Ratusan Pelajar di Tembilahan Ikuti Seleksi Kuis Kita Harus Belajar

247386_10150213753287937_300828992936_7039536_684780_nTEMBILAHAN (detikriau.org) – Ratusan siswa SD, SMP dan SMA sederajat di Kabupaten Indragiri Hilir mengikuti seleksi Kuis Kita Harus Belajar tahun 2014, di aula Dinas Pendidikan, Jalan Veteran Tembilahan, Jum’at (31/10) kemaren

Kegiatan tajaan Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Riau bekerjasama dengan Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (Pustekom) ini, dibuka secara resmi Oleh kadisdik Inhil, Helmi D diwakili Suhaimi Eka.

Suhaimi dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka mempersiapkan perwakilan dari Kabupaten Inhil untuk mengikuti seleksi Kuis Kita Harus Belajar (Kihajar) tingkat nasional, yang rencananya akan digelar pada 16-20 November mendatang di Jakarta.

“Dengan adanya seleksi ini, kita harapkan siswa Inhil dapat meningkatkan kemampuannya dalam mengunakan IT, sehingga mampu bersaing dan menjadi peserta terbaik untuk mewakili Riau di tingkat nasional,” tutur Suhaimi.

Sementara itu, Kasubbag Tata Usaha UPT TIKP Disdik Provinsi Riau, Ridwan mengaku senang atas semangat yang diperlihatkan oleh para siswa di Kabupaten Inhil. Dimana, mereka terlihat antusias mengikuti seleksi Kuis Ki Hajar ini.

Untuk diketahui, Kuis Kihajar merupakan kompetisi yang dilaksanakan dalam bentuk soal, yang ditujukan kepada para siswa SD, SMP, SMA sederajat melalui siaran TV Edukasi dan Web Kihajar. Kegiatan ini merupakan agenda nasional, yang rutin dilaksanakan setiap tahunnya.(dro/adv pemkab inhil)




“Tanaman Tuhan” yang selamatkan lingkungan

DSC_0109Surabaya  – “Bakau ini adalah tanaman Gusti Allah.”

Kalimat itu dikatakan Djoko Suwondo sambil jemari tangan kirinya merangkul erat empat bibit bakau.

Djoko, Kepala Pengelola Ekowisata Hutan Mangrove, Wonorejo, Surabaya, Jawa Timur,  menjelaskan kepada pengunjung cara menanam tanaman penangkal abrasi itu.

Pengunjung seolah berpadu suara “ooo…” tanda paham atas ucapan Djoko ketika dia menarik umbi bakau.  Terlihat potongan kerucut yang sempurna.

Bentuk dan ukuran kerucut itu sangat presisi dengan “tutup” umbi di atasnya, seperti telah diukir dengan hati-hati.

Kerucut itu lah yang nantinya akan menjadi tunas pohon bakau dan menyatu menjadi rimbunan hutan mangrove.

“Ini yang saya bilang tanaman Gusti Allah, Allah benar-benar menciptakan sempurna, benar-benar pas kalau orang mana bisa ngukir sepas dan serapi ini,” tuturnya.

Tunas itu tidak ditancapkan, tetapi justru ia harus diposisikan di atas yang akan tumbuh menjadi batang dan daun.

Lawan dari tunas yang sama-sama lancip itu lah yang ditancapkan ke tanah berlumpur dan akan mengakar hingga kedalaman 200 meter.

Ajak Bertobat

Kepedulian Djoko terhadap bakau dimulai pada 2006 silam ketika ia tidak sengaja menyusuri sungai dan melihat pembalakan besar-besaran.

Bakau diincar para pembalak untuk dibuat arang karena lebih tahan lama dibandingkan kayu-kayu yang lain.

“Keunggulannya ini, api bisa menyala walaupun dalam keadaan basah,” ujarnya.

Khawatir akan dampak buruk abrasi yang semakin mengikis daratan, Djoko mulai terjun menanami bakau.

Pria lulusan Teknik Sipil Universitas Atma Jaya itu rela menanggalkan profesinya sebagai kontraktor di salah satu perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan mulai menanam pohon yang bernama latin “Rhizopora racemosa” itu.

“Kalau tidak ditanami bakau, abrasi ini sampai Ahmad Yani (pusat Kota Pahlawan), di situ saya terpanggil,” ucapnya.

Ia pun mulai mengajak pembalak-pembalak liar untuk “tobat”, berbalik arah menanami bakau.

Awalnya memang sulit, karena pembalak pembalak liar itu mendapatkan sedikitnya Rp50.000 per hari dari aksi ilegalnya itu.

Djoko pun mau tidak mau mengimingi penghasilan yang lebih besar dari menanam pohon bakau, tak ayal ia harus merogoh koceknya sendiri karena sebagian besar pembalak di sana termasuk dalam golongan keluarga miskin (gakin).

Lambat laun, pesisir laut yang tergerus abrasi mulai menghijau hingga sepanjang 200 hektare.

Bantuan-bantuan pun mulai mengalir, seperti dari PT Pertamina yang menyumbang 30.000 pohon bakau sejak 2011 serta mendirikan dua gazebo dan satu alat pantau senilai Rp150 juta sebagai tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

Lahan yang terkikis pun mulai berubah menjadi tempat yang menyenangkan untuk berwisata, mulai dari anak-anak sekolah untuk “study tour” hingga ibu-ibu dharma wanita yang menggelar arisan.

Pejabat-pejabat daerah pun mulai berdatangan mengunjungi Ekowisata Mangrove yang berlokasi di Kelurahan Wonorejo, Kecamatan Rungkut, Pantai Timur Surabaya itu.

“Tapi jujur, saya kurang begitu senang karena para pejabat itu hanya seremonial saja, nanti tidak akan ke sini lagi untuk memantau, niat saya bukan itu, bukan untuk dilihat,” tukasnya.

Gaung keberhasilan Djoko dalam menyelamatkan lingkungan pun sampai ke telinga Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia.

Wakil Dubes Amerika Serikat untuk Indonesia Kristen F Bauer dan VJ Daniel pun sempat bertandang ke ekowisata tersebut.

“Pihak Amerika ingin menyumbang, tapi enggak bisa karena harus melalui pemerintah daerah,” ungkap Djoko.

Sejumlah penghargaan pun diraih, seperti Juara II Objek Wisata Terbaik Kategori Kreatif dan Inovatif pada 2012 dari Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, dan dari salah satu agen pariwisata.

Saat ini 36 karyawannya pun mendapat penghasilan yang lebih baik, sedikitnya Rp75.000 sampai Rp100.000 ditambah dengan uang makan Rp8.000 per hari.

“Dulu yang susah sekali diajak, sekarang malah tidak mau libur,” ujarnya, sambil tersenyum.

Lingkungan sekitar juga diberdayakan dengan membentuk Usaha Kecil Menengah (UKM) yang membuat es mangrove, dan menyediakan makanan untuk setiap pengunjung yang ingin makan-makan di gazebo.

Pengunjung dikenakan biaya masuk Rp15.000 untuk anak-anak, dewasa Rp25.000 dan sudah termasuk menanam bakau, sementara bagi yang ingin menyewa perahu dikenakan Rp300.000 yang bisa memuat enam orang.

Sehari-hari, Djoko dan keluarganya hidup dari penghasilan usaha “minimarket” atau toko swalayan.

“Saya tidak merasa bekerja di hutan mangrove ini, seusia saya apalagi yang dikejar, saya hanya mengharapkan ridho Gusti Allah, dan saya yakin bagi siapapun yang menanam bakau, imbalannya itu surga,” ujarnya. (Antara)




Keluarga Penghina Jokowi Dapat Bantuan Modal Usaha

070558_604928_arsyadJaringan Merah Putih (JMP) memberi bantuan modal usaha untuk keluarga Muhammad Arsyad, buruh kipas sate yang menjadi tersangka penghinaan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“JMP menyerahkan bantuan sebesar Rp 35 juta. Dana ini hasil dari iuran anggota,” ujar Ketua Presidium Jaringan Merah Putih, Nanik S. Deyang saat berkunjung ke kediaman Arsyad di kawasan Ciracas, Jakarta, Jumat (31/10).

Menurutnya, modal usaha diberikan karena Arsyad yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga tidak dapat bekerja dan sempat meringkuk di ruang tahanan Bareskrim Mabes Polri.

“Kami berharap ini benar-benar dimanfaatkan untuk menjalankan usaha, bukan untuk yang lain,” kata Nanik.

Dia menambahkan, orang tua Arsyad yang menerima bantuan pun berjanji akan memanfaatkannya sebaik mungkin. Terlebih, penahanan Arsyad otomatis mengganggu kehidupan keluarganyai.

“Kami akan mendukung keluarga dan mengupayakan perlindungan selama dalam proses hukum,” tegas Nanik. (jpnn)




Penahanan Tukang Tusuk Sate Penghina Jokowi Ditangguhkan

070558_604928_arsyadJAKARTA – Penyidik Mabes Polri akhirnya membebaskan Muhammad Arsyad, buruh sate yang ditetepkan sebagai tersangka penghinaan Presiden Joko Widodo.

Kepastian mengenai penangguhan penahanan dismapaikan langsung tim penyidik kepada Mursida, ibu Muhammad Arsyad, usai menjenguk ke tahanan Bareskrim Mabes Polri. “Ibu ke dalam sekarang, anak ibu, kita mau kasih (pulangkan) hari ini,” ungkap salah satu penyidik di Mabes Polri Jakarta, Jumat (31/10).

Mursida merasa senang dengan kabar tersebut. Dia pun langsung masuk kembali ke ruang Bareskrim Polri bersama penyidik dan didampingi kuasa hukumnya.

Sebelumnya, tadi pagi Wakil Ketua DPR Fadli Zon menjenguk Muhammad Aryad. Fadli meminta Kapolri tidak menahannya, dan menyatakan bersedia menjadi jaminan.(jpnn)




Kadisperindag Inhil Ancam Berikan Sanksi Bawahannya yang Nakal

Kadisperindag Inhil, H Fahrolrozy saat memimpin rapat perdana dengan Tim Pembinaan dan penertiban Pedagang pasar
Kadisperindag Inhil, H Fahrolrozy saat memimpin rapat perdana dengan Tim Pembinaan dan penertiban Pedagang pasar

Tembilahan (detikriau.org) – Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Inhil meminta kepada seluruh bawahannya untuk bekerja serius dan benar. Jika kedapatan ada yang bermain, ia mengancam akan berikan sanksi tegas.

 

Peringatan keras ini disampaikan kadisperindag Inhil, H Fahrolrozy disela rapat perdana bersama Tim Pembinaan dan Penertiban Pedagang Pasar bertempat diruang rapat Disperindag Inhil kemaren. Menurutnya, upaya penertiban pedagang haruslah dikerjakan secara bersama dan terbuka dengan didasari kepentingan masyarakat umum bukan pribadi.

 

“bekerja dengan jujur dan serius. Jangan ada yang berani bermain dengan mengambil keuntungan pribadi,” Peringati Fahrolrozy

 

Mantan Kadis Perhubungan Inhil ini dengan gamblang juga melarang kepada bawahannya untuk tidak menarik retribusi mengatasnamakan Disperindag kepada pedagang yang menggelar dagangan diluar lokasi yang sudah diperuntukan. Jika ini dilakukan, ia khawatir akan timbul kesan “pelegalan”.

 

Disamping hal ini, Fahrolrozy juga meminta bawahannya untuk memberikan laporan yang benar. Ia juga mengaku mendapatkan informasi bahwa ada beberapa pedagang yang sebenarnya sudah membayar retribusi tetapi tidak dilaporkan.

 

“Saya akan cek hal ini, jika benar ada yang bermain, saya tidak akan segan untuk berikan sanksi.” Pungkas Fahrolrozy. (dro)




Polres Inhil Bekuk DPO Kasus Tindak Pidana Korupsi BLM PUAP Tahun 2011 di Kemuning

gariTembilahan (detikriau.org) – Kepolisian Polres Inhil berhasil meringkus DPO kasus tindak pidana korupsi di Desa Limau Manis Kecamatan Kemuning, Jum’at (31/10/2014) sekira pukul 01.45 Wib dnihari.

Berdasarkan keterangan Kapolres Inhil melalui Kasat Reskrim, AKP Ade Jamrah, DPO diburu dalam perkara Tindak Pidana Korupsi dana BLM PUAP Tahun 2011 Gapoktan Sumber Rezeki Desa Limau Manis Kecamatan Kemuning Kabupaten Inhil sebesar Rp. 100 juta sesuai dengan DPO/10/III/2014/Reskrim tertanggal 22 Maret 2014 atas nama Samsul Bahri Alias Sam Bin Ahmat Bual, warga Dusun Gading Desa Lubuk Besar Kecamatan Kemuning.

“Laki-laki kelahiran tahun 1974 ini sebelumnya menjabat sebagai bendahara Gapoktan Sumber Rezeki , Jl Penunjang RT 02 RW 02 Desa Limau Manis Kec. Kemuning Kab. Inhil – Riau.” Terang Kasat Reskrim.

Dipaparkannya, Kronologis tertangkapnya DPO kasus Korupsi ini berawal dari hasil lidik anggota yang ditugaskan untuk mencari keberadaan DPO. Samsul Bahri yg melarikan diri ke propinsi jambi ini masih sering kembali melihat keluarganya di kec kemuning.

jum’at (31/10/2014) sekitar pukul 01.45 wib dinihari, aggota opsnal melakukan penyergapan di rumah keluarga tsk dan tsk langsung diamankan. Ketika ditangkap, tsk sedang bersiap-siap akan pergi ke jambi lagi.

“ tsk saat ini sudah diamankan di polres inhil untk proses lebih lanjut.” Tandas Kasat Reskrim, AKP Ade Jamrah. (dro)