Mitos dan Fakta Seputar Diet

Time to lose weight
Time to lose weight

Kelebihan berat badan bagi sebagian besar orang merupakan masalah yang ‘besar’. Banyak dari mereka yang mengalami berat badan berlebih berupaya susah payah untuk mencapai berat badan yang ideal. Nah, bicara soal diet banyak mitos yang beredar yang sepertinya harus diluruskan. Kesempatan kali ini dibagiin.com akan mengulas mitos-mitos yang beredar seputar diet.

 

Inilah mitos dan fakta seputar diet :

Mitos : Orang yang sedang program diet dilarang makan telur

Mitos ini muncul karena telur khususnya kuning telur mengandung kadar kolesterol tinggi dan kolesterol tinggi erat kaitanya dengan penyakit kardiovaskular (jantung).

 

Fakta : Sebagian besar kolesterol diproduksi oleh hati, kita hanya menyerap sekitar 25% dari makanan yang kita konsumsi. Kadar kolesterol dalam tubuh kita lebih dipengaruhi oleh konsumsi makanan yang mengandung lemah jenuh tinggi seperti jeroan, daging merah, minyak makan, dan seafood. Sedangkan telur tidak mengandung kadar lemak jenuh yang tinggi. Dengan demikian telur aman dimasukkan dalam menu diet tanpa menimbulkan resiko kardiovaskular.

 

Mitos : Ada beberapa jenis makanan yang dapat membakar lemak

Sobat tentu sering mendengar ada beberapa jenis makanan yang dapat membantu diet karena dapat membakar lemak seperti ginseng, teh hijau, jeruk, cabai atau lainnya. Karena mitos inilah banyak orang yang sedang menjalani program diet berbondong-bondong membeli teh hijau karena ingin dietnya sukses.

 

Fakta : Memang benar bahwa ada penelitian yang mengatakan bahwa beberapa jenis makanan dapat meningkatkan metabolisme tubuh, namun persentase peningkatan ini sangat kecil sedangkan tubuh sangat mudah beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi. Jadi ketika kita mengkonsumsi misal teh hijau, metabolisme akan meningkat sedikit (sementara waktu), lalu tubuh akan menyesuaikan. Dalam jangka waktu tertentu maka efek dari teh hijau tersebut pun akan musnah.

 

Mitos : Minum air es bikin gemuk

Mitos ini muncul karena ada anggapan air es dapat membekukan lapisan lemak di perut dan membuat perut menjadi buncit.

 

Fakta : Panas atau dingin air tidak berpengaruh terhadap tubuh, tubuh akan selalu menyesuaikan dengan suhu yang masuk. Yang menjadi penyebab kegemukan bukanlah dinginnya, tetapi kalori yang terkandung di dalam minumannya (misal jika Sobat minum milkshake, maka kalori yang terkandung pada milkshake tersebutlah yang menyebabkan kegemukan bukan suhu dinginnya). Untuk mengetahui ulasan lebih lengkap tentang mitos ini, Sobat bisa baca pada artikel sebelumnya, Minum Es Bikin Gemuk, Mitos atau Fakta?

 

Mitos : Pantangan makan diatas jam 7 malam

Banyak yang meyakini kalau makan diatas jam 7 malam merupakan penghancur program diet karena dapat menyebabkan kegemukan. Mungkin mereka beranggapan setelah makan lalu tidur, maka makanan tidak terpakai lalu menjadi timbunan lemak.

 

Fakta : Bukan jam berapanya yang menjadi faktor penyebab, tetapi apa yang dimakan, seberapa banyak porsinya, dan seberapa berat aktifitas sepanjang hari itu. Tiga pertanyaan inilah yang menjadi penentu apakah berat badan Sobat akan naik atau stabil. Jam berapa pun makan, tubuh akan tetap menyimpan kelebihan kalori menjadi lemak. Untuk lebih jelasnya sobat bisa baca pada artikel Makan Diatas Jam 7 Malam Bikin Gemuk, Mitos atau Fakta?

 

Mitos : Lebih baik makan sedikit tapi sering untuk menghindari lapar

Cara ini sering dilakukan oleh mereka yang sedang menjalani program diet. Mereka beranggapan dengan meningkatkan frekuensi makan dengan porsi yang kecil berarti mencegah rasa lapar, harapanya ketika jam makan datang tidak perlu tergoda untuk makan berlebihan.

Fakta : Makan sering dengan porsi sedikit = makan tiga kali sehari. Jadi pilihannya apakah mau makan sering atau tiga kali saja dalam sehari? Bukan frekuensinya yang harus dipusingkan tetapi sekali lagi jumlah asupan kalorinya yang harus diperhatikan. Cara ini justru seringkali memberi hasil kebalikan dari yang diharapkan. Dengan dalih mencegah lapar, mengkonsumsi snack disela-sela jam makan menjadi pilihan. Masalahnya adalah terkadang kita sendiri tidak paham mana snack yang aman dikonsumsi atau bisa jadi kita malah mengkonsumsi snack yang tinggi kalori.

 

Mitos : Kalau diet mau cepat sukses, lakukan olahraga berat

Wajar saja jika banyak yang menganjurkan untuk meningkatkan kapasitas olahraga di saat program diet karena beranggapan dengan berolahraga semakin keras maka lemak dalam tubuh akan terbakar makin maksimal.

 

Fakta : Latihan berat akan membuat kita merasa lapar dan membuat tubuh harus beristirahat lebih lama dari biasanya. Belum lagi mereka yang menjalani program diet biasanya membatasi jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi. Logikanya ketika porsi makan dikurangi namun tubuh dipaksa bekerja jauh lebih berat dari biasanya maka tubuh akan ‘berontak’, produktifitas dalam pekerjaan sehari-hari pun dapat terganggu. Latihan memang dapat membentu/menguatkan otot-otot, tapi tidak bisa membakar lapisan lemak di atas otot. Buang dulu lemak yang tertimbun dengan menjaga pola makan guna menjaga keseimbangan kalori yang masuk dengan yang keluar, baru setelah itu bentuk dengan berolahraga atau ngegym. Ada olahraga murah meriah yang bisa kita lakukan disela-sela aktifitas baik di kantor atau di tempat kuliah yaitu dengan naik turun tangga. Sobat bisa baca artikel Manfaat Naik Turun Tangga Bagi Kesehatan.

 

Itulah ulasan mitos dan fakta seputar diet. Mudah-mudahan artikel yang kami susun ini dapat menjadi panduan Sobat yang ingin menjalani program diet.

 




Pemkab Inhil Wacanakan Teken MoU dengan Fak Kedokteran UNAND

Foto Bersama Sekda Inhil H.Said Syarifuddin dengan pihak Fakultas Kedokteran UNAND
Foto Bersama Sekda Inhil H.Said Syarifuddin dengan pihak Fakultas Kedokteran UNAND

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Indragiri Hilir (Inhil) dengan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand) Sumatera Barat bersepakat untuk menjalin kerjasama dalam meningkatkan kualitas ilmu kesehatan di Inhil.

“Kita dari Pemkab Inhil melalui Dinas Kesehata dan RSUD Puri Husada Tembilahan akan teken MoU dengan Fakultas Kedokteran Unand Sumbar,” kata Sekdakab Inhil, H Said Syarifuddin, Senin (18/1/2016) kemarin.

Adapun bentuk kerjasamanya, dijelaskan Sekda, diantaranya dalam bidang pelayanan kepada masyarakat dan tenaga medis di Kabupaten Inhil, disamping itu juga dibahas kerjasama pendidikan spesialis dalam rangka meningkatkan Sumber Daya Kesehatan yang ada, khususnya di wilayah Inhil.

Sementara itu, Direktur RSUD Puri Husada Tembilahan dr Irianto saat dikonfiimasi mengatakan, terlaksananya MoU nantinya bakal berdampak sangat besar bagi masyarakat sehingga kasus-kasus besar diharapkan dapat ditangani di sini tanpa merujuk ke rumah sakit lainnya.

Artinya, tim medis yang tersedia bisa dibantu oleh Fakuktas tersebut sesuai keperluan dan kemampuannya. (mirwan/adv)




Selain Narkoba, Pria Ini Juga Kedapan Miliki Senpi

Pelaku beserta sejumlah barang bukti
Pelaku beserta sejumlah barang bukti

TEMBILAHAN (detikriau.org) – R (28), terpaksa diamankan polisi karena kedapatan miliki narkoba jenis sabu-sabu dan pil extacy. Tidak hanya itu, warga desa Kotabaru Kecamatan Keritang Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) ini juga memiliki senjata api rakitan sekaligus sejumlah amunisi, Senin (18/1/2016) kemarin.

Pembekukan TSK dilakukan petugas sekitar pukul 20.30 WIB di kediaman pelaku jalan Ismail Saleh RT 04 RW 10 Kotabaru Seberida. Kala itu, pelaku langsung diciduk sekaligus melakukan penggeledahan isi rumah tersebut.

“Dari hasil penggeledahan, petugas menemukan 1 pucuk senjata api rakitan yang berisikan 4 butir amunisi dan 12 butir amunisi simpanan, 12 paket kecil sabu-sabu dan 1 paket sedang yang disimpan dalam dompet serta 1 butir pil Extacy warna hijau berbungkuskan kertas timah rokok,” terang Kapolres Inhil AKBP Hadi Wicaksono Sik melalui PAUR Humas, Iptu Warno Akman, Selasa (19/1/2016).

Untuk sementara, pelaku beserta sejumlah barang bukti masih diamankan di Mapolsek Keritang guna dilakukan penyidikan lebih lanjut.




Udara yang membuat Anda jadi gemuk

Detikriau.org – Ambil napas dalam-dalam, dan hembuskan. Tergantung di mana Anda tinggal, udara yang memenuhi paru-paru dan menghidupkan itu mungkin akan mendorong Anda menuju diabetes dan obesitas.

Bayangan bahwa udara bisa membuat kita gemuk terdengar konyol, tapi beberapa studi yang luar biasa rumit menunjukkan bahwa hal itu mungkin terjadi. Dua orang bisa makan makanan yang sama dan melakukan olahraga dalam porsi yang sama, tapi dalam beberapa tahun, salah satunya bisa lebih gemuk dan mengalami metabolisme yang lebih kacau – karena atmosfer di rumah mereka.

Polusi dari kendaraan bermotor dan asap rokok adalah sebab utama, dengan partikel kecil yang mengganggu dan menyebabkan peradangan luas dan mengganggu kemampuan tubuh membakar energi. Meski dampak jangka pendeknya minim, tapi secara akumulatif sepanjang hidup, cukup untuk menyebabkan penyakit serius – selain penyakit pernapasan yang biasanya terkait asap. “Kita baru mulai memahami bahwa dampak dari sirkulasi polusi udara dalam tubuh bisa berpengaruh lebih dari sekadar paru-paru,” kata Hong Chen, peneliti di Public Health Ontario dan Institute of Clinical Evaluative Sciences di Canada.

Seberapa kuat bukti dari penelitian ini, dan haruskah kita cemas?

Tikus laborataorium menawarkan bukti konkret paling awal tentang dampak dari polusi udara yang bisa menjangkau jauh melampaui paru-paru. Qinghua Sun, yang membiakkan tikus di Ohio State University, tergerak untuk meneliti kenapa penduduk kota lebih berisiko terkena serangan jantung dibanding penduduk desa. Gaya hidup, tentu saja, menjadi satu alasan; contohnya di kebanyakan kota besar, makanan cepat saji gampang sekali didapat, sehingga bisa memicu kebiasaan makan tak sehat. Namun, dia bertanya-tanya, apakah ada jawaban lain, yang tak terlihat di udara yang kita hirup.

Untuk mencari tahu lebih jauh, dia mulai membiakkan tikus lab dalam kondisi yang mirip dengan keadaan di berbagaikota. Beberapa menghirup udara yang bersih dan difilter, sementara yang lain menghirup udara dan asap seperti di dekat jalan raya atau pusat kota yang sibuk. Sepanjang penelitian, timnya menimbang tikus-tikus tersebut dan melakukan berbagai tes untuk menguji bagaimana metabolismenya.

Setelah hanya 10 minggu, efeknya langsung terlihat. Tikus yang terpapar polusi udara menunjukkan volume lemak tubuh yang lebih besar, baik pada sekitar perut atau sekitar organ dalam; pada level mikro, sel lemak terlihat 20% lebih besar pada tikus yang menghirup kabut polutan. Terlebih lagi, mereka menjadi tak sensitif pada insulin, hormon yang memberi sinyal pada sel untuk mengubah gula darah menjadi energi: langkah pertama menuju diabetes.

Mekanisme tepatnya masih dalam perdebatan, tapi berbagai eksperimen lanjutan pada hewan menunjukkan bahwa polusi udara memicu rangkaian reaksi dalam tubuh. Partikel-partikel kecil, yang lebarnya kurang dari 2,5 mikrometer, disebut sebagai alasan utama – butiran polutan yang kecil yang membuat udara kota berkabut. Saat kita menghirupnya, polutan ini mengganggu kantung udara kecil dan lembap yang biasanya akan mengalirkan oksigen masuk ke aliran darah.

Hasilnya, lapisan paru-paru meningkatkan respons stresnya dan membuat sistem saraf bekerja berlebihan, termasuk melepas hormon yang mengurangi kekuatan insulin dan menarik darah dari jaringan otot yang sensitif terhadap insulin, sehingga tubuh tak bisa mengendalikan kadar gula darahnya.

Partikel kecil yang mengganggu ini juga melepaskan molekul peradangan yang disebut “sitokin (cytokine)” untuk mencuci aliran darah, respons yang memicu sel kekebalan tubuh untuk menyerang jaringan yang sebenarnya sehat. Tak hanya mengganggu kemampuan jaringan tubuh untuk merespons insulin; peradangan yang terjadi selanjutnya juga mengganggu hormon dan otak yang memproses dan mengatur nafsu makan, kata Michael Jerrett dari University of California, Berkeley.

Semua rangkaian ini mengganggu keseimbangan energi tubuh, dan mendorong serangkaian gangguan metabolisme, termasuk diabetes dan kegemukan, serta masalah kardiovaskuler seperti tekanan darah tinggi.

Berbagai penelitian besar dari kota-kota di seluruh dunia menunjukkan bahwa manusia bisa jadi mengalami konsekuensi yang sama. Chen, misalnya, memeriksa catatan medis 62.000 orang di Ontario, Kanada, sepanjang 14 tahun. Dia menemukan bahwa risiko diabetes naik 11% untuk setiap 10 mikrogram partikel halus dalam satu meter kubik udara – statistik yang mencemaskan mengingat polusi di berbagai kota Asia bisa mencapai sampai 500 mikrogram per meter kubik udara. Di Eropa, sebuah penelitian di Swiss menemukan tanda-tanda serupa akan resistensi yang meningkat terhadap insulin, tekanan darah tinggi, dan lingkar pinggang dalam sampel 4.000 orang yang hidup di tengah polusi parah.

Para ilmuwan sangat khawatir akan dampak ini pada anak-anak kecil, dan beberapa cemas bahwa ibu yang terpapar polutan ini bisa mengubah metabolisme bayi sehingga mereka lebih mudah terkena obesitas. Simaklah penelitian Andrew Rundle di Columbia University yang meneliti anak-anak yang tumbuh besar di Bronx. Saat kehamilan, ibu dari anak-anak itu mengenakan ransel kecil untuk mengukur kualitas udara saat menjalani aktivitas sehari-hari, dan dalam tujuh tahun terakhir kesehatan anak-anaknya dimonitor secara teratur. Dengan mengendalikan faktor lain (seperti kekayaan dan diet), anak-anak yang lahir di area yang paling tercemar bisa 2,3 kali lebih mungkin menjadi obesitas, dibandingkan mereka yang tinggal di kawasan yang lebih bersih.

Sementara itu, Jerrett juga menemukan bahwa risikonya bisa datang dari luar dan dari dalam rumah: orangtua yang merokok bisa menyebabkan lebih cepatnya peningkatan berat badan di kalangan remaja dan anak-anak California. “Terjadi interaksi yang sinergis dengan dampak dari polusi udara,” katanya – dengan kata lain, risiko gabungannya jauh lebih besar daripada risiko yang dihadapi sendiri-sendiri.

Terlepas dari hasil temuan yang menakutkan ini, kita juga harus waspada dalam mencermatinya. “Penelitian ini hanya menarik kesimpulan antara keterpaparan dan hasil, tapi tak bisa membuktikan yang satu mempengaruhi yang lain,” kata Abby Fleisch di Harvard Medical School. Meski begitu, temuan penelitiannya juga sama dengan tren umum – dia telah membuktikan bahwa daam enam bulan pertama, bayi-bayi dari para ibu yang tinggal di area tercemar terlihat bertambah berat tubuhnya lebih cepat dari mereka yang tinggal dia area yang bersih – tapi dia menegaskan bahwa kita masih belum pasti apakah ada faktor lain yang terlupakan, selain polusi, yang bisa menjelaskan hubungan tersebut.

Untungnya, sejumlah tim sudah mencari bagian yang hilang dalam pengetahuan kita akan studi yang lebih mendalam. Robert Brook dari University of Michigan dan koleganya di Cina, contohnya, baru-baru ini menguji sekelompok kecil subyek di Beijing selama dua tahun. Mereka menemukan bahwa setiap kali kabut polusi datang ke kota itu, terjadi peningkatan tanda-tanda masalah yang berkembang, seperti resistensi terhadap insulin dan tekanan darah tinggi – dan ini memberikan bukti yang lebih konkret bahwa kualitas udara mendorong perubahan dalam metabolisme.

Jika kaitan ini terbukti, apakah kita harus cemas? Para saintis menegaskan bahwa risiko jangka pendek dan individual terhadap satu orang relatif kecil, dan tak seharusnya disebut sebagai penyebab obesitas, tanpa mempertimbangkan aspek lain dalam gaya hidup. Namun melihat jumlah orang yang hidup di kota dengan polusi tinggi, dalam jangka panjang, jumlah korban bisa menjadi besar. “Semua orang terdampak polusi dengan berbagai cara,” kata Brook. “Keterpaparan yang terus-terusan dan tak bisa terhindarkan pada miliaran orang – sehingga dampaknya menjadi lebih besar.”

Solusinya sudah banyak diketahui, tapi sulit diterapkan: membatasi polusi udara dengan mempromosikan kendaraan listrik dan hybrid, contohnya. Jerrett menyarankan bahwa jalanan juga bisa dirancang ulang untuk mengurangi kemungkinan pejalan kaki dan pesepeda terpapar polusi. Dalam jangka pendek, dia juga menyebut penyaring udara bisa ditambahkan di banyak rumah-rumah, sekolah, dan kantor untuk menyaring partikel berbahaya.

Brook setuju bahwa langkah ini harus diambil secara internasional, baik di negara berkembang maupun di kota-kota seperti Paris dan London yang, kelihatannya, seperti bisa menekan tingkat pencemaran udara. “Di Amerika Utara dan Eropa, kadar polusi menunjukkan arah yang tepat – tapi kita tak boleh puas,” katanya. “Dari sudut pandang memperbaiki kesehatan di seluruh dunia, ini harusnya menjadi satu dari 10 kepedulian kita yang terbesar.”

Sumber; bbcindonesia

Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca di The air that makes you fat di laman BBC Future

 




Komisi I DPRD Inhil Gelar RDP Sengketa Pilkades di Desa Simpang Gaung

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Indragiri hilir (Inhil) menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) terkait permasalahan sengketa Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) di Desa Simpang Gaung, Kecamatan Gaung. Senin (18/1/2016).

RDP yang dilaksanakan di ruang rapat Komisi I DPRD Inhil, Jalan HR Soebrantas Tembilahan ini dipimpin langsung oleh Ketua Komisi I DPRD, HM Yusuf Said didampingi Sekretaris, Mu’amar Armain dan sejumlah anggota.

Turut hadi juga dalam RDP tersebut, Ketua Badan Pengawas Desa (BPD) Desa Simpang Gaung, Ketua Panitia Pemyelenggara Pilkades Tingkat Desa, Camat Gaung dan perwakilan dari BPMD serta Kabid Bagian Hukum Setdakab Inhil.

Pada kesempatan itu, Ketua BPD Desa Simpang Gaung menjelaskan krologis permasalahan yang terjadi di Desa Simpang Gaung, Kecamatan Gaung.

“Kejadian di TPS 8 ini bermula ketika ada 2 orang warga yang bukan warga, tetapi baru sekitar 20 hari tinggal di rumah salah seorang warga Desa Simpang Gaung  mencoblos menggunakan surat atau undangan pemilih orang lain atau undangan pemilih anak si punya rumah,” katanya.

Kendati demikian, pihaknya terus berusaha meredam gejolak-gejolak yang ada di masyarakat, khususnya dari pendukung yang menggugat.

“Kita selaku pihak yang mengawasi Panitia penyelenggara tingkat Desa melihat panitia sudah bekerja sesuai dengan aturan Perbup dan Perda, tidak mempunyai wewenang untuk memberi keputusan terkait penyelesaian masalah tersebut, sementara masyarakat terus berdatangan kepada kita untuk mempertanyakan hasil dari keputusannya,” tambahnya.

Oleh karena itu, pihaknya datang ke DPRD untuk meminta kepada DPRD ataupun Bupati ataupun BPMPD semacam surat tertulis, sehingga bisa disampaikan ke masyarakat atas hasil dari keputusan terhadap penyelesaian masalah yang ada.

Menangggapi penjelasan itu, Ketua Komisi I DPRD Inhil, Yusuf Said menyatakan bahwa pihaknya sangat menyayangkan kejadian tersebut.

“Terus terang kita dari Pihak DPRD Inhil dan saya selaku Anggota Badan pengawas Pilkades tingkat kabupaten sangat menyayangkan kejadian,” terangnya.

Menurutnya, permasalahan ini seharusnya sudah selesai di tingkat desa ataupun tingkat kecamatan secara berjenjang

“Disini kita tidak mencari siapa yang salah dan siapa yang benar tetapi kita berusaha memediasi pihak-pihak terkait guna menciptakan situasi yang kondusif,” imbuhnya.

Untuk diketahui, persolaan sengketa Pilkades di Desa Simpang Gaung telah masuk ke Pengadilan Negeri Tembilahan dan tinggal menunggu hasil putusan dari pengadilan tersebut. -adi

 




Punya 800 Anak, Pria Ini Jadi Ayah Seminggu Sekali

LONDON – Simon Watson (41), memiliki hobi yang terbilang unik. Ia senang mendonorkan spermanya ke mana-mana. Bukan melalui jasa layanan seksual langsung, melainkan menjualnya ke bank sperma.

Ia juga memasarkan spermanya melalui media sosial, seperti Facebook. Harga yang ditawarkan per botol sekira 50 euro atau Rp767 ribu. Total penjualannya di FB akhir-akhir ini sudah mencapai 40 ribu euro atau Rp613 juta.

Berkat usahanya selama 16 tahun tersebut, pria asal Inggris ini memiliki total 800 anak biologis yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Dengan kata lain, seminggu sekali ia menjadi ayah dari satu orang anak.

Watson sebenarnya memiliki kehidupan pribadi dan keluarga yang ia bangun sendiri. Dari hasil pernikahan pertama, ia dikaruniai dua orang anak laki-laki berusia 19 dan 17 tahun. Sementara anak bungsunya dari pernikahan kedua ialah seorang perempuan dan masih berusia 10 tahun.

“Saya mulai mendonasikan sperma sejak pernikahan pertama saya hancur. Saya ingin punya banyak anak, jadi itulah alasan saya memulai bisnis ini. Istri kedua saya tahu, ia sepertinya tidak pernah keberatan dengan apa yang saya lakukan. Tapi pacar saya keberatan, kami baru saja putus setelah berpacaran tiga tahun. Dia merasa jijik dengan pekerjaan saya,” tutur Watson, dilansir dari Mirror, Jumat (15/1/2016).

Meski terkesan aneh, Watson menegaskan banyak orang merasa terbantu dan senang dengan sperma yang ia donorkan. Sebelum menjualnya, pria yang mengelola bisnis aromaterapi ini juga menjaga pola makan dan kesehatannya supaya menghasilkan sperma yang berkualitas.

“Kebanyakan orang hanya berpikir kegiatan saya ini lucu. Tidak ada yang sampai memandang terlalu negatif atau apa. Saya bahkan punya bayi kembar,” ungkapnya./ okezone