Kondisi Jalan Pendidikan semakin Parah, Kontraktor Cuek Bebek

Terlihat truk pengangkut material proyek lalu lalang semakin membuat kondisi ruas jalan pendidikan bak kubangan sapi
Terlihat truk pengangkut material proyek lalu lalang semakin membuat kondisi ruas jalan pendidikan bak kubangan sapi

TEMBILAHAN (www.detikriau.org) – Warga jalan Pendidikan terus mengeluhkan kondisi kerusakan jalan. Sejak dimulainya pembangunan dua proyek multiyears, jalan itu tidak pernah lagi dirasakan warga dalam kondisi bagus.

“di beberapa media, rekanan kontraktor pernah menjanjikan untuk segera melakukan penimbunan badan jalan menjelang perbaikan secara menyeluruh setelah berakhirnya masa kerja. Namun setelah hampir satu bulan berlalu, janji itu terkesan bualan kosong. kalaupun ada penimbunan, hanya sebahagian kecil dari total kerusakan ruas jalan.” Keluh Iwan seorang warga Jalan pendidikan kepada detikriau.org di Tembilahan, jum’at (8/2)

ultah ke 5 029

tumpukan pecahan material bangunan yang dipergunakan kontraktor melakukan penimbunan sebahagian kecil badan jalan pendidikan
tumpukan pecahan material bangunan yang dipergunakan kontraktor melakukan penimbunan sebahagian kecil badan jalan pendidikan

Dirasakan Iwan, kerusakan jalan itu semakin hari semakin parah, apalagi jika diguyur hujan. Air yang menggenang di lobang tak ubahya seperti kubangan kerbau. Ia mengakui baru saja memasang kayu yang dibentuk mirip steiger didepan rumahnya. Aksi itu dia lakukan sebagai bentuk protes atas kerusakana jalan disekitar kediamanya. “Ini bentuk protes saya.”Ungkapnya.

Saat ini, berdasarkan pantauan dilapangan, kondisi jalan pendidikan sangat memprihatinkan dan membahayakan pengguna jalan. Genangan air berwarna coklat menghiasai hampir seluruh badan jalan. Beberapa kendaraan pengangkut matrial proyek seperti batu, pasir dan besi terlihat melintas perlahan melahap lubang yang beragam ukuranya itu.

Penimbunan badan jalan yang pernah dijanjikan General Manajer Proyek pembangunan Universitas Islam Indragiri (Unisi) Tembilahan, PT Jaya Kontruksi Mandala Pratama Total Bangun Persada KSO, Arif, memang baru terlihat hingga didepan Kantor BPMPD Inhil dan itupun hanya beberapa tumpukan kecil pecahan material bangunan.(dro/*1)

Kontraktor Proyek Multiyears Janjikan Segera lakukan Penimbunan Jalan Pendidikan




Awalnya Nelayan Menduga DKP Tidak Berpihak, Pertemuan Sempat Memanas

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Inhil, H Saripek (baju kuning berpeci) didamping dua orang staff dan Kepala Desa Sungai Bela, Hasanudin  (baju coklat) sempat berbincang-bincang usai pertemuan dengan nelayan rawai.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Inhil, H Saripek (baju kuning berpeci) didamping dua orang staff dan Kepala Desa Sungai Bela, Hasanudin (baju coklat) sempat berbincang-bincang usai pertemuan dengan nelayan rawai.

TEMBILAHAN (www.detikriau.org) – Pertemuan puluhan nelayan rawai dengan DKP Inhil hampir saja memanas. Pada awalnya, nelayan menduga DKP terkesan tidak berpihak atas nasib yang mereka alami.

Dalam penjelasannya, H Saripek membenarkan bahwa Pemkab Inhil telah  mengeluarkan izin operasi kepada 10 kapal nelayan andon asal tanjung balai karimun provinsi Kepulauan Riau. Sesuai ketentuan, nelayan andon yang diberikan izin beroperasi di Perairan Kabupaten Indragiri Hilir ini melakukan aktifitas diareal perairan diatas 4 mil.

“Setiap warga Negara RI berhak untuk melakukan aktivitas dimanapun di perairan seluruh wilayah republik ini. Namun tentunya ada aturan-aturan yang harus dipatuhi. termasuk 10 nelayan andon yang diberikan izin untuk beroperasional diperairan Inhil dan mereka hanya dibenarkan melakukan aktifitas diatas 4 mil,” Jelas Saripek.

Dalam kesempatan itu, H Saripek juga sempat menyampaikan bahwa setiap nelayan wajib untuk mendatakan dirinya ke Dinas Perikanan setempat dan akan diberikan kartu identitas nelayan. Jika ini tidak dilakukan, DKP tidak akan mampu berbuat banyak jika terjadi hal-hal yang merugikan. Termasuk kejadian yang seperti yang dialami nelayan rawai saat ini.

Mendengar penjelasan ini, suasana pertemuan tampak memanas. Dari penjelasan tersebut, nelayan rawai desa sungai bela yang mengaku tidak pernah mendaftar sebagai nelayan menduga DKP tidak berpihak kepada kesusahan mereka. Bahkan beberapa orang nelayan sempat berdiri dan bergerak untuk meninggalkan ruang pertemuan sambil mengancam akan mengambil tindakan sendiri atas aktifitas nelayan andon yang dinilai telah merugikan mereka.

Namun setelah diberikan pengertian, nelayan rawai yang pada mulanya terlihat emosi mulai mereda. Mereka bersedia kembali keruang pertemuan.

Dilanjutkan H Saripek, apa yang dipaparkannya adalah aturan yang harus dipatuhi oleh setiap warga Negara yang berpropfesi sebagai nelayan dan ini wajib untuk diberikan penjelasan. Kesediaan dirinya hadir ditengah-tengah nelayan sebagai bukti kepedulian DKP. Apa yang disampikannya tersebut kedepan dimintanya harus dipenuhi oleh nelayan yang hari ini belum terdaftar untuk mengantisipasi kejadian serupa dikemudian hari dan diangguki kepala oleh puluhan nelayan rawai sebagai tanda persetujuan.

“Kedepan, jika menemukan nelayan andon melakukan aktivitas dibawah 4 mil. Silahkan tangkap dan laporkan ke DKP. Kita akan berikan tindakan tegas. kalau perlu kita akan cabut izin operasional mereka.” Tegas H Saripek. (dro/*0)




Diduga Akibat Aktifitas Nelayan Andon, 19 Nelayan Rawai Sungai Bela Kehilangan Alat Tangkap.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Inhil, H Saripek (baju kuning berpeci) saat memberikan penjelasan kepada nelayan dalam pertemuan di Kantor Kepala Desa Sungai Bela
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Inhil, H Saripek (baju kuning berpeci) saat memberikan penjelasan kepada nelayan dalam pertemuan di Kantor Kepala Desa Sungai Bela

TEMBILAHAN ( www.detikriau.org ) – Puluhan Nelayan Rawai Desa Sungai Bela Kecamatan Kuindra kini tidak lagi bisa melaut. Pasalnya, alat tangkap yang menjadi sandaran mata pencaharian hidup mereka rusak dan sebahagian besar sudah hilang. Mereka menduga, kerusakan ini disebabkan aktifitas nelayan andon asal tanjung Balai Karimun Provinsi Kepulauan Riau.

Hal ini disampaikan puluhan Nelayan Rawai saat digelar pertemuan dengan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Indragiri Hilir, H Saripek, bertempat di Kantor Kepala Desa Sungai Bela, Kamis (8/2) sore.

Dikisahkan mereka, selasa (4/2) malam, 19 nelayan rawai menebar alat tangkap diperairan Tanjung Bakung, Kecamatan Kuindra. Pagi esok harinya ketika akan melihat hasil tangkapan, mereka menemukan peralatan jaring rawai mereka sudah tidak lagi berada di tempatnya. Yang tersisa hanyalah sebahagian kecil dan sudah dalam kondisi rusak.

Puluhan nelayan rawai Desa Sungai Bela saat mengikuti pertemua di kantor kepala desa.
Puluhan nelayan rawai Desa Sungai Bela saat mengikuti pertemua di kantor kepala desa.

“Semua hilang, bahkan pelampung jaring rawaipun sudah tidak ada lagi. Yang tersisa hanya sebahagian kecil dan itupun sudah terputus-putus. Kami menduga kerusakan ini disebabkan aktifitas nelayanan andon asal tanjung balai yang memang kerab beroperasi diperairan ini,” Ungkap Zailani salah seorang nelayan.

Sebagai bukti untuk memperkuat dugaan biang kerusakan tersebut, nelayan juga mengaku menemukan sobekan jaring ikan yang tersangkut disisa-sisa alat tangkap rawai. Mereka meminta Pemkab Inhil melalui DKP untuk menuntut ganti rugi yang kini mereka alami.

Menyikapi permintaan nelayan rawai Desa Sungai Bela, dalam pertemuan yang juga dihadiri Kades Sungai Bela, Hasanuddin, Anggota DPRD dari Dapil setempat, Herwanissitas, Kapolpos, Babinsa, Nelayan rawai dan puluhan masyarakat Desa sungai bela ini, Kadis KP Inhil, H Saripek menyatakan kesediaan untuk memperjuangkan tuntutan para nelayan rawai.

“Saya minta semua nelayan yang mengalami kerugian untuk di data. Termasuk tentunya bukti kerusakan. Insyallah kita akan perjuangkan.” Ucap H Saripek.

Berdasarkan laporan, 19 orang nelayan rawai Desa Sungai Bela diperkirakan mengalami kerugian masing-masing sebesar kurang lebih Rp. 2 jt.(dro/*0).




Bupati: Membangun SDM Bukan Perkara Mudah

Bupati: Membangun SDM Bukan Perkara Muda
Bupati: Membangun SDM Bukan Perkara Muda

Tembilahan (www.detikriau.org)  – Pembangunan bidang sumber daya manusia dinyatakan tak semudah membalik telapak tangan serta secara instan terlihat hasilnya.
Selain membutuhkan keseriusan dan dukungan semua pihak. Hasilnya baru dapat dirasakan beberapa tahun ke depan. Pasalnya, apa yang dibangun itu objeknya manusia yang mempunya pikiran serta perasaan.
Jika ada pihak yang mengkritik, hal itu dianggap Bupati Inhil DR H Indra Muchlis Adnan sebagai cambuk agar kebijakan peningkatan kualitas SDM Inhil terus berlanjut.
Membangun gedung dalam hitungan bulan  sudah terlihat hasilnya. Berbeda dengan membangun SDM. Program Wajib Belajar  12 Tahun, Pendidikan Bersubsidi, Satu Rumah Satu Sarjana ditegaskan tidak bisa didapat hasilnya dalam hitungan hari.
“Daerah kita membutuhkan SDM yang handal. Karena itu, dengan segala cara harus ditingkatkan kualitas SDM ini. Untuk mencapai itu semua butuh waktu dan tidak semudah membalik telapak tangan” jelas Bupati.
Sesuai dengan harapan awal, SDM yang berkualitas itu sangat dibutuhkan untuk mengisi semua peluang yang ada. Juga demi memberikan kesempatan kepada warga daerah ini mampu memainkan peran di tanah kelahirannya sendiri.
Kemiskinan pun erat kaitannya dengan rendahnya kualitas SDM. Predikat Inhil sebagai Kabupaten miskin menurut Bupati tidak boleh menyurutkan semangat memberantas kemiskinan dan meningkatkan kualitas SDM daerah ini.
“Beberapa daerah di Pulau Jawa sukses membangun daerahnya karena memiliki kualitas SDM handal. Kita mesti mengambil pelajaran dari kondisi itu”tegas Bupati.
Meski daerah ini tidak memiliki SDA yang berlimpah. Apabila SDM nya handal, Indra Muchlis Adnan menyebut Inhil bakal berjalan terdepan. Untuk mengolah SDA membutuhkan SDM yang mumpuni. Itu sebabnya Bumi Sri Gemilang ditegaskan terus berusaha menciptakan cara meningkatkan kualitas SDM itu supaya bisa berjalan di depan.




Tabib ditemukan Mengapung di Sungai Indragiri

indexTEMBILAHAN (www.detikriau.org)  – Asmunni alias Alang (48) warga jalan Pangeran Hidayat, Parit 14 Kelurahan Tembilahan Hilir, Kecamatan Tembilahan, ditemukan meninggal dunia di perairan Sungai Indragiri, tidak jauh dari rumahnya, Kamis (7/2) sekitar pukul 14.30 WIB.

Dalam keseharianya bapak beranak dua ini merupakan tulang punggung keluarga. Semasa hidupnya, almarhum berprosesi sebagai tukang obat tradisional (tabib). Dimana  pasiennya tidak hanya berasal dari sekitar Tembilahan, melainkan juga berasal dari berbagai daerah seperti Rengat dan Pekanbaru.

Menurut penuturan warga setempat, sebelum meninggal, sekitar pukul 11.30 WIB, Almarhum turun dari rumah hendak pergi mandi ke lorong Setuju, yang tidak jauh dari rumahnya. Mandi siang hari, merupakan hal rutin yang ia lakukan. Setidaknya, kata warga setempat dalam satu hari Almarhum bisa melakukan hal itu dua hingga tiga kali.

Pada hari itu Almarhum, pergi mandi cukup lama hingga berjam-jam. Padahal biasanya, tidak sampia 15 menit, Almarhum sudah kembali kerumah dan menjalankan ibadah sholat dzuhur. Kecurigaan semakin kuat, setelah anak bungsunya medatangi tempat biasa ia mandi. Disana hanya didapati perelengkapan mandi, seperti sabun dan sehelai handuk.

Setelah dipanggil beberpa kali tidak ada jawaban dari yang bersangkutan, akhirnya anak bungsu Almarhum memanggil keluarga dan para tetangga sekitar. Tanpa komando, warga langsung membantu mencari Alang. Sekita 3 jam, akhirnya Alang ditemukan tidak jauh dari sekitar tempat pemandianya, dengan kondisi sudah tidak bernyawa.

“Memang biasa pak Alang mandi di tempat itu. Sehari bisa dua hingga tiga kali. Kami sangat terkejut mendengar peristiwa ini. Padahal semassa hidupnya Almarhum suka membantu orang,” kata Rita, tetangga Almarhum.

Sewaktu hidupnya, Almarhum dikabarkan pernah mengidap penyakit ayan dan sesak nafas. Mungkin saja, saat berada didalam sungai penyakit tersebut kambuh. Senanda, Ketua RT 06 RW 07, Edycandra Hat. Menurut dia, Almarhum memilki jiwa sosial yang sangat bagus. Gampang bergaul dan mudah membantu, saat ini warga sekitar merasa sangat kehilangan.

“Kayaknya disini sudah menjadi hal biasa. Hampir setiap tahun anngota keluarga masyarakat sini yang terjatuh dan meninggal di Sungai Indragiri,”cerita Edycandra.

Dulunya, kata Edycandra, banyak orang tua-tua melakukan ritual sesembahan di Sungai Indragiri. Namun setelah para orang tua itu meninggal, ritual tersebut tidak pernah dilakukan lagi. Sehingga, korbanya beralih menjadi manusia. “Saya engak percaya, tapi inilah faktanya,”tukas Ketua RT 06 tersebut.

Sementara itu, Kapolres Inhil, AKBP Dedi Rahman Dayan, SIK,M.Si saat dihubungi melalui Paur Humas Polres Inhil, Ipda Warno, mengaku belum menerima informasi itu. Mungkin saja, menurut dia pihak keluarga tidak melaporkan masalah ini kepada pihak Kepolisian. “Kita belum dapat infonya,”ungkap Warno singkat.

Saat berita ini dirilis, Jasad korban sedang disemayamkan di rumah duka. Terlihat para keluarga shok dan menangis. Lantunan ayat yasin, dibacakan silih berganti dari keluarga dan warga yang datang melayat.(dro/*1)




Aksi Brutal Armando Gasper Pinto Hanya Berlatarbelakang Cemburu

indexTEMBILAHAN (www.detikriau.org) – Aksi brutal yang dilakukan Armando Gasper Pinto (28) terhadap Istrinya Sarjit Kaur alias Deby (40) ternyata hanya dilatarbelakangi “Cemburu”.

Pernyataan ini disampaikan Wanita kelahiran Medan Provinsi Sumatra Utara ini ketika ditemui diruang perawatan RSUD PH. Menurutnya, lebih kurang 30 menit sebelum peristiwa naas itu terjadi, dirinya sempat terlibat pertengkaran dengan Suami keduanya itu dalam percakapan melalui sambungan telepon selular.

“Dalam percakapan itu, ia menuding saya berselingkuh dengan laki-laki lain selama berada di Tembilahan. Saya membantah. Tudingan itu jelas  mengada-ngada karena terus terang sampai saat itu saya masih mencintai dirinya,” Ungkap Deby dengan kondisi tubuh yang terlihat masih lemah dengan mata berkaca-kaca.

Pengakuan Deby, saat itu ia berpikir  Armando masih berada di NTT. Ketika tiba-tiba saja Armando muncul dan tanpa bicara langsung menghadiahi dirinya 12 tusukan tentu membuat dirinya merasa terkejut.

Peristiwa sore yang hampir merengut nyawanya itu menjadi kenangan pahit bagi Deby. Dia nyatakan tidak akan pernah memaafkan.  Cinta yang dulu sangat dalam, sejak kejadian itu berubah menjadi benci dan dendam. Bahkan Deby meminta suaminya dihukum seberat-berat nya untuk menanggung perbuatanya itu. Didampingi dua orang buah hati pernikahannya terdahulu, Deby mengaku masih bersyukur karena tetap diberi kehidupan oleh Tuhan.

Sebelumnya, dihadapan petugas Armando mengaku nekat melakukan itu hanya karena sakit hati. Tidak ada masalah lain, apalagi cemburu. Aksi konyol yang dia lakukan ketika itu diakuinya buah dari rasa sakit hati yang selama satu tahun dia pendam.(dro/*1)

Sempat di Duga Aksi Perampokan, Armando Tega Hujani Belasan Tusukan Ketubuh Deby