2016, Kadiskes Alvi Maksimalkan Ketersediaan Obat dan Vitamin Bagi Masyarakat

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Pada tahun anggaran 2016 mendatang, Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), DR Hj Alvi Furwanti Alwie akan lebih memaksimalkan ketersediaan berbagai jenis obat-obatan dan vitamin.

Langkah ini, dalam upaya meningkatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat, khususnya para pasien yang akan berobat di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) di seluruh wilayah Kabupaten Inhil.

“Tahun depan, kita harus lebih mengoptimalkan stok obat dan vitamanin bagi masyarakat,” tutur Alvi saat berbincang dengan detikriau.org di ruang kerjanya, baru-baru ini

Oleh karena itu, mantan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Inhil ini berharap agar kebijakan tersebut tidak mengalami kendala dan permasalahan, sehingga bisa selesai tepat waktu dan sesuai dengan apa yang telah direncanakan.

“Ini semua, untuk mendorong dan mendukung upaya kita dalam peningkatan pelayanan kesehatan bagi masyarakat, guna mewujudkan Kabupaten Inhil yang sehat,” terangnya.

Adapun berbagai jenis obat dan vitamin yang akan dimaksimalkan pengadaannya, yakni yang berhubungan langsung dengan pelaksanaan program pemerintah, seperti obat untuk penyakit TB Paru atau TBC, obat dan vitamin untuk ibu hamil, serta untuk penyakit-pemyakit lainnya.(adi/adv)




Sekda Inhil Ambil Sumpah 116 Pejabat Esselon

Sekda mengambil sumpah Pejabat eselon III dan IV di lingkungan PEMKAB InhilTembilahan (detikriau.org) – Sekdakab Inhil, H Alimuddin RM melantik sekaligus mengambil sumpah sebanyak 116 orang pejabat esselon yang terdiri dari pejabat Esselon IIIB 1 orang, Eselon IVA 70 orang dan Eselon IVB 45 orang.

Kegiatan yang dilaksanakan di Gedung Engku kelana Tembilahan ini turut dihadiri oleh Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD), Asisten III serta beberapa pejabat, Jum’at (8/5) kemaren

Penandatangan Sumpah jabatan oleh perwakilan Pejabat yang di lantik oleh SEKDADalam amarannya Sekda berpesan kepada seluruh pejabat yang baru dilantik untuk dapat melaksanakan seluruh tanggungjawab yang melekat pada jabatannya dengan baik dan penuh rasa tanggungjawab.

“termasuk untuk selalu berupaya meningkatkan disiplin dan etos kerja karena mereka adalah ujung tombak pemerintah daerah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.” Ujar Sekda. (advetorial)




Begal Cegat Warga Mumpa di Sungai Sirih. Sepeda Motor dan HP disikat

imagesTEMPULING (detikriau.org) – Warga Desa Mumpa Kecamatan Tempuling Mistar (24) bersama dua rekannya Irian dan Tasniah dicegat begal di Jalan Provinsi, Parit Sungai Sirih Kecamatan Tempuling dalam perjalanan pulang dari Tembilahan menuju Mumpa, Kamis (7/5/2015) dini hari.

Berdasarkan keterangan pihak kepolisian, pada tanggal 6 Mei sekitar pukul 23.30 WIB Mistar bersama Irian beranjak ke kota Tembilahan dari desa Mumpa dengan maksud menjemput rekannya Tasniah. Setelah menjemput Tasniah, sekitar pukul 00.30 WIB dengan berbonceng 3 merekapun berangkat kembali ke Mumpa.

“Sesampainya di TKP sekitar pukul 01.30 WIB, korban dihampiri 4 otk menggunakan 2 sepeda motor, kemudian salah satu pelaku mengeluarkan sebilah pedang samurai dan mengarahkan kepada korban,” kata Kapolres Indragiri Hilir (Inhil) AKBP Suwoyo Sik Msi melalui PAUR Humas, Iptu Warno Akman, Jum’at (8/5/2015).

Karena merasa terancam, lanjut Warno, ketiga korban ini melarikan diri dan meninggalkan sepeda motor di TKP. Dikesempatan itu pelaku langsung membawa sepeda motor milik korban serta sebuah Handphone merk Cross milik Tasniah yang ketinggalan.

Atas kejadian itu, karena korban mengalami kerugian besar hingga Rp 17 juta dan korban melaporkan kejadian ini kepihak kepolisian untuk dilakukan pengusutan lebih lanjut. Sampai saat ini, pelaku masih dalam lidik oleh jajaran Polres Inhil.(mirwan)




Ini Cara Mudah Mengetahui Makanan Mengandung Borax

baksoSaat ini banyak produsen makanan yang tidak bertanggung jawab dengan sengaja mencampurkan bahan kimia borax pada bahan makanannya. Efek borax yang diberikan pada makanan dapat memperbaiki struktur dan tekstur makanan. Seperti contohnya bila boraks diberikan pada bakso, akan membuat bakso tersebut sangat kenyal dan tahan lama, sedangkan pada kerupuk yang mengandung boraks jika digoreng akan mengembang dan empuk serta memiliki tekstur yang bagus dan renyah.

Bukan hanya pada bakso, penggunaan borax juga telah umum diberikan pada mi basah, lontong, ketupat, dan kecap yang biasa digunakan di kalangan masyarakat pada umumnya.

Efek negatif dari penggunaan borax dalam pemanfaatannya yang salah pada kehidupan dapat berdampak sangat buruk pada kesehatan manusia. Borax memiliki efek racun yang berbahaya pada sistem metabolisme manusia sebagaimana halnya zat-zat tambahan makanan lain yang merusak kesehatan manusia. Parahnya, makanan yang telah diberi borax dengan yang tidak atau masih alami sangat sulit dibedakan, tidak bisa dibedakan hanya dengan panca indera biasa.

Lalu bagaimana kita dapat mengetahui jika makanan yang akan kita santap mengandung borax atau tidak? Ada cara mudah hasil temuan dua siswi SMAN 3 Semarang, Dayu Laras Wening dan Luthfia Adila. Mereka telah menemukan cara mendeteksi borax yang terkandung pada makanan dengan cara yang sangat mudah dan praktis, yakni hanya dengan tusuk gigi.

Caranya, tusukkan tusuk gigi pada kunyit terlebih dahulu, kemudian tusukkan pada makanan yang akan diuji. Setelah kira-kira 5 detik, maka akan terlihat apakah makanan tersebut mengandung boraks atau tidak.

Kunyit akan bereaksi terhadap bahan kimia termasuk borax yaitu dengan perubahan warna. Bila makanan mengandung borax, maka tusuk gigi tersebut akan berwarna merah. Jadi bagi anda penggemar bakso perlu mencoba trik ini untuk memastikan bakso yang akan anda santap mengandung borax atau tidak.

Dayu dan Luthfia menamakan temuannya tersebut dengan SIBODEX (stick of borak detector). Temuan mereka ini berhasil menyabet medali emas pada International Exhibition for Young Inventors (IEYI) 2014, sebuah ajang kompetisi inovasi anak.(erteerwe)




Tenaga Guru di Pedesaan Minim, Yuliantini : Pemkab Jangan Asal Lakukan Mutasi

Jubir Anggota DPRD Inhil Dapil 4 Yuliantini menyampaikan hasil reses pada Rapat Paripurna
Jubir Anggota DPRD Inhil Dapil 4 Yuliantini menyampaikan hasil reses pada Rapat Paripurna

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Sebelum memberikan izin kepada Pegawai Negeri Sipil (PNS) terutama para guru atau tenaga pendidik yang ingin pindah dari daerah perdesaan ke perkotaan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Indragiri Hilir (Inhil) diminta, untuk melakukan pertimbangan secara matang dengan melihat kondisi sebenarnya di lapangan.

Permintaan tersebut disampaikan Anggota Komisi IV DPRD Inhil, Yuliantini terkait dengan kurangnya jumlah guru yang ada di daerah perdesaan, sehingga menyulitkan para siswa yang ingin mendapatkan dan mengenyam dunia pendidikan.

Dikatakan Yuliantini, proses mutasi atau pemindahan guru dari daerah perdesaan ke perkotaan ini harus menjadi prioritas utama dan perhatian serius Pemkab Inhil melalui Badan Kepegawaian Daerah (BKD) dan Dinas Pendidikan (Disdik), karena keberadaan guru sangat dibutuhkan masyarakat yang berada di daerah terpencil.

“Jadi, Pemkab Inhil jangan melakukan mutasi secara asal-asalan. Harus dilihat terlebih dahulu, apakah di daerah itu kekurangan guru atau tidak,” tutur Yuliantini, Juru Bicara (Jubir) Anggota DPRD Inhil dari Daerah Pemilihan (Dapil) 4, yakni Kecamatan Kateman, Pulau Burung dan Teluk Belengkong pada Rapat Paripurna di aula Gedung DPRD, Jalan HR Soebrantas Tembilahan, belum lama ini.

Seperti dicontohkan politisi dari Partai Golongan Karya (Golkar) Inhil ini, beberapa waktu lalu. Dimana, di SMAN Tunas Bangsa Kecamatan Pulau Burung, pada tahun 2009 lalu ditempatkan sebanyak 9 guru PNS.

Kemudian, lanjut Yuliantini, saat ini guru PNS yang tersisa di sekolah tersebut hanya berjumlah 2 orang saja, dengan jumlah siswa sebanyak 316 orang atau 9 rombongan belajar (rombel).

“Untuk itu, kita minta guru-guru yang telah dimutasi dan meninggalkan sekolah yang masih kekurangan tenaga pendidik, segera dikembalikan ke tempat tugas sebelumnya. Dan ke depan, hal ini diharapkan tidak terulang kembali,” imbuhnya. (adi/adv)




Dinkes Inhil Sosialisasikan Program TB Bagi Bidan Puskesmas

Kabid PMK Dinkes Inhil, dr Saut Pakpahan saat memberikan materi tentang Program TB. Foto: Adi
Kabid PMK Dinkes Inhil, dr Saut Pakpahan saat memberikan materi tentang Program TB. Foto: Adi

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) menggelar sosialisasi Program Tuberculosa (TB) bagi bidan Puskesmas se-Kabupaten Inhil, Jum’at (8/5/2015).

Kegiatan yang dipusatkan di aula salah satu Wisma di Tembilahan ini diikuti sebanyak 27 peserta yang merupakan Bidan Koordinator di 27 Puskesmas di Negeri Seribu Parit.

Kepala Dinkes Inhil, DR Hj Alvi Furwanti Alwie melalui Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Masalah Kesehatan (PMK), dr Saut Pakpahan mengatakan, mengingat penyakit yang lebih dikenal dengan sebutan TBC ini merupakan penyakit lama dan belum tuntas, maka setelah mendapatkan sosialisasi dan pemaparan dari pihak terkait, para peserta diharapkan dapat menyampaikan kepada seluruh bidan yang ada di wilayah kerjanya masing-masing.

“Saat ini, yang menjadi prioritas dan perhatian kami di Dinkes Inhil adalah terkait sudah resistennya obat untuk penyakit TB ini, sehingga banyak penderitanya tidak sembuh-sembuh,” tutur Saut.

Sejumlah peserta terlihat serius mengikuti sosialisasi Program TB
Sejumlah peserta terlihat serius mengikuti sosialisasi Program TB

Apalagi setelah dilakukan penelitian, ternyata obat-obatan yang dikonsumsi oleh para pasien tidak lagi mempan atau bahasa di kesehatannya Multi Drug Resisten. Karena itu, yang terpenting dan harus pasien lakukan adalah tidak lagi sembarangan menggunakan obat TB, serta tidak teratur dan tidak benar dalam mengkonsumsinya.

“Inilah yang ingin disampaikan kepada para Bidan, supaya mereka memahami dan bisa dilakukan deteksi dini terhadap penderitanya, sehingga pencegahan dan pengobatan penyakit TB bisa lebih cepat,” terangnya.

Terkait dengan penanganan para penderita TB ini, dijelaskan Saut bahwa pemerintah telah menyediakan obat-obatan secara gratis selama 6 bulan, yang dapat diperoleh di seluruh Puskesmas yang ada di Kabupaten Inhil.

“Biasanya, dengan pemberian obat secara teratur selama 6 bulan, mudah-mudahan penyakit ini bisa disembuhkan. Jadi, bagi penderita yang mengalami batuk lebih dari 2 minggu tidak sembuh-sembuh dan tidak ada perubahan, hendaknya segera memeriksakan diri ke Puskesmas atau dokter,” tambahnya.

Setelah dilakukan pemeriksaan oleh tenaga kesehatan dan diketahui ada indikasi ke arah penyakit TB ini, maka pasien akan diminta melakukan pemeriksaan dahak, guna mengetahui apakah yang bersangkutan harus diberikan pengobatan TB atau tidak.

“Sebenarnya program ini sudah lama, makanya perlu kita segarkan kembali kepada para petugas kesehatan, supaya mereka lebih aktif lagi di lapangan, dalam upaya mencegah dan menanggulangi penularan penyakit yang berbahaya ini sejak dini,” imbuhnya.(adi/adv)