimana 641 kasus perkara perceraian yang ditangani.

Pernyataan itu disampaikan oleh Drs.Moh.Nur Ketua Pengadilan Agama Indragiri Hilir, kepada wartawan ahir pekan kemaren diruang kerjanya. Ia katakan sesuai dengan data yang ada sampai dengan menjelang akhir Tahun 2011, di PA Tembilahan untuk jumlah kasus perceraian yang masuk dalam setiap bulannya mendekati 60 kasus.

“Mereka yang mengajukan perceraian beragam, mulai dari kalangan PNS, sampai kalangan masyarakat biasa. Adapun untuk kasusnya juga bervariasi ada kasus cerai talak, cerai sengketa harta, ijin poligami,pengakuan wali, dan lain sebagainya” kata Ketua PA Drs. Moh Nur.

Masih menurut Moh. Nur bahwa dalam menyelesaikan setiap kasus perceraian sesuai dengan mekanisme yang berlaku, untuk Majelis Hakim harus sudah bisa memberi putusan paling lama 6 bulan, jika ternyata dalam waktu 6 bulan masih belum putus Majelis Hakim harus memberikan alasan yang pasti ke Mahkamah Agung (MA) mengenai keterlambatannya.

Sedangkan khusus untuk kalangan Pegawai Negeri Sipil (PNS) menurut Moh Nur, mereka yang akan mengajukan proses perceraian harus mendapat ijin dari atasannya, pada tempat Ia bekerja, sesuai dengan  dengan PP 10 tahun 1983 tentang perkawinan dan perceraian seorang PNS atau yang disempurnakan yakni PP 45 tahun 1990.

“Khusus bagi seorang PNS yang akan bercerai harus mendapat ijin dari setiap atasanya dimana Ia bekerja jika memang tidak ada ijin tentunya tidak bisa kita proses” tegasnya.

Selanjutnya dalam proses persidangan yang digelar, setiap Majelis Hakim dalam setiap kasus perceraian mengupayakan untuk berdamai kepada mereka yang berseteru, termasuk dengan melakukan mediasi setiap sidang digelar, yang intinya kalau bisa proses perceraian itu jangan sampai terjadi. (Sf)




Sumbang uang korupsi untuk proyek akhirat, Koruptor minta dibebaskan

JAKARTA (www.detikriau.wordpress.com) – Sofyan Usman, mantan anggota DPR periode lalu, disidangkan atas kasus dugaan korupsi Otorita Batam di Pengadilan Tipikor. Sofyan diduga menerima uang Rp 150 juta dan cek pelawat Rp 850 juta. Namun Sofyan berkelit, dia tidak menerima sepeser uang pun. Uang seluruhnya disumbangkan untuk pembangunan masjid.

“Jadi begini, saat itu Pak Sofyan kan anggota Banggar DPR juga. Saat itu membantu memperjuangkan anggaran Otorita Batam, dan cair Rp 85 miliar. Pak Sofyan tidak meminta apa-apa, hanya meminta agar dibantu dalam pembangunan masjid,” jelas pengacara Sofyan, Ozhak Sihotang saat dihubungi detikcom, Sabtu (24/12/2011).

Kasus Otorita Batam ini terjadi pada 2009 lalu. Ozhak menjelaskan, Sofyan saat itu tengah membangun masjid di perumahan DPR di Cakung, Jaktim. Uang pun dialirkan ke pembangunan masjid itu.

“Jadi itu proyek akhirat, tidak untuk kepentingan pribadi,” kelit Ozhak.

Ozhak juga beralasan, kalau uang itu bukan dari Otorita Batam, tetapi dari sumbangan karyawan Otorita sebagai amanah. “Itu uang amanah untuk masjid,” tambahnya.

Karena uang yang diberikan Otorita Batam itu untuk masjid, dia berharap majelis hakim bisa memberikan keputusan bebas. “Ya itu, ini sekali lagi proyek akhirat. Jadi agar diputuskan seadil-adilnya,” terang Ozhak.

Tim Jaksa KPK menuntut Sofyan dengan hukuman penjara 2 tahun dan denda Rp 250 juta subsider enam bulan penjara. Tim jaksa menilai Sofyan terbukti melakukan korupsi karena menerima uang dari pihak pemerintah Otorita Batam dengan dugaan bahwa uang tersebut berkaitan erat dengan jabatan Sofyan sebagai Anggota DPR.

Sofyan yang juga politikus PPP ini, bukan kali ini saja dijerat pidana korupsi. Dia juga telah divonis terkait kasus suap DGS BI. Sofyan dipidana 15 bulan penjara karena ikut menikmati cek pelawat dalam pemilihan DGS BI. (dtk/drw.com)




FOGGING ASAL-ASALAN, NYAMUK JADI KEBAL

JAKARTA (www.detikriau.wordpress.com) – Pengasapan atau fogging asal-asalan, dengan cara mengoplos sembarang pestisida berdampak fatal. Di antaranya, memicu resistensi atau kekebalan terhadap nyamuk demam berdarah. Karena sudah menjadi super, nyamuk-nyamuk tersebut tidak mempan lagi dengan fogging biasa.

Peneliti Utama Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Prof Supratman Sukowati menyampaikan, nyamuk-nyamuk kebal itu sudah ditemukan di tega tempat. Yaitu, Denpasar, Bogor, dan DKI Jakarta.

Meski sudah mulai kebal, lanjut Supratman, namun resistensinya masih belum sempurnya. Artinya, masih bisa diatasi dengan jenis pestisida tertentu. “Saya tidak bisa sebutkan nama pestisida yang sudah tidak mempan lagi. Yang jelas masih ada penggantinya,” tutur dia.

Munculnya nyamuk-nyamuk yang sudah tidak mempan dengan sejumlah pestisida ini, dipicu perilaku manusia sendiri. Terutamanya mereka yang sering melakukan fogging sembarangan. Pengasapan di luar kegiatan yang dikomando puskesmas, biasanya sering muncul ketika musim kampanye. Fogging model ini, biasanya dilakukan asal-asalan.

“Kita menyebutnya fogging gado-gado,” kata dia. Maksudnya, fogging dilakukan dengan mengoplos beberapa jenis pestisida. Celakanya, penggagas fogging swasta ini mengklaim lebih bagus hasilnya.

Supratman mengingatkan, pestisida yang dioplos akan mengalami interaksi kimiawi. Interaksi kimiawi inilah yang kemudian mempercepat terjadinya resistensi pada nyamuk. Selain itu, pengoplosan bisa merusak keseimbangan alam atau lingkungan. Misalnya, asap yang dikeluarkan dari fogging “gado-gado” ini justru membunuh hewan-hewan musuh alami nyamuk. Seperti cicak.

Untuk itu, dia berharap dinas kesehatan kabupaten atau kota benar-benar memantau aktivitas fogging di luar kegiatan puskesmas atau institusi kesehatan resmi, seperti rumah sakit dan sejenisnya. Apalagi, sebenarnya pemerintah sudah mengeluarkan sertifikasi tenaga fogging. Tujuannya untuk keamanan tenaga fogging sendiri dan masyarakat objek pengasapan. Jika masih belum ada petugas swasta bersertifikat, bisa meminta bantuan petugas resmi yang sudah disiapkan di tingkat puskesmas.

Secara keseluruhan, fogging yang resmi maupun yang tidak resmi, bukan termasuk upaya penanganan demam berdarah yang dianjurkan. Sebab, fogging hanya bersifat sementara untuk menanggulangi nyamuk. Jika tidak ada angin besar, asap dari fogging hanya mampu melindungi sekitar 20 menit sampai 30 menit. Belum lagi, ada nyamuk yang semakin pandai dengan berlindung di balik kelambu atau baju-baju untuk menghindari pengasapan.

Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2-PL) Kemenkes Tjandra Yoga Aditama mengatakan, upaya pemerintah memerangi demam berdarah perlu kerjasama dengan masyarakat. Masyarakat diimbau untuk terus meningkatkan kegiatan 3M Plus. Yaitu menguras dan menutup bak atau penampungan air bersih, mengubur barang bekas yang bisa menjadi sarang nyamuk, serta mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembangbiak nyamuk aedes aegypti.

Laporan tahunan yang masuk ke Kemenkes menyebutkan, mulai Januari hingga November tahun ini, demam berdarah menyerang 49.577 orang, 404 orang di antaranya meninggal. “Kecenderungan setiap tahun, angka kematian bisa kita tekan,” tandasnya. Namun angka orang yang terjangkit masih sering naik dan turun. (jpnn.com)

 




Ada Racun Pemicu Kanker di Sampo Bayi

Bahan kimia formaldehida dan dioksan penyebab kanker ditemukan dalam produk sampo bayi.

 www.detikriau.wordpress.com — Dua bahan kimia berbahaya yang dapat memicu kanker (karsinogen) ditemukan dalam sampo bayi Johnson & Johnson yang beredar di Amerika Serikat dan beberapa negara lainnya termasuk Indonesia, China, dan Australia seperti dikutip dari laman Fox News tanggal 1 November 2011.
Koalisi 25 lembaga kesehatan yang mewakili 3,5 juta orang di AS dan beberapa negara lainnya mendesak agar konsumen memboikot produk-produk bayi Johnson & Johnson hingga perusahaan menghapuskan bahan kimia berbahaya dari produk yang dijual di seluruh dunia. Kelompok ini mendesak agar pada 15 November perusahaan menarik seluruh produk yang mengandung bahan kimia berbahaya dari seluruh dunia.

 

Dalam laporan Campaign for Safe Cosmetics pada 2009 silam, peneliti independen menemukan kandungan 1,4-dioksan dalam sampo bayi, Oatmeal Baby Wash, Moisture Care Baby Wash, dan Aveeno Baby Soothing Relief Creamy Wash yang diluncurkan sebagai produk-produk alami dari Johnson.

Namun, dalam laporan terbarunya, Campaign for Safe Cosmetics menyatakan selama 2,5 tahun tak berhasil mendesak perusahaan perawatan terbesar tersebut untuk menghilangkan penggunaan bahan berpotensi penyebab kanker, yaitu quaternium-15 yang melepaskan formaldehida dari produk sampo bayi Johnson, salah satu produknya.

 

Pada penelitian terbaru Juni 2011 silam, quaternium-15 masih ditemukan dalam produk sampo bayi Johnson di sedikitnya 13 negara antara lain AS, Kanada, China, Indonesia, dan Australia. Namun studi tak menemukan bahan tersebut pada produk yang dijual di sedikitnya delapan negara lainnya, seperti Inggris, Denmark, Jepang dan Afrika Selatan, dan Swedia.

“Johnson & Johnson dapat membuat sampo bayi lebih aman di semua pasar di seluruh dunia, tapi tidak melakukannya,” kata Lisa Archer, direktur dari Campaign for Safe Cosmetics seperti dikutip dari laman Foxnews.

Sebagai tanggapan, Johnson & Johnson mengatakan, formaldehida yang dilepaskan bahan pengawet quaternium-15 telah disetujui penggunaannya oleh regulator di AS dan negara lain. Namun, secara bertahap mereka akan mengurangi penggunaannya pada produk bayi dan mereformulasi produk bayi untuk mengurangi tingkat dioksan.

Kantor berita Associated Press melaporkan, salah satu bahan kimia quaternium-15 merupakan pengawet untuk membunuh bakteri yang mengeluarkan senyawa kimia formaldehida. Formaldehida, sering digunakan sebagai desinfektan dan pengawet mayat. Formaldehida juga bisa menyebabkan iritasi kulit, mata, dan pernapasan.

Program Toksikologi Nasional AS lewat sebuah studi Juni silam juga meyimpulkan formaldehida sebagai bahan kimia karsinogen.

Bahan kimia kedua adalah 1,4-dioksan, yang diduga sebagai karsinogen. Dioksan  merupakan produk sampingan yang tercipta pada proses untuk membuat bahan kimia lebih larut dan melembutkan kulit.

Archer menyatakan, sejumlah negara yang menemukan tidak ada bahan kimia berbahaya tetap melarang penggunaan produk tersebut, sementara negara lainnya tak memberikan larangan apapun.

• VIVAnews




Heboh Bakteri Sakazakii di Susu Formula

Jika Terjangkit Bakteri Sakazaki Tingkat Kematian Bayi Mencapai 33 Persen

 www.detikriau.wordpress.com – Salah satu peritel besar di Amerika Serikat, Walmart, menarik semua produk susu formula bermerk Enfamil Premium Newborn dari 3.000 toko mereka di 49 negara bagian Amerika Serikat.Pengumuman dilakukan Kamis, 22 Desember 2011 waktu setempat, berselang beberapa hari setelah kematian seorang bayi di kota Lebanon, negara bagian Missouri. Kematian bayi ini diduga akibat terjangkit bakteri Cronobacter sakazakii.

Di Indonesia, Mead Johnson Indonesia merespon kejadian di Amerika Serikat dengan menegaskan bahwa produknya bebas dariCronobacter dan aman dikonsumsi.
Mead Johnson Indonesia menyatakan telah memperoleh informasi dari dinas kesehatan setempat bahwa bayi bernama Avery Cornett yang berusia 10 hari setelah diuji positif terinfeksi bakteri Cronobacter.

Cronobacter adalah mikroorganisme yang ditemukan di sekitar lingkungan dan kadang terdapat dalam penyakit serius pada bayi baru lahir. Namun, kasus ini sangat langka terjadi. Mead Johnson Indonesia menyatakan, investigasi lengkap kini tengah dilakukan oleh dinas kesehatan.

Dalam penjelasannya, Mead Johnson Indonesia menyebut, sumber Cronobacter di lingkungan melibatkan sampel yang luas dan memakan waktu pengujian untuk mengidentifikasi penyebabnya. “Diantara beberapa hal yang juga diuji adalah kombinasi formula yang dikonsumsi–seperti susu bubuk formula ataupun air yang dipersiapkan untuk membuat susu tersebut, dan beberapa hal lainnya,” demikian pernyataan tertulis Mead Johnson Indonesia, Jumat, 23 Desember 2011.

Bagi produsen susu dan berbagai produk bayi ini, kesehatan dan keselamatan bayi merupakan prioritas utama. Mead Johnson juga menyakinkan bahwa semua produk Mead Johnson aman dan bergizi bila disiapkan, disimpan dan digunakan sesuai dengan petunjuk pada label. “Semua produk kami diproduksi dan diuji guna memenuhi persyaratan peraturan lokal dan nasional serta standar ketat dari perusahaan sendiri.”

Sebelum dilempar ke pasar, bahan dan semua produk susu formula bayi dari Mead Johnson, harus menjalani pengujian termasuk tes Cronobacter sesuai metodologi Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) dan Pusat Pengendali Penyakit (CDC) di Amerika Serikat. “Jika bahan atau beberapa bahan produk susu bubuk formula ditemukan mengandung Cronobacter, produk tersebut akan langsung ditolak dan tidak didistribusikan,” jelas pernyataan tersebut.

Dari hasil uji terhadap kematian bayi di Missouri, ditemukan hasil negatif kandunganCronobacter saat diproduksi dan dikemas. “Kami sangat percaya dengan keamanan dan kualitas produk kami yang melalui pengujian yang sangat ketat. Kami bekerja sama dengan dinas kesehatan agar mengidentifikasi sumber atau penyebab infeksi bayi ini.”

Penyebab kematian bayi Avery
Kasus yang menyeret Mead Johnson Nutrition Co berasal dari kematian seorang bayi berusia 10 hari, Avery Cornett di kota Lebanon, Missouri Minggu lalu. Menurut Departemen Kesehatan, kejadian ini merupakan insiden kedua yang terjadi dalam sebulan di Missouri. Tak seperti Avery, bayi lain yang terinfeksi Cronobacter selamat.

Menyusul kematian Cornett, Walmart mengumumkan penarikan seluruh susu formula Enfamil dengan nomor produk ZP1K7G dari 3.000 supermarket di 49 negara bagian Amerika. Susu bermerk ‘Enfamil Premium New Born’ dengan nomor produk inilah yang menyebabkan kematian Cornett. Selain Walmart, peritel Supervalu juga menarik semua produk susu formula dari peredaran dari 2.300 toko mereka di seluruh AS.

Menurut harian Lebanon Daily Record seperti dilansir oleh Food Safety News, Avery Cornett itu meninggal setelah alat penopang hidupnya dicabut Minggu lalu. Cornett mengalami penyumbatan darah dan infeksi sistem syaraf, diduga akibat terjangkit bakteri Cronobacter sakazakii, atau yang dulu disebut dengan nama Enterobacter sakazakii.

Meskipun belum diketahui dari mana bakteri tersebut berasal, namun tercatat beberapa kasus kematian bayi akibat susu formula yang mengandung bakteri ini. Jika terjangkit bakteri sakazakii, tingkat kematian bayi mencapai 33 persen. WHO sebelumnya pernah menuliskan bahwa susu formula bukanlah produk steril dan mudah terkontaminasi.

Produsen Enfamil, Mead Johnson Nutrition Corp, membantah produknya mengandung bakteri sakazakii. Menurut juru bicara Mead Johnson, Chris Perille, susu formula telah menjalani tes komposisi dan terbukti tidak mengandung bakteri mematikan. “Kami sangat percaya dengan keamanan dan kualitas produk kami, berdasarkan pengujian ketat yang kami lakukan,” kata Perille.

Departemen Kesehatan Missouri bersama Mead Johnson kini tengah mencari tahu sumber infeksi yang diderita Cornett. Gena Terlizzi, salah satu penguji dari Departemen Kesehatan Missouri mengatakan sampai saat ini belum ditemukan bukti bahwa bakteri tersebut diperoleh dari susu formula. Namun, pengujian masih terus dilakukan dan kesimpulan akhir belum diperoleh.

Sebagai antisipasi, Mead Johnson juga mengirim surat kepada para pengecer produknya, Costco Wholesale Corp yang mengindikasikan bahwa produsen tak mengirim produk dengan kode produksi yang sedang diuji FDA. “Kejadian penyakit akibat Cronobacter sangat rendah dan dapat menyebabkan kondisi serius terutama pada bayi berisiko tinggi.”

Saham Mead Johnson jatuh
Walaupun penyebabnya belum ditemukan, kasus ini langsung berimbas pada perdagangan saham Mead Johnson. Seperti dikutip dari New York Times, Kamis 22 Desember 2011, saham Mead Johnson jatuh US$7,72 atau 11 persen menjadi US$68,76 pada penutupan perdagangan Kamis, 22 Desember. Menurut data Departemen Pertanian AS, produk Enfamil menyumbang 40 persen penjualan susu formula bayi di Amerika Serikat pada 2008.

Sedangkan penjualan susu formula bayi Enfamil menyumbang pendapatan sebesar US$1,6 miliar dari total penjualan Mead Johnson sebesar US$2,8 miliar selama sembilan bulan pertama 2011.

Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) menyatakan, selama bertahun-tahun menyelidiki kasus dugaan infeksi bakteri, pihaknya menemukan infeksi bakteri pada kemasan tabung susu formula yang belum dibuka terjadi pada tahun 2002.

Juru bicara FDA, Siobhan Delancey menyebut, bakteri sakazakii berada di  segalam macam lingkungan. Bayi prematur dan bayi berusia di bawah enam minggu paling rentan terinfeksi bakteri ini. Sebab sistem kekebalan tubuh bayi belum berkembang sempurna.

FDA juga menyarankan agar unit neonatal rumah sakit tidak menggunakan susu formula bubuk. “Susu formula bayi bukanlah produk komersial yang steril,” tulis lembaga ini dalam sebuah pernyataan pada 2002. Selain itu, disarankan juga untuk merebus air yang digunakan untuk menyiapkan susu formula guna mengurangi potensi kontaminasi bakteri. (eh)

• VIVAnews