Kubah Masjid Nurul Iman Teluk Kabung Ambruk, 3 Pekerja Alami Cidera Berat
Gaung, detikriau.org – Tiga pekerja bangunan mengalami kecelakaan kerja dalam pekerjaan pembangunan Masjid Nurul iman jl. Datuk garif rt 03 rw 01 dusun mekar jaya desa teluk Kabung kec. Gaung kab. Inhil, rabu (14/12/2016).
Kapolres Inhil AKBP Dolifar Manurung SIK melalui Bhabinkamtibmas Desa setempat Bripka Suryawan Fadlin mengatakan, dalam kecelakaan kerja itu dilaporkan tiga orang pekerja mengalami cidera berat.
Ketiga pekerja tersebut adalah Ilham (18), Kadir (50) dan Ijul (42) yang ketiganya merupakan warga Kecamatan Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir.
“Karena cideranya cukup berat ketiga korban terpaksa harus dilarikan ke RSUD Puri Husada di Tembilahan,” Sampaikan Iwan melalui sambungan WA
Diterangkannya saat kejadian 5 orang pekerja sedang melakukan pekerjaan pembangunan bagian kubah masjid. Diduga akibat bagian pondasi tidak mampu menanggung kelebihan beban, akibatnya bagian kubah masjid yang dalam proses pekerjaan itu ambruk.
3 orang pekerja yang saat itu sedang melakukan pemasangan batubata pada ketinggian lebih kurang 9 Meter ikut terjatuh dan tertimpa material bangunan.
“setelah upaya evakuasi selama kurang lebih 30 menit ketiga korban ditemukan masih dalam kondisi bernyawa tetapi dalam kondisi luka berat. satu korban diperkirakan mengalami patah tulang pada bagian leher.” Pungkas Iwan./dro
Tulisan Jaya Suprana Ini Bantah Persepsi Media Asing Soal Kasus Penistaan Agama
Jaya Suprana
JAKARTA — Seniman dan budayawan Jaya Suprana membuat tulisan menarik berjudul ‘Indonesia Tanah Air Beta’. Tulisan itu dimuat kantor berita Antara, Rabu (14/12).
Dalam tulisan itu ia menggambarkan bagaimana Indonesia bukanlah bangsa yang rasialis seperti pencitraan media asing terkait kasus dugaan penistaan agama baru baru ini.
Ia menceritakan perjalanannya sejak kecil pengalaman hidup dan bagaimana menjadi korban huru-hara dalam sejumlah prahara di dalam negeri. Dalam huru-hara itu ia mengaku selalu diselamatkan oleh kalangan pribumi.
“Saya selalu diselamatkan oleh teman-teman yang kebetulan warga bukan keturunan Cina yang lazim disebut sebagai pribumi.” tuturnya.
Berikut uraian lengkap perjalanan Jaya Suprana dalam tulisannya, “Indonesia Tanah Air Beta” yang dikutip detikriau.org melalui republika.co.id yang muat kantor berita Antara
Opini masyarakat mancanegara terbentuk oleh pemberitaan pers mancanegara maka mereka meyakini bahwa kasus dugaan penistaan agama di belahan akhir 2016 sebagai bukti bahwa bangsa Indonesia adalah rasis dan penindas kaum minoritas.
Demi meluruskan anggapan keliru terhadap bangsa saya, maka saya menulis naskah berdasar fakta yang saya alami dan amati dalam kehidupan pribadi saya.
Jika Anda kebetulan setuju dengan anggapan bahwa bangsa Indonesia rasis dan penindas kaum minoritas,maka sebaiknya jangan baca naskah ini karena pasti akan tidak berkenan bagi Anda.
Saya dilahirkan di Pulau Bali yang berada di dalam wilayah negara Republik Indonesia. Semula saya tidak sadar bahwa secara etnis-biologis ternyata saya tergolong keturunan Cina dengan nenek moyang saya (yang tidak saya kenal) dilahirkan di negara Cina.
Pertama saya sadar bahwa saya keturunan Cina pada masa pasca G-30-S di mana sekolah saya dibakar dan warga keturunan Cina termasuk ayah kandung saya ikur dibantai.
Lalu saya mengalami huru-hara rasialis di kota Semarang pada awal dekade 1980-an abad XX di mana kantor di mana saya bekerja dilempari batu, mobil saya dibakar dan rumah saya nyaris dijarah kaum kriminal.
Kemudian saya dihajar kerusuhan Mei 1998 di Jakarta. Banyak pihak menganggap bahwa huru-hara rasialis di Indonesia sebagai manifestasi antietnis Cina. Namun saya tidak setuju berdasar fakta pada justru tiga kali huru-hara yang saya alami selalu saya diselamatkan bukan oleh warga keturunan Cina yang masing-masing tentu saja lebih berusaha menyelamatkan diri sendiri.
Saya selalu diselamatkan oleh teman-teman yang kebetulan warga bukan keturunan Cina yang lazim disebut sebagai pribumi. Jika bangsa Indonesia rasis maka mustahil almarhum kakek saya diberi kesempatan mendirikan Jamu Jago sebagai perusahaan obat tradisional bukan Cina namun Indonesia yang Insya Allah, pada tahun 2018 akan mendirgahayu usianya yang ke-100.
Jika bangsa Indonesia rasis maka mustahil Kwik Kian Gie, Marie Pangestu, Ignatius Jonan, Enggariasto Lukita, Thomas Lembong bisa menjadi menteri.
Jika bangsa Indonesia rasis maka mustahil Tan Joe Hok, Rudy Hartono, Liem Swie King, Susi Susanti, Alan Budikusuma dan lain-lain bisa mengembangkan bakat masing-asing sehingga bisa menjadi juara-juara dunia.
Jika bangsa Indonesia rasis, mustahil sukma saya tergerak menciptakan komposisi-komposisi musik bersuasana kebudayaan Indonesia di panggung gedung kesenian terkemuka Esplanade Singapura, Sydney Opera House, dan Carnegie Hall.
Jika bangsa Indonesia rasis maka mustahil saya bisa bersahabat dengan teman-teman saya yang bukan keturunan Cina seperti Gus Dur, Cak Nur, Susilo Bambang Yudhoyono, Megawati Sukarnoputeri, Joko Widodo, Jusuf Kalla, Boediono, Prabowo Subianto, Hashim Joyohadikusumo, Moeldoko, Gatot Nurmantyo, Agus Wijoyo, Hidayat Nur Wahid, Gus Mus, Din Syamsuddin, Emil Salim, Salim Said, Harjono Kartohadiprojo.
Selain itu, para jamu gendong , pengojek, seniman wayang orang Bharata, Swiwedari, Swargaloka, para pemusik angklung, sasando, kolintang Minahasa, warga Luar Batang, Kalijodo, Kampung Pulo, Bukit Duri, dan lain-lain warga Indonesia bukan keturunan Cina, tanpa pernah timbul masalah berbau rasis.
Toleranberadab
Berdasar pengalaman dan pengamatan selama 68 tahun hidup di Indonesia, maka saya meyakini bangsa Indonesia adalah bangsa yang ramah, santun, toleran, beradab, halus budi-pekerti yang selalu siap menjalin keBhinneka-Tunggal-Ikaan dengan semangat saling mengerti, saling menghormati dan saling menghargai.
Maka saya pribadi berani mengambil kesimpulan bahwa pada hakikatnya di Indonesia tidak ada masalah rasialisme. Yang ada adalah masalah kecemburuan sosial akibat kesenjangan sosial terlalu lebar antara yang kaya dengan yang miskin.
Selama kesenjangan sosial masih hadir secara terlalu menganga di Indonesia maka sentimen SARA selalu siap terpicu untuk membara bahkan meledak menjadi kekerasan.
Sebagai warga Indonesia yang dilahirkan di Indonesia, maka saya wajib menjunjung tinggi harkat dan martabat bukan Tanah Leluhur saya nun jauh di Cina namun Tanah Air saya yaitu Indonesia demi mengejawatahkan makna peribahasa Di Mana Bumi Dipijak, Di Sana Langit Dijunjung.
Mohon dimaafkan apabila keyakinan berdasar pengalaman hidup saya pribadi terkesan naif serta terlalu sederhana akibat sanubari saya memang naif dan sederhana.
Sanubari saya selalu menghayati syair lagu Indonesia Pusaka mahakarya Ismail Marzuki : “INDONESIA TANAH AIR BETA, PUSAKA ABADI NAN JAYA. INDONESIA SEJAK DAHULU KALA. SELALU DIPUJA-PUJA BANGSA. DI SANA TEMPAT LAHIR BETA. DIBUAI DIBESARKAN BUNDA. TEMPAT BERLINDUNG DI HARI TUA. TEMPAT AKHIR MENUTUP MATA”./*
“Sekaligus Penyerahan Penghargaan bagi 47 Personil Polres Inhil”
Tembilahan, detikriau.org – Kapolres Inhil AKBP Dolifar Manurung SIK melakukan Sertijab Kapolsek Kempas dari IPTU Anwar kepada AKP Risnan Aldino SIK. Kegiatan yang dilaksanakan di lapangan Apel Polres Inhil Jalan Gadjah Mada Tembilahan ini juga diselaraskan dengan pemberian penghargaan bagi 47 personil Polres Inhil yang berprestasi. Rabu (14/11/2016)
Dalam sambutannya, bagi pejabat yang sertijab, Kapolres menyampaikan ucapan terima kasih kepada IPTU Anwar atas pengabdiannya.
“selamat menjalankan tugas kepada AKP Risnan Aldino SIK saya berpesan untuk segera menyesuaikan diri dengan dinamika Polres Inhil,” Pesan Kapolres
AKP Risnan Aldino SIK sebelumnya adalah Pama Polda Riau yang pernah melaksanakan tugas di Polda Maluku Utara, sedangkan IPTU Anwar selanjutnya bertugas sebagai Kanit Reskrim Polsek Kemuning
Kemudian kepada Personel yang menerima penghargaan Kapolres mengatakan bahwa pemberian penghargaan adalah wujud apresiasi Polres Inhil dan masyarakat atas prestasi dalam pelaksanaan tugas dan berpesan agar prestasi tersebut dapat terus dipertahankan dalam memberi pelayanan terbaik kepada masyarakat
Beberapa Personel yang mendapat penghargaan adalah :
IPDA Said Indra Hanafiah dan 8 orang Personel Sat Res Narkoba Polres Inhil yang berhasil mengungkap TP Narkoba sebanyak 92 Gram
2. AIPTU Herry Heryawan, Kanit Reskrim Polsek Pelangiran yang telah berhasil mengungkap TP Pembunuhan seorang wanita di Pelangiran
3. BRIGADIR Harmoko yang memberantas peredaran miras di Batang Tumu
4. BRIGADIR Abadi Tua Sipayung dan 3 Personel Sat Polair yang telah berhasil mengevakuasi penumpang speed boat yang terbakar di Sungai Indragiri
5. AIPDA Karter Sianipar SSos Kanit Reskrim Polsek Kemuning dan 4 Personel Polsek Kemuning yang berhasil mengungkapkan TP Pembunuhan
5. BRIGADIR Dahnil Azhar Simanjuntak dan 19 Personel lainnya sebagai Operator Program Promoter./ Am
BP3AKB Inhil Gelar Pelatihan Pemberdayaan Ekonomi Keluarga
TEMBILAHAN (detikriau.org) – Badan Perberdayaan Perempuan Perlidungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB) menggelar pelatihan pemberdayaan ekonomi keluarga.
Kegiatan tersebut berlangsung di aula hotel Inhil Pratama Tembilahan yang dibuka secara resmi oleh Asisten I Setda Kabupaten Inhil, Afrizal dan dihadiri Kepala BP3AKB Inhil serta sejumlah pejabat lainnya.
Pelatihan itu ditujukan kepada kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) se-Kabupaten Inhil dari tanggal 13 sampai 16 Desember 2016 dengan jumlah peserta sebanyak 95 orang dan ditambah petugas lapangan 8 orang yang menghadirkan seorang narasumber dari BKKBN Provinsi Riau.
Asisten I mengatakan, pembangunan keluarga merupakan upaya menyeluruh dan terpadu yang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat dan keluarga untuk meningkatkan kualitas keluarga agar dapat melakukan fungsinya secara optimal. Dimana, hal tersebut telah tertuang dalam Undang-Undang Nomor 52 tahun 2009 tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga.
Dalam pembangunan keluarga itu, lanjutnya, selalu dilakukan pembinaan ketahanan dan kesejahteraan keluarga dengan kondisi kualitas keluarga yang mencakup aspek pendidikan, kesehatan, sosial budaya, kemandirian keluarga dan mental spritual serta nilai-nilai agama.
Beberapa upaya pembangunan tersebut merupakan dasar untuk mencapai keluarga sejahtera, untuk mewujudkan kualitas keluarga tersebut perlu di topang oleh dua tiang utama yaitu keluarga kecil agar bebannya tidak terlalu berat dan keluarga sejahtera dengan ekonomi yang kuat.
“Sebagai mana kita ketahui bahwa kegiatan kelompok UPPKS adalah kiat-kiat yang efektif dalam usaha pemberdayaan ekonomi keluarga terutama bagi anggota-anggota yang tergabung dalam kelompok UPPKS. Untuk mewujudkannya, maka perlu diadakan pelatihan dengan tujuan dapat memahami dari berbagai sisi,” kata Afrizal.
Diantara pemahaman yang diperlukan itu adalah peran dan fungsi secara teknis dalam mengelola usaha kelompok UPPKS di wilayah binaan, mampu mengintegrasikan berbagai program sosial ekonomi kemasyarakatan dengan perogram KB serta meningkatkan pembinaan kelompok UPPKS dan menjadi motivator program kependudukan keluarga berencana dan pembangunan keluarga./Mirwan
FIAI Unisi Luncurkan Rumah Jurnal
TEMBILAHAN (detikriau.org) – Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indragiri (Unisi) meluncurkan rumah jurnal.
Peluncuran tersebut telah diresmikan oleh Dekan FIAI Dr H Najamuddin Lc MA dan didampingi masing-masing Kepala Prodi serta sejumlah dosen FIAI di kampus FIAI jalan Trimas Tembilahan, Selasa (13/12/2016).
Rumah jurnal itu mencakup seluruh program studi di FIAI, baik prodi Manajemen Pendidikan Islam (MPI), prodi Ekonomi Syari’an maupun prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT).
Untuk prodi MPI, dinamakan dengan jurnal Al-Afkari dengan nomor seri (P) 2089-7472 dan (E) 2548-1711, untuk prodi Ekonomi Syari’ah dinamakan dengan Jurnal Syari’ah dengan nomor seri (P)/2338-0357 dan (E) 2548-17210, sedangkan untuk prodi IAT dinamakan dengan jurnal Syahadah dengan nomor seri (P) 2338-0346 dan (E) 2548-1746.
“Untuk sementara ini, sejauh yang saya ketahui baru di FIAI Unisi yang memiliki rumah jurnal di lingkungan Kopertis Wilayah 12,” kata Kepala Prodi IAT FIAI Unisi, Ridhoul Wahidi.
Menurutnya, salah satu tujuan rumah jurnal ini untuk meningkatkan kualitas karya dosen, sebab para dosen bisa membuat karya tulisan melalui rumah jurnal./Mirwan
Tim Opsnal Gabungan Polsek Kemuning dan Sat Reskrim Polres Inhil Bekuk “Rang” di Palembang
“Tersangka diduga Sebagai Pelaku Penganiaya Abd (20) yang menyebabkan korban meninggal dunia”
Tembilahan, detikriau.org – Tim Opsnal Gabungan Polsek Kemuning dan Sat Reskrim Polres Inhil membekuk Rang (22) di Jalan Abdi Kusno Lorong Serumpun Kecamatan Kertapati Kotamadya Palembang Provinsi Sumsel. Senin (12/12/2016)
Warga Desa Talang Jangkang Kecamatan Kemuning Kabupaten Inhil ini ditahan atas dugaan Penganiayaan Berat yang mengakibatkan korbannya Abd (20 tahun) warga Dusun Liang Ajar Desa Kemuning Muda Kecamatan Kemuning meninggal dunia dalam peristiwa yang terjadi pada hari Minggu tanggal 4 Desember 2016 sekira pukul 18.15 Wib yang lalu di Dusun Kebun Durian Desa Batu Ampar Kec. Kemuning
Menurut Kapolres Inhil AKBP Dolifar Manurung SIK melalui Kapolsek Kemuning Kompol Taufik Suardi SH, dalam peristiwa itu, korban ditemukan dalam keaadan berlumuran darah di dalam parit akibat luka yang diakibatkan benda tajam dibagian belakang sebelah atas sepanjang 15 cm. Korban sempat dibawa ke Puskesmas Selensen namun nyawa korban tidak dapat diselamatkan karena banyak kehilangan darah dan akhirnya meninggal dunia.
Setelah menganiaya korban, tersangka melarikan diri ke Palembang untuk menghilangkan jejak. Namun akhirnya Tim Gabungan Polsek Kemuning dan Sat Reskrim Polres Inhil yang dipimpin langsung oleh Kapolsek Kemuning setelah bekerja keras selama 8 hari melakukan penyelidikan, dapat melacak keberadaan tersangka dan kemudian dapat ditangkap saat berada di Kota Palembang
“Ketika dilakukan penangkapan, tersangka tidak melakukan perlawanan apapun dan selanjutnya dibawa ke Polsek Kemuning untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya tersebut,” Sampaikan Taufik, selasa (13/112/2016)
Menurutnya, akibatnya perbuatannya tersangka diancam dengan pasal 338 KUHP tentang tindak pidana pembunuhan dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara./Am