Rangkaian Kegiatan Peringatan Hari Jadi ke-8, Pemkab Meranti Gelar Jalan Santai dan Senam Sehat

Selatpanjang, detikriau.org – Ribuan warga Kabupaten Kepulauan Meranti ikut memeriahkan gerak jalan santai dan senam sehat yang dipusatkan di Taman Cik Puan Jalan Merdeka Selatpanjang.

Kegiatan yang dilaksanakan sempena Hari Jadi Kabupaten Meranti yang Ke-8 yang jatuh pada tanggal 19 Desember 2016 esok hari ini juga dihadiri langsung oleh Wakil Bupati H. Said Hasyim, minggu (18/12/2016)

Turut hadir Wakil Ketua DPRD Meranti Muzamil, Plt. Sekdakab. Meranti H. Julian Norwis, Wakapolres Meranti Kompol Wawan, Asisten III Sekdakab. Meranti H. T. Akhrial, beserta sejumlah pejabat esselon dilingkungan Pemkab Kepulauan Meranti

Pantauan, kegiatan yang dipusatkan di alun-alun kota itu tumpah ruah dengan ribuan peserta dari anak-anak, remaja dan orang tua berjalan kaki mengikuti rute yang telah ditentukan.

Usai mengikuti gerak jalan santai seluruh peserta melanjutkan dengan kegiatan senam sehat.

“Moment ini juga sekaligus sebagai awal dimulainya Car Free Day, artinya setiap hari minggu sejak pukul 09.00 Wib kawasan ini tidak boleh dilewati kendaraan bermotor, hanya untuk pejalan kaki dan warga yang ingin berolah raga. “Sampaikan Wabup disela penyampaian pidatonya.

Tidak hanya itu, dalam kesempatan ini Pemkab juga menyediakan berbagai hadiah menarik dengan hadiah utama 4 unit sepeda motor dan berbagai hadiah lainnya./ cr




Wah..wah..wah, Harusnya Tidak Ada Masyarakat Inhil yang Miskin

Tembilahan, detikriau.org – Jika potensi perkebunan kelapa di Kabupaten Inhil sebesar ini, kami yakini tentu tidak ada satupun penduduknya yang berada dibawah garis kemiskinan.

Pernyataan ini menurut Kepala Dinas Koperasi UMKM Kabupaten Indragiri Hilir DR H Dianto mampanini SE MT diterimanya saat melakukan kunjungan disalah satu sentra pengolahan kerajinan di Yogyakarta beberapa waktu yang lalu.

“wah…wah…wah, jika potensi sumberdaya alam sebesar itu, kami yakin tidak akan ada satupun penduduk disana yang miskin,” ujar Dianto menyampaikan tanggapan pengrajin di Yogyakarta dengan penuh kekaguman saat mendapatkan penjelasan akan besarnya potensi hasil perkebunan kelapa yang dimiliki kabupaten Inhil

Dalam kesempatan itu Dianto juga mengaku mencoba mempertanyakan apakah pengrajin di Yogyakarta mau bekerjasama. Bekerjasama dengannya dalam kaitan sebagai pemasok bahan baku. Namun kata Dianto, tawaran itu langsung di tolak.

“Kalau kami bersedia, Bapak pasti akan menjadi sangat kaya. Tapi kalau potensi sumberdaya itu bisa dikelola dengan baik oleh masyarakat di sana, sekali lagi kami pastikan tidak akan ada satupun penduduk Inhil yang miskin.” Tekankan pengulangan disampaikan Dianto

Sekedar diketahui, Disamping daging buah, tanaman kelapa mempunyai berbagai produk sampingan yang sangat bermanfaat dan bernilai  ekonomi tinggi.

Tanaman kelapa merupakan komoditas perkebunan yang sangat potensial, sering diindentikkan sebagai sebuah pohon kehidupan karena hampir semua bagian tanaman kelapa bermanfaat dan berguna bagi kebutuhan hidup manusia.

Secara umum, dari bagian buah kelapa saja yang terdiri dari: sabut, tempurung, daging buah, dan air kelapa. Semuanya tidak ada yang terbuang dan dapat dibuat untuk menghasilkan berbagai produk industri.

Sabut kelapa misalnya dapat dimanfaatkan sebagai sapu, pengisi jok mobil, coir fibre, keset, dan matras.

Sedangkan air kelapanya disamping segar untuk diminum secara langsung juga dapat digunakan untuk membuat cuka, penggumpal lateks dan nata de coco.

Tempurung dapat  dimanfaatkan untuk membuat carbon aktif, arang briket, charcoal, dan berbagai kerajinan tangan.

Daging buah dapat dipakai sebagai bahan baku untuk menghasilkan  santan, kopra, minyak kelapa,  coconut cream, dan kelapa parutan kering (desiccated coconut).

Tidak hanya pada bagian buah, batang kelapa sendiri juga dapat dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomis tinggi. Batang dapat digunakan sebagai bahan-bahan bangunan baik hingga menghasilkan berbagai peralatan rumah tangga (pot, mebel, dan lain-lain).

Dan bagian daun kelapa dapat diambil lidinya yang dapat  dirangkai menjadi sapu./dro




Pemkab Inhil Terima Hasil Penilaian Kepatuhan Standar Pelayanan Publik

mewakili Pemkab Inhil Asisten 1 Setdakab Inhil, Afrizal (kiri) menerima Hasil penilaian kepatuhan standar pelayanan publik sesuai UU No. 25 TH 2009
mewakili Pemkab Inhil Asisten 1 Setdakab Inhil, Afrizal (kiri) menerima Hasil penilaian kepatuhan standar pelayanan publik sesuai UU No. 25 TH 2009

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Indragiri Hilir (Inhil) menerima hasil penilaian kepatuhan standar pelayanan publik, Jum’at (16/12/2016) kemarin.

Hasil penilaian tersebut diterima oleh Asisten I Setda Kabupaten Inhil Afrizal dari Ombudsman RI Asisten Bidang Penyelesaian Pelaporan, Bambang Pratama di ruang kerja Asisten I Setda Inhil, Tembilahan.

Diketahui, penilaian kepatuhan standar pelayanan publik itu sesuai Undang-undang nomor 25 tahun 2009 berdasarkan penilaian terhadap pelayanan publik dan sudah memasuki tahun ke-2.

“Kabupaten Inhil pada tahun 2016 ini merupakan tahun ke-2 penilaian dari Ombudsman terahadap pelayan publik dalam kesiapan kita dalam memberikan pelayanan. Dimana, penilaian ini ada 3 zona yaitu Hijua, Kuning dan Merah. Alhamdulillah Inhil berada di Zona Kuning dimana Inhil berada dirangkin 41 Kabupaten Se-Indonesia,” kata Afrizal.

Ia berharap, hasil itu mampu menjadi suatu dorongan untuk dapat meningkatkan kinerja pelayanan dimasa-masa yang akan datang. Apalagi katanya, penilaian tersebut dilakukan secara independen yang tidak pernah diketahui pihak Pemda.

Sementara itu, Asisten Bidang Penyelesaian Pelaporan Ombudsman RI, Bambang Pratama menyampaikan kalau Inhil selama ini sudah ada perbaikan dari tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja, daerah Inhil masih berada di Zona sedang atau kuning.

Meski begitu, ia tetap menyampaikan apresiasi karena Inhil sudah cukup standar diposisi 41 dari seluruh Kabupaten di Indonesia. “Diharapkan Bupati Inhil beserta SKPD untuk lebih fokus dalam hal pelayanan publik untuk bisa mencapai zona hijau,” tandasnya./ Mirwan




Disbun Inhil Komit Atasi Kerusakan Kebun Kelapa

Kadisbun Inhil Tantawi Jauhari (kanan) saat meninjau pekerjaan pembuatan tanggul sebagai salah satu upaya mengatasi kerusakan lahan perkebunan rakyat baru-baru
Kadisbun Inhil Tantawi Jauhari (kanan) saat meninjau pekerjaan pembuatan tanggul sebagai salah satu upaya mengatasi kerusakan lahan perkebunan rakyat baru-baru

TEMBILAHAN (detikriau.org) – Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) H Tantawi Jauhari menegaskan pihaknya berkomitmen dalam mengatasi kerusakan yang kini dialami oleh perkebunan kelapa masyarakat.

“Kita akan berupaya mengatasi kerusakan kebun masyarakat, setidaknya sudah ada program yang terbentuk untuk mengatasi persoalan ini,” kata Tantawi, kemarin.

Dijelaskan, program tersebut merupakan program yang diprioritaskan untuk tahun anggaran 2016 ini. Diantaranya adalah peremajaan kelapa rakyat, perlindungan tanaman perkebunan dan rehabilitas sarana prasarana trio tata air perkebunan.

Menurutnya, ketiga program itu tidak terlepas dari kontribusi berbagai pihak terkait sehingga mampu mencapai keberhasilan kegiatan lapangan, salah satu diantaranya peran masyarakat petani itu sendiri yang selalu menjaga dan mengembangkan infrastruktur di perkebunan serta menciptakan kreativitas produk turunan.

Disamping itu, mantan Kadishubkominfo Inhil ini berharap kepada masyarakat untuk dapat merubah pola pikir dalam memaksimalkan lahan, seperti melakukan diversifikasi tanaman. Sebab, jika itu sukses maka katanya akan memberi imbas keuntungan kepada para petani itu sendiri./mirwan




Ini Contoh Pemanfaatan Sabut Kelapa yang Patut ditiru

“Hanya Bermodal  Rp 100.000, Sekarang Raup Penghasilan Ratusan Juta”

Tembilahan, detikriau.org – Sebagai daerah yang memiliki hamparan kelapa dalam terluas, lebih dari separo penduduk di Kabupaten Inhil menggantungkan hidup dari hasil produksinya. Selama ini, untuk mendapatkan penghasilan, masyarakat hanya memperoleh manfaat dari produksi daging buah. Sementara produk sampingan, seperti tempurung, sabut, lidi dan batang sebagian besar tidak termanfaatkan dan bahkan terbuang sebagai limbah.

Sabut kelapa, contohnya, disaat panen tiba, limbah ini melimpah. Kebanyakan petani baru memanfaatkannya untuk mengasapi daging buah dalam proses pembuatan kopra dan tidak sedikit pula produk limbah ini akhirnya hanya dibakar dan tidak termanfaatkan.

Padahal memberi nilai tambah pada limbah tak hanya punya dampak positif bagi kelestarian alam. Aktivitas mengolah sampah juga bisa meraup laba. Mahasim contohnya, pengusaha di Kebumen, Jateng menghasilkan puluhan juta rupiah dari kreasi sabut kelapa.

Dikutip kisah dari laman kompas.com, Bersama rekannya, Darda, Mahasim memulai usaha membuat kerajinan dari sabut kelapa dengan modal awal Rp 100.000. Produk awal berupa keset berbagai ukuran. Selanjutnya ia berkreasi membuat tas, topi, sandal, pot, coconet, hingga bantal, guling, dan kasur dari sabut kelapa. Selain itu, ia juga mengkombinasikan bahan dasar sabut dengan batok kelapa, kayu kelapa atau glugu dikreasi menjadi tas dan kursi. Kerangka kursi dari kayu kelapa sementara bagian dalam jok kursi dari sabut kelapa.

Selain itu, Mahasim juga membuat pot dari sabut kelapa, baik pot biasa maupun pot gantung. Salah satu keunggulan cocopot yaitu bisa menahan air sehingga menghemat penyiraman. Selain itu, kalau digunakan untuk menanam bibit cocopot punya keunggulan. Saat memindahkan bibit ke lahan cocopot bisa sekaligus ditanam. Dibandingkan polybag plastik, cocopot lebih ramah lingkungan.

Selain produk kerajinan, proses penggilingan butiran sabut menjadi serat sabut atau fiber juga mengeluarkan hasil sampingan berupa cocopeat. Cocopeat ini selanjutnya diolah menjadi pupuk organik. Setiap hari Hasim menggiling 3.000-4.000 butir sabut. Sepuluh butir sabut bisa menghasilkan 1 kg cocopeat. Sesudah diolah menjadi pupuk, Hasim menjualnya seharga Rp 450 per kg, di luar ongkos kirim.

“Pupuk organik itu dijual ke Kalimatan Timur, 10-20 ton sebulan. Waktu mau lebaran mereka pesan 60 ton per bulan. Jumlah sebanyak itu masih bisa kami layani. Mereka pernah minta sampai 400 ton per bulan, kami nggak sanggup,” ungkap Mahasim, warga desa Rantewringin, Kecamatan Buluspesantren, Kebumen, Jateng.

Hasil produksi lain dari pengolahan sabut kelapa ini adalah sabutret atau serat sabut berkaret yang bisa menjadi isi dari kasur, bantal, guling, maupun jok kursi. Pengolahannya berbeda dengan keset atau coconet yang merupakan anyaman sabut fiber.

Sabutret merupakan sabut fiber yang diolah lebih lanjut. Sabut yang sudah digiling lalu dianyam jadi tali. Kemudian tali tersebut dioven. Selanjutnya tali itu diurai lagi supaya tidak keriting, lalu ditata di cetakan.

Sabut dalam cetakan itu kemudian disemprot lateks, dan dioven lagi. Jadilah lembaran sabutret yang kemudian dimasukkan ke dalam sarung guling, bantal, kasur, atau jok. Untuk kasur setebal 5 cm ia menjual seharga Rp 600.000. Sementara kasur setebal 15 cm harganya Rp 1,5 juta. Bantal dan guling harganya Rp 50.000.

Ia bercerita bahwa pernah ada permintaan kasur berisi sabut dari Amerika. Tidak tanggung-tanggung, buyerAmerika itu minta dikirim 3 kontainer per bulan. Tapi Hasim mengatakan tak sanggup karena skala usahanya belum bisa mencukupi. Meski saat ini bisnisnya terbilang cukup besar.

Selain mempekerjakan 15 orang yang menjadi karyawan tetap, ia juga punya mitra yang tersebar di lima kecamatan di Kebumen. Mitra paling banyak dari Kecamatan Buluspesantren dan Kliron. Mereka membuat barang jadi atau setengah jadi lalu dibawa ke AKAS (Aneka Kerajinan Anyaman Sabut Kelapa) untuk dipasarkan. Padahal, awalnya Mahasim hanya punya dua karyawan. Lalu, ia membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang diberi nama AKAS.

Omzet ratusan juta

Salah satu produk yang memberi pemasukan besar adalah coconet. Setiap bulan Mahasim harus mengirim produk berupa jaring dari sabut kelapa itu ke Timika, Balikpapan, dan Medan. Untuk coconet tali kecil harganya Rp 8.000/m, sementara coconet tali besar dijual seharga Rp 13.000/m. “Masing-masing tempat itu dikirimi satu tronton. Satu tronton isinya 200 rol. Satu rol panjangnya 50 m,” papar Mahasim.

Jadi, kalau dihitung untuk produk coconet saja omzet yang diperoleh Rp 240 juta (Rp 8.000 x 50 m x 200 rol x 3). Itu baru pemasukan dari satu produk. Selain itu masih ada pemasukan dari keset kecil sebanyak 5.000 lembar dan keset besar 2.000 lembar. Masing-masing harganya Rp 5.000 dan Rp 35.000. Selain melayani pasar lokal Kebumen, Mahasim juga mengirim produk ke Surabaya, Jakarta, Yogyakarta, Pontianak, dan Medan.

Ada pula pengiriman pot gantung untuk eksportir yang selanjutnya akan mengirim ke Australia. Tiap bulan Mahasim mengirim pot gantung sebanyak 200-300 pot, harganya Rp 30.000/pot. Selain Australia, Mahasim juga melayani permintaan tali sabut ke Jepang sebanyak 2500 ikat. Satu ikat panjangnya 10 m dan tiap meter dijual seharga Rp 5.000.

Pohon kelapa merupakan tanaman yang begitu melimpah di Inhil dan bahkan komoditi perkebunan ini sudah menjadi tumpuan hidup masyarakat selama ratusan tahun.  Itu sebabnya, bisnis ini bisa diterapkan oleh masyarakat dengan dukungan ketersediaan bahan baku yang melimpah.

Pemerintah, dalam hal ini berbagai instansi terkait harusnya dapat menjadi motor penggerak. Misalnya dengan mengadakan pelatihan-pelatihan pengolahan kerajinan dan mencari peluang pasar dari produk olahan limbah kelapa yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Dengannya, membumikan kelapa di Kabupaten yang bergelar Negri Sri Gemilang ini tidak hanya menjadi ajang seremonial belaka dan bahkan lebih mirisnya menjadi lahan proyek untuk meraup keuntungan pribadi dan kelompok semata./dro

 

 




Kebakaran, 1 Unit Rumah Beserta Isinya Ludes Jadi Abu

TELUK BELENGKONG (detikriau.org) – Satu unit rumah warga Desa Saka Rotan Kecamatan Teluk Belengkong ludes dilalap api, Kamis (15/12/2016) malam.

Kebakaran tersebut menimpa rumah Sarman (30) sekitar pukul 21.00 WIB. Saat itu, kondisi rumah sedang ditinggal pergi ke rumah tetangga.

“Satu unit rumah terbakar, walaupun tidak sampai memakan korban tetapi barang-barang dalam rumah itu satupun tak sempat diselamatkan,” ujar salah seorang warga setempat, Mahyubi kepada detikriau.org.

Menurutnya, kemungkinan besar penyebab peristiwa itu dikarenakan api lampu pelita. Pasalnya, sejauh pengetahuan warga, lampu pelita atau colok ini sedang dalam keadaan hidup.

“Kasian korban ini semua harta di rumahnya habis, semoga ada bantuanlah dari semua pihak, terutama perhatian dari pemerintah,” imbuhnya./mirwan