DISBUN INHIL REMAJAKAN 850 HA KEBUN KELAPA

TEMBILAHAN (www.detikriau.org) – Tahun 2012 ini, Dinas Perkebunan Kabupaten Indragiri Hilir melaksanakan program peremajaan kelapa dalam seluas 850 Ha yang didanai melalui pendanaan APBN, APBD Provinsi Riau dan APBD Kab. Inhil.

Pernyataan ini disampaikan Kadisbun Inhil, Kuswari baru-baru ini kepada wartawan di Tembilahan.”Benar, dari 850 hektar itu, 550 Ha didanai melalui APBN, 200 Ha melalui APBD Provinsi Riau dan sisanya seluas 100 Ha di danai melalui APBD Kab. Inhil. Untuk mendukung kegiatan ini, Disbun melakukan pembekalan SDM kepada petani kelapa dalam bentuk pelatihan.” Jelas Kadisbun.

Pelatihan ini menurut Kadisbun Inhil dibantu oleh 12 orang fasilitator daerah Riau (Fasdariau) yang merupakan Gabungan dari Dinas Perkebunan, Penyuluhan, Pihak perusahaan dan Pemuka masyarakat. Pelatihan akan diberikan kepada 550 petani kelapa yang tersebar di 6 Kecamatan yakni, Kecamatan Enok, Kempas, Tempuling, GAS, Reteh dan Mandah. Pelatihan akan diberikan mulai bulan Juni 2012 yang dibantu oleh 15 orang tenaga dari Fasda Riau, dan 5 orang tenaga dari Kab. Inhil.

“Setelah dilakukan pelatihan, kegiatan selanjutnya adalah melakukan monitoring dan pengawasan terhadap program pemerintah Kab. Inhil dibantu Pemprov Riau dan Pusat yang semuanya ditujuannya untuk menuntaskan kemiskinan dan memberikan kesejahteraan kepada petani. Kalau ini berhasil, kedepannya peremajaan perkebuan kelapa akan terus kita tingkatkan lagi,” Ujar Kadisbun.

Peremajaan kelapa ini akan dilakukan di Kecamatan Enok seluas 290 Ha dengan rincian , Desa Pusaran seluas 100 Ha, Desa Jaya Bhakti 50 Ha, Desa Simpang Tiga 100 Ha, Pengalihan 40 Ha. Kecamatan Mandah dengan pembagian, Desa Bente seluas 30 Ha, Desa batang Tumu 30 Ha dan Pulau Cawan seluas 40 Ha.
Selanjutnya, Kecamatan GAS dengan pembagian, Desa Teluk Pinang 25 Ha, Desa Sungai Empat 50 Ha dan Desa Idaman seluas 50 Ha. Kemudian, Kecamatan Reteh, Desa Pulau Kijang seluas 50 Ha dan Pulau Ruku seluas 50 Ha. Untuk Kecamatan Kempas tersebar di Desa Sungai Ara seluas 25 Ha dan Sungai Gantang seluas 50 Ha dan terakhir di Kecamatan Tempuling Desa Sungai Salak seluas  60 Ha.(dro/***)




KH. Ahmad Fahmi Zamzami Al Banjari Letakkan Batu Pertama Pendirian ponpes “Yasin” Cabang Tembilahan

TEMBILAHAN (www.detikriau.org) – Pimpinan pondok pesantren (Ponpes)“Yasin” Yayasan Nurul Islam, Kabupaten Banjar Baru Provinsi Kalimantan selatan, KH. Ahmad Fahmi Zamzami Al Banjari, melakukan peletakan batu pertama pembangunan Pondok Pesantren “Yasin” cabang Tembilahan yang berlokasi di Jalan Suhada II, Dusun Suhada, Parit VII Kelurahan Pekan Arba Kecamatan Tembilahan.  Juni 2013 mendatang ditargetkan Ponpes “Yasin” Cabang Tembilahan ini sudah bisa melakukan penerimaan santri baru. Rabu (20/6).

Menurut penjelasan KH. Ahmad Fahmi Zamzami Al Banjari, manusia dicipatakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dari tiada memiliki kemampuan dan kepandaian apa-apa. Oleh karenanya diperlukan proses pembelajaran untuk membekali seorang manusia untuk meniti jalan kehidupan di dunia yang akan menjadi bekal dialam akhirat kelak.

Kehidupan seorang manusia, khususnya bagi umat islam ditambahkan oleh sang kyai yang memiliki pandangan mata teduh ini, saat seorang umat manusia meninggalkan dunia fana, segala amal perbuatannya akan terputus kecuali tiga hal, yakni, Ilmu Agama yang bermanfaat, Anak sholeh yang selalu mendoakan kedua orang tuanya dan sedekah jariyah.

“Ilmu pengetahuan Agama tentang hal ini, tentunya harus didapatkan dengan proses pembelajaran. Proses pembelajaran agama itu, khususnya agama islam sejak dahulu kala dilakukan oleh penyiar agama islam melalui pondok-pondok pesantren. Semakin banyak berdirinya pesantren semakin mudah bagi umat islam untuk memberikan pembekalan ilmu agama kepada anak-anak mereka.” Ujar Sang Kyai.

Ditambahkan oleh sang Kyai yang mengaku sempat menimba ilmu pendidikan agama di Pondok Pesantren Negara India dan beberapa Negara Timur tengah ini, menyatakan bahwa sejarah telah membuktikan bahwa Ponpes selama ini menjadi benteng terkokoh bagi umat islam.

”Saat ini, umat islam sedang menghadapi tantangan luar biasa untuk menggoncang akidah dari berbagai sisi. Islam digugat, islam diganggu dan islam juga ditantang dari berbagai sisi. Oleh karenanya, umat islam sangat perlu memiliki benteng-benteng yang kokoh untuk menanamkan keteguhan akidah keislaman. Kenyataan seperti ini tentunya perlu mendapatkan dukungan dari semua umat islam secara sungguh-sungguh. Wujud nyatanya, kita harus memperbanyak berdirinya pondok-pondok pesantren untuk memberikan penanaman akidah keislaman kepada generasi penerus islam agar tujuan islam untuk meraih penghidupan yang mendapat ridho dari allah swt dialam akhirat kelak tidak tergoyahkan.,” Pesan sang Kyai.

Peletakan batu pertama pembangunan Ponpes “Yasin” Cabang Tembilahan ini juga tampak dihadiri oleh Camat Tembilahan yang diwakili oleh H. Irham, Lurah Pekan Arba, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat dan ratusan warga Desa Suhada.

H. Adriyanto, tokoh masyarakat yang ikut menghadiri acara peletakan batu pertama ini menyatakan bahwa pembangunan Ponpes ini didanai secara swadaya oleh masyarakat. Namun, tokoh masyarakat yang juga Anggota DPRD Inhil dari Fraksi Partai Bintang Reformasi ini berharap pihak Pemerintah juga memberikan perhatian yang adil kepada seluruh Ponpes.

“Pondok pesantren di Teluk Sungka saya nilai mendapat perhatian cukup istimewa dari pemerintah. Baik pemerintah Provinsi juga Kabupaten Inhil. Demi membuminya benteng-benteng islam, secara pribadi tentunya saya juga berharap ada sikap arief dan adil dari pemerintah kepada seluruh Ponpes-Ponpes yang lainnya. Jangan nantinya malah timbul kesan ada pilih kasih. Membangun benteng islam adalah tanggungjawab bersama seluruh umat islam dan tentunya harus dilakukan dengan sikap sungguh-sungguh.” Pesan H. Adriyanto. (fsl)




CURAS, KORBAN ALAMI KERUGIAN 27 JUTA RUPIAH

TEMBILAHAN (www.detikriau.org) – Tindak pidana pencurian dengan kekerasan (Curas) kembali terjadi. Kali ini korbannya dialami oleh seorang Ibu dan anak gadisnya warga Parit Ban 3 Dusun Mendahara Desa Belaras Kecamatan Mandah. Akibat tindakan Curas ini, Korban mengalami kerugian lebih kurang Rp. 27 juta.

Menurut penjelasan Kapolres Inhil, AKBP Dedi Rahman Dayan SIK, M.Si melalui Paur Humas Ipda Agus Sihombing kepada detikriau.org, rabu (20/6), kronologis kejadian bermula saat Maisaroh Binti Zaini (45) dan Putrinya, Habibah binti Mualim (22) hendak beranjak tidur.

Tiba-tiba, entah dari mana, dua orang pelaku langsung menerobos masuk ke kamar tidurnya dan mengancam dengan mempergunakan sebilah kayu dan senjata tajam jenis kampak sambil membentak agar korban menyerahkan harta benda miliknya.

“Karena merasa ketakutan, apalagi saat itu diketahuinya anak gadisnya juga sudah dalam ancaman 3 orang pelaku curas lainnya, korban menyerahkan saja uang tunai miliknya senilai Rp. 11 juta rupiah termasuk perhiasan emas sebanyak 10 mayam.” Jelas Paur Humas.

Menurut penjelasan Kapolsek Mandah, AKP Asmar, Kejadian tindak pidana curas ini baru dilaporkan korban pada selasa (19/6). Setelah menerima laporan, beberapa arong anggota langsung diturunkan untuk melakukan identifikasi ke lokasi kejadian.”saat ini kita masih melakukan pengembangan dan mengumpulkan keterangan saksi korban untuk mengungkap siapa kawanan pelaku. Dari keterangan korban, kita ketahui pelaku berjumlah 5 orang.” Jelas AKP Asmar kepada wartawan melalui telepon, Rabu (20/6). (fsl)




KASUS PEMBUNUHAN WARIA. POLISI AKUI SUDAH KANTONGI NAMA

TEMBILAHAN (www.detikriau.org) – Kasus pembunuhan yang menewaskan seorang waria, Selasa (5/6/2012) yang lalu mulai menunjukkan titik terang. Pihak kepolisian Polres Inhil mengaku sudah mengantongi nama pelaku dan sekarang dalam pengejaran.

Pernyataan ini disampaikan Kapolres Inhil, AKBP Dedi Rahman Dayan, SIK melalui Kasad Reskrim, AKP Edy Munawar kepada detikriau.org, Rabu (20/6).”Kasus masih lidik tapi pelaku sudah kita ketahui, sekarang masih kita buru,” Tulis Kasad Reskrim melalui pesan singkat.

Sebelumnya, Peristiwa  menggenaskan yang menewaskan Amat (30) seorang warga Tembilahan diketahui polisi dari laporan seorang warga yang bernama Maya. Menurut keterangan pemilik WS Ponsel dilantai satu Gemilang Plaza jalan Jendral Sudirman Tembilahan ini, saat akan membuka kios usahanya sekira pukul 7.00 Wib, ia menemukan sesosok tubuh terbaring didepan kios. Ketika diamati, waria yang terbaring bak orang tidur ini ternyata sudah tidak bernyawa.

Dari informasi yang diterima kepolisian, malam kejadian, sekira pukul 02.00 Wib dinihari, Korban diketahui sedang minum-minum dengan 4 orang yang diduga kenalannya yang berinisial, I, y, jm dan ij. Keempat orang ini di duga mengetahui apa yang terjadi di malam yang menewaskan Amat.

Hasanuddin, Kepala Desa Sungai Bela Kecamatan Kuindra, saudara sepupu korban saat itu berharap agar pihak kepolisian dapat mengusut tuntas kasus ini.(fsl)




Kebakaran Mesin Sewa PLN Rayon Tembilahan, Jalanan Macet

TEMBILAHAN (www.detikriau.org) — Kebakaran yang menghanguskan 2 unit mesin sewa PLN Rayon Tembilahan, Selasa (19/6) cukup menyita perhatian masyarakat. Dalam kejadian itu, seratusan meter lebih jalan provinsi Parit IV Kecamatan Tembilahan Hulu itu sempat macet.

Sambaran lidah api, kepulan asap menghitam dan serine yang keluar dari mobil pemadam kebakaran tampaknya menjadi perhatian tersendiri bagi masyarakat. mereka berduyun-duyun mendatangi lokasi kejadian bahkan sebahagian rela berjalan kaki sambil berlari-lari kecil. Badan jalan di depan Mesin pembangkit listrik tenaga disel PLN Rayon Tembilahan itu akhirnya penuh sesak dijubeli ratusan warga termasuk kendaraan roda dua maupun roda empat.

“Cuman penasaran aja bang pingin lihat secara langsung kejadiannya,”Ungkap Ujang warga Kecamatan Tembilahan Hulu kepada detikriau.org. (Am)




Wamendikbud : Malaysia Tujuh Kali Klaim Budaya Indonesia

Keterangan Tertulis Pihak Malaysia Keluar Hari Ini

JAKARTA – Pemerintah masih bersabar menunggu klarifikasi pihak Malaysia terkait polemik klaim dua tarian asal Sumatera Utara. Rencananya, klarifikasi Malaysia keluar dalam bentuk tertulis hari ini. Pemerintah tidak bisa mendiamkan urusan ini karena dalam kurun 2007-2012 negeri jiran itu sudah tujuh kali mengklaim budaya Indonesia

Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud) Bidang Kebudayaan Windu Nuryanti mengatakan, catatan pertama klaim Malaysia terhadap kebudayaan Indonesia muncul apda November 2007. Saat itu Malaysia mengklaim kesenian Reog Ponorogo menjadi warisan budaya mereka.

Setelah klaim Reog Ponorogo redam, muncul lagi klaim Malaysia atas kebudayaan Indoensia pada Desember 2008. Saat itu pihak Malaysia mengklaim lagu Rasa Sayange. “Kemudian pada Januari 2009 mereka mengklaim batik,” timpal Windu kemarin (19/6).

Masih di periode 2009, tepatnya pada Agustus pihak Malaysia kembali mengklaim kebudayaan Indonesia. Kali ini giliran tari Pendet yang mereka klaim. Tari asal pulau Bali itu sempat muncul dalam iklan pariwisata Malaysia. Selanjutnya pada Maret 2010 pihak Malaysia mengklaim Angklung.

Catatan Windu menyebutkan Malaysia ternyata tidak hanya mengklaim budaya dalam bentuk kesenian saja. Lebih dari itu, Malaysia juga pernah mengklaim beras Adan Krayan asli Nunukan, Kalimantan Timur. Beras organik ini sempat dijual di Malaysia dengan merek Bario Rice. “Lalu klaim yang terbaru adalah tari Tor Tor dan Gordang Sambilan,” kata Windu.

Dia menuturkan dari informasi sementara dengan pihak Malaysia menyebutkan bahwa negeri jiran itu tidak mengklai tari Tor Tor dan Gordang Sambilan. Pihak Malaysia menyatakan bahwa mereka hanya mencatat dua kebudayaan itu saja.

Windu tidak bisa membiarkan polemik ini terus menggelinding di masyarakat Indonesia. Untuk itu, dia akan meminta keterangan secara tertulis terkait pernyataan Malaysia yang hanya mencatat dua tarian asal Indonesia itu. Rencananya, keterangan tertulis dari pihak Malaysia ini akan dilayangkan ke Kemendikbud hari ini.

“Maksud mereka mencatat itu dalam kategori apa,” tandas Windu. Apakah hanya dicatat dalam buku kebudayaan mereka atau sampai dicatatkan dalam UNESCO sebagai warisan kebudayaan Malaysia. Dia meminta masyarakat bersabar hingga keluar pernyataan resmi dari pihak Malaysia. Upaya ini dilakukan Kemendikbud bersama dengan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu).

Untuk sementara pihak Kemenlu juga mengumpulkan informasi dari Malaysia terkait polemik klaim dua tarian ini. Informasi sementara menyebutkan bahwa di Malaysia ada komunitas Mandailing yang terdiri dari warga negara setempat. Kominitas ini meminta pemerintah Malaysia untuk melindungi kebudayaan mereka. Termasuk kebudayaan tari Tor Tor dan Gordang Sambilan yang lahir di Mandailing.

Nah, untuk mewujudkan permintaan komunitas Mandailing tadi, pemerintah Malaysia lantas mencatat tari Tor Tor dan Gordang Sambilan dalam daftar kebudayaan mereka.(jpnn)