RAMPOK, 2 WARGA PKU DAN 2 WARGA KAMPAR MERINGKUK DITAHANAN MAPOLRES INHIL

TEMBILAHAN (www.detikriau.org) – 4 orang pria tersangka spesialis perampok antar lintas provinsi berhasil diringkus jajaran kepolisian. Ke 4 tersangka diringkus melalui kerjasama dua jajaran polres, yakni Polres Inhil dan Polres Inhu.

4 kawanan rampok, Ms (32) dan Put (24) Warga Pekanbaru beserta dua orang rekannya warga Kampar, Mar (32) dan Af (35) melakukan aksi di Dusun Teluk Bagus Desa Bayas Jaya Kecamatan Kempas Kabupaten Indragiri Hilir, kamis (17/5) yang lalu.

Menurut pengakuan korban, Indra (43) Kronologis kejadian, pagi, sekira pukul 10.00 Wib, Ia bersama rekannya At Tiam (32) mengendarai mobil Isuzu Panther warna metalik hendak menuju ke kota Tembilahan. Setibanya di TKP,  tiba-tiba kendaraannya disalib oleh sebuah mobil Avanza.  Kemudian, 4 orang pelaku langsung turun dan menghampiri kendaraan yang dikemudikannya sambil berteriak mengancam.“Buka pintu, kalau tidak saya tembak,” Ujar Indra menirukan ucapan kawanan rampok.

arena merasa takut mendengar ancaman kawanan rampok, Indra bersama rekannya At Tiam pun membuka kaca pintu mobil. Saat itu,  Indra dan At Tiam tidak melihat 4 kawanan rampok itu memegang senjata api. Keberanian merekapun muncul. At Tiam langsung membuka pintu mobil sambil mendorong dengan keras dan langsung turun diikuti rekannya Indra. Begitu turun, perkelahianpun tidak terelakkan. Dalam perkelahian tidak berimbang itu, Indra dan At Tiam mendapatkan pukulan menggunakan kunci roda dibagian kepala. Karena merasa tak mampu memberikan perlawanan, begitu mendapat kesempatan, At Tiam langsung menyelamatkan diri menerobos perkebunan karet milik warga namun Indra berhasil diringkus kawanan rampok.

Setelah ia berhasil dilumpuhkan, Akui Indra, mulut sampai kebahagian hidung, mata, tangan dan kedua kakinya di plaster menggunakan lakban warna hitam oleh  kawanan rampok dan dibaringkan dikursi bagian belakang. Kemudian, mobil kawanan rampok dan mobil korban berbalik arah menuju ke kota rengat. “Karena mulut dan hidung saya juga di lakban saya sempat kesulitan untuk bernapas,”Tutur Indra.

Sekira perjalanan memakan waktu 10 menit. Indra merasakan mobil berhenti. Ia mendengar suara orang turun dan mengunci pintu mobil dan kemudian ia juga mendengar suara sebuah mobil mulai menjauh.

Menurut At Tiam, setelah berhasil menyelamatkan diri, ia langsung mencari kantor polisi dan menceritakan kejadian yang dialaminya. Mendapatkan laporan, polisi langsung melakukan koordinasi dengan kepolisian wilayah Inhu. Sekira pukul 11.15 Wib atau kurang lebih 1 jam setelah melakukan aksi perampokan, kepolisian polres Inhu berhasil meringkus ke empat kawanan pelaku di kota rengat.

“Setelah menerima laporan dari At Tiam, kita langsung melalui koordinasi dengan kepolisian polres Inhu dan tidak butuh waktu lama,  kawanan rampok berhasil diringkus,” Ujar Kapolres Inhil, AKBP Dedi Rahman Dayan, S.ik. M.Si melalui KBO Reskrim Polres Inhil, Iptu Faisal.

4 kawanan rampok kini ditahan di ruang tahanan Mapolres Inhil. Atas perbuatannya, TSK terbukti melanggar UU KUHP Pasal 365 dengan ancaman kurungan 9 tahun penjara.(Zo)




Harus Berantas Mafia Honorer


JAKARTA –  Terungkapnya adanya mafia hononer  di lembaga pemerintahan membuat anggota DPR angkat suara lagi.  Anggota Komisi II Abdul Malik Haramain, misalnya, langsung ikut bereaksi dengan mengatakan pendataan tenaga honorer kategori I dan II memang banyak manyisakan masalah.
”Pengaduan-pengaduan dari daerah itu benar adanya. Sebab, sesuai keputusan Panja Honorer Komisi II dengan Pemerintah/Kemenpan bahwa honorer dengan kategori I (K I) diangkat secara otomatis sebagai PNS, sementara kategori II (K II) diseleksi sesama K II,” katanya.

Masalahnya, kata Malik lagi, banyak tenaga honorer yang lolos di K I ternyata masuk di K II. Sementara yang bertanggung jawab terkait pendataan honorer adalah Badan Kepegawaian Daerah (BKD). ”BKD ini menghimpun data honorer dari satker/dinas di provinsi maupun kabupaten/kota,” ujar politisi muda asal PKB ini.

Untuk guru agama, lanjut pria yang akrab dipanggil Malik ini, di bawah koordinasi langsung Kemenag. Tidak beresnya pendataan menurutnya disebabkan oleh banyaknya manipulasi pendataan honorer di bawah. Terjadi kongkalikong antar pejabat di bawah.

“Petugas ditengarai tidak konsisten dengan adanya kategori-kategori, baik K I maupun K 2 yang sudah disepakati bersama, termasuk tahun pengangkatan honorer yang dibuat mundur. Saya minta Komisi II segera  memanggil dan mengevaluasi  Kemenpan dan BKN terkait dengan pendataan honorer,” pungkas dia.(jpnn)

 




Kemuning Direkomendasikan jadi Ibukota Kabupaten Insel

Tahapan pembentukan Kabupaten Indragiri Selatan atau Insel terus dilengkapi. Salah satunya adalah rekomendasi untuk Kemuning sebagai ibukota daerah yang dimekarkan dari Inhil tersebut.

PEKANBARU-Pemerintah Provinsi Riau mendukung Kecamatan Kemuning menjadi ibukota sementara untuk usulan Pemekaran Kabupaten Indragiri Selatan. Rekomendasi tersebut diperoleh berdasarkan hasil peninjauan tim dari Biro Tata Pemerintahan Setdaprov Riau.

‘’Ya memang kita sudah turun untuk melihat kondisi realitas di lapangan. Kita melihat Kemuning dapat menjadi ibukota sementara Indragiri Selatan,’’ ujar Kepala Biro Tata Pemerintahan Setdaprov Riau, M Guntur kepada wartawan belum lama ini di Pekanbaru.

Menurutnya, rekomendasi tersebut berjalan seiring dengan usulan Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir dalam kajian ilmiahnya. Kondisi tersebut diharapkan menjadi titik terang untuk progres pemekaran daerah tersebut.

‘’Yang paling terpenting itu sebenarnya infrastruktur. Makanya kita turun untuk melihat secara langsung,’’ imbuh Guntur.

Saat ditanyakan mengenai rekomendasi yang akan disampaikan kepada DPRD Riau, dia mengatakan hal tersebut segera diproses. ‘’Ya secepatnya akan kita ajukan. Karena, ketika sudah disetujui Gubri, berarti tidak ada kendala berarti lagi,’’ ulas mantan Birokrat Kota Pekanbaru itu.

Disinggung mengenai moratorium pemekaran daerah yang belum dicabut Kementerian Dalam Negeri RI, dia mengatakan hal tersebut pada dasarnya tidak menjadi kendala. Pasalnya, proses yang dilalui masih memerlukan pengesahan.

‘’Yang pasti saat ini, kita persiapkan dulu secara lengkap. Begitu celah pemekaran daerah dibuka, maka dapat segera diproses di tingkat Pusat,’’ terang alumni IPDN itu.(RPO/rtc)




SOLAR MELONJAK, NELAYAN MENJERIT

TEMBILAHAN (www.detikriau.org) – Kebijakan seenaknya pelaku bisnis minyak khususnya solar menyebabkan masyarakat menjerit. Peningkatan harga ini terutama sangat berpengaruh pada warga pesisir Kabupaten Indragiri Hilir yang sebahagian besar bermata  pencaharian sebagai nelayan. Mereka mengeluh, hasil perolehan tangkapan semakin tidak berimbang dengan biaya yang harus dikeluarkan.

“setiap kali turun melaut kita butuh sedikitnya Rp. 50 ribu hanya untuk beli solar. Belakangan ini, hasil tangkapan yang kita peroleh kadang-kadang untuk menutupi pengeluaran saja tidak berimbang. Tapi orang seperti kami mau kerja apa lagi. Kami hanya punya keahlian sebagai penangkap ikan,” Sebut Ardi, seorang Nelayan Desa Concong Luar Kecamatan Concong saat dikomfirmasi detikriau.org, jum’at   (18/5).

Menurut pengakuan nelayan berkulit gelap dengan perawakan kecil ini, setiap liter minyak solar yang diperolehnya harus ia tebus seharga Rp. 7.500. “Tolonglah perhatikan kami pak. Harga solar semakin mahal seperti ini akan membuat kehidupan kami semakin susah. Kami tak punya penghasilan lain selain sebagai nelayan,” Ungkapnya dengan suara serak diiringi tatapan mata letih.

Jaya, seorang nelayan Desa Sungai Bela Kecamatan Kuindra juga memberikan pernyataan yang hampir sama. Menurut pengakuannya, kenaikan harga kadang-kadang terpaksa membuat ia tidak mampu membiayai anak buahnya untuk  turun melaut.”Inilah kondisinya pak, kemaren beberapa hari saya terpaksa tidak bisa menurunkan anak buah untuk melaut karena tidak mampu membeli solar. Tapi tentunya tidak bisa berlama-lama karena memanang pekerjaan ini satu-satunya sumber penghasilan saya.” Ujar Jaya nelayan penampung kerang ini menuturkan kepada detikriau.org.

Menurut pengakuan jaya, setiap kali melaut, ia sedikitnya membutuhkan solar sebanyak 30 liter.”Setiap nelayan rata akan mendapatkan hasil 40 hingga 50 kg. kita beli seharga Rp. 2.500 per kilonya. Tapi seluruh biaya melaut, saya yang tanggung termasuk untuk pembelian minyak dan peralatan yang digunakan.”Akui Jaya. (fsl)




HARGA TERUS ANJLOK.PETANI KELAPA DI ENOK SEMAKIN KEHILANGAN HARAPAN

TEMBILAHAN (www.detikriau.org) – Masyarakat di Kecamatan Enok mengeluh. Pasalnya, harga produk unggulan perkebunan mereka, kopra, kembali mengalami keterpuruk. Kini, harga patokan hanya di bandrol Rp. 3000 per Kg.

Pernyataan ini disampaikan warga Kecamatan Enok, Edy Harianto. Menurut pengakuannya, dengan patokan harga itu, kopra kering 60 persen hanya dibeli dengan kisaran harga Rp. 1.600 hingga Rp. 1.800 per kg di pabrik. Sementara ditingkat pengepul, harga penjualan petani tentunya akan jauh berada dibawah angka itu.

“apa lagi yang bisa diharapkan petani kelapa. Buah jerih payah dari tetes demi tetes keringat mereka semakin hari semakin tidak mampu lagi memberikan kesejahteraan. Perawatan yang dilakukan selama tiga bulan ditambah proses pengolahan buah menjadi kopra seakan tiada dihargai. Lembaran rupiah yang diterima, jangankan untuk meraih impian, hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan perutpun petani terpaksa harus mengorbankan perawatan kebun.” Ujar Edy Sindrang panggilan akrab warga Kecamatan Enok yang juga menjabat sebagai anggota DPRD Inhil ini ketika menghubungi detikriau.org melalui sambungan telepon selularnya, jum’at (18/5)

Sampai hari ini, sindrang mengaku masih tidak mengerti. Setiap kali petani mempertanyakan penyebab anjloknya harga kopra, pihak perusahaan (PT. Sambu Group) selalu berdalih harga tergantung dari harga pasaran dunia. “Kasihan petani kita. Sudahlah kondisi perkebunan mereka semakin rusak akibat tidak terawat dan intrusi air laut kini harga jualpun ikut terpuruk,”Papar Sindrang sambil meminta agar persoalan ini mendapatkan perhatian serius dari pemerintah kabupaten. (fsl)




Walian Sempat Naik Pitam. Sebut Tebus Solar di APMS Tembilahan Sudah diatas HET.

TEMBILAHAN (www.detikriau.org) – H. Walian, salah seorang pemilik pangkalan BBM di Desa Concong Luar Kecamatan Concong membenarkan ia melakukan penjualan Solar dengan harga tinggi, Hal ini menurutnya terpaksa ia lakukan karena penjualan yang ia lakukan tidak secara tunai serta pembelian solar di AMPS Tembilahan diakuinya sudah diatas HET.

Dalam dialog yang sempat direkam detikriau.org saat disambangi rombongan di kediamannya Desa Concong Luar, H. Walian menyebutkan bahwa penjualan Solar dipangkalan miliknya kepada masyarakat dilakukan dengan tidak tunai.”Hampir semua masyarakat membeli dengan berhutang kepada saya. Untuk ini saya memang tetapkan harga tinggi. Kami jual Rp. 7.000 dan kalau eceran kami jual harga Rp. 6000,” Ujar H. Walian dengan kalimat yang tidak teratur dan bernada tinggi saat memberikan penjelasan kepada rombongan Komisi II dan Disperindag Inhil saat disambangi di kediamannya. Jum’at (18/5).

Padahal dari pengakuan masyarakat Concong Luar yang diterima Komisi II DPRD Inhil termasuk pengakuan salah seorang pemilik pangkalan lainnya, dikatakan H. Walian memasarkan Solar dengan harga Rp. 8000 per liter.”Itu Walian naikan harga sepihak. Kita jual Rp. 7 ribu, Walian jual Rp. 8.000. Banyak masyarakat mengeluhkan hal ini.”Ujar sumber.

Yang lebih mengherankan, saat dijelaskan oleh Sekretaris Komisi II DPRD Inhil, Herwanisitas bahwa HET untuk Kecamatan Concong Rp. 5.100 per liternya, H. Walian spontan menjawab bahwa ia menebus Solar di APMS Tembilahan sudah diatas HET.”Kita menebus Solar di Tembilahan dengan harga Rp. 5.400 per liter diluar biaya transport dan itu belum termasuk kalau kita membeli minyak tembak (tanpa menjelaskan dengan rinci pengertian minyak tembak. Red), harganya sudah jauh diatas itu. Kita sudah beli tinggi jadi kita mau bagaimana lagi,” Tambah H Waliyan yang mengaku sudah berdagang minyak selama 28 tahun ini.

Ketika kembali dipertanyakan Komisi II tentang jatah solar yang diterima H. waliyan perbulan, ia mengatakan tidak mengetahui secara pasti. Ketika kembali didesak Komisi II sambil mengatakan akan mempertanyakan hal ini ke AMPS di Tembilahan, Istri H. Waliyan yang saat itu ikut mendampingi mengakui bahwa ia mendapatkan jatah pasokan solar sebanyak 30 Ton per bulannya.

Saat itu, H. Waliyan juga menyampaikan kritikan. Menurut pengakuannya, dari tiga pemilik pangkalan di Desa Concong Luar, selain dirinya masih ada pangkalan milik. H. Asmawi dan Dahlia.”Dahlia itu tembak diatas kuda, bongkar di Tembilahan atas nama Dahlia sampai Concong atas nama Siti. Dia tidak pernah menjual kepada masyarakat. Jadi wajar saja saya kadang-kadang juga tidak mau jual ke masyarakat lain karena saya hanya menjual kepada langganan saya”Ujarnya menyampaikan kritikan masih dengan nada suara tinggi.(fsl).